Social Icons

10 Januari 2012

RE


Ntah apa yang menggerakkan kakiku untuk melangkah menuju tempat ini. Tempat yang dahulu pernah menjadi markas rahasia seseorang yang diam-diam ku perhatikan.

Tidak seperti teman-teman lain yang menyisir rambutnya dengan rapi, ia membiarkan saja rambut lebatnya itu bertengger sesuka hati di kepalanya. Ia baru akan menyisir jika Ibu Guru sudah memarahi.

Ia seorang pendiam. Tak banyak orang yang tahu bahwa ia sebenarnya punya banyak karya. Aku menemukan beberapa puisi dan gambar menarik di laci mejanya ketika piket membersihkan kelas suatu hari. Aku, yang oleh Ibu Guru diberi peringkat satu, merasa begitu iri karena tak mampu membuat puisi dan gambar sebagus buatan Re.

Ya, namanya Renaldi. Meski teman-teman lebih suka memanggilnya Aldi, untukku namanya adalah Re. Mungkin karena nama kami sama-sama memiliki dua huruf itu. Reika, Renaldi. Dan aku menyukai sesuatu yang mirip dengan apa yang kumiliki.

Dahulu di sini, di tempat ini, aku sering menjumpainya. Ini hanyalah sebuah pohon talok. Namun, letaknya yang terlalu menjorok ke sungai membuat Ibu Guru tidak mengizinkan kami bermain terlalu dekat. Lagipula, jaraknya dari sekolah cukup jauh. Karena tak banyak anak yang mampir, maka Re menjadikannya markas rahasia.

Aku menemukan markas ini pertama kali ketika sapu tanganku terjatuh ke selokan sepulang sekolah. Aliran airnya deras sekali, membuatku berlari mengejar sapu tangan itu hingga ke sungai. Aku tak berani mengambilnya. Tetapi, itu sapu tangan kesayanganku. Maka aku menangis melihat sapu tangan itu semakin menjauh dibawa aliran sungai.

“Ini.”

Aku menoleh dan menemukan Re yang tiba-tiba telah berada di dekatku, menyodorkan segenggam buah talok berwarna kemerahan.

“Jangan menangis,” katanya lagi.

Aku mengusap air mataku dan mengambil satu, yang berwarna paling mencolok, dari tangan Re. Memencet buahnya dan membiarkan airnya menetes ke kerongkongan, seperti obat tetes yang diberikan Bu Bidan di Posyandu.

“Ambil lima, nanti sedihmu hilang.”


 Re memilihkan buah talok yang menurutnya paling manis, membuka telapak tanganku, dan meletakkan empat buah talok yang sebesar biji kelengkeng itu.

“Lima?” Aku menatap Re tak mengerti. “Mengapa harus lima?”

Re tertawa kecil. “Aku hanya menyukai angka lima.”

Aku tersenyum kemudian mengambil satu-persatu buah itu untuk kubiarkan sari-sarinya memenuhi mulutku. Mencecapnya sejenak sebelum mengalirkannya menuju lambung.

“Terima kasih,” ucapku.

***

Awalnya aku mengira pertemuanku dengan Re di dekat sungai itu karena Re yang kebetulan melintas. Ternyata, Re memang selalu datang ke tempat itu sepulang sekolah. Memanjat dahan-dahan talok, memetik buahnya, atau sekedar duduk bersandar di batangnya sembari melemparkan kerikil ke sungai. Terkadang, ia membuat beberapa coretan di sebuah kertas. Melipatnya menjadi perahu kemudian dihanyutkannya ke sungai.

Aku tahu karena aku selalu mengikutinya. Bersembunyi di rerimbunan tanaman berbunga terompet untuk melihat apapun yang Re lakukan. Aku takut Re tahu, karena ia pernah memarahiku ketika aku berkata ingin ikut ke markasnya.

“Markas ini rahasia,” kata Re. “Hanya aku yang boleh memilikinya.”

Aku hanya penasaran mengapa Re selalu datang ke tempat ini. Dan ingin tahu, mengapa ia selalu melakukan segala sesuatunya sendiri. Aku ingin menjadi temannya.

Hingga suatu saat, aku melihatnya menangis.

Aku baru saja tiba dan bersembunyi di balik bunga-bunga terompet ketika melihat Re berdiri mematung selama puluhan menit menghadap ke sungai. Lama-kelamaaan, bahunya berguncang, tangan kanannya pun bergerak untuk mengusap mata. Selama belasan menit, tangisnya belum juga reda. Merasa kasihan, aku pun ikut menangis.

***

Pagi-pagi sekali, sebelum anak-anak yang lain datang, aku sudah berangkat ke sekolah. Setelah meletakkan tas di bangku, aku bergegas menuju markas rahasia Re dengan permen gula-gula kacang dan seutas tali di tangan. Jika Re memberi sesuatu yang ia suka ketika aku sedih, maka aku pun akan memberikan sesuatu yang kusuka ketika ia sedih.

Permen gula-gula kacang itu kubariskan di dahan talok kemudian kuikat dengan tali. Di tengahnya, kusematkan sebuah tulisan, “Makanlah lima, sedihmu akan hilang.”

Merasa puas, aku pun kembali ke kelas.

Seperti biasa, aku mengikuti Re ke markasnya sepulang sekolah, bersembunyi di tempat persembunyianku, dan memperhatikan apa yang dilakukan Re.

Menemukan talok yang disematkan permen gula-gula kacang, Re terlihat terkejut. Tangannya pun meraih kertas yang kuselipkan di sana. Ia menoleh, ke kanan, ke kiri, ke depan, juga ke belakang.

“Aku tahu kau di sana,” seru Re. “Keluarlah.”

Aku tercengang. Tetapi diam di tempat.

“Keluar kataku, Re!” suaranya meninggi. Ia tahu itu aku.

Aku keluar dari tempat persembunyian, menghampiri Re dengan kepala tertunduk.

“Bodoh.” Re menjitak kepalaku sambil tertawa. Aku sedikit terkejut. Kukira ia akan memarahiku. “Apa-apaan ini?”

Aku menghembuskan napas, sedikit mengangkat bahu ketika berkata, “Tidak ingin kau sedih, itu saja.”

“Aku tidak sedih.”

“Bohong. Kemarin kau menangis.”

Re diam, tetapi mata elangnya menatapku tajam, “Kau di sini kemarin?”

Aku menunduk. Jika mengaku, pasti Re memarahiku.

Re memalingkan wajah ke arah pohon talok. Tangan kanannya meraih permen gula-gula kacang, kemudian duduk bersandar di dahannya, membuka plastik pembungkus, dan menggigit ujung permennya sembari menatap aliran sungai.

“Sudah kubilang, markas ini rahasia,” katanya tanpa mengerlingku. “Tapi, gula-gula kacang ini kuanggap sebagai persembahan. Kau boleh memiliki markas ini juga.”

Aku tersenyum, menatap pohon talok itu dari daun teratasnya, hingga ke akar yang diduduki Re. Tanganku pun bergerak untuk mengelus batangnya. Seolah mengucapkan terima kasih karena akhirnya aku bisa menjadi teman Re.

Selama puluhan hari ke depan, aku banyak menghabiskan waktu bersama Re di bawah talok itu. Terkadang ia membuat puisi tentangku. “Anak Cengeng Keras Kepala,” misalnya. Di lain waktu, ia membuat gambar perempuan berseragam putih merah yang menggenggam permen gula-gula kacang. Aku senang. Sebagai gantinya, aku akan bercerita tentang negeri dongeng yang kubaca dari buku-buku yang dibelikan Mama untukku.


***

Tidak banyak yang berubah. Re tetap pendiam di kelas. Tidak juga ikut bermain kelereng, kejar-kejaran, atau petak umpet ketika istirahat. Aku tak berani menyapanya karena ia bilang, kami berteman hanya di markas rahasia.

Jika aku bermain lompat tali atau membuat rumah-rumahan di tanah, aku mengerling Re. Pun ketika aku tertawa, aku pasti mengerling Re. Aku ingin mengajaknya bermain, aku ingin membuat Re tertawa, tidak hanya di markas rahasia.

Tetapi, keinginanku itu tidak pernah tercapai. Kami berpisah ketika naik ke kelas dua, Re tidak pernah bercerita. Tahu-tahu di awal tahun pelajaran, Ibu Guru mengabarkan kalau Re sudah di Solo bersama pamannya. Aku kecewa dan menangis ketika berlari menuju markas rahasia sepulang sekolah.

***

Aku kembali berdiri di sini, di bawah pohon talok yang sama seperti belasan tahun yang lalu. Menatap aliran sungai yang tak lagi mampu kulihat bagian dasarnya karena air yang keruh, dengan angan bergerak bersama memori tentang masa itu.

Nama Re masih melekat pada namaku. Mungkin karena itulah aku tak bisa melupakannya. Meski sempat, di masa ketika aku beranjak remaja, ada seseorang yang lain yang singgah sejenak di hatiku. Juga ketika aku memasuki usia dewasa dan diiming-imingi kehidupan mandiri bersama seseorang yang datang dan memintaku dari Papa. Nama Re masih ada. Tersimpan di salah satu bilik di hatiku.

Aku tertawa kecil. Merasa bodoh dengan perasaan yang selama ini kubiarkan memenuhi rongga dadaku dengan liarnya. Seharusnya aku berpikir realistis. Ini bukan negeri dongeng yang selalu berakhir dengan kata-kata “Happily ever after”. Bahwa setiap yang kita cinta akan kita miliki. Aku seharusnya berpikir dewasa tentang ini. Bahwa kehidupan masih sangat panjang untuk dijalanani dan tak semestinya kita terlalu lama mengenang masa yang telah terlewati.

Pandanganku beralih ke pohon talok yang semakin terlihat rapuh. Meski masih berdiri, dedaunannya tak lagi lebat seperti dulu. Mungkin, begitu pula kita suatu saat nanti, menjadi rapuh bahkan mati.

Aku menghembuskan napas panjang. Talok ini, jikapun suatu saat nanti akan mati, ia tidak akan mati sia-sia. Rindangnya sempat menaungi kami dari teriknya mentari. Buahnya sempat mengusir rasa sedih ketika sapu tanganku terbawa aliran air. Dan akar-akarnyalah yang selama ini menjaga agar kami tak terpeleset tanah yang licin. Tanganku pun bergerak untuk mengusap ranting, dahan, dan akar talok itu. Berharap mampu menjadi sepertinya, meninggalkan manfaat sebelum kemudian rapuh dan mati.

Aku berbalik untuk menghampiri matic yang mengantarkanku ke sini. Namun, langkahku terhenti. Kedua retinaku menangkap sosok yang berdiri di tempat dahulu bunga terompet tumbuh dengan rimbun. Aku tertegun. Terpaku tepat di tanah tempatku berpijak. Tak berkedip menatap sosok itu.

Rambutnya masih lebat, namun tak lagi acak-acakan. Helai demi helainya bertengger lebih sopan di kepalanya. Mata elang itu yang membuatku sedikit menerka, siapa sesungguhnya ia.

Dadaku bergemuruh. Jantungku menambah kecepatannya berdetak. Bibirku bergetar, menahan sebuah rasa yang tiba-tiba membuncah. Namun, aku tetap di tempat.

Sosok itu mengambil sesuatu dari sakunya, permen gula-gula kacang. Membuat rasa di dadaku semakin meluap dan tumpah bersama air hangat dari sudut mata.

“Makan lima, dan sedihmu akan hilang,” kami berucap bersama.

***

Re melemparkan satu persatu kerikil di genggaman tangannya ke sungai. Pandanganku mengikuti kerikil yang dilemparkan Re yang kemudian menghilang setelah beradu dengan permukaan air dua hingga tiga kali. Sesekali aku mengais tanah, mencari kerikil untuk menambah persediaan kerikil di genggaman tangan Re.

“Aku hanya kebetulan singgah,” kata Re seolah tahu pertanyaan di dalam benakku. “Aku bersama kolega sedang survey lahan baru untuk disewa perusahaan.”

Re kembali melempar kerikilnya. Namun, aku tak lagi memperhatikan. Pandanganku lurus ke depan. Ntah melihat apa.

“Aku tahu, kau masih sering ke sini,” kata Re lagi. “Oleh karena itu aku datang.”

Tangannya berhenti melempar kerikil. Ia menghembuskan napas panjang.

“Aku memikirkan banyak hal tentangmu akhir-akhir ini,” Re mengerlingku sejenak. “Meski sempat melupakan banyak hal semenjak kepindahanku ke Solo, akhir-akhir ini aku seperti diingatkan kembali tentang sepenggal memori di masa itu. Di sini.”

Re menerawang, pandangannya tertuju pada gemawan yang bergerak perlahan.

“Aku memang tak pernah bercerita tentang perceraian orang tuaku. Aku tak ingin orang lain tahu aku sedih. Aku menyendiri, menyimpan sedih itu sendiri.” Re diam sejenak. Tangannya kini bergerak mencabuti rumput di sekitar kakinya.

“Dan aku tak habis pikir, ada orang sepertimu yang terus-menerus membututiku.”

Aku tertawa kecil. Masih jelas dalam ingatanku nada suara Re yang tinggi ketika memarahiku dulu.

“Tapi, untuk saat itu, apa yang kau lakukan sungguh melegakan.”

Aku tertunduk.

“Terima kasih.”

Aku tersenyum. Berniat mengucapkan kata yang sama untuk buah talok yang diberinya dahulu. Namun, Re tiba-tiba bangkit.

“Hanya itu,” katanya. “Aku menemuimu untuk mengucapkan terima kasih.”

Aku ikut bangkit. Tak beranjak meski Re perlahan meninggalkanku.

“Kau orang baik, Reika,” ucapnya seraya berbalik, belum benar-benar pergi. “Semoga orang yang baik juga yang mendampingimu kelak.”

Aku tertegun, masih tak bergerak dari tempatku berdiri. Di genggaman tanganku, ada permen gula-gula kacang yang tadi diberikan Re. Aku menatapnya, sedangkan bayangan tentang apapun yang ku tahu tentang Re berkelebat dalam pikiranku. Talok itu, sungai itu, gula-gula kacang itu, nama Re di dalam namaku.

“Re!” aku berseru. Ini kata pertama yang kuucapkan setelah belasan menit membisu.

Re yang baru saja membuka pintu mobilnya menoleh, sedikit mengangkat alis. Aku menunjukkan gula-gula kacang ke arahnya. Re menatap tak mengerti.

“Bagaimana jika orang baik itu adalah kau?”

***end***

Markas Rahasia, 9 Januari 2012
Augh-Lee-@
Request dari Fifyneechan
Maaf kalau ceritanya aneh
Aku ga bakat nulis beginian, hahaha
Mudah-mudahan tetap bermakna

0 komentar:

Posting Komentar