Social Icons

12 November 2011

Note Ke-22


Awalnya, saya sengaja menyiapkan note dengan judul di atas dan berencana mempublish di hari kelahiran saya yang ke-22, 1 November 2011. Tetapi, karena sakit yang menyebabkan saya harus total beristirahat (benar-benar hanya berbaring), niat itu harus ditunda. Akhirnya, saya memilih hari ini, 11 November 2011. Mirip dengan hari kelahiran saya, hanya ditambahkan angka 1 di depannya. Hari yang dianggap sakral oleh beberapa orang untuk melepas masa lajang.

Menyaksikan video memory dari salah satu boy band terkenal asal Korea (sebut saja namanya Super Junior) membuat saya teringat banyak hal. Saya ingin, keakraban dan kekerabatan tidak hanya dimiliki mereka, orang-orang terkenal itu. Dan jika ditilik, ternyata saya pun memilikinya, memori-memori berharga bersama kalian, orang-orang yang telah mampir, bahkan singgah hingga begitu lama di dalam hati saya.
Kita mulai dengan 1 November di setiap tahunnya.

1990. Saya tidak ingat apa yang saya lakukan pada waktu itu. Hanya saja, Mama pernah bercerita, di usia yang belum genap satu tahun, saya sudah pandai berjalan , meski belum tumbuh gigi satu pun.

1991. Usia dua tahun, saya sudah pandai berkicau. Sampai-sampai tetangga sebelah menjuluki saya ‘Mecotot’ saking bawelnya.

1992. Mama hamil lagi. Tapi saya tidak suka. Saya takut Mama tidak sayang saya lagi. Tapi, diam-diam saya menyiapkan nama untuknya, Kelana Sentosa. Kelak, adik saya ini bernama Bayu Antrakusuma.

1993. Adik saya sakit-sakitan. Perhatian Mama dan Papa banyak untuk Bayu waktu itu. Saya bermain-main sendiri saja. Tetangga perempuan tidak ada yang mau bermain dengan saya. Katanya saya nakal. Jadi, saya terkadang bermain dengan teman laki-laki. Bermain kelereng, layang-layang (hanya menonton saja), dan memanjat pohon.

1994. Saya sudah TK. Apa ini, sekolah kok nyanyi-nyanyi aja, kapan belajarnya, protes saya waktu itu. Ternyata saya nakal sekali. Teman-teman laki-laki juga takut dengan saya. Akhirnya, Ibu Guru memberi saya nilai K (kurang).

1995. Saya tidak betah di TK. Jadi, Mama mendaftarkan saya untuk sekolah SD. Kata orang, saya pintar, tapi nakal luar biasa. Jadi, saya tidak punya teman. Tapi, ada teman sekelas yang saya suka. Di kemudian hari, teman saya ini juga menyukai saya. Sayangnya, saya tidak suka dia lagi.

1996. Saya masih juara kelas, bersaing dengan teman saya, Ghoibi. Di tahun inilah saya mengenal Aisyiah Rahmah Ferani. Waktu itu, saya pikir dia mirip Meissy, artis cilik idola saya.

1997. Saya Khatam Al Quran. Bayu khatam Iqro. Di masjid diadakan wisuda untuk anak-anak yang khatam Iqro dan khatam Al Quran. Saya cantik sekali waktu itu.

1998. Untuk pertama kalinya, saya berlibur ke Bandung. Waktu itu Papa kuliah pascasarjana di IKIP. Kami mengunjungi banyak tempat. Yang saya ingat, Kebun Binatang, Pasar Sukajadi, dan Cibaduyut. Dan mungkin, sejak itulah saya bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di kota ini.

1999. Saya punya teman dekat sekarang, namanya Ria. Tapi, ternyata dia dekat dengan teman laki-laki yang saya suka.

2000. Saya ikut olimpiade Matematika. Di Kecamatan, saya dapat juara pertama. Tapi sampai provinsi kalah. Padalah pertanyaan terakhir bisa saya jawab. Hanya tidak percaya diri. Sampai terbawa mimpi karena menyesal. Harusnya saya masuk 5 besar. Saya juga punya adik baru. Laki-laki, padahal saya ingin dia perempuan dan menamainya Cantik.

2001. Saya sudah SMP. Tetapi, saya belum punya banyak teman. Yang saya ingat, teman-teman yang pertama-tama saya kenal, Yustina, Andri, Ruth, Lily, Zara, dan Jefri.

2002. Saya duduk sebangku dengan Ayu di bangku paling pojok di belakang. 1 November ini, Arum dan Aji menyanyikan lagu Jamrud ‘ Selamat Ulang Tahun’ sewaktu istirahat. Saya senang sekali. Dan untuk pertama kalinya, saya menerima kado berupa kotak musik.

2003. 1 November ini, saya dapat banyak sekali kado dari teman-teman sekelas. Saya duduk sebangku dengan Maulidiya, tepat di depan meja guru. Meski sebenarnya saya lebih dekat dengan Zara yang duduk di belakang kami. Dan di usia ini, saya sudah mengenal kata-kata jatuh cinta, cemburu, bahkan patah hati.

2004. Saya sudah SMA. Dan untuk pertama kalinya saya dibuat menangis oleh teman-teman sekelas yang mengerjai saya. Sebut saja Yuli, Ikhwan, Ibnu, dan (mungkin) Dony yang bersekongkol dengan kakak kelas yang mengerjai saya waktu itu.

2005. Peringatan hari lahir ke-16 bertepatan dengan Ramadhan. Dan di tahun ini pula saya mengenal organisasi. Saya dipilih menjadi Wakil Ketua Rohis sekaligus Ketua KIR. Saya punya banyak teman sekarang. Kelak, kami memberi nama El Sifa Aiza untuk kelompok mentoring. Nama yang diambil dari huruf depan nama-nama kami, Emi, Lisa, Sulis, Isna, Fitri, Aulia, Aini, Isty, Zara, dan Arum.

2006. Saya suka menulis, meski tidak terlalu PD untuk mempublish. Ternyata, di usia ke tujuh belas, saya menerima beberapa penghargaan dari lomba kepenulisan. Juara pertama lomba cerpen Se-SMANSA dan 10 besar LKTI di Symposium of National Education yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Indonesia dengan Zu sebagai team mate. Saya semakin senang dan ingin lebih banyak menulis.

2007. Benar, saya kuliah di Bandung. Cita-cita saya sejak SD adalah menjadi guru Matematika. Di mata saya, guru Matematika itu pintar, seperti Mama. Mama pintar apa saja dan saya ingin menjadi seperti Mama.

2008. Mama membuat saya menangis dengan SMS-nya. Ini ulang tahun kedua, saya jauh dari Mama. SMS itu masih saya simpan bersama dengan SMS-SMS berharga yang lainnya.

2009. Usia 20, sangat saya nantikan. Usia yang -dalam versi saya- adalah gerbang menuju kedewasaan. Saya percaya, setelah ini akan menghadapi banyak hal luar biasa. Lihat saja, SMS-SMS dari sahabat-sahabat saya. Belum-belum sudah menagih, “Kapan nikah? Udah 20 lho..”. Itu gara-gara saya pernah bilang, saya mau menikah muda, tepat di usia 20.

2010. 21 tahun. Saya semakin galau. Bunda –panggilan untuk pementor saya- bilang, saya masih emosional. Mama bilang, saya belum dewasa. Jadi, saya belum diizinkan menikah (padahal calonnya juga belum ada, hihihi). Kata Papa, SIM (Surat Izin Menikah) nanti dikasih gratis setelah dapat ijazah. Mendengar itu, saya jadi semakin giat mengejar deadline: cepat lulus!

2011. Usia ke 22… Saya bersyukur untuk banyak hal…

Ingin sekali saya me-list segala hal yang berkaitan dengan 22. 22 hal paling menyenangkan, 22 mimpi besar, 22 orang terdekat dan paling berharga, 22 tempat paling momental, 22 makanan favorit saya, dan 22 yang lainnya. Tetapi, saya lebih memilih untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan (saya menyebutNya ‘Allahku’) sebanyak 22 kali dan bahkan kelipatannya, 44, 66, 88… Tetapi Allah lebih suka yang ganjil. Nanti-nanti saya paskan jadi 99 kali terima kasih.

Dan tahukah, salah satu cara berterima kasih kepadaNya adalah dengan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah memberikan kita banyak hal.

Pertama, untuk Mama. Terima kasih sudah menyayangi saya. Terima kasih sudah menjadi Mama yang luar biasa. Tempat curhat paling asyik, pendengar paling setia, guru paling bijak, teladan pertama saya (setelah RasulNya), dan berbagai macam gelar lain yang lebih hebat dari sekedar S.Pd., M.Pd, bahkan Dr. atau Prof.
Papa juga, luuuuuuuuar biasa. Bijak terkadang, meski lebih sering kocaknya. Di rumah, papa kelihatannya biasa-biasa saja. Ternyata, papa sering membanggakan saya di hadapan mahasiswa-mahasiswanya. Jadi deh saya terkenal di kampus Papa. Hehe..

Bayu. My boi. Saya paling suka dengar cerita-ceritanya. Lebih sering sengsaranya, tapi berhasil membuat saya terpingkal-pingkal. Makasih ya… Maaf, dulu kakak nakal sekali. Pernah ‘nyolok’ kuping Bayu sampai berdarah, bahkan sampai nyeburin bayu ke kolam ikan. Maklum lah, belum sekolah. Hehehe…

Agil. Jagoanku. Ingat kata Pak Guru, “Kakaknya pinter, Masnya pinter, adeknya peot.” Adek jangan mau dibilang gitu. Belajar yang rajin ya… Nanti kakak kasih hadiah ^^. Makasih udah bilang, kakak yang paling cantik. Makasih udah bilang, “Ga kangen Mas Bayu, kangennya sama Kakak.” Makasih juga udah bilang, “Kakak jangan di Solo yok sekolahnya, di Unila aja. Nti Aji sendirian…”

Terima kasih untuk Bapak Ibu Guruku sepanjang masa… Juga teman-temanku di TK ABA Wonokriyo, SD N 2 Tambahrejo, SMP N 1 Pringsewu, SMA N 1 Pringsewu, dan Jurdikmat UPI.

Teman-teman kosku di Pondok Mitra. Teh Mila, Teh Dety, Teh Dedeh, Teh Adah, Teh Eva. Ingat jaman-jaman saya tingkat satu, kita sering makan bareng di balkon, nonton bareng di malam minggu, nagihin oleh-oleh buat siapapun yang berani bawa cowok. Terakhir, bareng Teh Eva & Teh Adah, kita sering jamaah Maghrib terus cerita-cerita sambil nunggu adzan Isya. Makasih ya…

Teman-teman MIB (Math in Bhe). Makasih ya, tapi maaf di akhir-akhir kuliah saya jadi jarang bareng kalian T-T

Teman-teman di Departemen Pengembangan (DPA) Akademik Himatika ‘Identika’ (HIU) UPI 2008. Teh Upi, Kang Dede, Teh Ega, Kang Fajar, Teh Indri, Leli, Wadifah, Andri, Revy, Ade, Wulan, Iwan, Nashrul… Ingat video-video kita waktu masih lucu-lucunya di PPM 2008. Ingat markas kita di gedung yang sekarang udah di bongkar. Ingat makan-makan di rumah Kang Fajar. Ingat Curug Cimahi. Dan perjuangan-perjuangan waktu jadi panitia segala proker. Terima kasih…

Para stafku di Departemen Kerohanian (DR) HIU 2009. Saya bangga sekali dengan sebutan Bugar (Ibu Negara) dari kalian. Bangga sekali dengan yel (terbaik) kita di TTM. Bangga sekali dengan gigihnya kalian menjalankan amanah. Banggaaa sekali dengan kalian: Pipit, Riki, Fresty, Idhel, Irma, Kardiyah, Yusuf, Ina, Dj, Yulia, dan Riyanti. Juga Segar (Sekretaris Negara), Elin yang di tengah perjalanan digantikan Desy. Terima kasih…

Para sahabat perjuangan di Pengurus Inti BEM HIU 2009, yang dengan bangga menamai diri ‘Bukan Penguin’. Ingat waktu di rumah Andri di Garut, kita punya julukan: Andri Ter(sok)gagah, Leli Terbaik, Karin Terbohay, Annisa Termanja, Asep Terjorok, Wadifah Tercengeng, Aulia Tergalak, Desy Terpendiam, Heri Ter(sok)keren, Ani Ternorak, Irda Tertangguh, Ami Tersayang, dan KaBEM kita, Ter-on time. Ingat waktu ke rumah Ani di Kebumen, di KA ekonomi yang sumpek, bising, panasnya minta ampun, sampai Haifa nahan buang air 9 jam. Ke Prambanan, mampir ke Malioboro cuma 15 menit, Ke waduk Pajengkolan yang jauhnya naudzubillah (jalan kaki) sambil nenteng kelapa muda, video hebring anak-anak cowok waktu hujan, di sela-sela dorong mobil Bapaknya Ani yang mogok, nyanyi lagu Bondan Prakoso pakai topi daun talas dan mic dari arit, kata-kata “Mriko mriki” yang bolak-balik disebut karena ga ada kata (dalam bahasa Jawa) lain yang kalian tahu, daaaaaaaaaaaaan kuis gila di rumah Leli di Sumedang (sayang sekali saya tidak bisa ikut yang satu ini). Makasih untuk semua-muanyaaaah…

Juga teman-teman di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) HIU 2010. Lagi-lagi Andri dan Wadifah, ditambah Indy, Alfian, Kamal, Eka, dan si Kecil Inggar. Ingat waktu kita rapat shubuh-shubuh di tengah JICA jam 5.30 pagi, terus diusir satpam. Sarapan khas kita setiap rapat jam 6 pagi itu, bubur ayam super murah di dekat kolam renang. Si Wadifah yang disuruh-suruh belinya. Makasiiiiiiiiiiiiih…

Teman tersetia saya, Teh Noviyanti Pertiwi. Teteh Helm, yang rela dibilang ‘Ojek Pribadi Aulia’, setia sekali menemani saya ke sini dan ke situ. Maaf ya teh, akhir-akhir ini saya jadi teman yang amat sangat tidak menyenangkan karena keseringan marah-marah. Itu efek dari galau sejak 2010, wahahahahhhh… Tapi makasih lho, makasih banget untuk segala bentuk bantuannya.

Warga DNA (Double Nuclei Akademic). Kado dari kalian, di ultah saya ke 21 itu hebat sekali: Kontrak Kerja Manager Akademik DNA. Kenal Si Bos yang juteknya minta ampun, Dewa. Anak buahnya yang amit-amit bawelnya, Wiwin. Rekan kerja saya yang sangat rajin tapi riweuh dan teledor kadang-kadang, Amal. Teman-teman konsultan, Bang Evan yang punya sejuta cerita penuh makna, Pak Dzikri yang paling ‘guru’ di antara kita, dan konsultan baru lahir seperti Nyui, Teh Yeni, Bajun, Hendrik, dkk. Juga anak-anak. Si sulung Dhea yang pertama-tama masuk DNA, Sayid yang wajahnya suram dan baru cerah waktu Bayyild ikut gabung, Bayyild yang sok ganteng dan ga mau kalah sama Sayid, Rahmat yang diam-diam ‘diem’, Reicka yang paling girly, Tyas yang suka digosipin sama Bayyild, Kakak Adek Gilang Galih yang suka jadi korban buli-buli, daaan semua yang mungkin cuma mampir di DNA sebentar. Hoi, apa kabar kalian inih…?

Adek-adek mentor saya, yang 2008 ada Mega, Isna, Dhea, Icha, Putik, Ela, Ita, Rizky. Yang 2009 ada Nilah, Dhias, Rita, Eva, Putri. Yang 2010 ada Dwi, Nurul, Pipit, Risti, Riska, Enung. Makasih sudah berbagi banyak hal.

Makasih buat GMM (Gema Mahasiswa Matematika) 2008 yang mengajarkan saya untuk tertawa, terutama ketuanya. Sampai sekarang, masih bangga betul nyebut diri jadi ranger. Kang Sugeng si Ranger Merah, Teh Ocha si Ranger Kuning, Andri si Ranger Ijo, saya si Ranger Pink, dan satu-satunya Ranger yang belum hengkang dari JICA: Kang Fajar si Ranger Biru. Hehehe, makasih…

Juga buat adek-adekku yang sampai sekarang masih suka jadi pemimpi: Latifa, Candra, Fera, Hesti, Titis. Kita lihat, siapa yang lebih cepat larinya :D

Semuanya, semuanya, semuanya yang mungkin belum sempat digoreskan di sini namanya. Tapi Allah tahu yang kalian beri. Dia yang kasih balasannya nanti. Terima kasih. Jazakumullahu khairan katsir…
Readmore - Note Ke-22