Social Icons

2 Desember 2011

Pengangguran Banyak Acara


Saya merebahkan tubuh dengan liar di atas ranjang setibanya saya di rumah setelah selama tujuh hari berada di Bandung menyelesaikan beberapa keperluan. Legalisasi ijazah di fakultas, mengajukan permohonan pengunduran diri dari SMP Yaqin, tempat di mana saya beraktivitas selama menunggu wisuda setelah ujian sidang, juga mengundurkan diri dari DNA yang sempat mempercayai saya sebagai manajer akademik selama hampir setahun, serta berwisata kuliner dan berbincang-bincang dengan banyak sahabat di kampus. Merasa lelah setelah menempuh perjalanan Bandung-Lampung enam jam lebih lama dari biasa (karena busnya genit sekali, mampir sana mampir sini), saya pun tertidur.

Terbangun dengan badan yang –saya yakin- membuat orang tak betah berlama-lama di dekat saya, saya bergegas ke kamar mandi. Sudah harum, baru saya keluar dari ruangan, yang tiga kali lebih sempit dibandingkan dengan kamar saya itu, dan membuka tudung saji di atas meja makan. Wow, tumis kangkung favorit saya! Tanpa babibu, tetapi sempat berdoa dulu, saya pun segera melahapnya. Mantap sekali Mama saya, tahu harus menyiapkan makanan apa untuk putrinya tercinta.

Sempat terbersit kekhawatiran sebenarnya, sebelum kemudian memutuskan untuk pulang dan menunggu waktu pendaftaran sebagai calon mahasiswa Pascasarjana UNS di rumah. Pasalnya, beberapa kakak tingkat terdekat yang lebih dulu lulus dan kemudian pulang ke kampung halaman sempat mengeluh. Galau karena lapangan kerja yang tidak lebih banyak dibandingkan di Bandung. Galau karena fasilitas di sekitar rumah terbatas (untuk berwisata hati, wisata mata, juga wisata perut). Galau karena si “Abang” belum juga datang memungut. Dan saudara dari galau-galau yang lain.

Tetapi, setelah menyadari betapa kedua orang tua saya rindu setelah ditinggal ke Bandung selama empat tahun, saya memutuskan untuk mengabulkan keinginan mereka. Lagipula, ada banyak hal di rumah yang bisa saya nikmati, terutama segala sesuatu yang berlabel gratis. Licik memang saya ini, menabungkan rupiah-rupiah hasil keringat saya, tetapi untuk setiap keperluan pribadi tetap meminta biayanya dari Mama dan Papa.

“Ma, nti beli bakso ya…”

“Ya.”

“Ma, besok beli mie pangsit ya…”

“Ya.”

“Ma, pengen kemplang sama kerupuk Palembang.”

“Ya.”

“Ma, beli martabak Bangka siiiiih…”

“Oi, bangkrut lah Mama!”
***
Aneh sekali melihat KTP yang baru saja diantarkan Om Ayun, adik bungsu Mama, dari tempat pembuatannya. KTP yang sejak saya berusia tujuh belas tahun berstatus pelajar itu, kini bertransformasi menjadi ‘wiraswasta’. Saya tersenyum geli. Untung saja bukan ‘Pengangguran’ atau lebih cantik lagi ‘Pengangguran Intelektual’. Setidaknya, status di KTP baru itu benar. Saya memang wiraswasta, lebih spesifik lagi pedagang. Produk yang saya dagangkan tidak merepotkan pula, bisa sambil tidur saya jajakan. Sebut saja namanya pulsa.

Merasa menjadi putri, kerjaan saya setiap hari adalah menonton tayangan-tayangan di televisi. Ya bagaimana, semuanya sekolah, termasuk si Bungsu. Terkadang saya juga risih jika Bulek Indah, ipar Papa yang rumahnya nun jauh di sana dan sangat jarang sekali bertemu saya, bertanya, “Lia ga sekolah?”. Waduh, sudah tamat saya. Sekolah lagi nanti, tahun depan. Tak apa, tenanglah. Saya sudah berjanji untuk tidak mengeluh, maka saya harus mengais setiap detail hal menarik yang bisa saya peroleh dari apa-apa yang mampir melalui indera, baik penglihatan, pendengaran, maupun perasaan.

Lihat saja, tayangan-tayangan di televisi telah membuat saya kembali menjadi sang pemimpi. LBS Movie, misalnya. Channel yang banyak menyajikan film-film Korea berdurasi dua jam itu telah menjadikan saya seorang pengkhayal yang semakin merasa diri adalah seorang putri dan suatu saat nanti mendapatkan seorang pangeran yang baik hati dan gagah sekali.

Tayangan yang lain, lebih bermartabat. Jalan-jalan dan wisata kuliner, yang membuat pikiran tersesat dalam angan tentang berkeliling Indonesia bahkan dunia suatu saat nanti. Acara masak-memasak yang membuat saya sok tahu dan mencoba masakan ini itu untuk sekedar dipamerkan pada si Bungsu yang penurut sekali dan bilang “Enak.” Atau tayangan yang menampilkan kreasi aneka produk olahan, menggugah saya untuk juga ikut berkreasi dan di kemudian hari membuka lapangan kerja untuk banyak orang melalui usaha produk kreatif.

Bukanlah sesuatu yang salah jika menganggap menikmati tayangan-tayangan di televisi tidak hanya sekedar hobi, tetapi juga sebagai sarana memperkaya diri dengan banyak hal menarik yang terjadi di luar sana. Benar saja, suatu waktu saya menemukan sebuah channel bernama NHK World. Saya baru menyadari bahwa channel ini menyuguhkan banyak hal tentang Jepang. Meskipun di sela-sela acara disuguhkan berita mancanegara, namun channel ini juga banyak menyajikan liputan-liputan seputar seni, budaya, tempat wisata, dan sejarah Jepang. Saya kemudian teringat bahwa suatu saat saya pernah bermimpi (pula) untuk sekedar singgah berwisata, melakukan penelitian, atau apapun lah, yang penting bisa menginjakkan kaki di negeri sakura itu. Dan sepertinya, mempelajari negeri ini sebelum menjadi turis adalah ide yang bagus.

Acara yang baru saja saya nikmati itu tentang Kyoto dan kesenian khasnya, keramik. Bukan hal yang aneh sebenarnya mengingat liputan dari channel-channel televisi Indonesia telah banyak menyuguhkan acara tentang pembuatan kerajinan dari tanah liat tersebut. Tetapi, satu hal yang membuat saya tertarik adalah judul dari salah satu segmennya: Spirit of the Thinness.

Saya baru menyadari bahwa keramik buatan Jepang ini (terutama yang berbentuk mangkuk dan cangkir) sangatlah tipis. Salah satu keramik yang ditunjukkan cara pembuatannya hanya setebal 1,3 mm dan keramik ini dibuat dengan sangat detail oleh seorang pembuat keramik terkenal yang usianya telah senja. Ketebalan di setiap permukaannya nyaris sama. Keramik ini kemudian diberi motif bunga-bunga oleh seorang perempuan (karena keterbatasan Bahasa Inggris saya, saya tidak paham apakah perempuan itu keluarga, asisten, atau teman dari pembuat keramik terkenal itu). Motif ini juga tak kalah detail. Bunga-bunga kecil kemerahan itu terlihat identik, disusun rapi dalam rangkaian berjajar dan berbaris dengan sangat cantik. Diameternya tidak lebih dari 5 mm. Ia melukisnya dengan sangat hati-hati.

Keramik ini kemudian dipamerkan setelah usai dilukis. Teryata tidak semua permukaan keramik ini dilukis. Sebagian bunga bertengger di permukaan luar keramik, dan sebagian lainnya tersusun rapi di permukaan dalam keramik. Dan ternyata, Spirit of the Thinness itu benar. Ketika sang keramik di terawang, bunga-bunga kecil itu tampak, baik yang menempel dari bagian luar maupun dalam keramik. Dan perpaduan warna antara merah terang dengan merah yang sedikit bersemu menambah keindahan keramik itu. Bukankah begitu cantik?

Saya sudah mendengar banyak hal tentang Jepang dari teman yang begitu freak dengan negara ini atau bahkan teman yang pernah menghabiskan waktu hingga 30 hari lebih di sana. Tetapi, baru saja terpikirkan oleh saya, betapa masyarakat Jepang mementingkan kesempurnaan. Mungkin baru satu hal yang saya saksikan, namun saya yakin, ada banyak hal mengagumkan dari masyarakat negeri matahari terbit ini: kepribadian, prinsip, maupun gaya hidupnya. Tak heran jika banyak masyarakat dari negara lain pun terkagum-kagum dan berharap bisa mencontoh keistimewaan- keistimewaannya.
***
Mama pulang sekolah, “Ya ampun cucian piriiing…”

Saya bangkit dari kursi malas di depan televisi, sambil cengar-cengir mencuci piring.

Esoknya, Mama pulang sekolah, “Laper amat lah, ga ada makanan.”

Saya bangkit dari kursi malas di depan televisi, mengoseng-oseng apa saja yang ada di kulkas.

Esoknya lagi, Mama pulang sekolah, “Mau makan kok ga ada lauknya lah…”

Saya bangkit dari kursi malas di depan televisi, bergegas ke warung di depan rumah dan membeli telur untuk didadar.

Beberapa hari berselang, setelah memastikan rumah sudah sangat bersih, tidak ada cucian piring menumpuk lagi, sudah menyiapkan sayur juga lauknya yang bertengger di atas meja makan dengan manis, begitu berharap Mama berkata, “Gitu dong anak gadis.”

Mama pulang, melepas seragam sekolahnya, dan mencicip makanan yang sudah tersaji. Saya bangkit dari kursi malas di depan televisi, memperhatikan Mama dengan tersenyum lebar sekali.

“Kok gini rasanya, ga enak.”

Suasana menjadi hening. Bibir yang semula panjangnya (mungkin) sampai lima senti, saya tarik untuk manyun semanyun-manyunnya.

Ya Tuhan, baru saja menyadari tujuan utama saya disuruh pulang ke rumah: dijadikan korban bermacam komentar.

0 komentar:

Posting Komentar