Social Icons

2 Desember 2011

Nice Trip to Solo


Minggu sore, saya memulai perjalanan dengan sebuah pertanyaan terbersit di benak, “Sebagaimana terdapat kota Kartasura selain Surakarta, apakah ada juga kota Loso selain Solo?”

Mempunyai teman duduk yang ramah membuat perjalanan tak terasa penat. Terlebih karena untuk pertama kalinya saya pergi sejauh ini sendiri. Merasa memiliki teman, kami banyak berbincang. Sebut saja namanya Ibu Ramah. Ibu setengah baya itu bercerita tentang keluarga besarnya di Surabaya, transmigrasinya ke Lampung karena mengikuti suaminya yang dinas di pabrik gula Bunga Mayang, dan kedua anaknya yang sudah bekerja, bahkan menikah.

Ternyata, obrolan kami terdengar oleh sopir yang awalnya khikmad mengendalikan pedal gas dan bundaran setir di kanan depan kami. Walah, salah sangka saya. Sopir yang saya kira pendiam ini rupanya adalah pelawak pada kehidupan sebelumnya. Dengarkan saja banyolannya. Saya dan Ibu Ramah sampai terpingkal-pingkal. Mengingatkan saya pada Bagiyo, rekan sesama pelawak asal Jawa timur, Kirun.

“Yo nek dikon milih, aku milih rondo wae umur 65. Ora susah nguruse. Ora njaluk macem-macem. Nek sing enom-enom kae kan mesti dijek jalan-jalan ke mall. Walah, bangkrut. Rondo 65 iki nek entek wedake dikei terigu yo meneng. Ngertine ayu, nek ngoco kan putih.”

Yang dalam versi Indonesia, “Ya kalau disuruh memilih, saya memilih janda saja umur 65. Ga repot ngurusnya. Ga minta macam-macam. Kalau yang muda-muda itu kan mesti diajak jalan-jalan ke mall. Walah, bangkrut. Janda 65 ini kalau bedaknya habis, dikasih terigu saja sudah bisa diam. Tahunya cantik, kalau bercermin kan putih.”

Atau banyolan lain, “Aku iki jane jenuh lho dadi sopir. Liwat dalan sing podo koyo ngene wis bola bali bola. Mengko nek pensiun, aku dadi bakul kangkung wae lah.” (Aku ini sebenarnya jenuh lho jadi sopir. Lewat jalan yang sama seperti ini sudah berkali-kali-kali. Nanti kalau pensiun, aku jualan kangkung sajalah)

Ibu Ramah menimpali, “Opo yo ono sopir pensiun?” (Apa ya ada sopir pensiun?)

“Wooooo… Lha sing ngalungi anduk putih, nganggo kaos kotang, kipasan neng lawang, kae mesti pensiunan sopir. Nek pensiunan pabrik kan mengguk, sambendino ngombe obat watuk.” (Wooooo… Lha yang ngalungin handuk putih, pakai kaos dalam, sambil kipasan di pintu, itu pasti pensiunan sopir. Kalau pensiunan pabrik kan batuk (mengguk), setiap hari minumnya obat batuk (watuk)).

Lebih lucu jika mendengar langsung cara bertutur beliau dalam bahasa Jawa. Jujur sekali, apa adanya. Diam-diam, saya bangga memiliki darah Jawa. Karena sempat saya menyematkan gelar ‘santun’ kepada orang-orang Jawa, sebagaimana kata itu saya sematkan pula jika membincangkan orang-orang Sunda.

Sejuta banyolan lain masih menunggu untuk kami tertawakan. Bukan tidak mengantuk. Hanya menyayangkan jika melewatkan kesempatan untuk ikut tertawa yang sangat menyehatkan badan itu. Obat ampuh supaya tidak cepat tua, katanya.

Setelah bus memasuki lambung kapal yang penuh sesak dengan segala jenis mobil beroda lebih dari sama dengan empat, saya segera menuju tempat paling asyik, mushola. Sebenarnya, jika bersama teman, saya akan duduk-duduk dan berbincang sembari menikmati indahnya jutaan kubik air asin tempat kapal ini mengapung. Tetapi, teman duduk saya, Ibu yang ramah sekali itu terlihat lelah. Di mushola beliau bisa rebahan sejenak meski sebetulnya ada tulisan besar-besar “DILARANG TIDUR”. Setidaknya, saya patuh, benar-benar tidak tidur di mushola. Padahal, sudah pening dan mulai merasa mabuk perjalanan. Bukan tidak ingin, saya memang insomnia beberapa hari ini. Jadilah, setelah menjama’ sholat Maghrib dan Isya’, saya mendengarkan lagu Tokyo yang dilantunkan oleh Yui melalui HP butut saya. Nakal sekali. Padahal seharusnya saya mengaji.

Seperti terlupa cara terlelap. Padahal guncangan bus tak begitu keras. Mungkin karena lampu-lampu Jakarta yang menyorot terlalu tajam. Atau AC yang dinginnya terlalu menyengat. Tetapi, saya lebih percaya, ini dikarenakan otak yang terus bekerja. Menari-narikan kata demi kata, seperti rindu untuk dirangkai.

Pantura. Macet luar biasa. Jahat sekali pengemudi jalur kanan itu. Padahal sudah ada marka jalan, masih saja menghabiskan jalur kiri. Membuat kami mblasak ke trotoar. Untung tidak lebih tinggi dari jalan utama.

Saya sempat tertidur puluhan menit dan terbangun sebelum fajar. Berencana shubuh di bus, saya berjalan ke toilet di bagian paling belakang untuk berwudhu. Uuh, pecicilan betul busnya. Goyang sana goyang sini, membuat saya susah goyang gayung. Pintu toilet tak bisa dikunci pula dari dalam. Untung yang lain terlelap.

Setelah bersusah payah merangkak kembali ke bangku paling depan, bus tiba-tiba merapat. Saatnya sarapan. Ya ampuuun, kata saya. Tahu begitu saya wudhu di toilet yang tidak goyang-goyang. Apalagi kernet bus marah-marah karena air di toilet bus habis. "Pangapunten bapak, mboten paham." Benar-benar tidak tahu kalau menggunakan air di toilet bus harus ekstra hemat.

Senin pagi. Ketika muda-mudi berbaris rapi di upacara bendera, saya justru sedang asyik nongkrong di bus Rosalia Indah. Menikmati tontonan gratis di kanan kiri jalan melalui kaca-kaca jendelanya. Baru saja melewati pertigaan, ke kiri Cirebon, ke kanan Losari dan Semarang. Di hadapan saya, tepat di ujung jalan, terbentang sebuah negeri di atas awan. Selembar kanvas melukiskan gunung serupa Fujiyama dengan kaki-kakinya yang bertengger di awan-awan putih yang menggumpal-gumpal.

Tegal belum habis dilintasi. Tetapi, saya sudah berusaha untuk memejamkan mata. Seperti telepon genggam yang bisa habis beterainya, mata saya juga bisa lelah. Terjaga sampai begitu lama seperti ini bukan kebiasaan saya. Di tahun-tahun kuliah di Bandung, jika saya mudik atau balik, saya akan langsung tertidur di bus dan terbangun saat bus telah sampai ke tujuan. Sepertinya, kali ini diakibatkan sumpah saya sebelum berangkat, “Ini harus menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan!” Membuat saya tak henti-henti menikmati setiap inci pemandangan yang terhampar di hadapan. Ditambah lagi Ibu Ramah dan Bapak Sopir yang kocak. Membuat saya betah, seolah sedang bepergian dengan keluarga dekat.

Belum sempat mata benar-benar terpejam, saya menangkap sosok teman duduk di samping kanan saya, berseberangan dengan bangku yang saya dan Ibu Ramah duduki. Saya baru menyadari, pasangan suami istri muda itu sedang membawa serta pula bayi mereka. Mungkin karena tadi malam gelap, saya tidak melihat perut sang istri yang besar. “Delapan bulan,” katanya. Ya ampuuun…

Wahai calon ayahnya anak-anak, batin saya. Nanti kalau saya hamil, kita jangan bepergian jauh ya… Kasihan dede’nya. Kasihan juga bundanya yang bawa-bawa dede’ di dalam perut.

Saya sudah meniatkan untuk tidur setelah bus memasuki Pelabuhan Merak. Tetapi, sepertinya bandel sekali. Mata saya tetap melihat meski kelopaknya tertutup. Telinga saya tetap mendengar banyolan sang sopir yang tak henti-henti. Paling parah, pikiran saya. Lari sana, lari situ, liar sekali. Membuat saya terbangun, menulis, berusaha tidur, terbangun, menulis, berusaha tidur, begitu tak henti-henti. Semakin tak bisa diselamatkan ketika bus kembali berhenti untuk beristirahat di Kendal. Tiga puluh menit, membuat saya menemukan tempat yang nyaman sekali. Sayangnya bukan untuk tidur, melainkan menulis.

Pukul dua siang, bus kembali merapat. Kali ini saya turun beserta barang bawaan yang selama 21 jam saya sembunyikan di bagasi. Masih terasa tangan hangat Ibu Ramah yang saya salami sebelum turun. Dari kaca bus, saya melihat Ibu Ramah melambaikan tangan. Saya membalas, sembari berteriak di dalam hati, “Terima kasih untuk perjalanan yang sangat menyenangkan…!”

Tak lama, tukang ojek jangkung menghampiri saya. Lusuh sekali, sepertinya belum mandi. Terkadang, anak ini membuat saya teringat Duta Sheila on 7. Ntah bagian mana yang mirip.

“Halo, Kak,” sapanya sambil cengar-cengir menyalami saya. Sumringah betul. Hati saya berbunga-bunga saking GR-nya.

Tiba-tiba teringat adik bungsu, yang kelas enam SD itu, di rumah. Kemarin, dalam perjalanan mengantarkan saya menuju pul Rosalia Indah, dia bertanya, “Kok bawanya dikit amat?”

“Ngapain bawa banyak-banyak,” kata saya. “Cuma seminggu ini.”

“Seminggu? Terus pulang lagi?” katanya dengan mata berbinar. Saya bisa melihat senyumnya meski memalingkan wajah. Terharu saya, sayang betul dia dengan saya.

Dengan gaya koboi, saya duduk di belakang Bayu sembari memangku printer. Ransel besar yang diam-diam saya selipkan laptop di dalamnya, dijaga Bayu dengan kedua kakinya yang panjang meski sudah ditekuk. Kresek besar berisi makanan bertengger manis di atas ransel. Dan wusssssss, motor melaju, melewati gerbang utama Universitas Sebelas Maret.

Rasa-rasanya ada karpet merah terhampar menyambut saya, dengan arak-arak dari anak-anak PAUD berkostum aneka ragam, ber-backsound lagu Pramuka, “Selamat datang, Kakak, selamat datang…” Bangga sekali.

Bayu menunjuk gedung ungu FKIP dan gedung Pascasarjana yang kami lewati. Merasa kembali muda, saya mau sekolah lagi! Padahal lihat saja, nanti-nanti teman-teman kuliah saya adalah Bapak Ibu Guru yang sudah beranak.

Sampailah saya di tempat tinggal sementara, di kosan Bayu yang mungil tapi terlihat lebih ‘wah’ dibandingkan kosan saya di Bandung dulu. Di depan pintu sebuah kamar, dekat dengan pintu masuk, ada anak galau senyum-senyum. Menyapa Bayu ketika kami lewat, yang tidak bisa saya tangkap kata-katanya karena volume suara yang terlalu rendah. Tetapi saya bisa mendengar tawa keras dari dalam kamar ketika kami menjauh.

Belum-belum saya sudah mengomel, “Mau ngecengin gua? Udah tua tauk!”

Bayu ikut-ikut marah tetapi berbisik, “Heh, di sini ga boleh ribut!” Saya terdiam.

Sesampainya di kamar, wajah Bayu kembali cerah. “Mana rendangnya?” Saya menunjuk kresek besar. “Wooooo… Laper Bayu. Nungguin rendang Mama ini. Lama betul Kakak.”

Hah? Saya kira dia cengar-cengir dari tadi karena bahagia sekali kakaknya datang. Ternyata, dia lebih sayang rendang Mama.

0 komentar:

Posting Komentar