Social Icons

2 Desember 2011

Thousands Happiness in a Family


Asyik sekali setiap jam enam pagi, sarapan dengan si Bungsu sambil menonton kartun Sunny Patch Friends di Spacetoon. Ceritanya tentang Mrs. Spider dan keluarganya. Keren, kata saya. Karena selain menghibur, kartun itu syarat makna. Keluarga yang harmonis sekali.

Tetapi, jangan salah. Keluarga harmonis tidak hanya ada di Sunny Patch. Kalau ada CCTV, kapan-kapan saya kasih video tentang keluarga saya. Tapi, sementara ini saya bagi lewat tulisan saja.

Baiklah, kita mulai.

Hari Minggu, pagi-pagi, kalau anak perempuannya masih nongkrong di depan televisi karena drama Korea yang diputar LBS Movie selama 24 jam, kalian bisa mendengar suara nyaring, “Liaaaaa…! Bagus amat anak gadis. Beberes rumah!”

Itu suara Mama saya. Memanggil nama saya sepanjang lima harokat. Kalau sudah begitu, biasanya saya langsung ambil sapu, bebersih dari depan ke belakang, dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah.

Tapi, kalau sedang bandel, “Bentar Ma, tangguuung, romantis banget ini.”

Mama akan berteriak lebih nyaring, “Itu ga ada iklannyah. Bangun! Udah sarjana kok bla bla bla.”

Uuh, pasti sarjananya dibawa-bawa.

Tapi, tenang saya tidak sendiri. Nanti ada teriakan susulan, “Bayuuu…! Ngelap kaca! Bersihin sawang!”

Bagian dia yang tinggi-tinggi, setinggi badannya yang kalau melewati pintu rumah Mbah harus menunduk.

Sayangnya, teriakan itu tidak berlaku untuk si Bungsu yang sekarang sudah ganteng sekali dan duduk di kelas enam.

“Anak Mamaaa…”

Saya dan Bayu memandang sinis. Ish, sebal betul lihat anak itu.

“Mama beliin kecap ya, Nak ya…”

Aih, manis amat.

Lain waktu, Bayu merengek, “Mama tahu teman Bayu yang anak dokter itu ga, Ma?”

Mama yang sedang oseng-oseng itu balik bertanya, “Si Ali? Ngapa emang?”

Sambil menggulung-gulung ujung baju, Bayu bercerita, “Dia suka bantuin Mamanya nyapu. Tapi kata Mamanya, ‘Ya ampun Aliii, kamu jangan nyapu, nanti sakit!’ Tuh Ma, nti Bayu sakit gimana?”

Mama tambah sewot, “Mbelgedes1)! Nyapu latar sanah!”

Giliran saya yang terbahak-bahak sambil mengepel.

Hebat betul Mama ini. Super duper dituruti kata-katanya. Meski sebenarnya dikarenakan kami tidak punya pilihan lain. Bisa-bisa rumah kami berguncang lebih dahsyat.

Sewaktu-waktu, saya mengajak teman ke rumah. Lihat, lihat, Mama saya ramah sekali. Teman saya ditegur, diajak mengobrol, dikasih ini dikasih itu. Tiba-tiba berubah, bergaun putih, bersayap, dan mengayun-ayunkan tongkat berhias bintang berwarna emas. Persis ibu peri.

Tetapi, kalau dipikir-pikir Mama aslinya memang penyayang sekali. Saya baru menyadari ketika tinggal jauh darinya selama empat tahun di Bandung. Setiap hari Mama menelepon. Apa saja ditanya, sudah makan belum, sudah mandi belum, sudah beres-beres belum pagi-pagi anak gadis. Apa saja diceritakan, tetangga sebelah yang nikahan, tetangga sebelah yang khitanan, tetangga agak jauh yang pakai kain kafan, tetangga kampung yang hutang belum juga bayar. Wah, sampai habis baterai saking lamanya menelepon.

Nanti-nanti, kalau Mama sibuk dan lama tidak menelepon, tiba-tiba SMS, “Mama kangen sama Yaya.”

Nah, panggilan Yaya itu kadang-kadang disebutnya, terutama sewaktu hati Mama sedang cerah.

Lain waktu saya yang kangen. Bilang ingin sambal lah, tumis kangkung lah, pepes ikan lah, semur ayam lah, rendang lah. Meski kalau dipikir-pikir saya jahat sekali. Kangennya dengan masakan, bukan Mama sendiri.

Pssst… Diam-diam ada yang iri. Siapa lagi kalau bukan anak dari mertua Mama. Tahu-tahu protes, “Kok Papa ga pernah ditelepon lah…”

Waduh, padahal kalau saya SMS berjuta-juta huruf, jawabannya pendek saja, “Ya”

Lain kali lebih irit, “Y”

Kalau sedang leha-leha saja jawabnya agak panjang, “Always selalu.” Biasanya ketika saya meminta doa menjelang ujian.

Atau begini, “Wong Papanya cerdas, anaknya pasti.”

Malam-malam, kalau dari ruang kerja Papa sudah terdengar aneka macam Campursari, artinya Papa sudah pulang. Intiplah, Papa saya mengetik sambil goyang-goyang. Berkolor saja, tanpa baju. Persis anak bandel.

Papa saya kreatif sekali, menamakan setiap hal dengan sebutannya sendiri. Menyebut kopi dengan ‘kopah’, nasi dengan ‘sega’ yang para tetangga menyebutnya ‘sego’, jatuh dengan ‘tiba’ yang Mbah bilangnya ‘tibo’, atau ‘telek putih2)’ untuk nama lain dari ‘sakit’.

Bahkan, Papa punya nama sendiri untuk anak-anaknya. Tengoklah si Bayu. Saban hari dipanggil ‘Letho’ yang seharusnya ‘Thole’ sebagai sebutan untuk anak (Jawa) laki-laki. Bangga betul dia sewaktu ada band asal kota gudeg bernama Letto. Atau Agil yang dipanggil ‘Culik’ karena saking nakalnya ketika balita. Pecicilannya minta ampun, tidak bisa diam. Saya yang paling sial, punya nama sampai tiga suku kata, Mecotot. Itu gara-gara tetangga sebelah rumah nenek yang bilang, “Iki bocah nyerocos wae pating pecotot3).” Tetapi, ternyata saya salah. Sebutan untuk Mama yang paling parah, ‘Babon nyong.4)’

Papa sepertinya tidak bakat untuk romantis. Tidak pernah ada bunga mawar, Candle Light Dinner, bahkan ucapan selamat ulang tahun untuk Mama. Tetapi, suatu malam saat anak-anak sudah tertidur, Mama dan Papa berdua saja menonton televisi. Ntah apa maksudnya, tiba-tiba Papa menyeletuk, “Pak Sukirman itu orangnya Jelek.”

Hemh, kata Mama di dalam hati, mulai menghina.

“Tapi kok bojone Ayu5).”

Walah, ngomongin perempuan.

“Yo Papa juga beruntung’e. Jelek-jelek istrinya cantik.”

Pagi-pagi, Mama cerita ini ke saya sambil senyum-senyum tidak jelas.

Tempo hari, sewaktu umur saya belum 10, saya protes, “Papa kok pipinya bolong-bolong lah.”

Jawabnya enteng, “Ditembak Londho6).”

Tidak puas, saya bertanya lagi di lain hari. Jawabannya berbeda ternyata, “Woooooo… Gara-gara dicium Mamamu.”

Saya terdiam sejenak, kemudian lari-lari sambil ketawa-ketiwi. Setelah usia belasan, saya baru menyadari bahwa itu adalah bekas jerawat.

Yah, ini baru sekelumit cerita tentang Papa. Hal-hal lain jauh lebih menyebalkan. Lihat saja, kalau ada anaknya menonton televisi, tiba-tiba Papa buang angin, disimpan di dalam kepalan tangan, kemudian dibuang ke arah kami. Atau mengusap-usap ketiak dan jempol kakinya yang naudzubillah baunya, lalu dioleskan ke lubang hidung kami.

Suatu hari saya bilang, Papa mirip Tukul. Ntahlah mendadak ingat Papa jika saya dikejutkan dengan wajah Tukul yang tiba-tiba muncul di televisi. Tetapi, Mama mencak-mencak, “Buapakmu gantengnya kaya yes gitu kok disamain sama Tukul. Benci Mama!” Walah, tidak mengerti mengapa ‘yes’ disebut-sebut segala. Mungkin karena Mama tidak tahu arti kata Bahasa Inggris itu.

Setiap akan pergi, selain mencium tangan Mama, saya biasa mengecup pipi kiri dan kanannya. Tapi, tidak berlaku untuk Papa. Papa jaim sekali, saya jadi ikut jaim. Tetapi, sewaktu Id, saya membuat percobaan. Setelah sungkem dengan Mama dan (seperti biasa) membuatnya tersipu dengan kecupan di pipi, saya pun menyalami Papa. Dengan tempo sangat cepat, pipi kanan dan kiri Papa yang bolong-bolong itu saya kecup dan langsung pergi. Dan sempat, dalam tempo yang sangat cepat pula, saya melihat hidungnya kembang kempis tak karuan.

Bayu Antrakusuma, tiba-tiba mengomel sepulangnya dari sekolah ketika SMP.

“Papa ini lah, nama Bayu jelek betul,” katanya. “Masa’ kata guru Sejarah, Antrakusuma itu artinya kutang!”

Papa yang bertanggung jawab atas pemberian nama anaknya itu terbahak-bahak. “Maksudnya Ontokusumo itu rompinya Gatot Kaca.”

Jadi teringat kebiasaan Papa sejak zaman lawas yang setiap tengah malam mendengarkan Ketoprak dari radio butut ketika tidur.

“Ga tahu Papa ini,” Mama ikut-ikutan. “Apalah artinya nama Bayu.”

Bayu itu angin. Tetapi, menurut bahasa ibu yang dipercaya Mama (Komering), Bayu itu artinya basi. Memang jelek betul.

“Kaya’nya Papa nyuruh Bayu untuk pakai rompi terus biar ga masuk angin,” tambah Mama.

Biar begitu, nama Bayu sudah terkenal di mana-mana. Gara-gara basket, gara-gara manggung di setiap lomba, bahkan rekaman dan lagunya diputar terus setiap malam minggu di radio lokal. Sampai sebal saya lihat telepon genggamnya. Pasti banyak pesan dari perempuan yang mau kenalan.

Jangkung. Membuat saya malu jika bepergian dengannya. Bayangkan, ujung kepala saya hanya mampu mancapai bahunya. Ckckck… Kasihan sekali. Sepertinya fisik Mama yang lebih banyak menurun pada saya.

Suatu waktu, ketika kami berbelanja obat-obatan keluarga, Mbak-mbak penjualnya meledek kami.

Waktu membeli perekat luka, Bayu memilih yang ada totol-totol seperti tentara daripada yang bergambar Mickey Mouse, “Foto Mbaknya tempel di plesternya nanti, biar Masnya ga nakal.” Saya dikira pacarnya.

Waktu bingung memilih antara minyak kayu putih dan minyak telon, “Yang ini baunya ga terlalu menyengat, Mbak. Cocok sekali dengan bayi.” Menunjuk salah satu minyak telon bermerk yang saya tidak kenal. Dikira kami sudah punya bayi.

Lama-lama emosi, saya mengomel di dalam hati, “Mbak ini ga lihat muka saya sudah tua? Masa’ saya pacaran sama brondong beginih! Sudah punya bayi lagi.”
Bayu cengar-cengir saja. Santai sekali dia. Kapan-kapan saya tagih lah, kalau dia santai begitu ketika kami dikira pasangan, saya suruh dia bayar ketika kami membeli ini dan itu. Selama ini saya terus yang bayar, mentang-mentang kakaknya banyak uang.

Ah.. Tapi, janganlah. Tidak tega saya. Saya sudah menjahatinya sejak balita. Dulu, waktu dia baru lahir, saya tega betul bilang, “Aku aja yang digendong, Adek ga usah.”

Waktu saya main masak-masakan dengan teman, dia mengintip dari balik tembok. Saya melirik, “Apa sih?”

Dengan wajah cengengnya dia merengek, “Ikut sih, Kak…”.

Anak laki-laki ikut-ikut segala. Sebal saya. Akhirnya dia boleh main asalkan mau saya suruh-suruh ambil ini ambil itu.

Saya sedang belajar menulis, dia ikut-ikutan. Merebut pensil saya semata wayang. Rusuh betul. Akhirnya, saya colok telinganya sampai berdarah. Mama dan Papa sangat marah.

Saya tobat. Tidak mau nakal lagi, nanti Mama dan Papa marah-marah. Saya dan Bayu main di dekat kolam ikan. Biar kata orang saya sayang, saya angkat dia, mau saya gendong. Ternyata saya tidak kuat, Bayu sangat berat. Dia pun terjatuh dan masuk ke kolam ikan. Mama teriak-teriak, langsung menceburkan diri ke dalam kolam dibantu saudara, mencari-cari Bayu untuk diselamatkan. Sampai sandal Mama hilang dan tidak ketemu lagi sampai sekarang.

Nakal sekali. Jahat sekali. Kata-kata itu mau saya tebus dengan bermacam-macam kebaikan. Benar, saya berjanji. Nanti dan seterusnya saya mau berbuat baik dan sayang sekali dengan adik saya ini. Biar dia senang, nanti dia lupa kalau kakaknya dulu jahat dan akhirnya mendoakan hanya yang baik untuk kakaknya. Mudah-mudahan saya dapat rezeki lebih banyak dan bisa mengajak dia umroh 2014 nanti. Lumayan, jadi bodyguard saya di Tanah Suci.

Agil Akmal Ananda. Berani betul. Dia satu-satunya yang bisa menyuruh-nyuruh Mama dan Papa. Kalau sedang malas makan dan bosan dibujuk Mama, dia bilang, “Suapin yoook…”

Papa sekolah. Mama sekolah. Bayu sekolah. Saya juga sekolah. Agil pulang sekolah tidak ada siapa-siapa kecuali nenek. Gesit dia, langsung memijit tombol-tombol di telepon, marah-marah sewaktu panggilannya sudah diangkat, “Uuuh, semuanya pegi. Aji sendirian. Pulang yoook…”

Kata Papa dari seberang, “Nti ya, masih hujan.”

Ngeyel, dia protes lagi, “Lah, bawa mobil, ga kujanan!”

Papa menyerah, “Yo yo…”

Suatu waktu dia main dengan temannya. Jauuuh sekali, naik sepeda. Mampir ke rumah Mbah, keasyikan dia. Akhirnya ditinggal temannya pulang. Setengah jam berjalan kaki, dia sampai di rumah.

Air matanya tumpah, pilu sekali, “Aji jalan kaki jauh banget.” Mama kasihan melihatnya. “Beliin sepeda yoook…”

Besoknya, sepeda warna biru sudah ada di garasi.

Biar begitu, dia penyayang sekali. Apalagi dengan kakak perempuan satu-satunya. Waktu saya di Bandung, dia khitan. Saya tidak bisa pulang. Lupa, mungkin karena ada ujian. Dia mengadu dengan Mama, “Kakak kok ga pulang-pulang lah.”

Lain waktu, saya telepon supaya dia tidak kangen.

“Adek lagi apa?”
“Berobat.”
“Sakit tah?”
“Ho-oh.”
“Sakit apa?”
“Ga tau.”
“Nti ranking satu mau minta hadiah apa?”
“Ga tau.”
“Woooooo.. Ga tak kasih nanti.”
“Yodah.”

Lelah mencari pertanyaan lain, telepon saya tutup. Kenapa lah, dia ini bawel betul, tapi bicaranya irit kalau sudah ditelepon.

Pernah dia menyeletuk, “Kakak kuliah, Mas Bayu kuliah. Lah, Aji ga mau kuliah. Mau jagain Mama sama Papa aja di rumah.”

Terharu sekali Mama mendengarnya, sampai-sampai ikut menimpali sambil memeluk dan menciumnya, “Cuma Aji yang setia nemenin Mama, ho-oh?”

Sekarang, adik saya yang satu ini sudah tidak mau dipeluk, tidak mau dicium, tidak mau ada Mama di sampingnya ketika tidur. Sudah tahu bergaya, setiap habis mandi jam empat sore rambutnya dibasahi, terkadang sok keren diminyaki. Rambut bagian samping kanan kiri digesek ke belakang. Bagian atas ditegakkan. Persis Sun Gohan di Kartun Dragon Ball.

“Sekalian aja kaya gitu pas sekolah, Dek,” kata saya.

“Emoh, males,” katanya sambil lalu. “Nti pada kagum.”

Eh, dia tidak bohong. Teman-teman perempuannya itu genit-genit. Waktu dia sakit, teman-temannya berdatangan ke rumah. Padahal, baru sehari tidak masuk sekolah.

“Assalamualaikum.”

Ada tamu. Ramai sekali. Ketika saya intip, anak-anak itu lari sambil cekikikan. Tetapi kembali lagi. Yang paling berani di antara mereka bertanya, “Agilnya ada?”

Ya ampuuuun, perempuan semua.

Begitu. Sama-sama laki-laki, sama-sama banyak penggemar adik-adik saya ini. Sudah besar, semakin berani saja dengan saya.

Bayu : Ya begini, nasibnya orang ganteng. Banyak yang suka. Agil aja banyak
penggemarnya.
Agil : (Senyum-senyum) Ho-oh. Cuma Kakak lho yang ga laku.
Saya : What’s?

Biarkan saja mereka berkicau tentang saya. Yang terpenting, meski keluarga saya memang menyebalkan, saya sangat bahagia bersama mereka.

Catatan:
1)Tidak percaya
2)Tahi putih
3)Ini anak ngoceh terus pating pecotot (guyonan Jawa, sulit diartikan)
4)betina saya
5)Tapi kok istrinya cantik
6)Ditembak Belanda

1 komentar: