Social Icons

2 Desember 2011

Berjuta Cerita di Kota Cinta (Part 3-End)


Menangkap banyak objek di sudut Kota Solo sebelum pulang, berharap menjadi sugesti untuk saya kembali lagi ke kota ini setelah pengumuman Calon Mahasiswa Pascasarjana UNS yang lulus tes 8 Desember nanti.

Pakaian yang hanya setengah hari kemarin saya pakai ketika ujian, saya kenakan lagi hari ini. Bagaimana ya, saya suka sekali dengan hijau cerahnya. Rasanya lebih cantik untuk ditangkap oleh lensa kamera dibandingkan dengan tiga stel pakaian lain yang saya bawa. Gue banget, begitulah istilahnya.

Pukul enam, kami beranjak dari peraduan. Pertama, sarapan bubur ayam dulu di depan gerbang belakang UNS. Setelah itu baru saya bergaya di depan gedung rektorat, juga di depan calon gedung saya, Pascasarjana.

“Waktu Bayu beli tiket kemarin, lewat pabrik lho, Kak. Harum betul,” kata Bayu. “Pabrik Jamu Sido Muncul,” katanya lagi sok tahu.

Saya mengangguk saja. Yang penting diantar, tak peduli objek apa yang akan dipilih sebagai latar.

Ternyata, sepanjang perjalanan menuju pabrik, yang disebut-sebut Bayu itu, ada banyak sekali objek yang membuat saya menepuk-nepuk bahu Bayu, menyuruhnya berhenti untuk beberapa detik, dan bergaya di dekatnya. Ada sungai yang sejak dulu dengan bangganya dinyanyikan oleh Mbah Gesang, Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Tugu (apa itu saya tidak tahu namanya) di dekat taman, juga kebun binatang. Tetapi, saya tidak mau berfoto di dekat kebun binatang, khawatir dikira sedang membesuk keluarga. Kan, sok tahu memang Bayu ini. Tulisan besar-besar Pabrik Jamu Air Mancur begitu bisa menjadi Sido Muncul, bagaimana ceritanya.

Bayu kemudian memamerkan keraton dan alun-alun. Di jalan, saya mampir sebentar untuk membeli gantungan kunci lucu-lucu berbentuk kupu-kupu dan kura-kura yang bermotif batik untuk sepupu-sepupu yang belum sempat saya belikan oleh-oleh.

Bayu masih menjadi sok tahu ketika mengantarkan saya ke sini dan ke situ. Aslinya dia tidak hafal jalan. Jika ada belokan-belokan yang menurut firasatnya harus dilewati, ya dilewatinya. Tapi, kali ini kami beruntung. Ketika akan kembali menuju kosan, kami melewati sebuah sungai yang di tepinya terdapat patung besar-besar berbentuk aneka macam topeng khas Solo. Dan, jepret! Gaya sekali saya. Terakhir, Bayu mengambil gambar saya di Institut Seni Indonesia (ISI) yang gerbang masuknya berbentuk perahu.
***
Bayu bercerita banyak hal tentang dia, teman-temannya, kosannya, kuliahnya, apapun. Membuat saya terpingkal-pingkal. Sulit membedakan, apakah dia memang polos, lugu, atau mudah dibodohi. Yang saya tahu, di antara ketiga anak Mama dan Papa, Bayu yang paling berbeda. Paling cengeng ketika kecil, paling sering sakit, dan paling bisa membuat tertawa kami yang mendengar cerita-ceritanya.

“Ngapurani, Bay. Ngapurani,” katanya menirukan teman yang bersuku Jawa asli ketika meminta maaf.

“Teman Bayu itu item-item, Kak. Jelek-jelek.”

Halah, sok ganteng sekali dia bilang begitu.

“Di kosan ini, banyak anak kedokteran. Jadi ga boleh ribut,” katanya. “Kalau mau belajar, ngomong aja dari dalam kamar, ‘pssssssssssssst!’, nanti anak-anak yang berisik jadi diam.”

Gaya betul.

“Bayu ini pinter tahu, Kak! Paling jago Mata Kuliah Dasar-dasar Pendidikan.” Gayanya sok sekali. “Kalau Bayu belum kasih komentar, pasti dosennya bilang, ‘Mas Bayu belum kedengaran ini pendapatnya.’ Keren kan?”

Belum selesai ceritanya.
“Tapi sayangnya, Bayu cuma nurun Papa yang orang Bahasa. Pinternya Mama ga nurun ke Bayu,” katanya sembari membanting buku Kalkulus di depannya. “Opolah iki, dibaca berapa kali juga ga maksud-maksud.”

Bangga saya jadinya karena jago matematika. Scara, kuliah empat tahun di jurusan yang sama dengan yang Mama tempuh dulu.

“Tapi, sebal betul Bayu sama Ibu X.” Kali ini ia menyebut nama dosen yang mengampu mata kuliah tertentu. “Bayu duduk paling pojok belakang, Kak. Bayu dengerin, tapi ga tahu kenapa matanya mejam sendiri. ‘Mas yang di pojok itu mau kasih pendapat sepertinya.’ Uuh, ya ga ngertilah Bayu. Habis tedor malah.”

Saya membayangkan Bayu, yang tingginya minta ampun itu, di dalam kelas. Tidak mengherankan sebenarnya kalau dia gampang dikenal. Sudah duduknya di pojok belakang, paling tinggi pula.

“Sebetulnya, Bayu kuliah di UNS ini kenapa juga ga tahu, Kak.” Cerita sepertinya berubah menjadi sendu. “Pas Bayu mau berangkat aja, muka Papa kaya’nya ga ikhlas betul. Kecewa banget sama Bayu, ga bisa masuk Kedokteran.”

Saya terdiam, tidak melanjutkan tertawa karena cerita sebelumnya. Tiba-tiba teringat statusnya di Facebook ratusan hari lalu, sebelum ia menghadapi SNMPTN, “Allah, ampuni aku. Mama, Papa, Kakak, maafin Bayu…” Membuat kekhawatiran saya beranak pinak dan jumlahnya semakin berlipat. Bayu tidak biasanya berkata mellow, apalagi di Facebook.

“Cuma Mama yang selama ini nguatin Bayu.”

Ah, Mama… Bahkan Bayu pun sayang sekali dengan Mama. Padahal, jika di rumah, Bayu yang paling sering dimarah. Ntah karena posisi anak tengah atau memang Bayu yang (dicap) anak nakal.

Tidak betah berlama-lama dengan cerita sendu, Bayu memulai lagi yang lain. UNS itu begini, UNS itu begitu, memberi kesan negatif bagi yang mendengar. Apakah dia ingin membuat saya waspada atau menakut-nakuti agar saya tidak jadi kuliah di sana, saya tidak tahu.

“Kenapa lah, Kakak daftar-daftar ke UNS segala.”

Saya senyum-senyum sampai mata terpejam. Genit sekali.

“Pasti karena ada Bayu.”

PD sekali dia. Tapi, tidak salah kok. Saya, selain karena ingin segera menuntaskan gelar master (mengingat usia yang semakin bertambah dan saya masih belum juga mengubah status dari single menjadi double), saya juga ingin mempelajari kultur dan kekayaan-kekayaan lain yang dimiliki oleh negeri tercinta kita ini. Sebelumnya, saya mempelajari budaya Sunda selama empat tahun. Bahasanya, kebiasaan masyarakatnya, bahkan sempat mengunjungi berbagai tempat yang juga kaya dengan unsur kesundaan. Berharap juga bisa mempelajari budaya Mbah-mbah saya di tanah Jawa. Kebetulan Bayu di UNS. Sekalian saja jadi body guard saya.
***
Saya sudah menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa pulang. Baru akan berganti pakaian menjelang siang, kira-kira satu jam sebelum bus bertolak dari UNS.

Sibuk sekali saya meng-upload foto-foto seminggu ini. Mumpung koneksi sedang bagus. Kalau di rumah, ada saja halangannya. Ntah karena sinyal yang belum memadai atau karena modem, yang genit sekali, minta dibuang. Saya pemalas orangnya. Apalagi harus beranjak dari kamar hanya untuk mampir beberapa menit di warnet yang isinya anak-anak SD bermain game online.

“Boi, laper nih. Ambilin roti siy,” kata saya, tak mengalihkan pandangan dari layar laptop butut warisan Mama. “Pake susu cokelat ya…”

Bayu yang semula mengotak-atik ponselnya bangkit menuju lemari yang bagian bawahnya saya sesaki dengan makanan. Tetapi, beberapa menit berselang, roti yang saya pesan tak kunjung diantarkan juga. Saya menoleh, dengan kecurigaan, dia tidak menuruti mau saya.

Tenang sekali, Bayu menata roti-roti di piring menjadi bentuk tertentu. Saya tidak tahu itu bentuk apa. Yang terlihat, ada mata, telinga, dan mulut. Bagian atasnya mungkin mahkota atau semacamnya. Membuat saya teringat ceritanya ketika lomba menghias roti tawar saat ospek. Padahal, kelompoknya yang paling tidak modal. Hanya berbekal sebungkus roti tawar bundar, jeruk, dan apel.

Juri memilih karya mereka menjadi juara, mungkin karena keunikannya. Roti tawar bundar itu dipotong pinggirnya, dilubangi tengahnya, mirip roda gerobak kayu. Roti-roti tawar kemudian disusun membentuk sebuah gedung dengan tengahnya diisi potongan-potongan apel. Bagian paling puncak dihias dengan jeruk yang dibentuk menyerupai kelopak bunga. Di sekeliling gedung, bagian dindingnya, ditempeli dengan kulit jeruk yang disusun acak. Sedangkan pinggiran rotinya, agar tidak terbuang, disematkan di pinggir-pinggir gedung membentuk gagang cangkir sebanyak tiga buah. Bayu mengambil filosofi Atom Bohr dan teori Rutherford. Kimia sekali kan? Seperti jurusan kuliahnya. Agaknya filosofi itu yang digunakannya untuk merayu juri.

Khawatir Bayu tahu saya mengawasinya, saya segera kembali menyibukkan diri, membalas komentar teman-teman pada foto-foto yang baru saja saya upload.

“Nih, Kak.” Bayu menyerahkan sepiring roti untuk saya.

“Wow, bagus banget!” kata saya pura-pura baru melihat. “Makasih ya…”
***
Saya pasti akan rindu sekali. Rindu membangunkannya setiap pagi, rindu mencuci dan menyetrika pakaian serta meletakkannya di lemari, rindu dengan ledekannya, “Bong gebang gabong gebang gabong…” karena lagu Bonamana Super Junior yang saya putar berkali-kali, bahkan rindu pada jutaan ceritanya yang penuh ekspresi.

Setelah menyalami Bayu, bus melaju. Tidak lama setelah memilih tempat duduk yang sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket bus, saya terlelap. Perjalanan kali ini akan berbeda. Tidak ada Ibu Ramah dan Bapak Sopir Kocak. Saya pun tidak berencana menulis sepanjang perjalanan dan berkata, “Allahku, simpankan untukku memori-memori ini. Agar sempat kutuangkan ke dalam tulisan di lain hari.” Khawatir setiap inci memori ini hilang karena tidak cepat-cepat ditulis.
Karena terlelap, saya tidak menyadari ada seorang Bapak yang duduk di samping saya ketika puluhan detik bus berhenti di Boyolali. Saya baru menegurnya ketika bus dan Boyolali telah berjarak puluhan kilometer. Beliau, yang asli Boyolali itu, ternyata mengajar di Unila, sama seperti Papa. Hanya saja berbeda jurusan. Beliau menceritakan putri pertamanya yang kuliah di Pascasarjana UGM, padahal usianya sebaya dengan saya. Karena akselerasi ketika SMA, ia bergerak selangkah lebih cepat dibandingkan saya.

Selanjutnya, kami tak banyak bicara. Ditemani Unyu, tidur saya rasanya lebih nyenyak. Mungkin karena minyak angin aromaterapi yang saya gunakan untuk memandikannya, membuat aroma hangatnya dengan bebas memasuki kedua lubang hidung, dan ikut menghangatkan tenggorokan sampai ke dada. Saya harus lebih banyak beristirahat agar saya menyambut Mama nanti dengan kondisi bugar.

Bus merapat di sebuah rumah makan yang mengingatkan saya pada study tour ketika SMA ke Jogja di tahun 2006 karena lokasinya yang sama. Tetapi, saya tetap di tempat, setia sekali dengan kendaraan beroda empat yang saya tumpangi untuk pulang ke kampung halaman. Padahal, aslinya bukan setia. Ini efek menggigil, gemetar, dada sesak, dan perut tak karuan yang melanda salama perjalanan. Angin nakal sekali, lagi-lagi masuk ke dalam tubuh saya.

Menjadi tak sehat memang tidak selamanya menyenangkan. Semoga saja tidak merepotkan banyak orang, baik di perjalanan, maupun di rumah. Karena Mama pasti rewel betul kalau anaknya tak sehat. Buktikanlah ucapan saya esok saat tiba di rumah. Mama yang baik, kan… Membuat saya kini begitu ingin ia ada di sini, di sisi saya.

Setelah memasukkan beberapa suap nasi bungkus, yang disiapkan oleh Bayu untuk saya, ke dalam lambung dan kembali mengoleskan minyak angin beraroma buah di kening, leher, dan beberapa anggota badan lain yang perlu, saya kembali tertidur.

Bus minum banyak sekali bensin, membuat kami beristirahat sedikit lebih lama dan sempat mampir menuju kamar mandi di POM. Saya sengaja berwudhu meski Shubuh baru akan datang sejam lagi. Sepertinya, khawatir dimarah kernet karena menghabiskan air di toilet bus.

Nagrek. Lewat bandung ternyata saya. Membuat saya mengetikkan beberapa kata untuk memamerkannya kepada teman-teman di Bandung yang katanya kangen sekali dengan saya.

“Tunggu saja bus warna hijau bertuliskan Puspa Jaya lewat. Tapi, jangan di jalan Setiabudhi, tempat kampus kesayangan kita bertengger. Langsung ke Tol Pasteur saja, busnya mungkin lewat sana. Terus masuk Tol Cipularang,” kata saya, menggila di pagi buta.

Ada yang membalas, “Harusnya Teteh turun di Pasteur, ga usah ikut busnya sampai Lampung.”

Walah, mesti bahagia atau sedih saya mendengarnya?

Pesan yang lain masuk, “Oi, ga lewat Pasteur tahu, dari Cibiru meureun langsung masuk Cipularang.”

Saya tertawa. Teman yang terakhir mengirimkan pesan ini pasti sedang menghibur dirinya sendiri karena tidak jadi bertemu dengan saya.

Saya tertidur lagi setelah Shubuh dan terbangun karena sopir menyuruh kami keluar bus menuju dek kapal. AC bus akan dimatikan. Agar tidak gerah, sebaiknya kami menuju bagian atas kapal sembari mencuci mata.

“Unyu di bus saja, ya…” kata saya. “Di kapal banyak bakteri, nanti sakit. Jaga diri baik-baik. Jangan mau diajak ngobrol dengan orang tak dikenal. Jangan mau juga kalau dikasih permen. Bahaya kalau ga halal.”

Saya pun beranjak dan meninggalkan Unyu di bus bersama Bapak Sopir dan kernetnya. Nanti, kalau sudah sampai rumah, pasti banyak temannya. Ada bantal merah berkepala tikus dari Lily, juga White Teddy Bear dari Zara. Di Bandung, bersama dengan barang-barang yang saya titipkan di rumah teman, ada bintang kecil dari Mega, Brown Teddy Bear dari Arum, serta boneka sapi dan kodok dari Teh Novi. Kalau kuliah di Solo, mereka semua akan saya bawa. Dan jadilah kosan saya nanti kebun binatang.
Asyik sekali. Mengapung bersama penumpang kapal lainnya. Menikmati triliunan kubik air asin yang membentang sejauh mata memandang. Sebuah garis melintang membatasi laut dengan langit yang dipenuhi awan yang menggumpal lebih rapat, menghalangi cahaya yang datang dari bulatan keemasan yang biasa bersinar dari pagi hingga petang datang.

Setelah dua jam lebih sedikit, kami sampai di Bakauheni, dan turun bersama bus setelah kapal merapat.

“Andong, lihat sini,” kata seorang anak balita pada neneknya, “Itu ada Shaun…”

Spontan saya menoleh ke kanan, ke tempat duduk yang berseberangan dengan tempat yang saya duduki. Seraya tersenyum (sok) ramah, saya bertanya, “Suka ya?” menunjuk Unyu yang ada di pelukan saya.

Putri cantik berambut ikal itu tersipu, menggigit bibir bagian bawahnya, sedangkan jari telunjuknya berada di pipi, sembari memeluk neneknya dengan manja.

Senyum ini membuat saya berkesimpulan bahwa saya, yang baru dua puluh hari berusia 22 tahun, tak ubahnya seorang anak yang baru memasuki PAUD. Tetapi, saya tidak peduli. Tampak dewasa atau tidak, sama saja. Jika pun saya terlihat manja dan identik dengan anak usia di bawah lima tahun, saya ingin Tuhan tetap menyayangi saya. Seperti sekarang. Dia sangat baik dan mengemas segala sesuatunya menjadi amat cantik. Juga mengabulkan doa-doa saya yang sebanyak bintang di langit. Dan tahukah apa yang mampir dalam benak saya sekarang? November is mine.
***
“Kyaaaaaaa…!” Seorang anak PAUD yang terperangkap dalam tubuh perempuan berusia 22 tahun menjerit sejadinya.

“Harusnya bisa dimakan sampai tanggal 23,” katanya sambil menangis tersedu meski tanpa air mata.

Mama terbahak-bahak melihat anaknya memalingkan wajah dari bakpia tela yang sudah jamuran.

“Itu kan satu-satunya oleh-oleh untuk Mama sama Papa,” isaknya.

“Lah, Mama sama Papa dah kaya, ga perlu oleh-oleh, tahu,” Mama berusaha menghibur.

Tin! Tin Tiiiiiin!

Klakson mobil Papa menjerit, minta dibukakan pintu garasi.

“Lah, katanya nginep, kok malah pulang. Pasti karena ada cewek satu ini,” kata Mama seraya bangkit.

Perempuan, yang usianya 25 tahun di bawah Mama itu, menghampiri Papa ketika memasuki dapur, menyalaminya meski sambil bersungut-sungut menunjukkan sekotak bakpia.

“Opo iki?” Papa membuka kotaknya dan melihat bakpia berambut halus dan cepak berwarna kehijauan.

“Jamuran…” wajah perempuan itu terlihat memelas. Papa mencomot satu dan hendak memasukkan ke dalam mulutnya, membuatnya berteriak, “Papa jangan dimakaaaaan…!”

Semakin ingin menangis karena Papa begitu ingin menghargai oleh-oleh dari putrinya.

“Yo wis, kasihin gurame aja ben senang.”
*end*

Dalam Bilik Pribadi
Dengan Instrumen Depapepe Mengiringi
Sehari Sebelum November 2011 terlewati

Calon HambaNya yang Mendapat Nikmat Abadi

0 komentar:

Posting Komentar