Social Icons

31 Desember 2011

Bingkisan Akhir Tahun: Sekolah Pintar Merapi

Ini untuk yang kesekian kalinya aku melihat jam digital yang tertera di ponsel. Tak ada bunyi ‘tik’ yang menandai bergantinya setiap detik, tetapi, dua angka di belakang tanda titik dua itu terus berubah. Dari satu menjadi dua, dari dua menjadi tiga, tahu-tahu angkanya sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit.

Aku duduk, berdiri, melihat kanan kiri, kemudian duduk lagi. Dari ruang tamu yang dua kali lipat luasnya daripada ruang tamu di rumahku itu, ke dapur, ke kamar mandi, kemudian ke ruang tamu lagi. Gelisah.

“Ya ampun,” kataku akhirnya, tak tahan. “Cowok-cowok itu lama betul Sholat Shubuhnya.”

Mbak Hesti pun ikut menimpali, “Sholatnya sih sebentar, tapi I’tikarnya itu lho…”

Dengan cepat leherku berputar dan menatap Mbak Hesti, “Apa Mbak, tedor lagi? Ampuuuuuuun…”

Mendadak ingin murka karena mendengar kebiasaan cowok, yang meski alim, senang sekali menghilangkan kesadarannya dari dunia fana ini dengan aktivitas kesayangan mereka: tidur.

“Gimana lah…” Aku mengerucutkan bibir. “Katanya mau lihat sunrise. Malah teeedooor…”

Mbak Uzi pun bangkit menghampiriku dan berkata, “Ya udah, kita lihat sunrise berdua aja, yuk!”

Wah? Wajahku pun kembali sumringah. Baik sekali Mbak satu ini. Dengan semangat yang tiba-tiba kembali menggebu, aku pun membuka pintu ruang tamu. Belum ada sepuluh detik aku tersenyum, tiba-tiba suara nyaring keluar dari tenggorokanku, “Kyaaaaaaaaaaaaaaa…!”

Berpasang-pasang mata, milik Mbak Uzi, milik Mbak Hesti, milik Ovan (adik bungsu Mbak Uzi), juga milik Pak Ferdi, spontan mengerlingku. Dengan histerisnya aku menunjuk-nunjuk pepohonan dan jalan yang telah amat sangat terlihat karena matahari telah beranjak dan mulai menampakkan sinarnya.

“Terlambat.” Aku menundukkan kepala seperti pose anak sekolah yang sedang mengheningkan cipta. Sendu. Meski tak berurai air mata. “Sun sudah rise dari tadi…”
***
Wuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiw…!

Aku dan Mbak Uzi yang menenteng berkresek-kresek barang belanjaan baru saja tiba di posko Sekolah Pintar Merapi. Tiba-tiba teringat lagu seorang penyanyi dari benua seberang, Mariah Carey, Through the Rain. Benar. Kami baru saja menerabas hujan di sepanjang perjalanan dari pasar menuju posko.

“Aku keren ya, Mbak?” tanyaku memaksa.

“Kamu keren, Li. Keren, keren!” jawab Mbak Uzi.

Ah, Mbak satu ini memang baik sekali. Cocok jika aku menyebutnya Mbak Nyonyah karena ia adalah sosok perempuan muda yang sangat keibuan.

Ini mungkin cara Mbak Uzi menghiburku. Mengajakku ke pasar ketika aku kehilangan semangat karena tak menyapa mentari saat ia pertama kali memamerkan warna keemasannya pagi ini. Bukan pasarnya yang membuatku kembali lincah, tetapi perjalanan dari posko ke pasar maupun dari pasar ke posko yang amat sangat luar biasa.

Aku adalah pengendara motor amatir yang memang dusun sekali. Tak pernah sebelumnya melewati jalan yang berlika-liku bahkan tertutup kabut seperti tadi. Apalagi menerabas hujan dengan kondisi kepala yang tidak bisa menengok ke kanan dan ke kiri karena jas hujan yang membungkus dan kami membawa barang belanjaan.

Tetapi, tahukah, pagi yang berkabut di daerah pegunungan ini begitu cantik. Begitu pula ketika ribuan tirai bening mulai tertumpah dari langit. Tak kalah cantik.

Ah… Langit memang tak pernah salah. Tak perlu membenci apapun yang tertumpah curah darinya. Ketika ia utuh berwarna biru tanpa gemawan, ketika putih ikut berarak dan mulai mengiringi, ketika keemasan cahaya mentari ikut mendominasi, bahkan ketika titik-titik hasil pengembunan H2O mulai turun dan menghalangi pandangan. Nyata, meski terkadang hanya sejenak. Namun aku yakin itu adalah sedikit dari sekian banyak pertanda bahwa Allah Maha Indah.
***
“Kyaaaaaaaaaaaaa!”

Baru saja ditinggalkan Mbak Nyonyah puluhan detik, aku sudah membuat ulah. Mengapa aku yang begitu cerdas ini tidak bisa membedakan teko mana yang berisi air bening dan teko mana yang berisi air teh?

“Kenapa, Nduk?” Ibu Baik (panggilan saya kepada ibu pemilik rumah yang dijadikan posko relawan) itu menghampiriku.

Dengan bersungut-sungut aku menunjukkan mangkuk tempatku meracik bumbu jamur krispi yang telah berwarna kekuningan akibat air teh yang nakal sekali loncat dari teko ke mangkuk.

“Nggak apa-apa,” Ibu Baik menenangkan. “Malah tambah enak kok.”

Aku pun mengangguk dan melanjutkan aktivitas sakral pagi ini, meracik bumbu jamur krispi untuk sarapan para relawan.

Mbak Uzi datang dan membawa telur serta terigu. Dengan gaya koki terkenal, aku pun meramu kembali jamur krispi itu hingga wujudnya terlihat meyakinkan.

Sreeeeeeeeeng!

Jamur krispi yang belum krispi itu beradu dengan minyak panas dari penggorengan yang diletakkan di atas tungku. Ovan harus membantuku menyalakan api sedari tadi. Sekali lagi, aku adalah penghuni dapur amatir yang dusun sekali karena tak bisa menyalakan api di dalam tungku.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Ini ‘kya’ yang kesekian kalinya pagi ini. Hobi betul berteriak ala Jepang, membuat sensasi.

“Ini kan minyak bekas goreng ikan asin!” Histeris sekali aku menunjuk-nunjuk penggorengan. Iba melihat jamur yang salah memakai aromaterapi di bathtub(wajan)nya.

“Lah, nggak apa-apa,” kata Mbak Nyonyah. “Lagian minyaknya nggak banyak. Kasihan ibu kalau terlalu banyak minyak yang dipakai.”

“Ho ya ya, oke oke,” kataku sembari berpikir. “Kita namakan ini Jamur Krispi Eksotis kalau begitu. Waaaaaaaahahahahahahahhhhh.”

Aku tertawa kejam, membayangkan bagaimana raut wajah para relawan ketika mencicipi jamur goweng gawing (baca: goreng garing) yang bertabur parfum aroma ikan asin.


***
“Asin,” komentar salah satu cowok yang pagi tadi membuatku murka karena tak jadi melihat sunrise. Aku tak hendak menyebutkan namanya di sini. Bukan karena menutupi aib, tetapi aku memang tidak ingat, siapa yang berkata ‘asin’ itu.

“Hayoooooo,” Om Purwanto meledek. “Kalau masakannya keasinan, berarti…”

“Mbak Uzi…” Aku menatap Mbak Nyonyah, mengadu.
***
Ntah mengapa, setiap kali melihat orang pendiam atau setidaknya irit bicara, aku penasaran. Ingin sekali bisa membuatnya tersenyum, apalagi jika mampu membuatnya tertawa. Sepertinya akan menjadi sebuah prestasi yang luar biasa. Itu yang kurasakan ketika melihat Ovan.

Daeng Sahrir sudah mendahuluiku. Membuat Ovan tertawa meski sebenarnya ia tak sengaja. Pagi, mereka berdua hang out dan meminjam kamera digitalku. Pasti mau bergenit ria, berfoto-foto dengan gaya sok cool.

“Di sana itu,” kata Daeng. “Ada kali yang namanya sama dengan namamu, Pak-h. Kali Opak-h!”

Waaaaaahahahahahhahhhh, mendengar ceritanya saja aku sudah tertawa, apalagi menyaksikan langsung kejadian salah kaprah dari sang Daeng yang memang keseringan salah kaprah. Masalahnya, selain menyebut Ovan dengan Opak, Daeng berseru dengan menambah huruf ‘h’ di belakangnya. Semakin mantaplah nama adik bungsu Mbak Nyonyah ini, “Opak-h”.

Pagi, setelah sarapan, ada agenda berbenah posko. Merasa bukan siapa-siapa dan tak tahu apa-apa, aku membiarkan para relawan yang amat sangat gigih sekali itu membanting tulang. Mengangkat ini, mengangkat itu, membereskan ini, membereskan itu, memilah ini, memilah itu, hilir mudik di sekitarku. Sedangkan aku, berteman headset, sok sibuk di depan laptop Om Purwanto. Menerima job untuk men-translate sebuah lagu nan merdu yang berbahasa asing. Ba bi bu sendiri, wa wi wu sendiri, ca ci cu sendiri, kebingungan karena ragu, artis ini sedang menyanyikan apa.

“Ada raket!” Om Purwanto mengacungkan raket seolah menunjukkan harta karun yang telah terpendam ribuan tahun. Di tangannya yang lain, ia menunjukkan cock.

“Main, yuk!” Aku yang pening dengan bahasa asing yang sedari tadi kudengarkan melalui headset itu pun bangkit. “Yuk, Pan!” Mengerling Ovan yang masih duduk manis.

Aku, Ovan, Daeng, dan Om Pur bergegas ke halaman depan, mengambil pose seolah adalah pebadminton profesional. Mbak Hesti juga turut, mengambil posisi seperti wasit.

“Ya, mulai!”

Tuing, tuing, tuing! Cock berpindah, dari raket yang satu ke raket yang lainnya.

“Satu kosong!” teriakku ketika Daeng maupun Om Pur tak mampu menerima cock yang kulemparkan.

“Dua kosong!” aku kembali berteriak. “Kita menang, Pan! Kita menang!”

“Aih, belum lah,” protes Daeng.

“Tiga kosong!”

“Empat kosong!”

“Enam kosong!”

Waaaaaaaaaaaah… Aku tertawa-tawa bahagia melihat Daeng dan Om Pur dikalahkan oleh anak ingusan seperti aku dan Ovan.

“Aaaaargh!” Daeng bersungut. “Rusuh betul! Masa kau main tak pakai aturan begitu!”

Aku masih tertawa-tawa. Untungnya, selama puluhan menit ke depan, aku tidak tertawa sendirian. Baik Om Pur, Daeng, maupun Mbak Hesti, ikut berteriak-teriak ketika cock mulai dilempar sana dilempar sini. Ramai, riang, aku senang! Dan tahukah, Ovan pun ikut tertawa.

Ovan tertawa, rasanya cukup. Tak peduli apakah tim kami menang atau tidak. Tak juga peduli dengan Pak Pidi yang melanjutkan beberes posko sendiri karena ditinggalkan pengikutnya yang nakal sekali, justru bermain badminton. Tak peduli yang lain. Karena satu hal, Ovan tertawa.

***

Aku menghembuskan napas panjang, menatap posko itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya di 2011. Akhirnya, masa ini tiba. Masa ketika aku harus pergi dan melepaskan semuanya.

Rasanya baru beberapa jam lalu, ketika untuk pertama kalinya aku tiba di posko. Berkenalan dengan relawan, juga anak-anak yang kebetulan singgah. Berbincang ini itu dengan Mbak Putri, Mbak Lilin, Mbak Hesti, Mbak Uzi, Risya, Ratna, dan Atin, sembari menunggu pukul dua belas malam untuk outbond, acara yang memang sengaja diadakan untuk remaja Merapi sekaligus para relawannya.

Ketika mengikuti pemanasan kecil, berjalan kaki sendirian menerjang gelap, bahkan melewati kuburan massal para korban erupsi Merapi. Ketika kami kembali ke posko bersama peserta lain, menyusuri jalan kampung diiringi ‘salakan’ anjing. Ketika kami tertidur belasan menit jelang Shubuh dan kembali ke gardu pandang untuk melihat sunrise. Ketika pagi, kami berlatih lempar pisau. Sarapan, kemudian aku pulang.



Aku kembali lagi ke posko setelah pegal di kaki, sisa outbond, telah terasa lebih ringan, keesokan harinya. Bersama Mbak Uzi dan Mbak Hesti menemui teman-teman dari Arsitektur UNS ke shelter di Glagah.


Sorenya, membagikan sedikit ‘titipan’ untuk anak-anak di kampung, kemudian menikmati angin yang berhembus, sedikit lebih dekat ke Merapi, juga mengabadikan beberapa objek menarik di sana.


Malam, hingga larut, kami masih berbincang karena menunggu makan malam yang tak kunjung diantarkan oleh Pak Pidi, Daeng Sahrir, juga Pak Ferdi. Bahkan keesokan harinya, aku terbangun dengan harap bahwa hari ini tak cepat berlalu. Rasanya, aku ingin tinggal lebih lama…

Tidak, aku tidak ingin menjadi kufur dengan nikmat. Sudah cukup apa yang diberiNya. Aku telah menjadi kaya dengan rasa, karena bertemu, berkumpul, dan berbincang dengan para hambaNya yang luar biasa selama empat hari di lereng Merapi ini. Hanya empat hari, tapi sungguh, aku telah merasa memiliki tempat di sini. Meminjam istilah dari seorang teman, “Aku ingin menempatkan kalian dalam deretan ‘family’ku, karena family nggak pakai ‘end’ seperti fri(end).”

Sekolah Pintar Merapi. Aku akan mengingatnya. Bahwa suatu hari, aku pernah ada di dalamnya, merasakan hangat kekeluargaannya, merasakan ceria dari atmosfernya, juga merasakan gigih dari setiap aktivitas para relawannya.

“Allahku, terima kasih bingkisan akhir tahunnya,” aku berbisik di antara rimbunnya dedaunan yang kami lewati, malam, dalam perjalanan menuju kota. “Aku bahagia…”

Semilir angin mampu kurasa. Dengan naungan langit, meski tak berbintang, aku ingin tetap menyapa. Mbak Hesti yang memegang kendali sepeda motor yang kami naiki terus-menerus bersuara, menyanyikan Thank You milik Dido, kemudian lagu Utada Hikaru, dilanjutkan dengan soundtrack Inuyasha juga Naruto, dan lagu-lagu lain yang tak habis-habis dinyanyikan, seolah playlist di winamp di benaknya memuat ribuan lagu. Meski aku pun terkadang turut menyanyikan lagunya, aku masih menyimpan rasa itu di sini, di hatiku.

“Allahku, terima kasih, aku bahagia…” aku kembali berbisik pada angin. “Karena aku memiliki banyak hal dari apa yang kulihat, kudengar, dan kurasa. Untuk apapun yang Kau seduhkan di pagi buta, Kau sajikan di siang ceria, dan Kau suguhkan di malam renungan.”

Aku memejamkan mata, menundukkan kepala. “Aku bahagia, karena kuyakin Kau mendekapku dalam sayang, merangkulku bersama orang-orang istimewa yang juga saling sayang karena Engkau. Terima kasih…”

Untuk Mbak Uzi yang dewasa dan keibuan, Mbak Hesti yang semangatnya berkobar, Mbak Putri yang lincah, Risya yang energik, Mbak Lilin yang kreatif, Ratna yang keren dengan Gatotkaca-nya, Atin yang lembut, Mbak Isna yang kalem, Ibu Baik yang memang sangat baik, terima kasih kebersamaannya…

Untuk Om Pur yang jago IT, Daeng Sahrir yang ‘unyu’ sekali caranya berbahasa, Pak Pidi yang doyan nyambel, Pak Ferdi yang saya kagumi kamera SLR-nya, juga Ovan yang masih malu-malu menunjukkan eksistensinya. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal…

Untuk adik-adik yang ku yakin, memiliki cita-cita yang tak kalah tinggi dengan Merapi, teruslah belajar. Belajar tentang hidup, belajar untuk hidup, juga belajar untuk menghidupkan orang lain. Terima kasih mengizinkanku mengenal kalian…

Semoga di lain kesempatan, juga di lain tempat, aku mampu menciptakan atmosfer seperti ini, yang senyumnya, yang tawanya, yang candanya, tetap dalam taat kepadaNya.

Sampai jumpa lagi di surga ^_^


Detik-detik Keberangkatan Kakak-kakak Menuju Puncak Lawu
30 Desember 2011
18:02
Readmore - Bingkisan Akhir Tahun: Sekolah Pintar Merapi

22 Desember 2011

Prambanan di Hari Ibu



Libur sekolah akhir tahun 2011, Mama ngajak Agil (adik bungsu saya) ke Solo jenguk Kakak sama Masnya. Jalan-jalan dong agenda elitnya. Karena Agil belum pernah ke Prambanan, Mama ngajak ke sana. Tapi, Bayu (adik pertama saya) ga bisa ikut karena ada ujian. Sebenarnya saya sudah dua kali ke sana, jadi agaknya kurang antusias. Tapi, demi Mama (karena ini hari ibu) dan Agil (adek kesayangan saya), akhirnya saya ikut juga. Lagipula saya belum ada jadwal kuliah di Pascasarjana, hihihi...

Pagi-pagi sekali Bayu mengantarkan kami bertiga ke halte di depan gerbang UNS. Dengan bus ATMO, kami meluncur ke Balapan Solo dan segera memesan tiket Prambanan Ekspres. Sampai di Jogja, kami singgah sejenak di kosan Winda, sepupu saya, untuk sarapan. Baru setelah itu go ke Prambanan naik Trans Jogja.

Prambanan itu luasnyaaaaaaa minta ampun. Dan ga ada ojeg dong, hahaha.. Jadi kami benar-benar jalan-jalan dan hosh hosh hosh...

Tapi, kalau sudah foto-foto, capeknya sembuh dong, hahahaha...





Yang kasihan itu Mama. Anak-anaknya kan energik ya, lari sana lari sini, jadi kecapekan deh ngejar-ngejar kami yang keasyikan foto-foto. Maap ya, Ma (^/\^)


Cantik banget ya ini (^^,)bb


Di dalam Prambanan ada kompleks-kompleks candi gitu, ga hanya cecandian yang di dalamnya ada Roro Jonggrang. Tapi, untuk ke kompleks candi itu kami naik kereta karena jauh plus sudah berkeringat sangat :D


Jepretan trakhir nih sebelum pulang. Peninggalan sejarah :O




Readmore - Prambanan di Hari Ibu

Aku, Bunda


Suaranya nyaring, tangisnya mungkin terdengar sampai keluar ruangan. Tetapi, aku senang. Menatapnya, membuat rasa nyeri, mulas, bahkan sakit ketika ia mendesak-desak ingin keluar dari perutku beberapa menit lalu, hilang seketika.

Asisten bidan sudah membersihkannya setelah mengukur panjang serta menimbang berat badannya. Membedongnya dengan sehelai kain, kemudian meletakkannya di dadaku. Aku mendekapnya, mencium keningnya, mengusap-usap rambut tipisnya, juga memainkan hidung mungilnya. Ia mirip sekali dengan seseorang yang terus berada di sampingku beberapa jam ini.

“Cantik sepertimu,” Reihan tersenyum memandang si kecil seraya mengerlingku.

“Benarkah?” Aku tersenyum. “Tapi, rambut tipis ini milikmu.” Aku mengusap kembali helaian rambut yang bertengger manis di kepala si kecil.

“Perempuan,” ucap Reihan. “Kau boleh menamainya.”

Aku menatap mata jernih Reihan, meminta keyakinan, seraya membuka kembali memori tentang nama-nama yang sebenarnya telah kupersiapkan sejak lama. Kutemukan satu kata.

“Aoi.”

Reihan mengerutkan dahi. “Nama Jepang?”

Aku mengangguk. “Aku suka Aoi.” Pandanganku beralih ke jendela kaca di samping kami, menatap lekat gemawan yang menggumpal dan sedikit menyisakan warna biru sang langit di sela-selanya. Reihan mengikuti arah pandangku dan tersenyum.

“Aku tahu, kau suka langit.”

Aku mengangguk.

“Kau ingin anak kita memiliki cita-cita yang tinggi,” Reihan menerka.

Aku sedikit menggeser posisi kepala. Reihan membantuku dengan mengangkat si kecil dan meletakkannya di sampingku agar aku bisa bersandar lebih nyaman dengan posisi bantal yang berdiri.

“Aoi berarti biru,” aku kembali bersuara. “Bintang terhangat di jagat raya berwarna biru, aku ingin ia menghangatkan. Langit yang kusuka itu berwarna biru, aku ingin ia meneduhkan. Air jernih nan tenang di lautan itu berwarna biru, aku ingin ia menenangkan. Biru dengan kuning menjadi hijau, biru dengan merah menjadi ungu, aku ingin ia menjadi dominan dan menciptakan banyak warna indah yang lainnya.”

“Baiklah.” Tangan kiri Reihan mengusap sedikit peluh yang tersisa di dahiku, sedang tangan kanannya menggenggam jemariku dengan lembut. “Semoga ia kelak menjadi sepertimu, Kania.”

Aku menggeleng. “Dia harus lebih baik dariku.”
***

Aku mengerang. Sakit luar biasa. Tak bisa kutahan meski Mama berada di sampingku dan terus menguatkan.

“Tidak bisa, tidak bisa,” aku menggelengkan kepala. “Sakit, Maaa.. Tania ingin sesar saja.”

Orang-orang berseragam putih yang lalu lalang di sekitarku bergerak semakin cepat. Ntah membicarakan apa, aku tak peduli. Ingin sekali sakit ini segera mereda.

Kulihat Mama bergerak menjauh dan berbicara ini itu dengan seseorang. Uuuh, mengapa di situasi seperti ini sempat-sempatnya atasan Teguh memanggilnya ke LA? Seharusnya ia di sini, melihat aku yang bersusah payah mengeluarkan anaknya dari dalam perutku.
Dua orang perawat di sampingku tiba-tiba mengangkat dan memindahkanku ke brangkar, tempat tidur beroda, yang dibawa oleh perawat lain, kemudian mendorong menjauh dari tempatku semula berbaring. Kami memasuki sebuah ruangan yang dilengkapi banyak peralatan. Dalam waktu puluhan detik kemudian, kurasakan kantuk yang luar biasa setelah salah seorang dari mereka menyuntikkan beberapa milliliter cairan ke dalam tubuhku. Aku terlelap.
***

“Ayah pulang…”

Aku menghampiri Reihan yang baru saja turun dari Kijangnya. Mencium tangannya yang kemudian dihamparkan untuk menyambut Aoi. Aoi tertawa, tahu siapa yang datang.

“Sudah ma’em belum, Cantik?” Reihan menggendongnya, memain-mainkan hidung mungil Aoi seperti kebiasaanku.

“Sudah, Ayah,” aku menjawab, seolah menerjemahkan celoteh tak jelas yang keluar dari bibir mungil Aoi. “Bunda rajin sekali makan ikan. Nanti Aoi pasti jadi anak cerdas.”

Reihan mengerlingku, tangan kanannya pun bergerak untuk mengacak-acak rambutku,

“Dasar.”

Aoi kembali tertawa. Lucu sekali.

“Kau lelah, Sayang?” Aku mengangkat tas yang diletakkan Reihan di dekat kakinya karena menggendong Aoi. “Ingin kubuatkan apa malam ini?”

Reihan mengusap-usap dagunya sambil mengangguk-anggukkan kepala, tampak berpikir. Gaya sekali.

“Sepertinya aku lupa,” katanya. “Mana yang paling enak di antara masakan-masakanmu. Karena untukku, semuanya nomor satu.”

Aku tertawa mendengarnya meski sesungguhnya aku tersipu.

“Aku hangatkan dulu pepes ikannya,” kataku sembari mengecup pipi Aoi yang berisi.

“Bunda ke dapur dulu ya, Aoi main dengan Ayah.”
***

“Ayolah…” Teguh masih berusaha membujukku. “Sudahi saja. Kasihan anak kita.”
Pandanganku yang semula lekat pada layar yang masih menyala di hadapan, beralih menatapnya. “Semuanya sudah kurencanakan, Honey, tenanglah…”

“Iya, aku mengerti.” Teguh bangkit dan duduk di tepi ranjang di sampingku. “Rupiah-rupiah itu tidak hanya kau kumpulkan untuk kita dan anak-anak nantinya, tetapi juga untuk setengah lusin adikmu agar mampu sekolah sampai sarjana.”

Mataku kembali menatap huruf-huruf yang mulai bermunculan di layar karena jemariku sibuk menekan tuts keyboard.

“Tapi, kesibukanmu kan bisa dikurangi. Beralihlah ke pekerjaan lain. Membuka butik misalnya. Lagi pula gajiku dari World’s Oil and Gas Service Company milik AS itu cukup.”

Jemariku berhenti bergerak. Selama beberapa detik kelopak mataku tak berkedip karena kesulitan menelan kata-kata Teguh. Puluhan kata di otakku mendesak, meminta lidah untuk melontarkannya.

“Kalau kau mengerti,” aku menatap Teguh tajam. “Kau akan tau bagaimana perasaanku ketika sesuatu yang dengan susah payah kuraih, harus dibuang begitu saja.”

Hening sejenak. Berharap diamnya Teguh karena ia sedang berusaha mencerna kata-kataku dan tidak menimpalinya dengan kata-kata lain yang mungkin saja mampu membuatku terluka lebih banyak.

“Menjadi lulusan terbaik dari institut, mengikuti job fair dan akhirnya lolos dari seleksi, disekolahkan lagi di Colorado, mendapatkan posisi yang tidak kalah prestise-nya dari posisimu sekarang, tidak semua orang bisa melakukannya.”

Teguh menarik napas panjang hingga matanya terpejam. Bibirnya terbuka, namun yang dikeluarkan hanyalah karbondioksida. Lega karena Teguh mengerti, aku kembali berkutat dengan arsip-arsip penting di laptop. Teguh bangkit, membuka daun pintu di belakangku.

“Kau seorang ibu, Tania,” katanya sebelum daun pintu kembali tertutup. “Aku hanya sedang memikirkan Anggun, putri kita.”
***

“Bunda…”

Mataku yang semula terpejam tiba-tiba mengizinkan kelopaknya untuk membuka. Kukira Aoi sudah terlelap di sampingku setelah puluhan pertanyaan sedari tadi
dilontarkannya. Sepertinya, ia gundah sekali. Esok hari pertamanya masuk sekolah.

“Hm…?” Aku menggerakkan tubuh untuk menghadap ke arahnya meski tetap dalam posisi berbaring.

“Mengapa Ayah tidak pulang?” Mata kumbang Aoi menatapku. Tanganku kemudian bergerak mengusap rambut sebahu Aoi, di tempat bando warna-warninya biasa bertengger.

“Ayah masih ada tugas di luar kota, Sayang…”

Aoi menarik selimutnya hingga menutupi dada.

“Tapi, Aoi ingin diantarkan Ayah besok.”

Aku menghembuskan napas panjang. Ia pasti rindu. Ini hari kelima Reihan melakukan controlling di daerah pelosok Jawa Barat, tempat perusahaan tempatnya bekerja, menyewa lahan.

“Bunda janji, besok seharian menunggu Aoi di sekolah,” ucapku. “Nanti Bunda buatkan video supaya Ayah bisa melihat bagaimana Aoi di hari pertama sekolah. Ya?”

Aoi kembali menatapku. Dua jari kusematkan di ujung-ujung bibirnya agar melengkung ke atas, membentuk sebuah senyum. Tak sampai sepuluh detik, kedua pipinya terangkat karena Aoi mengikuti jemariku dan benar-benar tersenyum.

“Okey.”

Aku mengecup keningnya, berniat mengucapkan ‘Selamat tidur’ ketika Aoi kembali bersuara, “Bunda buatkan bekal, kan?”

Aku mengangguk. “Aoi mau Bunda buatkan apa?”

Telunjuknya bergerak dan menyentuh bibir bagian bawah, berpikir.

“Aoi bingung,” katanya. “Karena semua masakan Bunda nomor satu.”

Aku terbahak. Mirip sekali dia dengan Reihan yang sepertinya telah mengucapkan kata-kata yang sama puluhan kali. Ayah anak kompak ternyata.

“Okey,” aku membalas mengucapkan kata yang tadi diucapkan Aoi. “Besok Bunda bangun pagi-pagi sekali dan membuatkan nugget bayam untuk Aoi.”

Kedua jempol tangan diacungkan Aoi, membuatku kembali tertawa karena gaya polosnya.
“Sekarang bobo’ supaya besok tidak terlambat.”
***

Ini kali ketiga aku melakukan pengecekan barang agar tak ada yang tertinggal. Ratusan menit yang akan datang, aku akan terbang ke Afrika untuk tender penting yang baru beberapa pekan lalu kusanggupi untuk kugarap.

“Anggun, ayo sini…” Tien berlari-lari kecil di ruang tengah, mengejar Anggun yang tampaknya bandel sekali.

“Nggak mau, nggak mau!”

Aku membuka pintu kamar dan mendapati Anggun yang bersembunyi di balik sofa kemudian kembali berlari ketika Tien, pengasuhnya itu, mendekat. Anggun menghampiri aku yang dua kali lipat lebih tinggi darinya. Ia memelukku erat sekali.

“Kenapa?” Aku mengerling Tien.

“Nggak mau mandi, Bu.”

Aku mengusap-usap kepala Anggun. “Ayo mandi dong, Sayang, biar tambah cantik.”
Anggun mendongak, “Mau dimandikan Bunda…”

Aku melepas pelukannya dan berlutut, mengusap-usap pipi Anggun. “Bunda sebentar lagi berangkat, Sayang. Mandi sama Mbak Tien ya…”

Kepala Anggun digeleng-gelengkan. “Bunda jangan pergi…”

Aku menghembuskan napas panjang. “Sebentar kok, nanti pulang lagi.”

Anggun kembali memelukku. Aku mengerling Tien agar mendekat.

“Anggun mau oleh-oleh apa? Nanti Bunda belikan. Sekarang mandi dulu ya?”

Anggun semakin erat memelukku meski aku berusaha melepas pelukannya.

“Mau mandi kalau Bunda yang mandikan.” Kakinya menjejak-jejak lantai dan mulai menangis.

“Ya Tuhan,” aku mulai tak sabar. Seharusnya aku bergegas ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat. “Panggil Omanya.”

Tien bergegas menuju rumah Mama yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahku. Berharap Mama segera datang dan menyelamatkanku dari waktu yang terus memburu.
***

Aoi mengangkat pialanya tinggi-tinggi, menunjukkannya pada Reihan yang sepertinya terburu-buru keluar dari garasi setelah memarkir Biru Dongker beroda empatnya.

“Anak Ayah juara berapa?”

Aoi mengacungkan telunjuk kanannya dengan bangga.

“Hebaaat…!” Reihan kemudian mengangkat Aoi tinggi-tinggi, membuatnya meringis karena takut piala, yang baru saja ia dapatkan dari lomba mewarnai itu, jatuh ke lantai.

“Ayah sudah, Aoi mau turun…” Aoi merengek karena Reihan masih menggendongnya. “Aoi kan sudah besar.”

Aku tertawa melihat raut wajah Aoi yang sok dewasa. Akhir-akhir ini, ia memang lebih mandiri. Ia bilang, harus seperti itu kalau mau menjadi seorang kakak.

“Ah, di mata Ayah, Aoi masih kecil.”

“Nggak boleh,” Aoi menggoyangkan telunjuk kanannya. “Nanti adik saja yang digendong Ayah.”

Reihan menatapku. Aku hanya tersenyum kecil dan mengucapkan kata tanpa suara agar tak didengar Aoi, “Minta adik.”
***

“Sejak kapan?” tanyaku cemas.

“Tiga hari yang lalu,” Tien menjawab dengan takut-takut.

“Mengapa tidak langsung dibawa ke dokter?” Kini aku menatap Mama.
Mama mengajakku duduk di bangku yang berseberangan dengan ruang ICU, di mana Anggun dibaringkan.

“Ketika suhu badannya tinggi, Mama langsung membawanya ke dokter anak,” Mama mulai menjelaskan. “Dokter sudah memberikan obat. Tapi, obat yang sebenarnya diinginkan Anggun adalah kau, Tania…”

Aku menatap kedua bola mata Mama, gamang. Kedua tanganku akhirnya menutup wajah. Lelah. Baru saja menginjakkan kaki di rumah, tiba-tiba mendapatkan kabar tak mengenakkan. Teguh di Kalimantan pula.

“Istirahatlah.” Mama mengusap-usap bahuku. “Kau belum makan, kan? Pulanglah ke rumah, Mama sudah menyiapkan tumis kangkung kesukaanmu di meja makan. Biar Mama dan Tien yang menjaga Anggun di sini.”

Aku mendongak dan berkata dengan tegas, “Tania ingin di sini saja sampai Anggun membuka mata.”
***

Aku mendekap Aoi dari belakang. Di sampingku, Reihan tetap bergeming. Kami cukup jauh dari pemakaman, tetapi mampu melihat apa yang terjadi ketika seseorang yang terbalut kain kafan itu mulai dibaringkan di atas tanah merah.

Aoi berbalik dan memelukku. Ia menangis. Aku mengusap-usap punggungnya.

“Dia teman baik Aoi, Bunda,” Aoi sesenggukan. “Dia yang selalu meminta bekal Aoi, padahal bekal yang dibawanya dibeli di restoran.”

Aku berlutut, mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Aoi. Ia kembali memelukku.

“Dia suka jika Aoi bercerita tentang Bunda. Aoi janji mengajaknya ke rumah dan bertemu Bunda. Tapi…” Aoi kembali menangis. Aku mulai merasakan air hangat membasahi bahuku.

Aku tak banyak bicara. Hanya menenangkan melalui usapan di punggung, juga rambutnya. Sedangkan mataku terus menatap ke depan. Pilu melihat perempuan yang mengusap-usap gundukan tanah, di mana teman baik Aoi dibaringkan untuk beristirahat.

“Ini Bunda, Sayang… Ayo bangun, jangan tidur di sana…” Air matanya mengalir tak henti-henti. “Nanti Bunda mandikan setiap hari. Tapi jangan begini…”

Perempuan separuh baya di samping perempuan yang menangis itu mengusap-usap bahunya, membuatnya berbalik dan memeluk perempuan separuh baya itu dengan erat.

“Tania jahat, Ma, Tania jahat,” isaknya. “Membiarkan Anggun sendirian. Seharusnya Tania yang merawatnya. Seharusnya Tania yang memandikannya. Seharusnya Tania ada ketika Anggun sakit. Tania jahat…”

Ntah rasa apa yang menyusup di sini, di hatiku. Gemuruh itu mulai kurasa, bersamaan dengan hangat yang mulai mengalir di pipi.

Kedua tangan Aoi masih melingkar di leherku dan aku pun mendekapnya semakin erat, tak ingin melepaskannya. Ia adalah hartaku, ia adalah sebagian dari diriku. Aku berjanji untuk melindunginya dari apapun. Aku akan memberikan lebih banyak cinta. Aku tak akan membiarkannya terluka. Aku harus ada di sisinya saat ia membutuhkan. Karena aku, adalah bunda.


Terinspirasi dari sebuah kisah tentang Alif kecil
Solo, 21 Desember 2011, 13.34

Semoga menjadi orang tua yang bijak
Readmore - Aku, Bunda

7 Desember 2011

Saya dan Tilang-menilang


Memang Lily Andila ini, ngeyel betul. Suka senewen saya jadinya. Tidak kapok juga ternyata, padahal tempo hari sudah membuat saya marah-marah. Itu gara-gara ingatannya yang payah. Masa’, mau membesuk teman di Gumuk Mas yang sangat dekat dengan Pringsewu (rumah Lily) saja sampai nyasar ke ujung dunia. Padahal Lily pernah ke sana sebelumnya. Kan, dia memang payah.

Hari ini juga. Sudah saya bilang, “Ly, bawa helm.” Kami akan membesuk Ibunya Ayu yang sedang rawat jalan di rumahnya di Pagelaran. Lintas tiga kecamatan, bayangkan.

“Hehe…” Lily cengar-cengir sewaktu menghampiri saya di jalan raya tempat kami berjanji bertemu.

Ish, tidak bawa helm dia. Bagaimanalah, saya kan pengendara motor yang taat aturan lalu lintas.

“Ya ampun, Ly,” saya sudah hampir naik pitam. “Pokoknya kalau ditilang, Lily yang bayar!”

Masih cengar-cengir Lily, tapi mengangguk-anggukkan kepala. Nakal sekali.

Ya ya ya. Biarlah. Mau bagaimanapun, dia lebih tua tiga belas bulan dari saya. Kami pun melesat menuju Pagelaran dan berwajah manis ketika menemui Ibunya Ayu.

Setelah memproduksi jutaan kata dan juga tawa (karena sudah lama sekali saya tidak bertemu Ayu dan berbincang ini itu bertiga dengan Lily), kami pun pamit.

Sepanjang jalan pulang, saya dan Lily tidak bicara. Sudah saya bilang, saya ini pengendara motor yang taat. Jadi mata dan pikiran saya fokus memandang jalan dan sesekali menoleh ke arah spion motor ketika akan mendahului kendaraan yang ada di depan.

Tetapi, fokus saya tiba-tiba terpecah ketika kami baru saja melewati jalan yang agak menikung dan serombongan bapak-bapak berseragam berompi hijau menghalangi jalan sekitar lima puluh meter di hadapan. Spontan saya berhenti.

“Ly, turun,” kata saya. Jantung ini rasanya berdebar sangat-sangat-sangat cepat dari sebelumnya.

“Oh,” Lily langsung turun dari motor. “Ya udah, Lily naik angkot.”

Kan! Ngeyel memang Lily. Selama sepersekian detik saya masih mengutuk di dalam hati mengapa Lily tidak pakai helm, bukan menyalahi bapak polisi yang sedang bertugas membela peraturan pemerintah.

Selama sepersekian detik juga saya komat-kamit di dalam hati, mengucapkan ayat kursi. Tempo hari ayat ini ampuh sekali, berhasil menyelamatkan saya melewati gerombolan Bapak Polisi di tengah jalan tanpa dipanggil untuk ditilang. Yah, motor saya secara lahiriyah memang taat seperti pengendaranya. Spion lengkap, lampu besar menyala, plat warna hitam yang belum kadaluarsa, kurang apalagi?

Saya masih komat-kamit, menunggu keajaiban Tuhan melalui ayat kursi ini. Semoga kali ini saya diselamatkan lagi.

Baru beberapa meter melaju, salah seorang polisi melambaikan tangan memberi tanda untuk mendekat. Ya Tuhan, saya tertangkap.

“Selamat siang!” Polisi bertampang galak itu menyapa.

“Siang, Pak,” jawab saya cengar-cengir. Yah, meski sungguh jantung saya ini rasanya goyang-goyang. Mau lepas atau bagaimana saya tidak tahu. Memang berlebihan, tapi saya yang sangat taat ini memang merasa sangat bersalah.

“Coba lihat STNK-nya!” Polisi itu menyodorkan tangan kanannya.

“Bentar ya, Pak…” sok santai saya, menutupi tangan yang sesungguhnya gemetar. Saya menyodorkan STNK yang langsung diambil sang Polisi.

“SIM-nya!”

“Ga ada, Pak…” masih cengar-cengir.

“Ga ada, Pak…” Polisi itu meniru dengan gaya mengejek. “KTP mana?”

Saya bongkar lagi isi tas dan mengambil selembar KTP yang masih hangat karena berstatus ‘wiraswasta’ sekarang, bukan lagi ‘pelajar’.

“Mbak ikut saya, saya buatkan dulu surat tilangnya.” Polisi itu menyeberang dan berdiri di dekat mobil-mobil dinas yang terlihat gagah terparkir. Saya mengikutinya.

“Mbak Aulia?”

“Iya saya.”

“Berapa usianya?”

“Dua puluh dua tahun, Pak.”

“Kenapa ga punya SIM?”

“Soalnya, sebentar lagi saya mau ke Solo. Jadi tanggung. Mau bikin SIM di sana aja.” Ekspresi wajah dan gerakan tangan saya seperti anak TK atau Pak Tarno yang pesulap itu, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, cara bicara Polisi ini jadi melunak.

“Anak kuliah ya?”

“Baru lulus, Pak. Tapi mau kuliah lagi.” Tanpa mengubah cara bicara dan ekspresi wajah.

“Kuliah di mana?”

“Di Bandung.”

“Terus?”

“Ke UNS.”

“UNS di mana?”

“Di Solo, Paaaaaaaaaaaaak…”

Ntah malu atau bagaimana, saya tidak tahu. Tetapi Polisi itu kembali memfokuskan pembicaraan mengenai tilang-menilang.

“Mbak kan ga punya SIM,” Polisi itu menjelaskan.

“Ya…”

“Jadi STNK-nya saya sita.”

“Hem.. Hem..”

“Nanti saya buatkan surat tilangnya.”

“Ya ya ya.”

“Surat ini nanti dibawa ke Pengadilan di Kota Agung.”

“Wah?” saya terkejut. “Sampai ke pengadilan Pak?” seperti orang yang dusun sekali belum pernah terkena kasus. Saya baru kali ini ditilang, wajar jika tidak tahu-menahu prosedur penilangan.

“Ya iya.”

“Tanggal berapa itu, Pak?”

“Tanggal 16.”

Saya garuk-garuk kepala. “Takutnya saya udah di Solo. Boleh diwakilkan ga, Pak? Nanti yang disidang yang punya STNK aja.”

“Lah, ini STNK siapa memang?”

“STNK yang punya motor.” Lugu sekali saya.

“Memang ini motor siapa?” Kok, Bapak Polisi ikut-ikutan lugu.

“Motor orang tua saya, Paaaaaaaaak…”

Bapak Polisi memalingkan wajah. Ntah menyembunyikan ekspresi apa.

“Sebetulnya Mbak,” kata Polisi itu lagi. “Mbak bisa menitipkan sebuah barang, supaya mudah.”

“Barang?” saya berpikir keras. “Wah? Kalo saya nitip motor, nanti saya pulangnya bagaimana?”

Polisi itu seperti menahan diri untuk tidak garuk-garuk kepala. Sebagai gantinya, ia menarik napas panjang.
“Ya bukan begitu.”

“Aduuuh.” Saya justru yang jadi garuk-garuk kepala. “Saya ini masih anak-anak, Pak. Jadi mohon jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah.”

Polisi itu menarik napas lagi.

“Enaknya aja menurut Mbak bagaimana?”

“Hem…” Mata saya menerawang, seperti menunggu contekan dari Tuhan, jawaban apa yang seharusnya saya katakan pada Bapak Polisi yang gagah ini. “Ya… Saya sih ga mau jadi warga negara yang nakal, Pak. Jadi ikut saja bagaimana aturan kepolisian.”

Polisi itu menatap seperti sedang menahan diri untuk tidak menjitak kepala saya. Ekspresi saya masih sama, lugu, merasa tak berdosa, dan ingin berbuat kebaikan membantu bapak polisi ini menunaikan tugasnya.

“Ya udah, saya jelaskan lagi dengan bahasa yang lebih mudah.”

Saya menjadi serius, bersungguh-sungguh ingin mendengarkan penjelasan beliau.

“Mbak kan ga melakukan tindak pidana.”

“Aduuuuuuuuh.” Tangan saya bergerak seperti ingin menghapus kata pidana dari udara dan tidak ingin memasukkannya ke dalam telinga. “Apa itu tindak pidana…”

Polisi itu berekspresi seperti ingin mengatakan “Cape deeeeeh…”

“Ya lah maksudnya Mbak tidak berbuat kriminal.” Kasihan sekali Polisi ini menghadapi anak yang tidak tahu apa-apa seperti saya. “Kami hanya sedang menertibkan lalu lintas, tapi Mbak melanggarnya.”

Saya mengangguk. Nah, yang ini saya mengerti.

“STNK kan saya sita.”

Wajah saya serius sekali.

“Terus saya buatkan surat tilang.” Polisi itu menunjuk surat berwarna kemerahan di tangan kirinya. “Sampai sini paham?”

Saya tertawa kecil, “Ya Pak, paham, paham.”

“Jangan sampai hilang suratnya.”

“Dibawa pas sidang kan?” kata saya sok cerdas. “Tanggal 16 nanti?”

Polisi itu jadi tertawa. Padahal saya menunggu beliau menuliskan nama saya di kertas merah itu. Pasti akan menjadi sangat bersejarah sekali. Nanti-nanti mungkin bisa saya laminating dan ditunjukkan kepada cucu-cicit.

“Udah lah. Mbak ini bikin saya bingung.” Polisi itu menyodorkan STNK dan KTP yang semula disitanya. “Mbak pulang aja. Tapi nanti-nanti bawa SIM ya…”

“Wah?” wajah saya sumringah sekali. Asli. “Makasih paaaaaaaaaaak…”

Dan wusssssss, motor kembali melaju.

Hebat sekali kan ayat kursi ini. Dahsyat! Nanti-nanti saya mau meminta siapa saja untuk membaca ayat kursi supaya tidak ditilang Polisi.

Yah, meski awalnya senewen sekali dengan Lily Andila, akhirnya saya berterima kasih juga karena mendapatkan ‘miracle’ seperti ini.

Ingat ya, baca ayat kursi! :D
Readmore - Saya dan Tilang-menilang

6 Desember 2011

KEN


“Sudahlah, aku lelah.”

Aku bangkit dan meninggalkan Rio yang sedari tadi berdiri mematung. Mengambil kunci dan menghampiri Avanza Hitam yang bertengger di garasi, kemudian melesat membawanya lari sejauh mungkin.

Dadaku bergemuruh, memancing air di sudut-sudut mata untuk menumpahkan diri dan mengalir mengikuti lekuk wajah. Sesak.

Kaki kananku terus menginjak pedal gas seperti tak peduli dengan tangan yang kebingungan mengendalikan bundaran setir. Ke mana aku harus pergi dan membuang jauh-jauh penat ini?
***

Tentu aku ingat tempat ini. Saat berusia tujuh tahun, tempat ini menjadi tujuan utamaku setiap kali matahari mulai condong ke arah barat. Agak jauh dari rumah memang, setengah jam berjalan kaki. Tetapi, pegal di kaki tak terasa karena bersamanya.

Pertama kali melihatnya adalah ketika aku berniat lari sejauh mungkin dari rumah. Ibu dan Bapak bertengkar, ini untuk yang ke sekian kalinya. Aku menangis, menjauhkan mata dari melihat Bapak yang memukul pipi Ibu, menyeret-nyeretnya dari kamar hingga dapur, dan menjambak rambutnya sampai beberapa helainya tercabut dari kulit kepala. Aku ketakutan. Aku ingin menghilang. Aku ingin bersembunyi hingga tak mampu ditemukan.

Langkahku terhenti di sebuah lapangan kecil. Tanah yang tak begitu luas itu seringkali dijadikan tempat bermain voli, lomba makan kerupuk, dan lomba balap kelereng di bulan Agustus. Tanah ini dikelilingi sawah, agak jauh dari perkampungan. Hanya satu yang terlihat sangat menonjol dari lapangan ini, pohon beringin. Dan anak perempuan berkursi roda itu ada di sana.

Aku memperhatikannya dari jauh. Mengamati setiap inci yang ia lakukan. Menatap langit, menulis sesuatu. Mengelilingi beringin, menulis sesuatu. Merentangkan tangan ketika angin berhembus, menulis sesuatu. Aku tak mengerti mengapa ia selalu menulis.

Senja mulai tiba. Sebuah mesin beroda empat datang dan memarkirkan diri tak jauh dari tempatku duduk memperhatikan anak perempuan itu. Seorang perempuan seusia Ibu yang berambut sebahu membuka salah satu pintunya dan turun, menghampiri anak perempuan itu dan mendorong kursi rodanya menuju mobil. Sebelum mobil melaju, ia sempat membuka kaca jendela dan melambaikan tangan padaku seraya tersenyum. Aku tersentak. Ternyata ia tahu sedari tadi aku memperhatikannya.
***

Ia menamai diri, Kenzo. Terdengar seperti nama anak laki-laki memang. Tetapi, Ken suka sekali artinya. Hanya julukan. Sampai sekarang pun aku tak tahu nama aslinya. Anak perempuan berkursi roda itu terlihat menarik. Aku tak pernah mendengarnya bicara. Tetapi, selalu mendapatkan senyuman darinya.

Aku selalu mengunjunginya, ratusan menit sebelum senja tiba. Memiliki teman baru membuatku senang.

“Kau sedang apa?” tanyaku suatu waktu.

Ken menunjuk lembaran-lembaran putih bersih yang dijepit dengan klip di tangan kirinya dan pensil mekanik di tangan kanannya.

“Oh… Menulis.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Untuk apa?”

Ken menuliskan beberapa kata dan menunjukkannya padaku. “Untuk mencatat pemberian-pemberian Tuhan. Supaya aku tidak lupa bersyukur.”

Aku mengerutkan dahi.

“Mengapa kau tak bicara?”

Ken tersenyum, seperti yang selalu ia lakukan. “Aku tak memiliki suara.”
Aku sedikit terkejut, menemukan istilah yang telah lama diajarkan Ibu Guru padaku, bisu.

“Apakah kau bisa berlari?” aku bertanya lagi, penasaran mengapa Ken selalu duduk di kursi beroda.

Ken menggeleng, tetapi tetap tersenyum. “Bunda bilang, aku lumpuh sejak dilahirkan.”
Aku kembali mengerutkan dahi. Tidak mengerti, mengapa Tuhan membuatnya bisu dan lumpuh. Ken sangat baik.

“Tuhan itu adil.” Ken menyodorkan tulisan itu, seperti membaca pikiranku. “Kalau tidak, aku tidak akan ada di sini dan bertemu denganmu. Aku senang punya teman.”

Aku menatap kedua bola matanya yang berwarna kecokelatan. Seperti mencari penegasan. Pembenaran dari kata-kata yang baru saja dituliskan Ken.

Ken mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, aku menunjukkan selengkung sabit terindah dari bibirku untuk Ken.
***

Mengunci diri di dalam kamar, membiarkan suara-suara yang semakin keras dilontarkan. Tak cukup sekali, tak cukup dari satu bibir. Kata-kata itu seperti meluncur dengan kecepatan tinggi, beradu, menggemparkan langit-langit.
Perempuan itu lebih muda usianya dari Ibu. Tetapi, ia berani membentak dan melontarkan kata-kata kasar.

“Pelacur! Sekali lagi berani mendekati suamiku, kau kubunuh!”
Air mata Ibu tumpah ruah. Aku bisa mendengarnya terisak. Aku tidak berani membuka pintu. Aku tak ingin keluar dan melihat banyak hal mengerikan di sana.

“Sini kau, pulang!”

Bapak seperti tak berdaya mengikuti langkah kaki perempuan itu. Dari jendela, aku melihat mereka berdua pergi menjauh.

Ibu duduk, bersandar di sisi lain daun pintu kamar tempatku bersembunyi. Masih terisak.

“Ibu bukan pelacur, Nak,” katanya parau. “Bibi itu pasti salah orang.”
Aku menangis. Terus menangis. Bulir-bulir air dari mataku rasanya tak habis-habis.
***

“Mengapa kau bersyukur pada Tuhan?” aku menatap Ken tajam.

“Karena Tuhan telah memberikan banyak hal indah.”

Aku melengos, menghindar untuk melihat senyumnya.

“Mengapa kau tidak marah? Tuhan telah membuatmu bisu dan lumpuh.”

Ken mundur, menjauhkan diri dariku. Tangannya memutar roda dan menggerakkan kursinya menuju sisi pohon yang berlawanan dengan sisi pohon tempatku bersandar. Tangannya menunjuk ke langit. Aku mengikuti arah telunjuknya.

Senja hampir tiba. Gumpalan-gumpalan awan yang semula terlihat jelas berarak, kini terlihat berpencar. Mewarnai langit dengan warna putih hampir merata. Garis-garis keemasan terlukis di antaranya. Terselip puluhan burung membentuk formasi tertentu seraya ber’aak’ riang.

“Indah?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Itu hadiah dari Tuhan,” kata Ken lagi, melalui kertas di tangannya. “Untuk apa kita marah jika Tuhan selalu memberi hadiah?”

“Benarkah?” Aku menerawang. “Tetapi, mengapa Tuhan membuat kita bersedih?”
Ken tersenyum. Selalu seperti itu. Ia tampaknya memiliki jutaan bahkan milyaran senyum untuk dibagikan.

“Supaya kita mendongakkan kepala, menengadahkan tangan dan berdoa, meminta Tuhan memberikan lebih banyak hadiah untuk menghibur kita.”
Aku menatap Ken yang masih tersenyum memandang langit.

“Apakah Tuhan mendengar kita bicara?”

Ken menoleh dan tertawa kecil, meski tanpa suara. “Tentu saja. Tuhan itu hebat. Bisa mendengar bahkan mengabulkan permintaan kita.”

Ken meraih kedua tangan dan mengangkatnya setinggi dada menghadap ke wajah. Aku mengikutinya.

“Begitu kalau mau berdoa.”

“Kau kan bisu.”

“Tuhan bisa mendengar doa siapapun. Tuhan bisa mendengar doa yang terucap bahkan yang hanya tersimpan di dalam hati.”
***

Kami pergi, meninggalkan kampung tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku tidak tahu ke mana Ibu mengajak. Mungkin ke kota. Mungkin ke tempat saudara. Yang pasti, Ibu tak ingin kami kembali lagi ke kampung ini.

Aku menangis ketika bus yang kami naiki perlahan melaju. Aku belum berpamitan pada Ken. Aku belum sempat membuat bingkisan atau semacamnya untuk dikenang Ken ketika aku jauh. Aku tak sempat bersalaman atau mengucapkan kata-kata perpisahan. Ia pasti menungguku di bawah beringin itu.

Aku pasti rindu dengan senyumannya. Aku pasti rindu menatap langit bersamanya. Aku pasti rindu menghabiskan sore mendengarkan ia bercerita tentang Tuhan dan kehebatan-kehebatanNya. Aku pasti merindukannya. Aku pasti merindukan Kenzo.
***

Aku menghapus air bening yang sedari tadi menitik dan membasahi pipi. Mengingat masa itu, mengingat masa ketika Ken masih bersamaku. Beringin itu masih kokoh di sana. Seperti menantiku kembali dan mendengarkan kabar yang kubawa setelah dua puluh tahun tak menyapa.

Avanza Hitam kuparkir tepat di tempat mobil Ken biasa terparkir dulu. Perlahan, kuhampiri sang beringin. Meraba batangnya yang mungkin telah bertambah diameternya. Sembari menatap langit, sembari mencari pendar-pendar keemasan terselip di antara gemawan putih yang menghiasinya.

Angin perlahan berhembus. Aku merentangkan tangan dan memejamkan mata. Sejuknya, semilirnya, bahkan bisikan-bisikan angin di telinga mampu kurasa. Ken benar. Tuhan telah memberikan banyak sekali hadiah.

Aku mengusap-usap kembali beringin tua itu. Berpamitan seraya tersenyum. Namun, jemariku seperti terantuk sesuatu. Plastik atau semacamnya, aku tak tahu pasti. Sesuatu itu menyembul pada sisi batang tempat Ken biasa mengusapnya jika akan pulang seolah berkata, “Pamit dulu ya…”

Aku menariknya keluar. Agak sulit. Batang ini keras sekali. Aku pun sedikit mencongkelnya dengan kunci. Puluhan detik berselang, sesuatu itu pun mampu kulihat wujudnya.

Secarik kertas berwarna kekuning-kuningan dibungkus plastik transparan. Aku membukanya. Sebuah surat.

Kenzo desu ^^
Baikkah kau di sana, Pit? Ah… Aku rindu.
Kau tahu, aku lupa memberitahumu arti namaku.
Kenzo, yang katamu nama anak laki-laki itu,
artinya berani dan bijak, dari Bahasa Jepang.
Sepertinya, aku ingin menjadi seorang pemberani dan bijaksana di hadapan Tuhan.

Maaf tak memberitahumu, kau pasti menungguku.
Aku juga tidak mengerti mengapa Bunda membaringkanku di ranjang putih ini,
memasangkan banyak alat canggih di tubuhku, dan
tidak lagi mengizinkanku mengunjungi beringin itu.
Aku meminta Bunda agar menyampaikan ini padamu.

Ingat ini ya…
Ashita hareru kana (esok pasti cerah kan?)
Karena Tuhan masih akan memberi kita banyak hadiah indah.
Sampai jumpa di surga ^^

Bulir-bulir air dari mataku meluncur dengan cepat. Apa yang terjadi dengan Ken? Sudahkah ia dipanggil Tuhan?

Aku terisak. Mendekap erat tulisan Ken yang mungkin akan menjadi tulisan terakhir yang Ken tulis untukku. Mengapa dulu aku begitu bodoh, tidak menyadari bahwa ia begitu menyukai Bahasa Jepang. Jika aku pintar, pasti akan kutanyakan pada Ibu Guru, bagaimana cara menuliskan nama Kenzo dengan aksara Jepang yang bertumpuk-tumpuk itu. Aku pasti akan menulisnya dengan baik dan menghiasnya dengan pensil warna. Aku tak pernah memberinya hadiah, tetapi Ken selalu memberiku senyum yang bagiku adalah hadiah terindah pada masa itu.
***

“So sorry, Dear…”

Aku memeluknya, erat sekali. Seperti tak ingin melepaskannya pergi. Rio mengusap-usap punggungku, membiarkan aku menangis dan membasahi kemejanya.

“Aku seharusnya tidak egois. Aku seharusnya mendengarkanmu. Aku seharusnya tidak membentak dan meninggalkanmu seperti itu.”

Aku semakin mendekapnya, seperti tak ingin kehilangan sesuatu yang begitu berharga. Tidak lagi.

Rio membelai lembut rambutku, “Kau kenapa?”

“Berjanjilah untuk mengingatkanku selalu. Kita seharusnya menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin. Tak perlu bertengkar.”

Aku merasakan anggukan kepala Rio.

“Untuk putri kita…”

Benar. Seharusnya seperti itu. Menjaga hati seseorang yang masih teramat muda usianya. Menjaganya agar tak terluka. Menjaga dan membuatnya nyaman karena kami adalah orang tua yang harus melindunginya.

11.11
5 Desember 2011
Untuk kita, calon orang tua
Readmore - KEN

2 Desember 2011

Berjuta Cerita di Kota Cinta (Part 3-End)


Menangkap banyak objek di sudut Kota Solo sebelum pulang, berharap menjadi sugesti untuk saya kembali lagi ke kota ini setelah pengumuman Calon Mahasiswa Pascasarjana UNS yang lulus tes 8 Desember nanti.

Pakaian yang hanya setengah hari kemarin saya pakai ketika ujian, saya kenakan lagi hari ini. Bagaimana ya, saya suka sekali dengan hijau cerahnya. Rasanya lebih cantik untuk ditangkap oleh lensa kamera dibandingkan dengan tiga stel pakaian lain yang saya bawa. Gue banget, begitulah istilahnya.

Pukul enam, kami beranjak dari peraduan. Pertama, sarapan bubur ayam dulu di depan gerbang belakang UNS. Setelah itu baru saya bergaya di depan gedung rektorat, juga di depan calon gedung saya, Pascasarjana.

“Waktu Bayu beli tiket kemarin, lewat pabrik lho, Kak. Harum betul,” kata Bayu. “Pabrik Jamu Sido Muncul,” katanya lagi sok tahu.

Saya mengangguk saja. Yang penting diantar, tak peduli objek apa yang akan dipilih sebagai latar.

Ternyata, sepanjang perjalanan menuju pabrik, yang disebut-sebut Bayu itu, ada banyak sekali objek yang membuat saya menepuk-nepuk bahu Bayu, menyuruhnya berhenti untuk beberapa detik, dan bergaya di dekatnya. Ada sungai yang sejak dulu dengan bangganya dinyanyikan oleh Mbah Gesang, Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Tugu (apa itu saya tidak tahu namanya) di dekat taman, juga kebun binatang. Tetapi, saya tidak mau berfoto di dekat kebun binatang, khawatir dikira sedang membesuk keluarga. Kan, sok tahu memang Bayu ini. Tulisan besar-besar Pabrik Jamu Air Mancur begitu bisa menjadi Sido Muncul, bagaimana ceritanya.

Bayu kemudian memamerkan keraton dan alun-alun. Di jalan, saya mampir sebentar untuk membeli gantungan kunci lucu-lucu berbentuk kupu-kupu dan kura-kura yang bermotif batik untuk sepupu-sepupu yang belum sempat saya belikan oleh-oleh.

Bayu masih menjadi sok tahu ketika mengantarkan saya ke sini dan ke situ. Aslinya dia tidak hafal jalan. Jika ada belokan-belokan yang menurut firasatnya harus dilewati, ya dilewatinya. Tapi, kali ini kami beruntung. Ketika akan kembali menuju kosan, kami melewati sebuah sungai yang di tepinya terdapat patung besar-besar berbentuk aneka macam topeng khas Solo. Dan, jepret! Gaya sekali saya. Terakhir, Bayu mengambil gambar saya di Institut Seni Indonesia (ISI) yang gerbang masuknya berbentuk perahu.
***
Bayu bercerita banyak hal tentang dia, teman-temannya, kosannya, kuliahnya, apapun. Membuat saya terpingkal-pingkal. Sulit membedakan, apakah dia memang polos, lugu, atau mudah dibodohi. Yang saya tahu, di antara ketiga anak Mama dan Papa, Bayu yang paling berbeda. Paling cengeng ketika kecil, paling sering sakit, dan paling bisa membuat tertawa kami yang mendengar cerita-ceritanya.

“Ngapurani, Bay. Ngapurani,” katanya menirukan teman yang bersuku Jawa asli ketika meminta maaf.

“Teman Bayu itu item-item, Kak. Jelek-jelek.”

Halah, sok ganteng sekali dia bilang begitu.

“Di kosan ini, banyak anak kedokteran. Jadi ga boleh ribut,” katanya. “Kalau mau belajar, ngomong aja dari dalam kamar, ‘pssssssssssssst!’, nanti anak-anak yang berisik jadi diam.”

Gaya betul.

“Bayu ini pinter tahu, Kak! Paling jago Mata Kuliah Dasar-dasar Pendidikan.” Gayanya sok sekali. “Kalau Bayu belum kasih komentar, pasti dosennya bilang, ‘Mas Bayu belum kedengaran ini pendapatnya.’ Keren kan?”

Belum selesai ceritanya.
“Tapi sayangnya, Bayu cuma nurun Papa yang orang Bahasa. Pinternya Mama ga nurun ke Bayu,” katanya sembari membanting buku Kalkulus di depannya. “Opolah iki, dibaca berapa kali juga ga maksud-maksud.”

Bangga saya jadinya karena jago matematika. Scara, kuliah empat tahun di jurusan yang sama dengan yang Mama tempuh dulu.

“Tapi, sebal betul Bayu sama Ibu X.” Kali ini ia menyebut nama dosen yang mengampu mata kuliah tertentu. “Bayu duduk paling pojok belakang, Kak. Bayu dengerin, tapi ga tahu kenapa matanya mejam sendiri. ‘Mas yang di pojok itu mau kasih pendapat sepertinya.’ Uuh, ya ga ngertilah Bayu. Habis tedor malah.”

Saya membayangkan Bayu, yang tingginya minta ampun itu, di dalam kelas. Tidak mengherankan sebenarnya kalau dia gampang dikenal. Sudah duduknya di pojok belakang, paling tinggi pula.

“Sebetulnya, Bayu kuliah di UNS ini kenapa juga ga tahu, Kak.” Cerita sepertinya berubah menjadi sendu. “Pas Bayu mau berangkat aja, muka Papa kaya’nya ga ikhlas betul. Kecewa banget sama Bayu, ga bisa masuk Kedokteran.”

Saya terdiam, tidak melanjutkan tertawa karena cerita sebelumnya. Tiba-tiba teringat statusnya di Facebook ratusan hari lalu, sebelum ia menghadapi SNMPTN, “Allah, ampuni aku. Mama, Papa, Kakak, maafin Bayu…” Membuat kekhawatiran saya beranak pinak dan jumlahnya semakin berlipat. Bayu tidak biasanya berkata mellow, apalagi di Facebook.

“Cuma Mama yang selama ini nguatin Bayu.”

Ah, Mama… Bahkan Bayu pun sayang sekali dengan Mama. Padahal, jika di rumah, Bayu yang paling sering dimarah. Ntah karena posisi anak tengah atau memang Bayu yang (dicap) anak nakal.

Tidak betah berlama-lama dengan cerita sendu, Bayu memulai lagi yang lain. UNS itu begini, UNS itu begitu, memberi kesan negatif bagi yang mendengar. Apakah dia ingin membuat saya waspada atau menakut-nakuti agar saya tidak jadi kuliah di sana, saya tidak tahu.

“Kenapa lah, Kakak daftar-daftar ke UNS segala.”

Saya senyum-senyum sampai mata terpejam. Genit sekali.

“Pasti karena ada Bayu.”

PD sekali dia. Tapi, tidak salah kok. Saya, selain karena ingin segera menuntaskan gelar master (mengingat usia yang semakin bertambah dan saya masih belum juga mengubah status dari single menjadi double), saya juga ingin mempelajari kultur dan kekayaan-kekayaan lain yang dimiliki oleh negeri tercinta kita ini. Sebelumnya, saya mempelajari budaya Sunda selama empat tahun. Bahasanya, kebiasaan masyarakatnya, bahkan sempat mengunjungi berbagai tempat yang juga kaya dengan unsur kesundaan. Berharap juga bisa mempelajari budaya Mbah-mbah saya di tanah Jawa. Kebetulan Bayu di UNS. Sekalian saja jadi body guard saya.
***
Saya sudah menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa pulang. Baru akan berganti pakaian menjelang siang, kira-kira satu jam sebelum bus bertolak dari UNS.

Sibuk sekali saya meng-upload foto-foto seminggu ini. Mumpung koneksi sedang bagus. Kalau di rumah, ada saja halangannya. Ntah karena sinyal yang belum memadai atau karena modem, yang genit sekali, minta dibuang. Saya pemalas orangnya. Apalagi harus beranjak dari kamar hanya untuk mampir beberapa menit di warnet yang isinya anak-anak SD bermain game online.

“Boi, laper nih. Ambilin roti siy,” kata saya, tak mengalihkan pandangan dari layar laptop butut warisan Mama. “Pake susu cokelat ya…”

Bayu yang semula mengotak-atik ponselnya bangkit menuju lemari yang bagian bawahnya saya sesaki dengan makanan. Tetapi, beberapa menit berselang, roti yang saya pesan tak kunjung diantarkan juga. Saya menoleh, dengan kecurigaan, dia tidak menuruti mau saya.

Tenang sekali, Bayu menata roti-roti di piring menjadi bentuk tertentu. Saya tidak tahu itu bentuk apa. Yang terlihat, ada mata, telinga, dan mulut. Bagian atasnya mungkin mahkota atau semacamnya. Membuat saya teringat ceritanya ketika lomba menghias roti tawar saat ospek. Padahal, kelompoknya yang paling tidak modal. Hanya berbekal sebungkus roti tawar bundar, jeruk, dan apel.

Juri memilih karya mereka menjadi juara, mungkin karena keunikannya. Roti tawar bundar itu dipotong pinggirnya, dilubangi tengahnya, mirip roda gerobak kayu. Roti-roti tawar kemudian disusun membentuk sebuah gedung dengan tengahnya diisi potongan-potongan apel. Bagian paling puncak dihias dengan jeruk yang dibentuk menyerupai kelopak bunga. Di sekeliling gedung, bagian dindingnya, ditempeli dengan kulit jeruk yang disusun acak. Sedangkan pinggiran rotinya, agar tidak terbuang, disematkan di pinggir-pinggir gedung membentuk gagang cangkir sebanyak tiga buah. Bayu mengambil filosofi Atom Bohr dan teori Rutherford. Kimia sekali kan? Seperti jurusan kuliahnya. Agaknya filosofi itu yang digunakannya untuk merayu juri.

Khawatir Bayu tahu saya mengawasinya, saya segera kembali menyibukkan diri, membalas komentar teman-teman pada foto-foto yang baru saja saya upload.

“Nih, Kak.” Bayu menyerahkan sepiring roti untuk saya.

“Wow, bagus banget!” kata saya pura-pura baru melihat. “Makasih ya…”
***
Saya pasti akan rindu sekali. Rindu membangunkannya setiap pagi, rindu mencuci dan menyetrika pakaian serta meletakkannya di lemari, rindu dengan ledekannya, “Bong gebang gabong gebang gabong…” karena lagu Bonamana Super Junior yang saya putar berkali-kali, bahkan rindu pada jutaan ceritanya yang penuh ekspresi.

Setelah menyalami Bayu, bus melaju. Tidak lama setelah memilih tempat duduk yang sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket bus, saya terlelap. Perjalanan kali ini akan berbeda. Tidak ada Ibu Ramah dan Bapak Sopir Kocak. Saya pun tidak berencana menulis sepanjang perjalanan dan berkata, “Allahku, simpankan untukku memori-memori ini. Agar sempat kutuangkan ke dalam tulisan di lain hari.” Khawatir setiap inci memori ini hilang karena tidak cepat-cepat ditulis.
Karena terlelap, saya tidak menyadari ada seorang Bapak yang duduk di samping saya ketika puluhan detik bus berhenti di Boyolali. Saya baru menegurnya ketika bus dan Boyolali telah berjarak puluhan kilometer. Beliau, yang asli Boyolali itu, ternyata mengajar di Unila, sama seperti Papa. Hanya saja berbeda jurusan. Beliau menceritakan putri pertamanya yang kuliah di Pascasarjana UGM, padahal usianya sebaya dengan saya. Karena akselerasi ketika SMA, ia bergerak selangkah lebih cepat dibandingkan saya.

Selanjutnya, kami tak banyak bicara. Ditemani Unyu, tidur saya rasanya lebih nyenyak. Mungkin karena minyak angin aromaterapi yang saya gunakan untuk memandikannya, membuat aroma hangatnya dengan bebas memasuki kedua lubang hidung, dan ikut menghangatkan tenggorokan sampai ke dada. Saya harus lebih banyak beristirahat agar saya menyambut Mama nanti dengan kondisi bugar.

Bus merapat di sebuah rumah makan yang mengingatkan saya pada study tour ketika SMA ke Jogja di tahun 2006 karena lokasinya yang sama. Tetapi, saya tetap di tempat, setia sekali dengan kendaraan beroda empat yang saya tumpangi untuk pulang ke kampung halaman. Padahal, aslinya bukan setia. Ini efek menggigil, gemetar, dada sesak, dan perut tak karuan yang melanda salama perjalanan. Angin nakal sekali, lagi-lagi masuk ke dalam tubuh saya.

Menjadi tak sehat memang tidak selamanya menyenangkan. Semoga saja tidak merepotkan banyak orang, baik di perjalanan, maupun di rumah. Karena Mama pasti rewel betul kalau anaknya tak sehat. Buktikanlah ucapan saya esok saat tiba di rumah. Mama yang baik, kan… Membuat saya kini begitu ingin ia ada di sini, di sisi saya.

Setelah memasukkan beberapa suap nasi bungkus, yang disiapkan oleh Bayu untuk saya, ke dalam lambung dan kembali mengoleskan minyak angin beraroma buah di kening, leher, dan beberapa anggota badan lain yang perlu, saya kembali tertidur.

Bus minum banyak sekali bensin, membuat kami beristirahat sedikit lebih lama dan sempat mampir menuju kamar mandi di POM. Saya sengaja berwudhu meski Shubuh baru akan datang sejam lagi. Sepertinya, khawatir dimarah kernet karena menghabiskan air di toilet bus.

Nagrek. Lewat bandung ternyata saya. Membuat saya mengetikkan beberapa kata untuk memamerkannya kepada teman-teman di Bandung yang katanya kangen sekali dengan saya.

“Tunggu saja bus warna hijau bertuliskan Puspa Jaya lewat. Tapi, jangan di jalan Setiabudhi, tempat kampus kesayangan kita bertengger. Langsung ke Tol Pasteur saja, busnya mungkin lewat sana. Terus masuk Tol Cipularang,” kata saya, menggila di pagi buta.

Ada yang membalas, “Harusnya Teteh turun di Pasteur, ga usah ikut busnya sampai Lampung.”

Walah, mesti bahagia atau sedih saya mendengarnya?

Pesan yang lain masuk, “Oi, ga lewat Pasteur tahu, dari Cibiru meureun langsung masuk Cipularang.”

Saya tertawa. Teman yang terakhir mengirimkan pesan ini pasti sedang menghibur dirinya sendiri karena tidak jadi bertemu dengan saya.

Saya tertidur lagi setelah Shubuh dan terbangun karena sopir menyuruh kami keluar bus menuju dek kapal. AC bus akan dimatikan. Agar tidak gerah, sebaiknya kami menuju bagian atas kapal sembari mencuci mata.

“Unyu di bus saja, ya…” kata saya. “Di kapal banyak bakteri, nanti sakit. Jaga diri baik-baik. Jangan mau diajak ngobrol dengan orang tak dikenal. Jangan mau juga kalau dikasih permen. Bahaya kalau ga halal.”

Saya pun beranjak dan meninggalkan Unyu di bus bersama Bapak Sopir dan kernetnya. Nanti, kalau sudah sampai rumah, pasti banyak temannya. Ada bantal merah berkepala tikus dari Lily, juga White Teddy Bear dari Zara. Di Bandung, bersama dengan barang-barang yang saya titipkan di rumah teman, ada bintang kecil dari Mega, Brown Teddy Bear dari Arum, serta boneka sapi dan kodok dari Teh Novi. Kalau kuliah di Solo, mereka semua akan saya bawa. Dan jadilah kosan saya nanti kebun binatang.
Asyik sekali. Mengapung bersama penumpang kapal lainnya. Menikmati triliunan kubik air asin yang membentang sejauh mata memandang. Sebuah garis melintang membatasi laut dengan langit yang dipenuhi awan yang menggumpal lebih rapat, menghalangi cahaya yang datang dari bulatan keemasan yang biasa bersinar dari pagi hingga petang datang.

Setelah dua jam lebih sedikit, kami sampai di Bakauheni, dan turun bersama bus setelah kapal merapat.

“Andong, lihat sini,” kata seorang anak balita pada neneknya, “Itu ada Shaun…”

Spontan saya menoleh ke kanan, ke tempat duduk yang berseberangan dengan tempat yang saya duduki. Seraya tersenyum (sok) ramah, saya bertanya, “Suka ya?” menunjuk Unyu yang ada di pelukan saya.

Putri cantik berambut ikal itu tersipu, menggigit bibir bagian bawahnya, sedangkan jari telunjuknya berada di pipi, sembari memeluk neneknya dengan manja.

Senyum ini membuat saya berkesimpulan bahwa saya, yang baru dua puluh hari berusia 22 tahun, tak ubahnya seorang anak yang baru memasuki PAUD. Tetapi, saya tidak peduli. Tampak dewasa atau tidak, sama saja. Jika pun saya terlihat manja dan identik dengan anak usia di bawah lima tahun, saya ingin Tuhan tetap menyayangi saya. Seperti sekarang. Dia sangat baik dan mengemas segala sesuatunya menjadi amat cantik. Juga mengabulkan doa-doa saya yang sebanyak bintang di langit. Dan tahukah apa yang mampir dalam benak saya sekarang? November is mine.
***
“Kyaaaaaaa…!” Seorang anak PAUD yang terperangkap dalam tubuh perempuan berusia 22 tahun menjerit sejadinya.

“Harusnya bisa dimakan sampai tanggal 23,” katanya sambil menangis tersedu meski tanpa air mata.

Mama terbahak-bahak melihat anaknya memalingkan wajah dari bakpia tela yang sudah jamuran.

“Itu kan satu-satunya oleh-oleh untuk Mama sama Papa,” isaknya.

“Lah, Mama sama Papa dah kaya, ga perlu oleh-oleh, tahu,” Mama berusaha menghibur.

Tin! Tin Tiiiiiin!

Klakson mobil Papa menjerit, minta dibukakan pintu garasi.

“Lah, katanya nginep, kok malah pulang. Pasti karena ada cewek satu ini,” kata Mama seraya bangkit.

Perempuan, yang usianya 25 tahun di bawah Mama itu, menghampiri Papa ketika memasuki dapur, menyalaminya meski sambil bersungut-sungut menunjukkan sekotak bakpia.

“Opo iki?” Papa membuka kotaknya dan melihat bakpia berambut halus dan cepak berwarna kehijauan.

“Jamuran…” wajah perempuan itu terlihat memelas. Papa mencomot satu dan hendak memasukkan ke dalam mulutnya, membuatnya berteriak, “Papa jangan dimakaaaaan…!”

Semakin ingin menangis karena Papa begitu ingin menghargai oleh-oleh dari putrinya.

“Yo wis, kasihin gurame aja ben senang.”
*end*

Dalam Bilik Pribadi
Dengan Instrumen Depapepe Mengiringi
Sehari Sebelum November 2011 terlewati

Calon HambaNya yang Mendapat Nikmat Abadi
Readmore - Berjuta Cerita di Kota Cinta (Part 3-End)

Berjuta Cerita di Kota Cinta (Part 2)


Tidak sulit untuk berusaha tersenyum jika bertemu Bayu karena memang ada banyak hal lucu yang ia punya dan patut ditertawakan. Tetapi, dengan alasan lelah karena sempat berdiri di kereta sampai satu stasiun, saya meminta izin untuk tidur. Khawatir ia bercerita panjang lebar sedangkan pikiran saya tidak di tempat.

Saya tidak benar-benar memejamkan mata. Ketika Bayu pergi untuk Jumatan, pikiran saya semakin liar bermain. Membuat saya mengetikkan banyak kata dan menyimpannya dalam draft ponsel. Tak banyak makanan yang mampu saya sentuh. Pagi pun saya tak sempat menyuapkan nasi. Tetapi, memang seperti inilah saya jika sedang tidak ceria. Melupakan banyak hal, termasuk perkara makan.

Awalnya kami berdua akan pergi membeli tiket bus untuk pulang ke Lampung Minggu siang. Tetapi, lagi-lagi saya beralasan lelah. Membuat Bayu harus bersusah payah mencari teman (karena memang tak hafal jalan) untuk menemaninya.

Entah sempat tertidur atau tidak, saya terbangun ketika muadzin mengumandangkan Adzan Ashar. Menilik ponsel, ada lima pesan yang belum sempat terbaca. Terselip satu, dari Bunga.

“Ada warna ‘hitam’ dibalut dengan ‘putih’… agar ia tak tampak dominan. Ada kisah tentang ‘kambing’ yang saat ini digandrungi banyak orang, ada di film Shaun the Sheep. Sepintas biasa, tapi ternyata punya banyak ‘pesan’ sekaligus tampak menyenangkan. Hadiah sederhana dan ingin menyampaikan pesan dengan caraku.”

Segera saya menilik bantal kecil yang terselip di kantong oleh-oleh yang saya bawa, mungkin Bunga sempat menyisipkannya ketika di kereta. Tiba-tiba saya teringat ketika Bayu datang menjemput di stasiun dan saya pergi meninggalkannya tanpa kata, dan menyesali mengapa saya begitu jahat dengannya. Bunga tidak salah, saya yang terlalu sensitif dan tak mampu menangkap maksud baiknya.

“Unyu,” kata saya pada bantal hitam putih itu.

Kata itu yang akan saya berikan untuknya sebagai nama. Karena meski tak tahu artinya, saya berpikir bahwa fenomena pemberian bantal ini begitu lucu. Semuanya pas dan berbekas.
***
“Ya ampuuuuuuun,” kata saya. Melihat Bayu berkemeja ketat begitu rasanya miris sekali.

“Kalo mau beli yang ukuran XL, Kak.”

Saya pikir, dia kurus, jadi kemeja all size bisa muat di badannya. Ternyata, badannya selebar badan Papa, hanya saja lebih panjang.

“Yodah, buat Agil aja,” katanya menyebut nama adik bungsu kami.

“Tapi Bayu jangan cerita-cerita kalau ini punya Bayu ya, biar Adek senang.” Bayu mengangguk.

“Heh, belajar sanah,” perintah Bayu.

Saya mengabaikannya karena masih sibuk memencet tombol-tombol di ponsel untuk menghubungi Mama, Papa, bahkan Mbah Putri, dan Mbah Kakung, untuk meminta doa agar lancar mengerjakan soal-soal ujian besok.

“Buleeeeeeeeeek…” panggil saya ketika telepon diangkat oleh Bulek Lilik, adik bungsu Papa yang keluarganya tinggal bersama Mbah.

“Yooo,” jawab Bulek dari seberang.

“Mau minta doanya ya, besok Lia tes,” kata saya.

“Yooo.”

“Mbah mana, Bulek?”
“Wooo, ya udah bubu’ jam segini.”
Saya melirik jam yang tertera di pojok kanan bawah layar laptop yang ada di hadapan saya. Masih jam delapan. Hebat sekali Mbah saya sudah terlelap.

“Yodah. Salam aja ya Bulek, buat Om Goris sama Piul sama Restu juga. Doanya yang kenceng yaaaaaaaaaa…”

Bulek tertawa, tetapi menjawab juga dengan kata yang sepertinya sudah dihafalnya,

“Yooo.”

Bermenit-menit kemudian, saya masih sibuk membalas beberapa komentar dari teman-teman di Facebook, seolah tidak membutuhkan persiapan materi untuk esok.

“Heh,” Bayu menegur lagi. “Belajar. Jangan ngecewain Mama sama Papa, dah jauh-jauh datang ke Solo malah...”

Saya masih mengabaikan kata-katanya karena ponsel saya mulai terisi pesan dari teman-teman yang perhatian sekali dengan saya. Salah satunya dari teman yang menamai dirinya Lily Andila Semangat Selalu.

“Heh, anak cerdas sekarang saatnya pura-pura ga cerdas. Belajar. Biar bisa besok tesnya.”

Aduh, sama saja bawelnya dia dengan adik saya. Sayangnya, saya bandel sekali. Setelah meneguk habis susu cokelat yang dibuatkan oleh Bayu, saya bersiap-siap untuk tidur dengan alasan supaya tidak mengantuk besok ketika tes.
***
Saya terbangun pukul dua lebih sedikit. Sengaja terbangun lebih awal agar tetap bisa melakukan berbagai ritual rutin sebelum berangkat ke kampus, seperti mencuci, menyetrika, dan membereskan kamar Bayu.

Setelah merendam pakaian, saya menghadapNya, melaporkan apa yang akan saya kerjakan hari ini. Meminta banyak bekal seperti ingatan yang baik, kejernihan berpikir, kemudahan menjawab soal, dan kelapangan hati agar perjalanan menuju Pascasarjana menjadi lebih lancar. Kemudian mengucapkan banyak sekali terima kasih untuk setiap hal manis yang Ia beri.

Saya mengambil buku kecil di hadapan dan membukanya, hingga terlihat ribuan huruf Arab yang tersusun rapi, yang sesungguhnya merupakan rangkaian surat-surat cinta yang Ia turunkan dahulu kepada Rasul terakhir. Pertama, saya membaca surat Ar Rahman, sebagai bentuk syukur saya kepada Dia yang Maha Baik dan Maha segala-galanya. Kedua, saya membaca surat kesayangan saya, Al Mulk. Surat yang mengingatkan saya bahwa Dia, yang Menguasai Segala Kerajaan, akan menguji dan melihat siapa di antara para hambaNya yang terbaik amalnya. Saya baru benar-benar beranjak setelah sholat Shubuh tertunaikan.

Tiba-tiba menjadi tidak tenang hati saya karena ternyata ada satu hal terlewat. Saya tidak tahu di mana ruang tesnya.

Segera saya membuka layar laptop yang semula meringkuk bersandingan dengan tuts keyboard dan menghubungkannya dengan internet dari hot spot yang disediakan oleh pemilik kosan. Error. Huaaaaaaa, bagaimana ini. Setidaknya saya tahu kapan tes dimulai, agar bisa berangkat lebih awal dan mencari ruangan dulu bersama Bayu.

Bayu yang baru pulang dari masjid langsung saya buat repot dengan menyuruhnya ke kampus, mengintip siapa tahu ada pengumuman ditempel di jendela-jendela gedungnya.

“Ish, Kakak inilah, UNS itu kaya hutan. Jam segini masih gelap betul,” katanya. Wajah saya berubah, seperti ingin menangis. “Yodah, ntar aja jam enam. Mau main PS dulu Bayu.”

Dengan perasaan yang belum tenang, saya mencuci pakaian yang sudah saya rendam sebelumnya, kemudian menyetrika pakaian yang akan saya kenakan hari ini, serta menyiapkan alat tulis dan kartu tanda peserta ujian.

“Boi!” saya berteriak meski dengan volume rendah karena khawatir mengganggu tetangga. “Ada jadwal ujian sama ruangannya di siniiiiiiiiiiii…” Histeris sekali saya menunjuk kartu tanda peserta ujian itu.
Bayu, yang sedang berkonsentrasi penuh memilih kartu-kartu ampuh untuk diadu pada game Yugi Oh itu, menoleh sebentar dan kembali menatap layar laptopnya, “Dusun Kakak ini. Kaya’ ga pernah ujian aja.”

Saya mengelus-elus kartu itu dengan sayang sembari berkomentar, “Kan terakhir ujian, ujian sidang, Boi. Ujian macem gini sih pas SPMB empat tahun lalu. Udah lupa lah guwah.”

Entah mendapat ilham dari mana, saya pun segera membuka file soal-soal TPA (Tes Potensi Akademik) dan kunci jawabannya. Khawatir tidak bisa menjawab dengan tepat nanti. Lumayan, masih ada waktu ratusan menit sampai ujian dimulai. Sistem Kebut Sekejab (SKS) itu masih bisa berlaku juga untuk mantan mahasiswa, yang juga merangkap sebagai calon mahasiswa, seperti saya.

Setelah dua raka’at Dhuha tamat saya kerjakan, barulah saya bergegas menuju kampus. Dengan perasaan terharu luar biasa karena adik saya pun ikut Sholat Dhuha dan (sepertinya) mendoakan kakaknya supaya dilancarkan dalam ujian. Juga dengan perasaan yang sangat gembira karena mengenakan jubah terbaik saya: kerudung putih, baju berwarna hijau cerah, dan rok putih.

Sempat terlebih dahulu saya mengecek apakah masih ada isi perut yang belum dikeluarkan, agar tak terganggu saat ujian, dan membeli sedikit cemilan agar saya tidak perlu beranjak dari bangku ujian ketika istirahat karena lapar. Saya pun berpamitan dengan Unyu, yang selalu tersenyum, berharap Bunga di sana pun mendoakan saya.
***
Baru saja keluar dari ruangan bersuhu lebih dari 30 derajat (tampaknya) akibat karbondioksida yang dihasilkan dari respirasi ratusan jiwa. Curang sekali penghuni lantai bawah. Berkipas angin ria, membuat mereka terlihat santai mengerjakan soal-soal. Sedangkan saya dan puluhan peserta ujian lainnya terkena dampaknya, hawa panas di lantai bawah terusir angin dari baling-baling elektronik dan terbang ke sana kemari di sekitar kami. Membuat kami tak betah berlama-lama mengerjakan soal karena harus rutin mengibas-ibaskan telapak tangan dan menyeka manik-manik keringat setiap lima menit sekali.

Sudahlah. Ujian sudah selesai. Tak perlu lagi berlama-lama karena saya sudah sangat lapar. Rendang yang sengaja disisakan Bayu untuk saya sudah saya habiskan ketika sarapan. Sempat terpikir untuk makan di tempat yang sering disebut-sebut Bayu ketika menraktir temannya. Tetapi, saya ingin segera tidur, menghilangkan asap yang (mungkin) menggumpal-gumpal keluar dari kepala saya.
***
Pening sekali. Padahal tidur saya siang ini cukup dan rasanya tak ada lagi pikiran yang mengganggu. Apa yang tersisa di dalam benak saat ini semuanya menyenangkan.

Memang ketika terbangun pagi tadi, saya agak menggigil. Kamar Bayu agak panas, maka saya tak perlu menggunakan selimut saat tidur. Tetapi, udara di sekitar saya rasanya semakin turun suhunya. Membuat gigi-gigi terasa ngilu jika sedikit saja bicara. Saya pun berkesimpulan, badan saya sedang tidak sehat.

Apakah ini efek tidak makan seharian kemarin atau tidur berkipas angin di kamar Winda selama tiga malam tanpa selimut, saya tidak peduli. Saya hanya ingin berbaring dengan selimut dan jaket berlapis-lapis. Payah sekali. Padahal ada banyak tempat yang menanti untuk dikunjungi. Baterai kamera sudah dicharge semalaman menunggu untuk menangkap objek di sana sini. Dan besok, saya sudah harus menempuh perjalanan selama 20 jam-an lagi.

Saya ingin berbaring saja karena sudah tidur selama beberapa jam siang tadi. Agar tidak memejamkan mata, saya saling berkirim pesan dengan teman melalui ponsel sembari mengalunkan lagu-lagu favorit saya. Maghrib datang, barulah saya beranjak. Berdiri, ruku’, i’tidal, sujud, duduk, sujud, berdiri lagi, dan begitu seterusnya, sampai kewajiban saya tertunaikan. Dan tahukah hal manis apa yang diberikan lagi olehNya? Sepupu saya datang.

Winda sudah memberi kabar sejak kemarin kalau ia akan survey ke salah satu kolam renang dahsyat (versinya) di Solo bersama teman. Tetapi, karena sampai sore tak juga tiba, saya kira ia tak jadi datang. Ternyata, ia mengabarkan sudah sampai di UNS dan minta dijemput beberapa menit sebelum senja benar-benar terbenam digantikan malam.

“Ada yang sakit nih,” kata teman Winda yang kemarin-kemarin motornya kami pakai ke sini dan ke situ.

“Iya,” kata saya dengan muka memelas. “Gara-gara disuruh jadi babu kaya’nya ini.” Saya mengerling Bayu, nakal sekali.

Bayu menjemput tiga orang dan semuanya tiba-tiba terasa menjadi begitu dekat seperti sudah lama saling kenal. Padahal baru kali itu kami benar-benar mengobrol. Hebat ya, baik sekali mereka dengan musafir seperti saya. Meski mungkin tidak benar, saya mensugesti diri sendiri bahwa mereka sengaja datang untuk menjenguk saya.

Pukul sembilan baru tamu-tamu kami pulang. Setelah menghabiskan mangga-mangga yang saya bawa dari rumah, cemilan kiloan yang dibeli Bayu tadi sore, dan rambutan yang diberi oleh tetangga kamar. Juga setelah memproduksi banyak senyum dan tawa karena ratusan cerita yang bergantian saling kami kisahkan. Saya senang, saya senang, saya senang.
Readmore - Berjuta Cerita di Kota Cinta (Part 2)