Social Icons

29 Oktober 2011

Bulan dan Hujan


Tik.

Sebutir jarum bening terjatuh, beradu dengan atap yang menaungi Keira pagi itu.

Tik. Tik. Tik.

Butiran lain ikut terjatuh. Dua, tiga, empat. Semakin lama semakin banyak. Berdenting ketika menerpa salah satu genting yang terbuat dari kaca. Keira memejamkan mata, merasakan irama yang semakin tercipta dari beradunya jejarum bening dan genting.

Perlahan ia berdesis, “Hujan pertama di bulan Oktober.”

Keira meraba dengan tongkatnya dan menemukan pintu belakang yang terbuka. Perlahan, ia menghampiri hujan. Mendongak seraya menengadahkan tangan dan berputar-putar, merasakan dingin dari setiap butir air yang ditumpahkanNya dari langit.

Keira tak lagi mengatupkan bibir. Kini ia membiarkan butiran-butiran bening itu melewati mulutnya yang terbuka. Mencecap sejenak, sebelum membiarkannya mengalir membasahi kerongkongannya.

“Bunda!” serunya sambil menjejak-jejak tanah, melompat-lompat kegirangan. “Pelangi akan datang!”

Begitu setiap kali hujan pertama datang di bulan Oktober.

^^^

Kedua tangannya bertengger pada besi-besi yang melintang setinggi pinggang di hadapannya. Ia mendongak, menatap bulatan keemasan yang beberapa menit lalu tertutup awan. Bulan terlihat berkilau lebih terang malam ini. Keemasan, bukan pucat perak seperti biasanya.

Jemarinya terjulur, seolah akan memetik bulan yang mulai malu-malu dan kembali mengintip di balik awan kelabu. Perlahan, telapaknya kini diletakkan pada salah satu matanya yang berbinar.

“Siap ya,” bisiknya ketika bulan kembali bundar terang.

Mata kirinya tertutup, membiarkan mata kanannya bebas menyambangi bulan. Perlahan, ia menutup mata kanannya dan mengizinkan mata kiri menatap bulan sepuasnya. Menutup mata kiri, kemudian mata kanan, lalu mata kiri, dan mata kanan lagi. Seperti itu selama beberapa kali. Membuat bulan yang berdiam seolah diayun ke kiri dan ke kanan.

Tidak seperti matahari yang bebas berkunjung dari fajar hingga senja setiap harinya, bulan sebundar itu hanya akan singgah beberapa hari saja. Dan bulan keemasan hanya ada satu kali dalam tiga puluh hari. Oleh karena itu, bagi Kenzi, bulan keemasan sangatlah istimewa.

Pandangannya beralih ke kanvas kosong yang sedari tadi disiapkannya. Setangkai kuas diraihnya, menjemput beberapa tinta untuk digoreskan. Besok pagi, segurat wajah akan menghiasi kanvasnya. Wajah yang setiap purnama selalu menjenguknya saat terlelap.

^^^

Jika Keira bertanya, matahari seperti apa, Bunda akan mengajaknya keluar dan duduk di beranda. Di sana, setiap jam delapan, matahari akan menitipkan sedikit hangatnya.

“Hangat ini dari matahari,” kata Bunda.

Suatu waktu Keira menunggu. Jam delapan berlalu dan Keira tak juga merasakan hangat matahari.

“Matahari ke mana, Bunda?” tanyanya.

Bunda tersenyum, “Matahari sedang bersembunyi di balik awan.”

“Awan itu apa?” Keira kembali bertanya.

Seraya membenarkan letak bando di rambut sebahu Keira, Bunda menjawab, “Dari awan itu datangnya hujan.”

Dahi Keira berkerut, kembali mendatangkan tanya, “Hujan itu apa, Bunda?”

Nanti, Bunda akan membawa Keira keluar menyambut jika hujan pertama di bulan Oktober datang.

^^^

Sejak kecil, Kenzi senang menorehkan banyak warna di mana-mana. Tidak hanya di buku gambar, tetapi juga dinding, kulkas, bahkan televisi. Kalau sudah seperti itu, Mama akan membawa Kenzi ke balkon. Menghamparkan belasan HVS putih berukuran A4 di lantainya. Kenzi yang menggenggam krayon akan mencorat-coret kertasnya sampai penuh.

Sesekali Mama menyuapinya sambil berbisik, “Ada hadiah kalau Kenzi bisa menggambar yang bagus buat Mama di kertas ini.”

Mata jernih Kenzi menatap Mama. Ia mengangguk-angguk seraya memamerkan selengkung sabit di bibirnya.

^^^

Beberapa tahun ini, Bunda semakin gemar menabung. Besok, di ulang tahun Keira yang ke tujuh belas, Bunda akan memberikan kejutan.

Sudah lama Keira meminta dan Bunda selalu memikirkannya siang dan malam. Sejak Keira lahir, Bunda pun sudah menanam harapan ini. Tetapi tak disangka, Ayah dijemputNya saat Keira belum genap berusia empat tahun. Bunda yang hanya ibu rumah tangga limbung, memupus harapan terbesarnya untuk Keira.

Awalnya Bunda hanya membuat kue-kue sederhana untuk dititipkan di warung sebelah. Simpanan Bunda yang ditinggalkan Ayah tidak banyak, sedangkan Keira semakin dewasa. Bunda harus menambah jumlah tabungan untuk masa depan Keira.

Bunda pun akhirnya membuka toko kecil. Aneka bolu Bunda sajikan. Bolu pisang, bolu ketan, dan bolu ketela. Bunda terus berkreasi untuk menambah isi toko. Setelah melakukan beberapa kali percobaan, bolu bayam dan bolu wortel pun akhirnya ikut disajikan. Bolu-bolu Bunda semakin digemari. Bunda sudah punya konsumen dari luar kota sekarang.

Besok, Bunda akan memberi Keira kejutan. Bunda akan mengajak Keira ke rumah sakit untuk mendaftar sebagai penerima donor mata. Bunda akan semakin giat mengembangkan toko untuk membiayai operasi dan pengobatan putrinya.

^^^

Kenzi tak lagi menggambar di HVS-HVS yang dihamparkan Mama di lantai. Semenjak Papa mengajaknya ke Bali saat libur sekolah setahun lalu dan mengunjungi sahabat Papa yang pelukis, Kenzi mengenal kuas dan kanvas. Sekarang, Kenzi memiliki tempat favorit untuk melukis. Balkon. Tempat yang sama saat Mama pertama kali mengajak Kenzi menggambar.

Piala-piala yang berjajar rapi di lemari, semuanya berasal dari lomba menggambar. Ketika Kenzi TK, SD, dan SMP. Lomba antar sekolah tingkat kecamatan, provinsi, bahkan se-Jawa dan Bali. Kenzi banyak menggambar tentang lingkungan, keindahan alam, tempat-tempat wisata di Indonesia, dan yang lainnya.

Tetapi, sejak mengenal kanvas, Kenzi hanya bisa melukis satu objek. Segurat wajah yang selalu mampir di antara mimpi-mimpinya. Satu saja, di setiap purnama. Seringkali Kenzi mencoba melukis objek yang lain. Namun, sesering itulah Kenzi kecewa dengan hasil lukisannya.

Melukis dia, hati Kenzi merekah. Melukisnya, wajah Kenzi memerah. Dan purnama itu, bulan keemasannya itu, membuatnya melukis sembari mengukir senyum yang bertambah-tambah.

^^^

“Siapa yang ingin Keira lihat pertama kali?”

“Bunda.”

Perawat yang sedang membereskan tempat tidur di samping Keira tersenyum.

“Setelah itu?” tanya perawat itu lagi.

“Pelangi.”

Seraya membungkus bantal dengan kain yang baru, perawat itu duduk di samping Keira.

“Tapi, tempat yang paling ingin Keira kunjungi adalah rumah pendonor ini,” ucap Keira. Tangannya mengusap kassa yang masih membungkus rapat kedua matanya.

“Besok Keira sudah boleh pulang,” perawat itu berkata sambil mengusap pelan lengan Keira. “Siap-siap mewujudkan keinginan ya...”

Keira tersenyum. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Tujuh belas tahun dunianya dalam gelap. Sebentar lagi, Keira akan membuktikan kata-kata Bunda. Bahwa matahari tidak hanya hangat, tetapi juga terang benderang. Bahwa hujan tidak hanya membasahi tanah, tetapi juga menyuburkan tanam-tanaman. Bahwa pelangi akan muncul secara ajaib setelah hujan reda.

Tiba-tiba Keira merasa gugup. Tak sabar, tetapi begitu gugup. Melebihi rasa gugupnya menunggu operasi sejak tiga bulan lalu mendaftar sebagai penerima donor mata. Keira beruntung hanya menunggu tiga bulan. Pasien lain ada yang empat, lima, bahkan dua belas bulan menunggu giliran. Mengapa Keira didahulukan?

“Karena Keira muda dan banyak cita-cita,” kata Bunda.

^^^

Kenzi mengerjapkan mata. Sekali, dua kali, tiga kali. Menemukan lukisan sebagai objek pertama yang ditangkap retina setelah beberapa jam lalu terhalang kedua kelopak matanya.

Ia bangkit perlahan, terpaku pada sehelai kanvas di hadapannya.

“Ini yang tercantik,” batinnya.

Puas. Matanya berbinar ditemani selengkung senyum dari kedua bibirnya.


“Kenzi!” panggil Mama dari lantai bawah. “Jam delapan kereta berangkat. Ayo bereskan semua perlengkapannya!”


Kenzi segera mencuci muka, kemudian merapikan beberapa helai pakaian, buku-buku, alat mandi, dan perlengkapan lainnya. Ratusan menit yang akan datang, ia akan menikmati beragam pemandangan yang terhampar selama berada di salah satu gerbong Lodaya yang menuju Yogyakarta.

^^^

Di sini dingin. Kata Bunda, daerah ini bernama Lembang. Mereka akan mengunjungi banyak tempat nantinya. Tangkuban Perahu, perkebunan teh di daerah Parongpong, bahkan peternakan tempat sapi diperah dan diolah susunya menjadi tahu, permen, dan kerupuk. Tetapi, ada yang jauh lebih penting sekarang. Keira akan mengunjungi kediaman seseorang yang korneanya kini melekat pada bola mata Keira.

Setelah menempuh empat jam perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Ada kolam air mancur di antara rimbunan bambu-bambu kecil. Banyak bunga-bunga warna-warni, yang Keira belum tahu namanya, mengelilingi halaman. Tanaman semak yang cukup rimbun pun disematkan di antaranya. Kata Bunda, semak itu berbentuk W, inisial dari pemilik rumah ini, dr. Wiguna.

Rumah berlantai dua ini memiliki dua pintu utama. Pintu utama yang satu khusus untuk menerima tamu. Sedangkan yang lainnya, terletak agak menjorok ke dalam, digunakan untuk siapapun yang ingin berobat. Rumah ini agak sepi. Mungkin karena hari masih pagi. Biasanya, sepagi ini anak-anak pergi ke sekolah. Para orang tua pun tengah menyelesaikan pekerjaan mereka di kantor.

Bade ka saha*, Bu?” sapa seseorang ketika Keira dan Bunda baru saja menginjakkan kaki beberapa langkah melewati gerbang setinggi bahu yang terbuka.

“Ibu Wiguna ada, Pak?” tanya Bunda.

Bapak yang semula mencabuti rumput itu pun bangkit dan mencuci tangan di kran tak jauh dari hadapannya.

“Ini Ibu Amel ya,” kata Bapak itu. “Ibu sudah menunggu. Sebentar saya panggilkan.”

Ia pun bergegas. Memutari rumah di sisi yang berlawanan dengan tempat praktek dr. Wiguna. Mungkin melalui pintu belakang. Tak lama, pintu utama terbuka. Seorang perempuan muda tersenyum, menyilakan Keira dan Bunda menunggu di dalam.

Keira dan Bunda duduk di salah satu kursi jati berukir di ruang tamu itu. Menunggu beberapa menit seraya memandang berkeliling. Memerhatikan lukisan-lukisan di dinding ataupun guci-guci yang terlihat antik mengapit rak bertingkat yang berisi piala-piala.

Langkah kaki pun terdengar, bergerak mendekati mereka. Keira telah menyiapkan senyum termanisnya untuk Ibu Wiguna, selain berkotak-kotak bolu di tas kecil di pangkuannya.

Seorang perempuan berdaster batik muncul menyambut Keira dan Bunda. Wajahnya tirus dengan air muka yang terlihat sedih meski ia menyembunyikannya di balik senyum.

“Baru sampai, Bu?” tanya Ibu Wiguna seraya menyalami Bunda.

Bunda mengangguk. Beberapa hari lalu memang bunda membuat janji bertemu setelah mendapatkan nomor kontak Ibu Wiguna dari pihak administrasi rumah sakit.

“Pasti capek, jauh-jauh dari Jakarta,” kata Ibu Wiguna lagi. Matanya berpaling untuk menyalami Keira. Namun, perempuan separuh baya itu terkejut.

Keira yang sedari tadi menunggu giliran untuk bersalaman pun ikut terkejut melihat perubahan di wajah Ibu Wiguna.

“Ya Tuhan,” desisnya. “Ini Keira ya?”

“Iya, Bu,” jawab Keira pelan seraya menatap Bunda yang juga tidak mengerti.

Ibu Wiguna menahan napas, menenangkan dirinya sambil mengelus-elus dada.

“Coba ikut saya,” katanya kemudian mengajak Keira dan Bunda menaiki tangga di ruang tengah, yang tersekat lemari besar dengan ruang tamu.

Mereka memasuki sebuah ruangan yang dilapisi karpet beludru. Tak ada banyak perabotan di sini. Hanya ada sebuah rak buku di salah satu dinding yang berhadapan dengan pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan balkon.

Ibu Wiguna membuka pintu di sisi lain dinding. Keira bisa melihat sebuah ranjang di dalamnya. Sepertinya ruangan itu adalah kamar seseorang. Namun, di atas ranjang itu ada banyak lukisan bertumpuk-tumpuk. Ibu Wiguna mengambilnya beberapa. Menjajarkan lukisan-lukisan itu di karpet.

“Ini yang pertama.”

Ibu Wiguna menunjuk salah satu lukisan. Hanya ada satu objek di sana, seseorang dengan rambut sebahu. Tetapi, si pelukis menangkap objek itu dari belakang, hingga tak tampak wajahnya.


“Setelah itu…”


Ibu Wiguna mengambil sebuah lukisan yang objeknya terlihat serupa. Hanya saja, objek itu tengah menjulurkan tangan, seperti akan menerima sebuah pemberian. Kini, si pelukis mengambil angle dari sebelah kanan sang objek.


“Di dalam sana, masih ada banyak lukisan yang serupa,” kata Ibu Wiguna kemudian. “Dan ini yang terakhir, satu-satunya yang wajahnya terlihat jelas.”


Keira menatap lekat lukisan itu. Menyentuh perlahan kanvasnya, mengikuti setiap lekuk yang digoreskan si pelukis. Perempuan berambut sebahu di dalam lukisan itu sedang merentangkan tangan, tertawa dengan mata terpejam. Ada rintik-rintik jejarum bening di sekitarnya.


“Bunda,” panggilnya. “Bukankah ini Keira?”

^^^


“Kenzi selalu bercerita dan bertanya, mengapa di setiap purnama ada seorang perempuan yang hadir dalam mimpinya.” Ibu Wiguna menghembuskan napas seraya menatap langit-langit. “Hanya mimpi, kata saya. Tak perlu dirisaukan.”


Keira kembali meraba lukisan di hadapannya.


“Dia terlihat bahagia, Kenzi senang melukisnya.” Ibu Wiguna menatap Keira yang membalas tatapannya dengan senyum. “Kenzi begitu menyukai bulan. Di dalam mimpinya, perempuan itu menyukai hujan. Menurut Kenzi, itu sebuah kecocokan. Karena bulan dan hujan adalah anugerah yang mengiringi pesona langit.”


Keira kembali tersenyum, mengingat kebiasaannya jika hujan pertama di Bulan Oktober datang.


“Kami sekeluarga tercatat sebagai pendonor mata.” Suara Ibu Wiguna mulai terdengar parau. “Tidak menyangka, Kenzi yang lebih dulu menyumbangkan korneanya.”


Ibu Wiguna sedikit berdehem agar suaranya kembali netral.


“Dua puluh hari yang lalu, saat Kenzi akan mengikuti tes masuk perguruan tinggi di Yogyakarta, Lodaya yang mengantarnya bertabrakan dengan kereta dari arah yang berlawanan. Kenzi koma selama beberapa jam, tetapi Tuhan kemudian menjemputnya.”


Sebening jejarum yang menghujani bumi, sebening itulah air yang menetes di pipi Keira saat ini.


“Sudah seharusnya seperti itu, mungkin begitu kata Tuhan.” Ibu Wiguna mengangkat dagu Keira, menatap lekat kedua bola matanya. “Cantik sekali. Ada purnama berpendar-pendar di bola matamu, Nak.”


Lukisan yang ada di pangkuan Keira itu, pastilah ketika hujan pertama di Bulan Oktober.
Keira berjanji untuk tidak hanya menanti kedatangan hujan. Ia yakin, korneanya pasti rindu menatap bulan. Bulan dan hujan. Anugerah yang tercurah dari langit. Anugerah yang kini bisa dengan jelas mampu terlihat warna-warnanya oleh Keira.

^end^


* ‘Mau ke siapa’ atau ‘Cari siapa'


07.15 – 10.45

Hari Sumpah Pemuda, 2011

Kisah nyata dari negeri seberang, dengan beberapa modifikasi

0 komentar:

Posting Komentar