Social Icons

2 Desember 2011

Berjuta Cerita di Kota Cinta (Part 1)


Pagi-pagi sebelum jam enam, Bayu sudah berangkat kuliah. Olahraga, katanya, jadi tidak mandi dulu. Untungnya, Bayu punya kamar mandi pribadi. Jadi, saya tidak perlu takut bertemu anak galau jika ingin melakukan banyak aktivitas.

Saya hanya membawa empat stel pakaian dengan pakaian yang saya kenakan kemarin. Oleh karena itu, pakaiannya harus segera dicuci supaya bisa dipakai di lain hari. Celana panjang Bayu yang panjangnya melebihi celana Papa dan pakaian-pakaian kotornya yang lain pun saya cuci. Pakaian-pakaian bersih di ember yang belum disetrika pun saya licinkan, saya lipat, dan saya masukkan ke dalam lemari. Harus rajin saya di sini, supaya dia tidak protes lagi seperti kemarin, “Kakak ini lho, rungsep!”. Itu gara-gara saya kelelahan dan tidur tanpa membereskan dahulu barang-barang bawaan.

Hari ini saya tidak banyak menyusun rencana. Rencana utama hanya satu, mengunjungi Pascasarjana UNS, menyerahkan berkas-berkas pendaftaran, dan pada akhirnya memperoleh kartu tanda peserta ujian masuk Pascasarjana sabtu depan. Meski sebenarnya saya berharap bisa berkeliling kota Solo dan mencicipi kulinernya.

Bayu pulang dan langsung berbaring di karpet, menghabiskan tempat karena anggota badannya yang panjang-panjang.

“Lari tadi,” katanya. “Juara satu lho Bayu.”

“Yaealah gelaloh, punya kaki panjang begitu,” kata saya tak heran.

Setelah membantu saya menjemur pakaian di luar (karena saya takut bertemu anak galau), Bayu mandi dan berangkat kuliah. Saya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama teman (chat), mampir ke beranda untuk melihat status dan menyelipkan beberapa kata sebagai komentar, dan sesekali mengintip apakah ada yang menanggapi status saya di Facebook. Ternyata ramai sekali, tak henti-henti. Teman-teman begitu histeris ketika tahu saya di Solo. Ada yang ingin ikut ke Solo lah, ada yang menyuruh saya mampir ke Bandung lah, bahkan ada yang menggebu-gebu dan ingin juga masuk Pascasarjana, tetapi di UGM setelah dia lulus tahun depan.

“Kaya’nya senang banget di Solo, jangan lupa jalan pulang ya,” kata seorang teman.

“Tenang,” jawab saya, “Saya ini anak Mama. Kalau sudah kangen pasti rewel betul. Andaikan ga bisa pulang, pasti Mama yang saya repotin untuk jenguk ke sini.”

“Payah.”

Saya tertawa-tawa. Kalau benar diterima, nanti saya akan menempuh pendidikan selama kurang-lebih dua tahun. Solo-Lampung tidak lebih dekat daripada Bandung-Lampung. Pasti nanti saya jarang pulang. Apalagi ada Bayu di sini yang bisa saya ajak hang out ke mana-mana karena Mama juga mengirimkan Revo untuknya.

Waktu Dzuhur datang, saya bersiap-siap dengan pakaian terbaik. Bayu menjemput pukul setengah dua siang dan langsung meluncur menuju ruang administrasi gedung Pascasarjana. Dag dig dug rasanya, sepertinya grogi sekali saya. Tetapi, tidak lama karena sekitar lima belas menit setelah menemui beberapa panitia penyelenggara, saya sudah mendapatkan kartu tes dan diperbolehkan pulang.

Saatnya berbelanja. Sengaja saya mengajak Bayu mampir ke sebuah toko serba ada untuk melengkapi kosannya, seperti pisau dan obat-obatan semacam plester, obat luka, minyak kayu putih, balsem, dan tisu. Juga makanan ringan untuk menemani jika lapar dan malas keluar kamar. Sampai di kasir, Bayu cengar-cengir.

“Iya, Kakak yang bayar,” kata saya sok kaya.

Payah betul memang dia.

“Kak, ada acara lagi nih,” kata Bayu setibanya kami di kosan.

Ya ampun, saya kira jadwal kami sore ini adalah jalan-jalan, lalu jalan-jalan, kemudian jalan-jalan lagi. Membuat saya berniat kabur dari Solo dan bersembunyi di kosan sepupu saya, Winda, di Jogja. Meski sama-sama mahasiswa, setidaknya Winda sudah tingkat akhir dan hanya mengurusi skripsi semata wayangnya yang bandel sekali belum selesai-selesai.
***
Sebelum ayam jantan berkokok, saya sudah bersiap-siap. Rencana mengejar kereta pukul 06.50 pagi membuat saya bergerak lebih gesit untuk membereskan kamar Bayu, mencuci dan menyetrika pakaiannya, sedangkan Bayu masih terlelap. Mirip sekali saya dengan babu.

Pukul 06.30 kami sudah bertengger di Solo Balapan seraya menggenggam selembar tiket kereta. Hanya belasan detik menunggu, Prameks berwarna pink keunguan pun muncul. Saya bergegas menaikinya setelah berpamitan dengan Bayu, lupa kalau kemarin saya berniat kabur.

Perjalanan yang aneh. Bayangan rumah, pepohonan, kendaraan, dan apapun yang berada di luar jendela kereta bergerak menjauh ke depan. Mungkin efek mendapatkan tempat duduk (mirip dengan tempat duduk bus) yang menghadap ke arah yang berlawanan dengan laju kereta, membuat pening karena merasa berjalan mundur dan akan berlangsung sampai satu jam ke depan.

Tetapi, tak lama kemudian saya menangkap pemandangan yang jauh lebih menyenangkan. Di hadapan saya duduk seorang lelaki. Ya ampuuun, gantengnya, putih lagi. Namanya Mas Rel. Sayang sekali baru berumur delapan belas bulan. Tidak bisa memberi bunga, saya kasih dia permen. Sepertinya ingin membalas, Mas Rel memberi saya tiket kereta yang sudah dilubangi petugas. Semakin menyenangkanlah perjalanan saya, karena sampai kereta berhenti di Lempuyangan, saya bermain-main dengannya, memberi dan menerima apa saja yang ada di genggaman.

Tiba di Lempuyangan, saya tak perlu menunggu terlalu lama karena setelah ratusan detik berselang tukang ojeg, yang entah mengapa kata orang wajahnya mirip sekali dengan saya, itu mendarat di dekat gerbang masuk stasiun. Setelah membuat ritual khusus, bersalaman, tangannya menempel di pipi saya dan tangan saya menempel di pipinya, kami pun melesat menuju kosannya di daerah Timoho, dekat dengan restoran Dapur Sambal. Saya memang tidak bisa makan banyak, tetapi harus rutin paling tidak setiap tiga jam sekali. Jadi, selama di Jogja kami harus rajin berwisata kuliner, minimal setiap tiga jam. Beruntung kosan Winda dekat restoran.

Saya langsung merebahkan diri di kasur unik Winda setibanya di kosan. Memang tidak sopan, berencana tidur padahal seharusnya saya berbincang ini itu dulu dengannya. Halah, kembar ini, dia pasti mengerti saya lelah. Meski nanti-nanti pasti mengomel, “Lia inih, aku cerita malah tedor!” Cara bertuturnya mirip dengan saya kan? Kembar gitu loh…

Motor pinjaman yang terparkir di halaman harus segera dikembalikan setelah Dzuhur. Saya pun mengajak Winda ke Malioboro mencari beberapa souvenir untuk oleh-oleh. Jumat saya harus kembali ke Solo, jadi agenda di Jogja harus padat sekali supaya tidak ada yang tertinggal.

Belum-belum Mama sudah menelepon, padahal sebelum naik Prameks tadi, saya sudah mendengar suara Mama.

“Mau ke mana, Win?”

Winda yang mengangkat telepon pun menjawab, “Lia ngajak ke Malioboro nih, Mama Nung.”

“Gaya amaaaaat, banyak duit apaaaaah,” kata Mama yang suaranya bisa saya dengar meski telepon tidak diloudspeaker.

“Mau poto-poto aja paleeeeeeeng,” kata Winda menyelamatkan saya yang aslinya memang berniat tidak hanya melihat-lihat, tetapi juga membawa pulang beberapa barang yang tertangkap mata empat saya.

Pertama yang kami lakukan sesampainya di Malioboro adalah memasuki sebuah toko pakaian. Saya ingin memberi Bayu bingkisan dan merencanakan untuk memilih kemeja berwarna hijau.

“Ini unyu ga?” tanya saya sembari meminjam istilah Uya Kuya yang terkenal itu.

Kemeja bermotif garis-garis berwarna hijau yang saya tunjuk itu diraba oleh Winda, mungkin memastikan bahannya memang enak dan nyaman ketika dipakai.

“Yodah, ga keliatan kok kalau harganya 25 rebu,” katanya.

Saya cengar-cengir mendengar Winda menyebut harga dan mencomot kemeja itu dari hanger kemudian menyerahkannya pada Mbak penjaga lalu membayar di kasir.

Sepanjang jalan dari Malioboro menuju Beringharjo, mata saya nakal sekali. Lirik sana lirik situ mencari baju ‘unyu’ untuk sepupu bungsu saya yang sudah bisa genit, ke mana-mana rambutnya dijepit, padahal baru berumur delapan bulan.

“Win Win, itu Win,” kata saya menunjuk baju-baju yang cantik-cantik tergantung di depan sebuah toko.

“Kamu mau beli yang ini apa mau yang harganya me’eng?” tanyanya, menyebut ‘miring’ dengan istilahnya sendiri.

Saya menyerah, ikut saja ke mana dia pergi. Beruntung sekali ya, punya saudara kembar yang pintar berbelanja, membuat musafir seperti saya mudah berhemat. Ke depannya, saya baru benar-benar memilih ketika Winda berhenti dan mengerling saya.

Kemeja Bayu, baju ‘unyu’ Aghnia, celengan bergambar Jogja Olivia (sepupu saya yang TK), dan beberapa gantungan kunci untuk anak-anak yang setiap pekan saya ajari Bahasa Inggris, sudah ada di tangan. Kami pun pulang.

Saya tertidur setelah melepas mukena yang saya kenakan untuk Sholat Dzuhur dan terbangun saat tiba-tiba Winda mengajak makan. Tumis sayuran sop dengan irisan tempe. Pintar sekali dia memasak. Pintar juga dia memuliakan tamunya. Meski tidak jarang dia marah-marah, apalagi kalau saya terlalu sibuk menonton televisi dan lupa menyentuh cemilan yang sudah disiapkannya.

“Kok motornya belum dikembaliin?” tanya saya.

“Temanku ga SMS kok, belum butuh kaya’e,” jawab Winda nakal. “Mau poto-poto ga? Ke Malioboro lagi yuk!”

Saya mengangguk dengan wajah sumringah, ketularan Winda nakalnya.

“Ya ayooooooook…!”

Dan kembalilah kami meluncur, melewati jalan yang sama seperti yang kami lewati tadi siang.

Ini bukan bukit, bukan pula pantai yang bisa dengan jelas kita lihat bulatan keemasan muncul menyambut siang ataupun tenggelam bersembunyi ketika malam. Ini Malioboro di waktu senja. Tetapi, tetap sedap dipandang. Dengan menenteng kamera digital, kami berjalan-jalan mencari objek yang sekiranya cocok disandingkan dengan kami, dan jepret! Begitu berkali-kali sampai Tuhan memanggil untuk Sholat Maghrib.

Setelah Isya baru saya melepas jubah yang saya kenakan.

“Ampun, bau betul!” protes Winda. “Betah amatlah kamu pakai baju itu. Udah naik kereta, dipakai buat tidur, nyari oleh-oleh, makan, poto-poto, buat sholat lagi.”

Saya terkekeh, “Musafir ga bawa baju banyak, Win. Cuma ini yang cantik buat ditangkap lensa kamera.” Urung memberi tahu kalau sebenarnya baju itu saya pakai juga kemarin ketika menyerahkan berkas pendaftaran. Hanya beberapa menit kok. Beberapa menit. “Yodah, tak cuci nih, minta deterjen.”

Kerudung putih, baju hijau cerah, rok putih, dan sepasang kaus kaki itu pun masuk ke ember untuk disamarkan baunya dengan wangi deterjen. Biar mantap, direndam semalaman. Siapa tahu baunya bandel, susah hilang.

Sepanjang malam kami bercerita. Banyak sekali. Tentang kami yang sejak balita sudah bermain bersama dan saling mengunjungi. Dia di Pringsewu yang sekarang sudah menjadi kabupaten, dan saya di Tambahrejo, salah satu desa berkecamatan Gadingrejo yang juga berkabupaten Pringsewu. Saya yang sering menginap di rumahnya jika ada pasar malam di lapangan depan Pendopo Pringsewu dan memanjat pohon seri (kersen, talok) siang harinya. Dia yang juga terkadang menginap di rumah saya. Bermain badminton di halaman rumah Mbah Parto, tetangga depan rumah saya. Atau bermain sepeda dekat pohon Asem yang sebenarnya juga tempat tetangga kami menguburkan anaknya yang meninggal ketika bayi. Bahkan, Winda sering meledek-ledek ketika ada anak laki-laki yang menyukai saya sewaktu mengaji.

Banyak sekali waktu yang kami habiskan bersama. Tetapi, kami berpisah ketika Winda memutuskan untuk belajar di Pondok Ibnul Qoyyim ketika kami sama-sama menginjak usia belasan. Sampai SMA, Winda masih di Pondok, bahkan diminta mengajar menjadi ustadzah di sana sembari kuliah di UIN Jogja. Membuat saya malu jika mengaji di dekatnya karena khawatir salah.

Sepuluh tahun menjadi warga Jogja membuat Winda tak banyak tahu tentang apapun yang terjadi di rumah. Winda hanya mendengar melalui cerita, bukan benar-benar hadir di sana. Bahkan, perselisihan dan pertengkaran hebat yang terjadi karena salah paham dan komunikasi di keluarga pun ia tak banyak tahu. Kami pun bertukar cerita.

“Tapi, mau gimanapun, kita tetap kembar lho, Win,” kata saya. “Kita yang akur ya, jangan marah-marahan.”

Winda mengangguk. Pilu rasanya, ketika segala sesuatu yang sedari tadi kami bicarakan adalah masa indah sebelum berumur belasan dan pada akhirnya tak luput dari cerita tentang keluarga ketika kami menginjak usia dua puluhan.
***
Saya terbiasa bangun sebelum adzan Shubuh untuk berduaan saja dengan Tuhan, meminta apapun yang saya mau, karena saya percaya, Tuhan sedang turun ke langit dunia untuk mengabulkan apa saja yang hambaNya pinta. Setelah Shubuh baru saya beranjak. Melakukan berbagai aktivitas sampai langit terlihat terang.

Inginnya, saya berjalan-jalan keliling kosan. Berjalan kaki saja, sembari menghirup udara pagi. Pasti menyenangkan sekali. Tetapi, tukang ojeg saya terlihat lelah. Pasti karena kemarin menemani saya berkeliling seharian, ke sini dan ke sana. Dia tertidur lagi setelah sholat. Bahkan belum bangun saat saya selesai menjemur pakaian. Saya pun menunggunya sembari membalas beberapa pesan di ponsel.

Ya Tuhan, saya lupa! Adik kelas saya, Latifa, kemarin pagi bercerita bahwa dia dan team mate-nya masuk sepuluh besar Lomba Karya Tulis tingkat nasional dan meminta beberapa petuah dari saya untuk menghadapi babak presentasi. Saya pun segera menyelesaikan beberapa wasiat untuknya, sembari menyelipkan foto-foto ketika saya juara lomba karya tulis, dan contoh powerpoint yang dahulu pernah diberikan oleh Evan, teman saya yang hebat sekali dan sudah lulus dari kampusnya, ITB, kemarin April.

Pukul lima pagi, saya menelepon salah satu operator dan menanyakan fasilitas internetnya karena khawatir dibohongi lagi seperti sebelumnya. Menghabiskan ribuan rupiah tanpa mampu berselancar di internet sama sekali. Setelah mendapatkan penjelasan, saya pun mengisi pulsa dan mulai mencoba koneksi internet.

Pukul enam pagi, saya masih kesulitan membuka email. Bagaimana ini, malam nanti Latifa akan berangkat ke Bogor, menemui panitia dan peserta lomba lainnya meski baru hari Sabtu mereka tampil untuk presentasi. Saya khawatir bingkisannya terlambat.

Pukul tujuh pagi, saya mulai galau. Koneksi semakin payah padahal operator sudah tiga kali saya hubungi. Pulsa di sim cardnya pun tinggal ratusan rupiah. Saya tidak percaya, rupiah-rupiah itu terbang tanpa ada bekasnya.

Pukul delapan pagi, ketika Winda akan berangkat menemani temannya ke rumah sakit, saya merengek minta diantarkan ke warnet. Dengan satu tujuan, mengirimkan bingkisan untuk Latifa. Saya berjanji untuk pulang sendiri agar Winda dan temannya tidak terlambat menuju rumah sakit. Untung jalan pulang ke kosan tidak sulit diingat.

Sembari menunggu file selesai di-attach, saya membuka buku harian yang saya namakan Facebook. Melihat ada kabar apa setelah saya tinggalkan puluhan jam. Dan bertemulah saya dengan teman dekat yang tinggal di Jogja menyelesaikan studi, melalui fasilitas chatnya. Ia mengajak saya makan di sebuah restoran. Wah, gaya sekali. Sepertinya sudah banyak uang. Hari ini saya memang berniat menemui beberapa teman, jadi saya menerima saja ajakannya.
***
Malam ini saya tidur lebih awal. Itu kebiasaan saya jika suasana hati sedang tak enak. Apa yang sedang terjadi pun saya tidak mengerti. Teman saya, sebut saja namanya Bunga, yang sore tadi makan bersama saya dan Winda, mengatakan sesuatu yang entah mengapa membuat saya terdiam. tampak berpikir, bahkan melamun. Ini untuk pertama kalinya sejak berjuta bahagia yang saya bagikan lewat senyum dan tawa ketika menginjakkan kaki ke tanah Jawa Senin lalu.

Tidur saya tidak nyenyak. Masih memikirkan kata-kata Bunga. Meski sebenarnya kata-katanya tidak salah dan ia mengucapkannya dengan santun sekali, bahkan dengan bahasa yang sangat halus, saya tetap merasa tidak tenang. Merasa di-judge bahwa saya masih banyak sekali cacatnya. Mungkin dia tidak tahu bagaimana saya sekarang, karena kami jarang sekali bertemu, apalagi lokasi kuliah yang berbeda kota.

Saya ingin menjadi diri sendiri. Jika pun saya yang sekarang belum baik, saya ingin berubah menjadi lebih baik tanpa menghapus karakter asli saya yang ramai, banyak bicara, bahkan terkadang galak dan membuat orang lain menyerah, mengikuti kata-kata saya.

“Allahku,” desis saya saat terbangun, lagi-lagi, sebelum Shubuh datang. “Terima kasih telah anugerahkan kepadaku kepandaian berbicara.”

Saya berusaha tersenyum. Waktu-waktu seperti ini sangat hening, membuat suara sekecil apapun mampu terdengar jelas. Saya tidak ingin Winda tahu saya sedang tidak merasa senang. Nanti dia berpikir macam-macam. Padahal dia baik sekali selama saya di Jogja, melayani saya seperti tamunya, meski saya adalah saudara kembar yang dekat sekali dengannya.

“Maka bantu aku, dengan kuasaMu, agar hanya yang baik saja yang terucap. Jangan biarkan ada luka tertoreh karena kata-kata yang terlahir dari lidah tak bertulang.”

Dan tumpahlah sesak yang sejak malam memenuhi rongga dada. Dengan bulir-bulir air beningnya, bahkan membuat saya terisak, dan kemudian bangkit, menuju kamar mandi. Sekali lagi, agar Winda tidak mendengarnya. Entah apa yang membuat kristal bening di sudut mata saya terus-menerus meleleh. Tetapi sungguh, saya tak mampu mencegahnya. Hingga Shubuh datang, suara saya belumlah normal. Membuat saya segan membangunkan Winda.

Esok saya harus tes. Pagi ini, saya harus kembali ke Solo agar sempat membuka-buka dulu materi yang mungkin saja muncul saat tes. Karena ada teman yang membutuhkan beberapa file untuk skripsinya, saya pun pergi ke warnet untuk mengirimkannya, setelah mengemasi barang dan mandi serta mengenakan pakaian yang akan saya pakai sampai ke Solo, supaya tidak terburu-buru nanti. Seperti kemarin, Winda pun tertidur setelah Shubuh. Membuatnya tak sempat melihat wajah sembab saya ketika pamit untuk ke warnet.

Mengapa pagi ini begitu sendu? Bahkan lagu yang diputar oleh penjaga warnet melalui winamp itu pun bertempo sangat pelan. Membuat butiran-butiran yang saya kira telah habis meleleh di kamar mandi tumpah ruah di salah satu bilik warnet yang saya gunakan. Untung volume speakernya agak keras, membuat isak saya teredam dan tak terdengar oleh tetangga.

Tidak boleh begini, saya harus terlihat senang. Sebentar lagi saya akan bertemu Tyas, adik yang dulu pernah belajar dengan saya ketika di Bandung, yang sekarang sudah kuliah di UPN. Saya berjanji akan memberinya mangga yang sengaja saya bawa dari Lampung.

Tyas datang, saya senang. Apalagi ini untuk pertama kalinya saya melihatnya berkerudung. Cantik sekali. Saya pun bergegas menyelesaikan keperluan di warnet dan mengajaknya berfoto dahulu sebelum berangkat menuju stasiun. Tidak sempat bercerita banyak. Setelah memberikan mangga, juga untuk teman yang mengantarkannya, saya pamit. Khawatir tertinggal kereta karena saya harus mencari oleh-oleh dulu sekarang.

Setelah membenahi apa-apa yang akan dibawa, saya dan Winda meluncur menuju salah satu toko oleh-oleh yang terbuat dari tela. Saya memilih bolu cokelat untuk Bayu, bakpia tela untuk Mama dan Papa karena lebih tahan lama, dan bolu moka untuk teman Winda yang baik sekali motornya boleh dipinjam ke sini dan ke sana. Kami sempat berfoto di kedainya sebelum beranjak ke stasiun dan memakan es krim yang (di pikiran saya) juga terbuat dari tela.

Tiba di Lempuyangan, saya tidak perlu menunggu lama sampai kereta datang. Setelah melambaikan tangan pada Winda, saya masuk ke dalam peron dan kemudian memasuki salah satu gerbong kereta. Tahukah, siapa yang ada di samping saya? Bunga.

Kami tidak saling bicara selama di kereta. Melihat wajah saya, mungkin ia mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak mengenakkan telah terjadi. Kami duduk di sisi yang sama, tetapi terpisah dengan pintu kereta (yang bangku-bangkunya tersusun seperti bangku di angkutan kota). Membuat saya leluasa memandang apa saja yang ada di depan mata tanpa menangkap raut wajahnya yang mungkin saja memperburuk suasana hati saya.

Jika membawa headset, saya pasti mendengarkan lagu Yui yang berjudul Tokyo. Tetapi, tanpa headsetpun, suara Yui sudah bergema di telinga saya.

The day has come when I will leave the room I’m so used to living in
My new journey is still disorienting me

On the bus to the station, I emailed my friend
On the platform in the morning, I tried to calling too
But it felt like something had changed

I’ve brough one old guitar with me
I’ve left all my photos behind
Letting something go and then gaining something new
Does the same cycle repeat itself?

When I pretend to be strong, it always leads to dreams
When I let myself be cowardly, they stop

As the train began to move, I cried a little
I prayed that the town that spread out outside the window
Wouldn’t change
The person who gave me my old guitar said Tokyo was scary

I’ve stopped looking for answers
It doesn’t matter if I make mistake after mistake

The red sunset is cut up by the buildings
I hold back my tears
But the beginning of each new morning
Will bring confusion for me, won’t it?

I can’t only choose the right things
That much I know

Mengikuti Yui, saya berdesis, “Aku tak mampu, selamanya memilih hal-hal yang tepat.”

Sisa kristal yang iri dengan kristal-kristal lain yang telah meleleh sejak pagi, kini dengan bebasnya meluncur mengikuti lekuk-lekuk wajah. Membuat saya tidak mempedulikan banyak hal yang terjadi di hadapan, tidak pula menyambangi beragam lukisan indah yang terhampar di luar jendela.

0 komentar:

Posting Komentar