Social Icons

2 Desember 2011

Pengangguran Merepotkan


“Kamu kok ga kerja-kerja lah,” kata Om Joko yang diam-diam memperhatikan karena setiap kali ia datang, pasti saya ada di rumah.

Saya senyum-senyum saja. “Biar ah, lagi pengen lenjeh-lenjeh1) di rumah.”

Tapi, sebenarnya saya memikirkan kata-kata Om Joko. Berprofesi sebagai penjual pulsa memang tak terlihat. Jika ada garis yang membatasi antara ‘pengangguran’ dan ‘penjual pulsa’, mungkin kaki saya saat ini sedang menginjak garisnya. Bingung memilih status, penjual pulsa –yang merupakan pekerjaan mulia versi saya- atau pengangguran.

“Cariin kerjaan sih,” kata saya melalui pesan yang dikirim lewat ponsel.

“Ga salah?” jawab teman saya.

Saya terbahak-bahak. Dia juga pengangguran (sok) banyak acara. Ntah menyindir atau sekedar mencurahkan hati, saya juga berharap di dalam hati dia bisa mencarikan solusi. Sempat terpikir untuk menjadi penjaga toko di pasar.

“Lah, malu-maluin aja,” kata Mama. “Kalo ada orang lihat, gimana?”

Ya iyalah, pasti banyak orang yang lihat, pasar kan isinya kumpulan orang-orang yang berbelanja. Mungkin saja Mama khawatir saya merusak gelar yang begitu bangganya disematkan secara resmi di belakang nama saya, S.Pd. Bukan main.

“Yodah, jadi kasir mini market aja, tukang pelnya juga ga apa-apa,” kata saya.

“Aduuuuuuuuuh.” Pening Mama mendengarnya.

Saya juga pening, punya kerjaan –sebagai penjual pulsa- begini dianggap pengangguran. Menyebalkan sekali.
“Mbak mau gantiin Candra ngeles?” pesan itu masuk ke dalam inbox setelah sebelumnya saya mengirimkan pertanyaan saya tentang lowongan pekerjaan kepada Candra.

“Baik sekali adikku yang manis dan cantik ini.” Saya tertawa merdeka.

“Bahasa Inggris, Mbak.”

Saya mengernyitkan dahi. Seingat saya, dua bulan lalu baru saja meraih gelar sarjana pendidikan di bidang Matematika.

“Dasar kok, Mbak. Kelas satu.”

“SD?” berharap sekali tebakan saya benar.

“SMA.”

Glek! Dengan cepat otak saya berputar mengingat-ingat pelajaran apa saja yang saya dapatkan ketika duduk di kelas satu SMA. Tidak bisa, saya tidak ingat. Sudah lama sekali, tujuh tahun yang lalu.

“Kalau bisa, sore ini langsung ketemu anaknya di Wiyono.”

Wiyono? Ampun, jauh sekali. Harus bawa motor kalau begini. Naik angkutan kota, selain memakan waktu lebih lama, boros pula di ongkos.

“Ho ya ya.”

Saya terima saja tawarannya. Meski, sungguh, saya bingung. Pertama kali belajar motor, dulu ketika SMP. Itupun hanya di jalan-jalan kampung, tidak sampai ke jalan raya. Pernah berboncengan dengan teman ketika SMA dan saya yang duduk memegang kendali. Baru beberapa menit, teman saya terjatuh karena membawa galon untuk acara yang sedang berlangsung di sekolah. Ya Tuhan! Panik sekali saya. Semakin merasa bersalah karena saya baik-baik saja sedangkan teman saya itu harus dirawat di rumah sakit dan sempat dikhawatirkan kena gegar otak.
Dunia sudah berputar, jauh melewati masa ketika saya masih sangat amatir mengendarai motor. Selama di rumah, setiap sore biasanya saya mengajak si Bungsu keliling kampung. Bergantian memegang kendali karena diam-diam dia juga sudah pandai mengendarai motor sendiri. Setiap Selasa atau Jumat, Mama terkadang minta diantar ke pasar kaget di kampung sebelah. Hanya saja, jarang sekali saya mengendarai motor ke jalan raya. Doa Mama yang membuat takut, “Nanti ini, nanti itu, kena ini, kena itu.”

Tetapi, saya meyakinkan diri sendiri kalau saya bisa. Buktinya, sewaktu di Bandung, saya pernah berboncengan dengan teman. Darurat karena teman saya, yang mirip sekali dengan koboi meski berkerudung, itu terlihat pucat seperti mau pingsan. Kelelahan agaknya. Akhirnya, sepanjang jalan Soekarno-Hatta sampai ke jalan Bengawan, motor melaju atas kendali saya. Gaya betul.

“Kecepatannya belum standar,” kata teman yang saya panggil Teteh Helm itu. “Makanya diklaksonin terus sama mobil.”

“Wahahaahahhhh.”

Saya tergelak. Jalanan Bandung memang liar betul. Segala macam kendaraan menyesaki jalan. Sampai motor harus nyelip sana nyelip situ supaya kebagian tempat untuk memutar ban motor ke depan. Untungnya, jalan yang saya lewati masih tergolong aman dan nyaman untuk amatiran seperti saya. Dengan resiko, banyak dihujani klakson terutama setelah Abang Hijau di perempatan jalan itu menyala atau ketika motor berbelok ke kanan.

“Bisa lah, bisa. Anak cerdas ini,” kata saya meyakinkan diri.

Asli, saya memang cerdas. Buktinya, saya diminta mengajarkan Bahasa Inggris padahal empat tahun lalu belajar segala macam hal berbau Matematika.
***
Ada job tambahan, hore! Mungkin karena saya yang sangat baik sekali dalam mengajar. Hm… Tetapi, sepertinya lebih tepat belajar bersama karena posisi saya tidak seperti guru. Celotehan saya persis sekali dengan anak yang usianya sebaya dengan mereka. Hanya saja saya sedikit lebih ‘menguasai’ materi.

“Mbak ini rame, seru belajarnya,” kata salah satu dari mereka.

Saya tersenyum, menahan diri untuk tidak ‘ngakak guling-guling’ di lantai. Mereka tidak tahu kalau saya aslinya pemarah dan galak luar biasa. Saya amini saja kata-kata mereka.

Hari ini, tiga kelas menunggu saya. Semuanya privat, jadi saya harus mengunjungi rumah mereka satu-persatu. Dari siang sampai menjelang petang.

Ntah mengapa, perasaan saya tidak enak. Rasanya tidak nyambung jika saya berkata, takut mengenakan helm –yang lebih butut- ini karena helm yang biasa saya kenakan –dan jauh lebih bermartabat- baru saja dikirimkan oleh Papa untuk Bayu di Solo, lengkap dengan motor barunya. Yang tersisa hanya motor dan helm yang sama-sama butut. Tetapi, masih bisa dipakai.

Mama tidur, tetapi saya sudah meminta izin untuk mengisi les anak-anak. Saya juga Sholat Dzuhur terlebih dahulu sebelum berangkat. Masih saja merasa tidak tenang.

Dalam tempo hanya beberapa menit, saya menemukan jawaban ketidaktenangan diri. Motor yang melaju dengan kecepatan sedang ini, saya gerakkan untuk menyalip angkot di hadapan. Tetapi, rupanya ada mobil di jalur kanan, membuat kedua tangan sedikit menggoyang kendali ke arah kiri, urung menyalip. Sebenarnya, mobil di jalur kanan itu tidak menghabiskan jalan. Tetapi, saya adalah pengendara motor yang taat sekali dan tidak ingin melaju melewati marka jalan.

Angkot di depan saya tiba-tiba berhenti. Sayangnya, kecepatan kaki kanan untuk menginjak rem dan kedua tangan untuk membuat kendali berbelok ke kanan, tidak lebih cepat dibandingkan laju motor. Tak pelak lagi, bagian depan motor yang saya kendarai menendang bagian belakang angkot dengan kasarnya. Membuat saya berdebam ke arah kanan, berpose seperti orang tidur dengan motor menimpa kaki. Keren sekali. Semuanya hanya berlangsung kurang dari lima detik.

“Ga apa-apa, Dek?” tanya seorang Bapak yang ntah dari mana datangnya tiba-tiba sudah membantu saya berdiri.

Bapak-bapak yang lain membantu membangunkan motor saya, yang sepertinya pingsan, dan mengajaknya berdiri di sisi jalan. Dengan terpincang-pincang saya berjalan dan duduk di beranda salah satu rumah terdekat, tidak tahu rumah siapa.

“Anak itu?” Seorang Ibu menunjuk saya.

“Iya,” sopir angkot tersenyum kecut. “Lha wong mobil berhenti ditabrak.”

Saya yang lupa atau sopir yang tidak ingat, rasanya lampu sen angkot tidak menyala sebelum berhenti.

Sopir mendekati saya dan menyodorkan selembar uang berwarna kehijauan. “Buat beli obat luka ya,” katanya.

Saya menggeleng. “Ga, ga usah. Saya yang salah kok.”

Ibu di samping saya berbisik, “Mestinya diambil aja. Namanya motor tabrakan sama mobil, yang salah ya mobilnya.”

Saya tersenyum saja, menahan perih karena ada tetesan darah keluar dari jemari tangan.

Selama puluhan menit, saya hanya duduk ditemani ibu yang baik sekali mau menampung saya, menyuguhkan minum juga cemilan. Dengan gesit, saya segera menghubungi Candra. Khawatir anak-anak menunggu, saya kabari tentang kejadian yang baru saja menimpa.

“Mbak ga apa-apa?” Khawatir sekali sepertinya dia.

“Yo aku sih ga apa-apa,” kata saya melalui huruf-huruf yang dengan cepat bermunculan di layar ponsel. “Tapi motorku mleot.” Mengabari motor yang bagian depannya sudah tidak simetris lagi. Ibarat bibir, bisa dikatakan kalau dia ini sumbing.

Seorang Bapak, yang sepertinya adalah saudara jauh dari Ibu Baik, membantu saya menuntun motor ke bengkel yang jaraknya hanya beberapa meter. Setidaknya, saya pulang dengan motor yang terlihat simetris. Hanya perlu menunggu puluhan menit. Tetapi, dalam waktu puluhan menit itu pula saya termangu dengan banyak kekhawatiran berkelebat dalam pikiran. Bagaimana jika Mama dan Papa marah? Dengan dada yang begitu sesak, saya terisak. Berandai-andai Bayu datang dan membantu saya.

“Hoi!” kata saya kepada sepupu yang sering sekali menjadikan saya korban buli-buli karena sudah berusia lanjut tapi tidak juga menggandeng lelaki. “Jemput aku di Wonokriyo.”

“Lha ngopo2)?” tanyanya curiga.

“Jangan bilang-bilang tapi ya…” dan berceritalah saya dengan lebay-nya tentang motor yang dalam keadaan tidak sehat wal afiat, juga kaki saya yang bandel sekali untuk digerakkan.

“Wahahahahaahahhhhhh,” Era, anak asem itu tertawa-tawa. Tiba-tiba saja sudah ada di hadapan saya. Kebut sekali motornya.

“Ga elit amatlah, nabrak angkot,” katanya. “Avanza kek, Mercy, apa limosin sekalian.”

Jika saya adalah tokoh kartun, pasti muka saya terlihat jelek sekali, mata hampir terpejam, ada garis-daris di dahi, juga setetes air di samping kepala.

“Makanya, punya cowoook. Enak, ada yang nganter-nganter,” dengan bangga ia melirik seorang lelaki yang kalem sekali bertengger di atas matic putih yang dibawanya. Kan, asem sekali Era ini.

Berboncengan dengan Era, kami melesat menuju rumah yang lokasinya berlawanan arah dengan rumah anak-anak yang minta belajar Bahasa Inggris hari ini. Sedangkan motor saya dibawa oleh lelaki yang tadi dibangga-banggakan Era.

Saya tiba di rumah sambil cengar-cengir.

“Ga jadi les apah?” Mama langsung memburu dengan pertanyaan. “Kenapa? Ada apa?”

Saya mendekati Mama, masih cengar-cengir, berusaha untuk jalan tidak terpincang. “Salim dulu dong, Ma. Anaknya pulang ini.”

“Halah, mbelgedes!” Mama menarik tangannya dan segera memeriksa bagian tubuh mana lagi yang terluka.

Era, yang masih asem itu, tertawa-tawa puas sekali.

Catatan:
1)Lenjeh artinya genit. Tetapi, ‘lenjeh-lenjeh’ yang dimaksud adalah ‘semau sendiri’
2)Kenapa

0 komentar:

Posting Komentar