Social Icons

1 Agustus 2010

Jerih


“Sudahlah. Kakak nggak usah mengatur-atur Amir. Amir punya Atasan. Biar aku saja yang bicara dengan Mas Seno nanti.”

Sambungan telepon terputus. Aku beristighfar berulang kali sembari mengurut dada. Entah mengapa, rasanya sakit sekali aku mendengarnya.

Aku tak pernah meminta bantuan kepada adik-adikku sebelumnya. Mereka yang biasa mencariku saat ekonomi keluarga mereka tidak stabil. Namun sekarang, apa yang kudapatkan saat aku hanya meminta sedikit waktu mereka untuk menjaga Ibu yang sakit? Bukankah itu kewajiban mereka juga?

Aku menghembuskan napas kecewa.
***

Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga yang berkecukupan. Kehidupanku amat sederhana, meski Ayah memiliki ladang tanaman rempah berhektar-hektar. Keluarga kami biasa ditinggalkan oleh Ayah yang membagi perhatiannya tidak hanya kepada Ibu dan kami, tetapi juga kepada istri dan anak-anaknya yang lain.

Kehidupan yang amat sederhana itu terkadang membuat Ibu harus ekstra menghemat uang belanja. Sampai-sampai, untuk membeli pakaian dalam saja aku tak bisa meminta uangnya pada Ibu. Oleh karena itu, aku dan adik-adikku biasa mencari uang untuk keperluan kami yang sulit dipenuhi oleh Ibu. Mencari kerang di pantai untuk dijual ke toko-toko souvenir, membantu membersihkan kulit cengkeh di pabrik, atau ikut memetik kopi di ladang milik tetangga kami yang kaya. Sedangkan kakakku sudah dijadikan istri, oleh lelaki yang dipacarinya, sebelum bangku SMA ia tamatkan.

Aku anak kesayangan Ayah, sebenarnya. Aku, yang disebut Ayah anak cerdas, selalu meminta sekolah pada Ayah saat ia menyempatkan diri untuk pulang. Oleh karena itu, Ayah menyekolahkanku hingga perguruan tinggi, meski kebutuhan sehari-hari tetap aku sendiri yang harus memenuhi melalui honor mengajar di berbagai lembaga yang aku ikuti. Setidaknya, aku berhasil menjadi sarjana dan akhirnya menyandang gelar PNS sebelum Ayah menghembuskan napas terakhirnya. Namun sayang, aku hanya mampu membiayai adik-adikku hingga SLTA. Selanjutnya, mereka mengadu nasib di Jawa. Berharap menemukan kehidupan yang lain di sana.

Aku menikah dengan teman kuliahku dulu. Seperti aku, ia pun diterima menjadi PNS, bahkan ia diberi kesempatan untuk melanjutkan studi hingga S3 tanpa biaya. Saat ini ia menjadi Ketua Program Studi di universitas tempatnya mengabdikan diri. Dan entah dari mana, rezeki itu selalu mengalir sehingga keluarga kami hidup lebih dari cukup.
Adik-adikku yang merantau akhirnya menikah dengan orang Jawa. Tina yang menikah dengan Seno kini tinggal di Bekasi. Asri bersama suaminya tinggal di Kuningan, Jawa Barat. Sedangkan Amir yang bungsu tinggal di Jakarta Utara bersama istrinya. Hanya aku, bersama adik-adikku, Ina dan Budi, yang tinggal di Lampung, menemani Ibu di masa tuanya. Sedangkan kakak perempuanku meninggal karena gondok beracunnya belasan tahun yang lalu.

Dalam jangka waktu setahun ini, kami harus kehilangan dua orang saudara. Asri yang meninggal karena gangguan usus, dan Budi yang tinggal tak jauh dari rumahku pun meninggal karena darah tingginya yang tiba-tiba mencapai stadium akut. Oleh karena itu, aku ingin sekali menjaga hubungan dengan ketiga adikku, sebisa mungkin menjaga keutuhan keluarga, menjauh dari pertengkaran. Hingga akhirnya, hal yang kutakutkan itu terjadi.

Kami tak pernah mempersoalkan warisan. Kami sudah terbiasa makan dengan uang sendiri sejak kecil dan itu membuat kami tak banyak berharap, bahkan dari Ayah dan Ibu sekalipun. Mendapat bagian warisan syukur, tidak dapat pun kami tidak kecewa, meski terkadang adik-adikku meminjam uang padaku—yang kata mereka hidup lebih makmur, saat ekonomi keluarga mereka sulit. Aku pun tak segan meminjamkan, bahkan dalam nominal yang cukup besar. Mungkin itu yang membuatku merasa amat sakit saat aku merasa dikecewakan oleh mereka.

Adik bungsuku baru saja kehilangan anaknya. Ini yang kedua, setelah sebelumnya putri kesayangannya yang belum genap berusia empat tahun itu harus dipanggil oleh-Nya, karena sakit. Istrinya yang semula janda itu pun tak diperbolehkan lagi untuk mengandung karena usianya yang telah memasuki usia beresiko untuk hamil. Siapa yang tidak sedih karenanya?

Tapi, rupanya adikku, Tina, yang tinggal di Bekasi itu cari ulah. Suaminya, yang kini telah berpenghasilan cukup, mengajak Amir untuk bekerja di perusahaan tempatnya bekerja. Baru beberapa bulan bekerja, Amir sudah berani memasukkan adik iparnya tanpa sepengetahuan Seno. Seno marah dan aku paham. Aku pun membenarkannya. Amir lalu meminta maaf pada Seno dan pimpinan perusahaan, serta mengajak adik iparnya untuk kembali pulang. Tetapi, apakah marah berarti memusuhi?

Amir yang berduka itu harus ditusuk-tusuk hatinya karena perlakuan Seno dan Tina. Mereka yang ketus, mereka yang membuang muka saat bertemu, membuat Amir tak betah dan ingin pulang ke Lampung saja katanya, lalu menikah lagi dengan perempuan yang bisa memberinya keturunan.

Aku mendukung. Apalagi kesehatan Ibu saat ini semakin buruk. Penyakit tua membuatnya sulit berdiri sendiri. Bahkan, Ibu harus mengenakan pampers agar tidak sembarangan buang air. Dan aku sendiri yang harus merawatnya, memandikan, menyiapkan makan, bahkan membantu saat Ibu ingin wudhu dan menunaikan sholat lima waktu. Tetapi, tidak bolehkah aku meminta bantuan, sekali saja? Karena ia adalah Ibu mereka juga.
***

“Tina meneleponku,” kata Ina saat aku tiba di rumah. Ina, adikku yang terkadang bisa kumintai bantuan untuk menjaga Ibu ketika aku harus ke sekolah membantu murid-muridku mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional.

“Terus?” Aku menatapnya menanti jawaban.

“Ya… Dia cerita. Kakak mungkin sudah tidak ikhlas menjaga Ibu, karena itu harus memaksa Amir untuk pulang.”

“Ah,” aku mendesah. Kuletakkan tas yang masih menggantung di lenganku. Aku pun duduk. “Kau tak tahu saja bagaimana masalahnya.”

Ina mengernyitkan dahi.

“Amir itu sudah tidak dianggap mereka saudara. Dia di sana dimusuhi, bahkan oleh kakaknya sendiri. Amir tidak betah, karena itu ingin pulang, supaya bisa sering-sering menengok Ibu.”

Ina diam mendengarkan aku bercerita.

“Sudahlah, aku tidak ingin mengungkit-ungkitnya lagi. Menambah sakit di hatiku saja rasanya.” Aku bangkit untuk mengganti seragam mengajarku dengan pakaian santai.

“Biar saja dia bilang aku tidak ikhlas. Allah yang menilai, bukan Tina.”
***

Dulu aku tertawa saat Tina berkata, “Aku tak mau anak-anakku nanti sengsara, Kak. Aku harus punya uang banyak supaya anak-anakku bisa jajan, nggak bengong seperti aku saat melihat teman-temanku di sekolah menenteng banyak makanan yang mereka beli.”

Baguslah. Setidaknya ia punya keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Dan mungkin, itu yang memicunya untuk bekerja lebih keras. Aku tahu, adik-adikku tak seberuntung aku yang disekolahkan Ayah hingga aku menjadi guru tetap sekarang. Oleh karena itu, aku tak segan membantu, bahkan jika mereka tak bisa mengembalikan uang yang mereka pinjam dariku dalam waktu dekat.

Mereka sempat membenci Ibu yang tega membuat kami mengais makanan di tempat lain, bukan di rumah. Tetapi, predikat Ibu tak pernah luntur. Ibu tetaplah Ibu. Meski kami telah berkeluarga. Meski kami tak lagi tinggal seatap dengan Ibu. Meski perasaan benci sempat hinggap di hati kami. Ibu tetaplah Ibu. Dan kewajiban kami untuk berbakti padanya pun tidak pernah luntur.

Biar saja adik-adikku berkata apa. Aku tetap ingin berbakti pada Ibu. Merawatnya, membuat ia merasakan kehadiranku di dekatnya.
***

Aku baru saja memutuskan sambungan telepon dari kepala sekolah yang menegur agar aku tak sering bolos karena Ujian Nasional semakin dekat. Anak-anak membutuhkan bimbinganku. Apalagi Matematika memang pelajaran yang amat mereka khawatirkan.

“Kurang nol koma satu juga nggak lulus, Bu,” kata salah satu muridku suatu waktu.
Ya. Mudah-mudahan besok Ina bisa menggantikanku merawat Ibu. Beberapa hari ini Ina memang tidak diizinkan suaminya keluar rumah, entah mengapa. Jadi aku yang non-stop menyiapkan keperluan-keperluan ibu. Kasihan jika Ibu ditinggal sendirian.
Anak-anakku pun memiliki kewajiban di sekolahnya, begitu pula suamiku.

Aku mengambil air hangat dan handuk kecil untuk memandikan Ibu yang berbaring di kamarnya. Ibu tersenyum saat melihatku masuk.

“Mandi dulu ya, Bu. Setelah itu makan,” kataku. “Aku masak nasi tim ayam untuk Ibu.”
Ibu mengangguk pelan dan membiarkan aku mengusap-usapkan handuk ke wajah, leher, dan bagian tubuh Ibu yang lain. Aku menggunakan sabun cair agar Ibu tetap harum. Tak lupa, aku pun mengusap tubuh Ibu kembali agar tidak lengket karena sisa sabun.
Ibu tampak sedikit lebih segar.

“Bertengkar…” kata Ibu. “Dengan Tina?”

Aku mendongak menatap Ibu. Aku menghembuskan napas berusaha tetap tersenyum.

“Sudahlah…” Ibu berkata dengan payah. “Tidak usah… Dipaksa…”

Aku tak berkomentar. Luka itu, luka karena kata-kata adik kandungku itu, masih menyisakan perih di hatiku. Hatiku sakit bukan untukku. Hatiku sakit karena ibu tidak mendapatkan pengabdian yang semestinya dari anak-anaknya.

Aku baru saja akan membereskan peralatan mandi Ibu ketika handphone-ku berdering, tanda SMS masuk.

“Kak, maaf…Ina nggak diizinkan suami. Jadi besok nggak bisa gantikan kakak jaga Ibu. Maaf.”

Aku terpaku. Pandanganku tak beralih dari layar handphone. Aku membacanya berulang kali, seakan tak percaya kata-kata itu ditujukan Ina –lagi-lagi- untukku. Tak ada yang berubah, meski aku telah mengatakan kepala sekolah menegurku, murid-murid di sekolah membutuhkanku. Tak ada yang berubah. Bahkan Ina yang selama ini kupercaya sebagai satu-satunya adikku yang mau menurut.

Dadaku bergemuruh. Bibirku bergetar menahan amarah. Ini sudah yang kesekian kali Ina tidak bisa datang karena tidak diizinkan suaminya.

Kugenggam erat-erat handphone-ku, menahan agar tangan ini tak melemparnya karena kesal. Mengapa mereka amat tega?

“Ibu… nggak minta… banyak…”

Aku, yang menahan agar air itu tidak tumpah dari pelupuk mataku, mendongak menatap Ibu yang bicara tersengal-sengal karena asmanya.

“Nggak pernah… Berharap kalian ngasih harta…”

Aku diam, tak berkomentar satu patah kata pun.

“Perhatian kalian… Cukup buat Ibu senang…”

Tak kuasa lagi aku menahannya. Amarah itu membuncah. Air yang tergenang di sudut mataku ruah. Bening, hangat, mengalir ke pipiku yang sudah mulai berkerut dimakan usia.

Biar. Biar aku saja yang bersusah payah. Biar aku saja yang tertatih. Biar, orang mengatakan aku tidak ikhlas.

Ibu tetap harus merasakan kehadiran anaknya di penghujung usianya itu. Harus. Tak peduli apakah adik-adikku mau memberikan waktunya untuk Ibu. Karena ada aku yang berusaha untuk tetap ada di samping Ibu.

Biar. Biarkan aku tetap berbakti pada Ibu.

**end**
Bandung, 31 Juli 2010
Untuk Mama… Ibu terbaik sedunia

0 komentar:

Posting Komentar