Social Icons

2 Desember 2011

Mereka yang Mengenalkan Dunia Kata


Siapalah saya ini. Pembaca berita bukan, presenter acara kuliner bukan, host acara jalan-jalan bukan, apalagi member dari sebuah girlband. Tidak terkenal sama sekali. Tetapi, saya suka berbagi. Berbagi apa saja, termasuk kisah-kisah saya sejak pertama menjejakkan kaki di bumi Tuhan ini. Bercerita tentang nasib sendiri bukankah sangat menarik? Karena tidak ada orang yang tertarik mengisahkanya, maka saya berkicau sendiri.

Saya senang menulis. Apa saja, surat, cerita, bahkan curahan hati di diary yang sekarang saya namakan Facebook. Saya ingat, tulisan saya yang pertama adalah surat untuk Mama. Sewaktu saya kelas satu SD, Mama penataran di Yogyakarta sampai dua bulan. Saya, yang semula ranking dua di cawu satu, anjlok menjadi ranking lima di cawu dua. Kangen sekali dengan Mama karena tidak ada yang menemani saya belajar setiap malam.

Akhirnya, Papa mengajari saya menulis surat. Pada waktu itu, telepon adalah hal yang sangat mewah untuk kami. Kalau mau menelepon Mama harus jam empat pagi. Ke wartel atau Telkom di (Kecamatan) Pringsewu supaya murah. Menelepon juga tidak lama. Uang Papa tidak banyak.

Papa menyodorkan pulpen berwarna biru dan selembar kertas, meminta saya bercerita apa saja kepada Mama. Saya tidak terbiasa dengan pulpen karena di sekolah, saya biasa mengukir huruf-huruf di buku tulis dengan pensil. Tulisan saya banyak salah, tapi tidak bisa dihapus. Papa mengajari menggunakan Tipe-X. Tapi tetap saja banyak salah. Jadilah surat itu tidak karuan. Perpaduan antara warna biru pulpen dengan putih tipe-X, membuat suratnya tidak bisa dibaca dengan jelas.

Kata Mama sewaktu pulang, Mama tertawa-tawa membaca surat saya dan memamerkan pada teman-temannya di sana. Sejak saat itu, saya semakin sering menulis surat. Untuk Bibi di Jakarta, untuk Meissy artis cilik idola saya, bahkan sahabat-sahabat pena yang saya temukan alamatnya di Majalah Bobo.

Kelas tiga SD, saya menulis cerita. Agaknya, itu fiksi saya yang pertama. Saya bercerita tentang keluarga yang sangat miskin. Anak kembar yang hanya tinggal bersama Ibunya di gubuk reot. Suatu hari, ketika sang Ibu sedang mencuci pakaian di sungai, anak kembar yang sedang bermain-main itu menemukan berlian besar sekali. Jadilah mereka jutawan. Setelah dewasa, si anak kembar bertemu dengan anak kembar laki-laki di pantai. Kedua pasangan itu menikah dan memiliki anak yang juga kembar.

Saya puas sekali dengan cerita itu. Hebat betul saya bisa membuat cerita. Teman-teman pasti tidak ada yang bisa.

Kelas lima SD, Mama membelikan saya buku diary berwarna biru bergambar Winnie the Pooh. Saya senang sekali. Di halaman pertama saya bercerita tentang Mama yang baik sekali membelikan saya diary dan es krim.

Setelah SMP, buku-buku diary saya banyak bercerita segala hal yang berhubungan dengan daun waru berwarna merah jambu. Tentang teman sekelas saya yang ganteng dan diam-diam juga naksir saya. Tentang kakak kelas yang keren-keren sewaktu Pramuka. Tentang Mama yang marah-marah bilang saya tidak boleh pacaran. Banyak hal yang saya tulis.

Di SMP inilah saya bertemu Lily Andila. Untuk pertama kalinya saya merasa punya teman senasib yang doyan menulis. Dia hebat sekali bisa menulis cerita yang bagus-bagus. Saya jadi ikut-ikutan. Tetapi, cerita-cerita saya masih bertema sama, tentang daun waru berwarna merah jambu.

Ketika SMA, saya mengenal karya tulis. Hebat sekali, kata saya ketika membaca karya tulis kakak kelas di KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) tahun-tahun sebelumnya. Anak SMA bisa membuat kulkas alami dari gentong, membuat alternatif bahan bakar dari merang, dan yang lainnya. Akhirnya, bersama adik kelas saya yang bergabung juga di KIR, Latifa dan Candra, saya membuat karya tulis tentang tape talas dan nata de rambutan. Tetapi, tidak menang di LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) karena penyajiannya yang kurang sistematis.

Di kelas dua belas, baru saya mendapatkan penghargaan tingkat nasional, meski hanya sepuluh besar. Team mate saya waktu itu, Zu (yang bernama asli Suprayogi). Luar biasa sekali dia, gigih dan pekerja keras. Meski pembimbing kami, Pak Syarif dan Bu Wiyati sampai geleng-geleng kepala karena seringnya kami bertengkar, saya tetap bangga. Karya tulis itu hasil kerja keras.

Sampai menjadi mahasiswa pun saya masih doyan menulis. Kali ini lebih hebat, dua cerpen dan dua karya tulis saya mendapat penghargaan meski sebatas tingkat fakultas. Tetapi, selama beberapa bulan terakhir, terutama menjelang ujian sidang, tulisan yang ada di pikiran saya hanyalah skripsi. Selama beberapa bulan itulah saya tidak lagi merasa tertarik untuk membuat cerita pendek.

Pada masa transisi ini, ntah bagaimana datangnya, tiba-tiba saja saya kembali memiliki energi untuk menulis. Ternyata, energi itu datang dari dua sosok yang telah lama sekali tak saya temui. Pertama, Ikhwanudin Amri.

Awalnya, saya sempat merasa malu dan tidak enak sekali ketika dia berkata melalui fasilitas chat di Facebook, “Cuma kamu lho yang ga jenguk aku.”

Ya ampun, jahat sekali saya. Kami adalah teman sekelas semasa SMA dan sama-sama menyukai Matematika. Saya kuliah di UPI, Ikhwan di Unila, dengan jurusan yang sama, Pendidikan Matematika. Tetapi, di tengah perjalanan, ia mengalami musibah. Kecelakaan yang sangat hebat yang mengancam salah satu kakinya untuk diamputasi. Tetapi, dia tidak ingin kehilangan kaki, sehingga mencoba pengobatan alternatif. Membuat aktivitasnya terbatas dan sehari-hari hanya berselancar melalui internet, tak lagi melanjutkan studi di kampus.

Bagaimanapun, saya tetap mengakui bahwa teman saya ini luar biasa. Dari internet, dia bisa terus menambah saldo di rekening tabungannya. Dari internet, ia tak terbatas hanya memandang apa yang ada di hadapan, tetapi juga berkeliling dunia. Dari internet, ia tetap bisa melakukan banyak hal dan semakin menambah ide di otaknya yang memang brilian. Dan salah satu hal yang membuat saya tergerak untuk kembali menulis adalah ketika melihat blognya yang berisi tentang beberapa teori matematika. Karena tak lagi bisa mendapatkannya dari bangku kuliah, sepertinya ia mempelajari subjek yang ia sukai itu otodidak.

“Ayo, nulis lagi. Nanti aku baca.”
Tepat. Kekhawatiran saya ketika menulis adalah tidak layak dibaca orang banyak. Tetapi, ia menawarkan diri untuk menjadi pembaca, tak mempedulikan apakah tulisan saya renyah dan enak dikunyah atau tidak.

Lily Andila. Seperti menemukan kembali teman lama yang dulu begitu dekat karena hobi yang sama. Dalam sebuah kesempatan, dia mem-pos sebuah note yang muncul di beranda Facebook yang membuat mata tergerak untuk membacanya. Lily masih hebat seperti dulu, bahkan jauh lebih hebat.

Note yang tak sengaja saya baca itu membuat penasaran saya timbul dan menggerakkan mata untuk mengintip note Lily yang lain. Khawatir bintitan karena mengintip, saya meminta izin dulu dengan Lily.

“Ya, ya. Boleh, tentu saja. Lily suka ada yang baca note Lily.”

Ternyata kawan, jumlah note Lily ratusan! Pening saya membacanya. Tapi, dasar pengangguran, saya baca note-nya satu-persatu, sampai tertidur saking lelahnya. Terkadang saya usil dan menyematkan jempol bahkan komentar di note yang sudah lama sekali diposkan.

“Auliaaaaa… Kok dibaca semua sih note-nyaaaa,” protes Lily. “Ada yang privasi soalnya. Yah, you know me so well.”

Waduh, ketahuan gara-gara jempol dan komentar. “Tapi bagus Ly, gimana dong.”

“Jangan kasih komen di note-nya tapi ya,” Lily berusaha bijak.

“Ga tahan,” kata saya. “Yodah, komennya lewat SMS aja,” usul saya lebih bijak.

Dan tamatlah saya membaca note yang jumlahnya seratus enam puluh atau tujuh puluh atau berapalah itu, saya tidak ingat. Macam-macam note-nya. Ada kisah nyata, ada cerita fiksi, ada pula yang hanya sekedar ungkapan dari apa yang dipikirkan oleh Lily. Saya suka cara Lily bertutur, apa adanya dan jujur. Sepertinya Lily memang ingin berbagi banyak hal dengan banyak orang. Berbagi pandangan, berbagi cerita dan juga berita. Caranya mengisahkan sesuatu pun bervariasi. Memposisikan diri tak hanya sebagai perempuan, tetapi juga lelaki. Mengisahkan tentang kehidupan remaja sampai rumah tangga. Mengambil setting tempat tak hanya di dalam, tetapi juga di luar negeri. Mengambil tokoh yang religi sekali, juga dari agama lain. Bercerita tentang cinta sampai kisah yang penuh misteri. Apa saja, apa saja bisa Lily ceritakan karena ide di otaknya bisa sampai tumpah kalau tidak dijadikan tulisan.

0 komentar:

Posting Komentar