Social Icons

2 Desember 2011

Rencana Besar di Usia Kembar


Apalah ini maksudnya, saya tidak mengerti. Dua minggu saya izin untuk tidak datang ke tempat les, anak-anak katanya rindu. Ketika saya sudah diizinkan membawa motor lagi dan pergi menemui mereka, pulangnya malah saya ambruk.

Mungkin benar kata Pak Mantri, saya kelelahan. Pasalnya, tiga kelas yang saya isi itu jaraknya tidak bisa dikatakan dekat. Dari Tambahrejo (kampung saya) ke Pasar Minggu Tataan. Dari Pasar Minggu ke Bernung. Dari Bernung ke Tataan dekat kantor Bupati. Ini bukan lintas kecamatan lagi, tapi lintas kabupaten. Luar biasa sekali. Ditambah lagi, puluhan kilometer itu saya tempuh tanpa jaket sehelaipun. Bandel sekali beralasan, Lampung itu panas, tidak seperti Bandung.

Rasanya dari kepala saya keluar uap bersuhu tinggi. Lama-lama, dari leher, tangan, badan, lalu kaki. Padahal saya tidak sedang direbus di air mendidih. Berkipas angin tidak boleh, apalagi tidur di lantai. Tapi, rasanya gerah sekali. Obat dari Pak Mantri belum berefek padahal sudah diminum berkali-kali.

Senin pagi, saya dipaksa ke mantri lagi. Sambil menenteng obat dari mantri sebelumnya, saya menceritakan beberapa keluhan.

“Disuntik langsung sembuh, Mbak,” kata mantrinya.

“Ga mauuuuuu,” saya mengiba menatap Mama.

“Benar lho, sembuh nanti sore.” Pak mantri menunjuk jarum suntik yang masih meringkuk di dalam kemasan bersegel.

“Mamaaaaa…”

Mama tertawa. “Ini masih anak-anak, Pak Mantri. Dikasih pil aja.”
***
Berguling-guling tidak karuan karena perut yang melilit terus-terusan. Sepanjang hari tidur, pening belum juga hilang. Sudah minum madu, pahit di tenggorokan masih terasa. Dipaksa makan, malah saya muntahkan.

“Ke dokter aja sih, Pa,” kata Mama. Tidak tega sepertinya membiarkan saya mencoba berbagai macam obat bahkan dari balai pengobatan berbeda. “Ga cocok sama obat mantri kaya’nya. Ga sembuh-sembuh lho…”

Malam datang, Mama dan Papa langsung membawa saya ke balai pengobatan lain di Gadingrejo.

“Ini typoid,” kata asisten dokternya. “Langsung opname saja.”

Saya menelan ludah. Berusaha keras menyembunyikan air mata. Takut sekali Mama dan Papa melihat. Pasti bertambah khawatir nantinya.

Bagaimanapun, ini hari pertama usia kembar kedua saya datang.
***
Dalam berbaring, saya tidak ingin banyak berpikir. Meski sungguh, sebelumnya saya telah merencanakan banyak hal untuk hari ini. Membaca pesan yang terus bermunculan di ponsel membuat saya semakin ingin menangis. Mereka semua mendoakan saya untuk kebaikan.

“Akang punten1),” kata saya membalas pesan dari kakak tingkat semasa kuliah. “Nuju teu damang, janten teu tiasa transfer2).”

“Euleuh, iyeu nu nuju milad kalahka teu damang3),” balas Kang Burhan. “Ga apa-apa, yang penting Au sehat dulu.”

Lima hari lagi Idul Adha datang. Saya sudah berencana untuk berqurban dengan uang tabungan sendiri dan sempat memesan seekor domba pada Kang Burhan. Tidak tahu alasan apa tepatnya yang membuat saya memilih untuk berqurban di Bandung dan melalui Kang Burhan yang anak pertama dan banyak sekali adik-adiknya.

Ingin sekali segera sehat. Ingin sekali segera mengirimkan rupiah-rupiah untuk mendapatkan seekor domba. Ingin sekali membuktikan kata Rasul bahwa sehelai bulu qurban bernilai satu kebaikan.
***
Nanti malam, takbir pasti bergema di mana-mana. Senang rasanya, sudah bisa makan, berjalan-jalan, bahkan mengendarai motor menuju tempat saya berbagi tawa dan cerita bersama anak-anak yang belajar bersama.

Teringat akan janji untuk segera mentransfer sejumlah rupiah, saya mampir ke sebuah bank sepulang dari Wiyono. Bank tutup, selain karena hari Sabtu, Maghrib pun hanya butuh puluhan menit ditunggu. Membuat saya memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, namun cukup untuk dihuni sebuah mesin ajaib yang bisa memberikan uang seperti yang kita ketikkan di salah satu anggota badannya.

Kartu saya dimuntahkan kembali. Kenapa ini? Rasanya tidak ada prosedur yang terlewat. PIN sudah benar, nominal uang yang diketikkan tidak melebihi saldo tabungan yang saya punya, dari monitor pun tidak terlihat tanda-tanda bahwa ATM sedang ngadat.

“Kang, ga bisa ditransfer. Kenapa ya…” saya mengadu pada Kang Burhan.

“Au pakai apa rekeningnya?”

“Muamalat.”

Beberapa detik berselang, Kang Burhan mengirimkan nomor rekening Muamalat ke ponsel saya.

Dengan mengucap nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, saya coba lagi. Sama. Kartu dimuntahkan kembali. Saya coba lagi, lagi, dan lagi. Tetap bandel mesinnya.

“Ga bisa, Kang. Gimana…”

Menyesali mengapa tidak dari kemarin saya minta sepupu untuk menabungkan sejumlah rupiah ke rekening Kang Burhan.
“Ya udah ga apa-apa, Allah juga tahu niat kita.”

Kebaikan, yang ingin sekali saya dapat dari bulu-bulu hewan yang saya qurbankan, hilang dari angan.
***
Orang bilang, hari ini istimewa. Penuh sekali dengan angka sebelas. Ya harinya, ya bulannya, ya tahunnya. Bahkan KUA sesak sekali dengan pasangan-pasangan yang bersikeras harus menikah hari ini juga. Sepertinya para penghulu tidak sempat mencicipi makanan dulu karena harus segera bergegas menikahkan pasangan lain saking padatnya jadwal. Tidak mau kalah, muda-mudi ikut mencari pasangan untuk sekedar jalan berdua dan makan bersama, dan mengebom (istilah vulgar saya) agar mendapatkan isi hati dia yang disuka. Bayi-bayi di dalam perut dipaksa keluar, mungkin supaya di nisannya kelak terlihat cantik karena tanggal lahirnya ditulis 11 11 11. Hanya sugesti, tetapi ampuh sekali menyihir masyarakat untuk bergerak melakukan hal-hal yang dianggap sakral.

Saya, mungkin juga seperti masyarakat kebanyakan, ikut berbahagia di tanggal cantik ini. Rencana yang gagal untuk memposting sebuah tulisan di hari kelahiran sepuluh hari lalu membuat saya mengalihkannya pada hari ini. Mirip dengan tanggal lahir saya, hanya diselipkan angka satu di depannya. Dan satu hal yang menjadi doa saya di pagi hari, “Semoga Jumat ini menjadi barokah…”
***
“Jangan ngeyel dong kalau dibilangin,” kata Mama yang memaksa saya segera ke dokter untuk tes kesehatan hanya karena saya bilang kepala saya pusing. Padahal, pusing itu akibat beberapa hari ini saya sulit tidur. Ntah memikirkan apa.

“Cuma pusing aja, minum madu juga sembuh,” kata saya, tidak beranjak.

“Lusa mau ke Solo. Jauh, Ya,” Mama mencari alasan lain. “Kemarin habis sakit. Kalau kambuhnya di sana gimana? Nanti nyusahin orang.”

Saya menyerah. Bangkit meninggalkan note yang baru saja dipos. Belum sempat men-tag nama-nama yang saya sebutkan di dalamnya.

“Ini proyek besar,” kata saya pada seorang teman lewat kata-kata yang terkirim dengan cepat dari fasilitas SMS di ponsel. “Udah ada di note, tapi belum aku tag. Tolong ditag ya... Nanti nama-namanya aku SMS. Pakai akun fb-ku seperlunya.”

Modem saya memang agak merepotkan. Sulit mencari sinyal. Edge itu munculnya kadang-kadang. Lebih sering unlimited service, bahkan no service. Khawatir saya belum pulang ketika sinyal modem masih edge, saya putuskan untuk meminta bantuan teman.

Sepanjang perjalanan menuju balai pengobatan yang –lagi-lagi- berbeda dengan balai pengobatan yang sebelumnya saya kunjungi, saya menunjuk-nunjuk langit.

“Adek, lihat!”

Si Bungsu menoleh dan ikut memandang langit bersama saya. Bulan genit sekali. Memamerkan bedaknya yang berwarna oranye. Bundar wajahnya. Terang keemasan. Menatapnya membuat saya senang.

Sampai di balai pengobatan, saya bertemu Bu Ana, guru Kimia ketika saya SMA. Kami berbincang tentang banyak hal. Sekolah yang sekarang sudah mendapat julukan ‘Sekolah Para Juara’, kabar guru-guru yang sudah empat tahun ini saya tinggalkan, juga membicarakan Bayu yang baru lulus dan baru disadari Bu Ana bahwa ia adalah adik saya. Tidak terasa Bu Ana, yang mengantarkan putrinya berobat, dipanggil menuju ruangan khusus. Tak lama, Bu Ana pun berpamitan dan mendoakan saya diterima di Pascasarjana yang akan saya ikuti tes masuknya. Saya senang.

Dokter menakut-nakuti bahwa saya terkena Malaria. Supaya lebih yakin, saya diminta cek lab. Saya menurut saja supaya Mama lega. Malam itu juga Papa mengantarkan ke Mitra Husada, rumah sakit yang tak jauh dari balai pengobatan. Setelah menahan sedikit ketika disuntik untuk diambil darahnya dan menunggu puluhan menit untuk mendapatkan hasil labnya, saya pun berkata nyaring, “Tuh kan, negatif!” Saya senang.

Sampai di rumah, saya membuka diary untuk melihat ada komentar apa di note yang beberapa jam lalu diposkan. Komentar yang menggembirakan. Salah satu teman berkata, “Quiet full of story, no wonder peoples like you.” Teman yang lain menyelipkan kata “Luar biasa.” Saya senang.

Jika ditilik, sesungguhnya yang luar biasa adalah mereka, orang-orang baik yang telah mewarnai hidup saya dengan jutaan kenangan. Semuanya berharga. Tak ada yang sia-sia. Membuat saya belajar banyak hal, belajar tentang hidup, belajar untuk hidup, dan belajar untuk membuat hidup orang lain. Semuanya mengesankan. Yang pahit, yang asam, yang asin, juga yang manis. Semuanya istimewa. Hingga menyisipkan jutaan bahkan lebih banyak lagi bahagia di dalam hati saya.

Pukul sepuluh malam, saya baru berdiri untuk menunaikan Sholat Isya. Kami pergi selepas Maghrib tadi. Ditambah mengantri di balai pengobatan dan menunggu hasil lab keluar, membuat Isya tak tertunaikan di awal waktu. Tetapi, saya tetap meniatkan banyak hal untuk ibadah saya kali ini.

Pertama, saya rayu Dia dengan surat Al Mulk di rakaat pertama. Berikutnya, saya paskan 99 kali terima kasih dengan menyebut keMahaSucianNya, segala Puji untukNya, juga keMahaBesaranNya setelah salam di akhir sholat, seperti yang saya janjikan. Kemudian memohon ampunan untuk sebanyak-banyaknya kesalahan yang saya perbuat.

Senang sekali, ketika menyebut ‘Allahku’ berkali-kali, dengan tersenyum tanpa henti, memohon rahmat dan barokahNya untuk Mama, Papa, Bayu, Agil, juga teman-teman yang saya sayangi. Memohon agar diberi kesempatan untuk lebih banyak berbuat baik dan menggapai mimpi-mimpi. Memohon keselamatan untuk di dunia dan di akhirat nanti.

Sebelum 11 11 11 terlewati, saya memejamkan mata dengan damai sekali. Hanya perlu mengingat bahwa hari ini harus berbuat baik dan berbahagia berkali-kali. Tak peduli esok dan nanti yang datangnya tak pasti. Sky!! Sky!! Sky!! 4) Lihat langit dan syukuri.

Catatan:
1)Akang (panggilan untuk kakak laki-laki Sunda) maaf
2)Sedang tidak sehat, jadi tidak bisa transfer
3)Walah, yang sedang ulang tahun, malah sakit
4)Judul salah satu instrumen yang dibawakan oleh Depapepe

0 komentar:

Posting Komentar