Social Icons

7 September 2008

Perekat Luka



Dia adalah Ayah paling bijak. Dia, Ayahku, yang membuat siapapun betah berada di dekatnya. Hal yang paling membuatku terkesan adalah sifat Ayah yang begitu penyayang. Ayah sangat memerhatikan keluarganya sampai hal-hal terkecil yang terkadang justru terabaikan oleh kami. Lihatlah, kebiasaan Ayah yang selalu mengusap kepala kami jika kami sedih. Kebiasaan sederhana yang selalu kami nanti karena dengannya, sedih ini terobati. Atau ketika Ayah dengan tulus menggantikan semua pekerjaan Ibu saat Ibu sedang sakit. Kasih sayangnya tak pernah hilang dimakan waktu. Aku masih bisa merasakannya meski sekarang aku sudah berumah tangga, karena Ayah pun sangat perhatian dengan suami dan anak-anakku. Tapi, sepertinya aku tidak mewarisi sifat Ayah yang mampu menghibur orang lain yang sedih, karena justru aku tak bisa berbuat apa-apa ketika Ayah bersedih.

Beberapa hari ini Ayah diam dan aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Aku sudah mencoba untuk bicara, tapi rupanya itu tak cukup membuatnya sekedar tersenyum. Aku menyayanginya, tentu saja. Karena itu, aku yang diamanati kakak-kakakku untuk menemani Ayah dan Ibu di sini, di tempat kelahiran kami, sangat merasa bersalah. Seolah aku tak mampu menjaga amanah itu.

Sejak Ibu meninggal seminggu yang lalu, Ayah memang mudah sekali tersinggung. Ia sensitif karena hal-hal yang sepele. Yang kutahu, Ayah selalu menyalahkan dirinya karena menurutnya, ia yang menjadi penyebab kematian Ibu, istrinya.

“Ma,” kata sulungku seraya menyodorkan rantang, tempatku menyisihkan sayur asam untuk Ayah. Aku menoleh dan meletakkan piring yang baru saja kucuci. “Kakek nggak mau makan.”

Aku mendesah, lagi-lagi.

“Sudah dibujuk? Nanti Kakek sakit kalau nggak makan,” kataku memastikan.

“Sudah, Ma. Tapi katanya Kakek nggak lapar.”

Aku menghela napas, meletakkan sayur di atas meja. Aku benar-benar khawatir Ayah sakit jika terus-terusan mogok makan.

“Via, ke rumah Kakek lagi ya. Bawa ini dan taruh di atas meja. Kalau Kakek lapar, pasti dimakan.” Aku menyodorkan rantang makanan itu lagi kepada Via.

Via mengangguk dan kembali pergi ke rumah sebelah, rumah Ayah.

“Mama…” Nana, putri kecilku menarik-narik ujung kerudungku. “Kakek marah ya… kok nggak mau main lagi sama Nana…”

Aku tersenyum memandang wajah lugunya. Aku menunduk, mengusap pipinya yang berisi.

“Nggak, Sayang. Kakek nggak marah sama Nana. Kakek cuma sedih,” jawabku.

Aku mengangkat tubuh mungilnya. Ah, kasihan putriku. Ia tak lagi menemukan keceriaan di wajah kakeknya. Pasti ia sedih karena biasanya Ayah selalu menemaninya jalan-jalan sore, memberi makan ikan, bahkan membantu jika guru-guru TK-nya memberi PR.

“Sedih kenapa, Ma?” tanya Putriku lagi.

Aku menatap bola matanya yang jernih. “Kakek sedih karena hati Kakek terluka. Makanya, Mama masak sayur asam kesukaan Kakek. Supaya luka Kakek cepat sembuh. Coba, Nana punya apa untuk mengobati luka Kakek?”

“Mmm…” Putriku menggumam sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya. Ia tampak berpikir.

“Aha!” serunya meniru salah satu tokoh kartun di televisi sambil beranjak dan berlari meninggalkanku di dapur. Aku menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum melihat tingkah bungsuku itu.

Aku berharap Ayah segera pulih. Rasanya tak ingin lagi kulihat gurat-gurat penyesalan di wajahnya. Bukan salah Ayah jika Ibu meninggal. Aku paham. Mungkin penyesalan itu hadir karena dulu Ayah pernah menolak, hanya sekali itu, permintaan wanita yang sangat ia cintai. Sebuah permintaan sederhana dari seorang istri, yang ternyata menjadi sebuah permintaan terakhir. Mungkin, Ayah hanya butuh waktu untuk sendiri. Dan aku berharap, Ramadhan esok Ayah tak lagi terlihat murung seperti ini. Bukankah Ayah yang mengajari kami untuk bergembira menyambut datangnya Ramadhan?
***

Aku baru saja akan berganti pakaian ketika kulihat putri kecilku sedang khusyu’ mengerjakan sesuatu di ruang tengah.

“Sedang apa, Sayang?” Aku menunduk mendekatinya.

“Aaaaaada aja!” Putriku menjawab manja seraya menutupi kertas-kertas di hadapannya.
Aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu. Setidaknya ia terlihat ceria, maka aku tak perlu khawatir.

Hari ini aku harus berbelanja lebih. Esok puasa. Seperti sudah tradisi, aku akan menyiapkan menu istimewa untuk sahur dan berbuka di hari pertama. Sepertinya ide bagus memasak makanan kesukaan Ayah. Aku berharap itu bisa membuat Ayah tersenyum. Ah, Ayah… Betapa kami rindu melihat engkau bahagia.
***

Aku sedang mengajari Via mengiris bawang. Tiba-tiba, bungsuku masuk ke dapur dan membuat perhatian kami teralih.

“Mama, Mama…” panggilnya.

“Hm?” Aku tersenyum menyambutnya.

“Rumah kita ada di jalan apa ya?” tanyanya.

“Jalan Kuncup,” jawabku. “Kenapa, Sayang?”

Aku hanya mendengarnya berkata “Oo…” sebelum akhirnya ia berlari tanpa menjawab pertanyaanku. Aku hanya menggelengkan kepala.

Aku beranjak dan mengaduk santan yang sedang kurebus agar permukaannya tidak pecah. Sedangkan Via kubiarkan sendiri mengiris bawang supaya mahir.

“Mama!”

Tiba-tiba Nana sudah kembali ke dapur. Aku menoleh lagi.

“Nomor rumah kita berapa siy?” tanya Nana.

“Coba Nana lihat nomor yang ada di atas pintu ruang tamu. Itu nomor rumah kita.”

“Nomor rumah Kakek juga ada di atas pintu?”

Aku mengangguk sambil terus mengaduk santan.

“Untuk apa, Sayang? Kenapa tanya itu?” aku balik bertanya.

“Aaaada aja.”

Ia berbalik dan meninggalkan kami. Lagi-lagi.

“Adikmu itu sedang apa? Dari kemarin Mama lihat sibuk sekali.” Aku menoleh ke arah Via.

“Nggak tahu, Ma. Mungkin PR dari sekolah.”

Ada-ada saja putri bungsuku itu. Sejak kecil ia memang aktif dan memiliki rasa keingintahuan yang besar. Sampai-sampai Ayah, yang punya waktu lebih banyak bersamanya, kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan Nana. Kritis, julukan Ayah untuknya. Ah, Ayah. Aku jadi rindu…

Aku rindu melihat Ayah yang penuh tawa. Aku rindu mendengar cerita-ceritanya yang penuh makna yang biasa disuguhkan untuk putri-putriku. Aku rindu nasihat-nasihatnya, nasihat bijak seorang ayah, untukku dan suamiku. Aku rindu semangat beribadahnya di bulan Ramadhan yang terkadang membuat kami yang lebih muda malu melihat Ayah yang begitu giat.

Ayah, aku masih dan akan terus berharap kau mau menerima keadaan. Ada anakmu di sini, cucu-cucumu, yang menanti senyum terukir di wajah bijakmu.
***

Beberapa menit lagi waktu berbuka. Suamiku, yang berusaha mengobati rindu Nana kepada kakeknya, baru saja pulang bersama bungsuku dari jalan-jalan sore. Ngabuburit. Sedangkan Via di rumah, membantuku menata makanan di atas meja dan mengatur kursi tempat kami sekeluarga akan duduk melepas puasa hari ini. Lagi-lagi aku memasak makanan favorit Ayah. Via pun menyediakan satu kursi lagi untuknya. Siapa tahu Ayah akan datang.

Keluarga kami sudah berkumpul, aku, suamiku, dan kedua putri kami. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Kebiasaan di keluarga, kami menyantap makanan pembuka dulu sebelum sholat. Makanan berat giliran terakhir, setelah kami selesai sholat berjamaah.

“Mama,” ucap Nana yang baru mendapat semangkuk kolak ubi.

“Ya, Sayang.” Aku menoleh.

“Kakek kok nggak datang ya…”

Aku mengerling suamiku, miris. Sepertinya putriku kehilangan sekali. Mungkin karena tahun kemarin, Ayah yang mengajarinya untuk membiasakan puasa sedari kecil dan setiap hari Ayah memang selalu ikut berbuka bersama kami di sini.

“Sebentar lagi, InsyaAllah Kakek datang,” jawab suamiku tak yakin.

“Sabar ya, Sayang…” Aku melihat bungsuku bersungut-sungut. Ia pasti kecewa sekali jika ternyata kata-kata suamiku tidak menjadi kenyataan. Kasihan putriku.
Kolak ubi di mangkuk kami sudah habis dan kami baru saja akan beranjak untuk berwudhu ketika kami mendengar suara yang amat kami kenal.

“Wah, sudah habis ya?”

Suara itu, suara yang tak lagi kami dengar sejak seminggu lalu. Suara yang menenteramkan, suara yang bijak. Suara yang sangat kami rindu.
Kami menoleh dan aku benar-benar tercekat karenanya.

“Kakek!” Nana cepat beranjak dan menghambur ke pelukan Kakek, membuatku iri untuk bergabung.

Ayah tersenyum. Subhanallah…

“Kakek datang karena ini,” kata Kakek kepada Nana seraya mengerling kami semua.

Ayah mengacungkan sebuah amplop. Aku bisa membaca alamatnya yang ditulis besar-besar, “UNTUK KAKEK NANA DI JALAN KUNCUP NOMOR SEBELAS”. Ayah kemudian mengeluarkan sebuah surat dari dalamnya dan menunjukkan sebuah gambar yang cukup membuatku menebak siapa pembuatnya.

“Ada gambar meja makan dan lima kursi di sini. Gambar Mama, Papa, Kak Via, dan Nana. Tapi, kursi yang satu kosong.”

Ayah menunjuk ke pojok kertas. Sepertinya itu gambar Ayah yang berdiri di luar ruang makan. Tapi, ada gambar… plester?

“Kakek bingung. Ini apa ya?”

Ayah mengacungkan sebuah plester yang dikeluarkannya dari amplop. Aku dan suamiku saling berpandangan.

“Kata Mama, hati Kakek sedang terluka. Terus, Nana beliin plester supaya Kakek cepat sembuh. Jadi, Kakek nggak luka lagi. Kakek nggak sedih lagi.”

Aku tertawa, kami semua. Bagaimana mungkin sebuah plester mampu mengobati luka di hati? Tetapi, ada haru yang tiba-tiba menyusup ke hatiku. Haru itu, haru rindu... Haru itu, haru syukur... Dan akupun memeluknya, si Bungsu, disambut peluk hangat Ayah yang kurindu.

Aku tak mampu menahan luh. Air mata itu berderai begitu saja mewakili haruku melihat sang putri yang begitu lugu ternyata mampu mengobati luka hati Ayahku. Dengan plester! Meskipun sebenarnya tak akan bisa direkatkan di hati Ayah, tetapi rupanya telah menyentuh hatinya.

Rasanya, ini Ramadhan terindah yang pernah kulalui. Ada senyum yang kami dapatkan kembali. Ada kebahagiaan yang dapat kulihat di wajah Ayah. Dan, ada pelajaran berharga yang kudapat dari putriku tercinta.

Mungkinkah ini berkah Ramadhan, hadiah terindah dariNya?



Terinspirasi dari sebuah kisah di buku Chicken Soup

Augh-Lee-@
6 September 2008

0 komentar:

Posting Komentar