Social Icons

2 Desember 2011

Berjuta Cerita di Kota Cinta (Part 2)


Tidak sulit untuk berusaha tersenyum jika bertemu Bayu karena memang ada banyak hal lucu yang ia punya dan patut ditertawakan. Tetapi, dengan alasan lelah karena sempat berdiri di kereta sampai satu stasiun, saya meminta izin untuk tidur. Khawatir ia bercerita panjang lebar sedangkan pikiran saya tidak di tempat.

Saya tidak benar-benar memejamkan mata. Ketika Bayu pergi untuk Jumatan, pikiran saya semakin liar bermain. Membuat saya mengetikkan banyak kata dan menyimpannya dalam draft ponsel. Tak banyak makanan yang mampu saya sentuh. Pagi pun saya tak sempat menyuapkan nasi. Tetapi, memang seperti inilah saya jika sedang tidak ceria. Melupakan banyak hal, termasuk perkara makan.

Awalnya kami berdua akan pergi membeli tiket bus untuk pulang ke Lampung Minggu siang. Tetapi, lagi-lagi saya beralasan lelah. Membuat Bayu harus bersusah payah mencari teman (karena memang tak hafal jalan) untuk menemaninya.

Entah sempat tertidur atau tidak, saya terbangun ketika muadzin mengumandangkan Adzan Ashar. Menilik ponsel, ada lima pesan yang belum sempat terbaca. Terselip satu, dari Bunga.

“Ada warna ‘hitam’ dibalut dengan ‘putih’… agar ia tak tampak dominan. Ada kisah tentang ‘kambing’ yang saat ini digandrungi banyak orang, ada di film Shaun the Sheep. Sepintas biasa, tapi ternyata punya banyak ‘pesan’ sekaligus tampak menyenangkan. Hadiah sederhana dan ingin menyampaikan pesan dengan caraku.”

Segera saya menilik bantal kecil yang terselip di kantong oleh-oleh yang saya bawa, mungkin Bunga sempat menyisipkannya ketika di kereta. Tiba-tiba saya teringat ketika Bayu datang menjemput di stasiun dan saya pergi meninggalkannya tanpa kata, dan menyesali mengapa saya begitu jahat dengannya. Bunga tidak salah, saya yang terlalu sensitif dan tak mampu menangkap maksud baiknya.

“Unyu,” kata saya pada bantal hitam putih itu.

Kata itu yang akan saya berikan untuknya sebagai nama. Karena meski tak tahu artinya, saya berpikir bahwa fenomena pemberian bantal ini begitu lucu. Semuanya pas dan berbekas.
***
“Ya ampuuuuuuun,” kata saya. Melihat Bayu berkemeja ketat begitu rasanya miris sekali.

“Kalo mau beli yang ukuran XL, Kak.”

Saya pikir, dia kurus, jadi kemeja all size bisa muat di badannya. Ternyata, badannya selebar badan Papa, hanya saja lebih panjang.

“Yodah, buat Agil aja,” katanya menyebut nama adik bungsu kami.

“Tapi Bayu jangan cerita-cerita kalau ini punya Bayu ya, biar Adek senang.” Bayu mengangguk.

“Heh, belajar sanah,” perintah Bayu.

Saya mengabaikannya karena masih sibuk memencet tombol-tombol di ponsel untuk menghubungi Mama, Papa, bahkan Mbah Putri, dan Mbah Kakung, untuk meminta doa agar lancar mengerjakan soal-soal ujian besok.

“Buleeeeeeeeeek…” panggil saya ketika telepon diangkat oleh Bulek Lilik, adik bungsu Papa yang keluarganya tinggal bersama Mbah.

“Yooo,” jawab Bulek dari seberang.

“Mau minta doanya ya, besok Lia tes,” kata saya.

“Yooo.”

“Mbah mana, Bulek?”
“Wooo, ya udah bubu’ jam segini.”
Saya melirik jam yang tertera di pojok kanan bawah layar laptop yang ada di hadapan saya. Masih jam delapan. Hebat sekali Mbah saya sudah terlelap.

“Yodah. Salam aja ya Bulek, buat Om Goris sama Piul sama Restu juga. Doanya yang kenceng yaaaaaaaaaa…”

Bulek tertawa, tetapi menjawab juga dengan kata yang sepertinya sudah dihafalnya,

“Yooo.”

Bermenit-menit kemudian, saya masih sibuk membalas beberapa komentar dari teman-teman di Facebook, seolah tidak membutuhkan persiapan materi untuk esok.

“Heh,” Bayu menegur lagi. “Belajar. Jangan ngecewain Mama sama Papa, dah jauh-jauh datang ke Solo malah...”

Saya masih mengabaikan kata-katanya karena ponsel saya mulai terisi pesan dari teman-teman yang perhatian sekali dengan saya. Salah satunya dari teman yang menamai dirinya Lily Andila Semangat Selalu.

“Heh, anak cerdas sekarang saatnya pura-pura ga cerdas. Belajar. Biar bisa besok tesnya.”

Aduh, sama saja bawelnya dia dengan adik saya. Sayangnya, saya bandel sekali. Setelah meneguk habis susu cokelat yang dibuatkan oleh Bayu, saya bersiap-siap untuk tidur dengan alasan supaya tidak mengantuk besok ketika tes.
***
Saya terbangun pukul dua lebih sedikit. Sengaja terbangun lebih awal agar tetap bisa melakukan berbagai ritual rutin sebelum berangkat ke kampus, seperti mencuci, menyetrika, dan membereskan kamar Bayu.

Setelah merendam pakaian, saya menghadapNya, melaporkan apa yang akan saya kerjakan hari ini. Meminta banyak bekal seperti ingatan yang baik, kejernihan berpikir, kemudahan menjawab soal, dan kelapangan hati agar perjalanan menuju Pascasarjana menjadi lebih lancar. Kemudian mengucapkan banyak sekali terima kasih untuk setiap hal manis yang Ia beri.

Saya mengambil buku kecil di hadapan dan membukanya, hingga terlihat ribuan huruf Arab yang tersusun rapi, yang sesungguhnya merupakan rangkaian surat-surat cinta yang Ia turunkan dahulu kepada Rasul terakhir. Pertama, saya membaca surat Ar Rahman, sebagai bentuk syukur saya kepada Dia yang Maha Baik dan Maha segala-galanya. Kedua, saya membaca surat kesayangan saya, Al Mulk. Surat yang mengingatkan saya bahwa Dia, yang Menguasai Segala Kerajaan, akan menguji dan melihat siapa di antara para hambaNya yang terbaik amalnya. Saya baru benar-benar beranjak setelah sholat Shubuh tertunaikan.

Tiba-tiba menjadi tidak tenang hati saya karena ternyata ada satu hal terlewat. Saya tidak tahu di mana ruang tesnya.

Segera saya membuka layar laptop yang semula meringkuk bersandingan dengan tuts keyboard dan menghubungkannya dengan internet dari hot spot yang disediakan oleh pemilik kosan. Error. Huaaaaaaa, bagaimana ini. Setidaknya saya tahu kapan tes dimulai, agar bisa berangkat lebih awal dan mencari ruangan dulu bersama Bayu.

Bayu yang baru pulang dari masjid langsung saya buat repot dengan menyuruhnya ke kampus, mengintip siapa tahu ada pengumuman ditempel di jendela-jendela gedungnya.

“Ish, Kakak inilah, UNS itu kaya hutan. Jam segini masih gelap betul,” katanya. Wajah saya berubah, seperti ingin menangis. “Yodah, ntar aja jam enam. Mau main PS dulu Bayu.”

Dengan perasaan yang belum tenang, saya mencuci pakaian yang sudah saya rendam sebelumnya, kemudian menyetrika pakaian yang akan saya kenakan hari ini, serta menyiapkan alat tulis dan kartu tanda peserta ujian.

“Boi!” saya berteriak meski dengan volume rendah karena khawatir mengganggu tetangga. “Ada jadwal ujian sama ruangannya di siniiiiiiiiiiii…” Histeris sekali saya menunjuk kartu tanda peserta ujian itu.
Bayu, yang sedang berkonsentrasi penuh memilih kartu-kartu ampuh untuk diadu pada game Yugi Oh itu, menoleh sebentar dan kembali menatap layar laptopnya, “Dusun Kakak ini. Kaya’ ga pernah ujian aja.”

Saya mengelus-elus kartu itu dengan sayang sembari berkomentar, “Kan terakhir ujian, ujian sidang, Boi. Ujian macem gini sih pas SPMB empat tahun lalu. Udah lupa lah guwah.”

Entah mendapat ilham dari mana, saya pun segera membuka file soal-soal TPA (Tes Potensi Akademik) dan kunci jawabannya. Khawatir tidak bisa menjawab dengan tepat nanti. Lumayan, masih ada waktu ratusan menit sampai ujian dimulai. Sistem Kebut Sekejab (SKS) itu masih bisa berlaku juga untuk mantan mahasiswa, yang juga merangkap sebagai calon mahasiswa, seperti saya.

Setelah dua raka’at Dhuha tamat saya kerjakan, barulah saya bergegas menuju kampus. Dengan perasaan terharu luar biasa karena adik saya pun ikut Sholat Dhuha dan (sepertinya) mendoakan kakaknya supaya dilancarkan dalam ujian. Juga dengan perasaan yang sangat gembira karena mengenakan jubah terbaik saya: kerudung putih, baju berwarna hijau cerah, dan rok putih.

Sempat terlebih dahulu saya mengecek apakah masih ada isi perut yang belum dikeluarkan, agar tak terganggu saat ujian, dan membeli sedikit cemilan agar saya tidak perlu beranjak dari bangku ujian ketika istirahat karena lapar. Saya pun berpamitan dengan Unyu, yang selalu tersenyum, berharap Bunga di sana pun mendoakan saya.
***
Baru saja keluar dari ruangan bersuhu lebih dari 30 derajat (tampaknya) akibat karbondioksida yang dihasilkan dari respirasi ratusan jiwa. Curang sekali penghuni lantai bawah. Berkipas angin ria, membuat mereka terlihat santai mengerjakan soal-soal. Sedangkan saya dan puluhan peserta ujian lainnya terkena dampaknya, hawa panas di lantai bawah terusir angin dari baling-baling elektronik dan terbang ke sana kemari di sekitar kami. Membuat kami tak betah berlama-lama mengerjakan soal karena harus rutin mengibas-ibaskan telapak tangan dan menyeka manik-manik keringat setiap lima menit sekali.

Sudahlah. Ujian sudah selesai. Tak perlu lagi berlama-lama karena saya sudah sangat lapar. Rendang yang sengaja disisakan Bayu untuk saya sudah saya habiskan ketika sarapan. Sempat terpikir untuk makan di tempat yang sering disebut-sebut Bayu ketika menraktir temannya. Tetapi, saya ingin segera tidur, menghilangkan asap yang (mungkin) menggumpal-gumpal keluar dari kepala saya.
***
Pening sekali. Padahal tidur saya siang ini cukup dan rasanya tak ada lagi pikiran yang mengganggu. Apa yang tersisa di dalam benak saat ini semuanya menyenangkan.

Memang ketika terbangun pagi tadi, saya agak menggigil. Kamar Bayu agak panas, maka saya tak perlu menggunakan selimut saat tidur. Tetapi, udara di sekitar saya rasanya semakin turun suhunya. Membuat gigi-gigi terasa ngilu jika sedikit saja bicara. Saya pun berkesimpulan, badan saya sedang tidak sehat.

Apakah ini efek tidak makan seharian kemarin atau tidur berkipas angin di kamar Winda selama tiga malam tanpa selimut, saya tidak peduli. Saya hanya ingin berbaring dengan selimut dan jaket berlapis-lapis. Payah sekali. Padahal ada banyak tempat yang menanti untuk dikunjungi. Baterai kamera sudah dicharge semalaman menunggu untuk menangkap objek di sana sini. Dan besok, saya sudah harus menempuh perjalanan selama 20 jam-an lagi.

Saya ingin berbaring saja karena sudah tidur selama beberapa jam siang tadi. Agar tidak memejamkan mata, saya saling berkirim pesan dengan teman melalui ponsel sembari mengalunkan lagu-lagu favorit saya. Maghrib datang, barulah saya beranjak. Berdiri, ruku’, i’tidal, sujud, duduk, sujud, berdiri lagi, dan begitu seterusnya, sampai kewajiban saya tertunaikan. Dan tahukah hal manis apa yang diberikan lagi olehNya? Sepupu saya datang.

Winda sudah memberi kabar sejak kemarin kalau ia akan survey ke salah satu kolam renang dahsyat (versinya) di Solo bersama teman. Tetapi, karena sampai sore tak juga tiba, saya kira ia tak jadi datang. Ternyata, ia mengabarkan sudah sampai di UNS dan minta dijemput beberapa menit sebelum senja benar-benar terbenam digantikan malam.

“Ada yang sakit nih,” kata teman Winda yang kemarin-kemarin motornya kami pakai ke sini dan ke situ.

“Iya,” kata saya dengan muka memelas. “Gara-gara disuruh jadi babu kaya’nya ini.” Saya mengerling Bayu, nakal sekali.

Bayu menjemput tiga orang dan semuanya tiba-tiba terasa menjadi begitu dekat seperti sudah lama saling kenal. Padahal baru kali itu kami benar-benar mengobrol. Hebat ya, baik sekali mereka dengan musafir seperti saya. Meski mungkin tidak benar, saya mensugesti diri sendiri bahwa mereka sengaja datang untuk menjenguk saya.

Pukul sembilan baru tamu-tamu kami pulang. Setelah menghabiskan mangga-mangga yang saya bawa dari rumah, cemilan kiloan yang dibeli Bayu tadi sore, dan rambutan yang diberi oleh tetangga kamar. Juga setelah memproduksi banyak senyum dan tawa karena ratusan cerita yang bergantian saling kami kisahkan. Saya senang, saya senang, saya senang.

0 komentar:

Posting Komentar