Social Icons

31 Desember 2011

Bingkisan Akhir Tahun: Sekolah Pintar Merapi

Ini untuk yang kesekian kalinya aku melihat jam digital yang tertera di ponsel. Tak ada bunyi ‘tik’ yang menandai bergantinya setiap detik, tetapi, dua angka di belakang tanda titik dua itu terus berubah. Dari satu menjadi dua, dari dua menjadi tiga, tahu-tahu angkanya sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit.

Aku duduk, berdiri, melihat kanan kiri, kemudian duduk lagi. Dari ruang tamu yang dua kali lipat luasnya daripada ruang tamu di rumahku itu, ke dapur, ke kamar mandi, kemudian ke ruang tamu lagi. Gelisah.

“Ya ampun,” kataku akhirnya, tak tahan. “Cowok-cowok itu lama betul Sholat Shubuhnya.”

Mbak Hesti pun ikut menimpali, “Sholatnya sih sebentar, tapi I’tikarnya itu lho…”

Dengan cepat leherku berputar dan menatap Mbak Hesti, “Apa Mbak, tedor lagi? Ampuuuuuuun…”

Mendadak ingin murka karena mendengar kebiasaan cowok, yang meski alim, senang sekali menghilangkan kesadarannya dari dunia fana ini dengan aktivitas kesayangan mereka: tidur.

“Gimana lah…” Aku mengerucutkan bibir. “Katanya mau lihat sunrise. Malah teeedooor…”

Mbak Uzi pun bangkit menghampiriku dan berkata, “Ya udah, kita lihat sunrise berdua aja, yuk!”

Wah? Wajahku pun kembali sumringah. Baik sekali Mbak satu ini. Dengan semangat yang tiba-tiba kembali menggebu, aku pun membuka pintu ruang tamu. Belum ada sepuluh detik aku tersenyum, tiba-tiba suara nyaring keluar dari tenggorokanku, “Kyaaaaaaaaaaaaaaa…!”

Berpasang-pasang mata, milik Mbak Uzi, milik Mbak Hesti, milik Ovan (adik bungsu Mbak Uzi), juga milik Pak Ferdi, spontan mengerlingku. Dengan histerisnya aku menunjuk-nunjuk pepohonan dan jalan yang telah amat sangat terlihat karena matahari telah beranjak dan mulai menampakkan sinarnya.

“Terlambat.” Aku menundukkan kepala seperti pose anak sekolah yang sedang mengheningkan cipta. Sendu. Meski tak berurai air mata. “Sun sudah rise dari tadi…”
***
Wuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiw…!

Aku dan Mbak Uzi yang menenteng berkresek-kresek barang belanjaan baru saja tiba di posko Sekolah Pintar Merapi. Tiba-tiba teringat lagu seorang penyanyi dari benua seberang, Mariah Carey, Through the Rain. Benar. Kami baru saja menerabas hujan di sepanjang perjalanan dari pasar menuju posko.

“Aku keren ya, Mbak?” tanyaku memaksa.

“Kamu keren, Li. Keren, keren!” jawab Mbak Uzi.

Ah, Mbak satu ini memang baik sekali. Cocok jika aku menyebutnya Mbak Nyonyah karena ia adalah sosok perempuan muda yang sangat keibuan.

Ini mungkin cara Mbak Uzi menghiburku. Mengajakku ke pasar ketika aku kehilangan semangat karena tak menyapa mentari saat ia pertama kali memamerkan warna keemasannya pagi ini. Bukan pasarnya yang membuatku kembali lincah, tetapi perjalanan dari posko ke pasar maupun dari pasar ke posko yang amat sangat luar biasa.

Aku adalah pengendara motor amatir yang memang dusun sekali. Tak pernah sebelumnya melewati jalan yang berlika-liku bahkan tertutup kabut seperti tadi. Apalagi menerabas hujan dengan kondisi kepala yang tidak bisa menengok ke kanan dan ke kiri karena jas hujan yang membungkus dan kami membawa barang belanjaan.

Tetapi, tahukah, pagi yang berkabut di daerah pegunungan ini begitu cantik. Begitu pula ketika ribuan tirai bening mulai tertumpah dari langit. Tak kalah cantik.

Ah… Langit memang tak pernah salah. Tak perlu membenci apapun yang tertumpah curah darinya. Ketika ia utuh berwarna biru tanpa gemawan, ketika putih ikut berarak dan mulai mengiringi, ketika keemasan cahaya mentari ikut mendominasi, bahkan ketika titik-titik hasil pengembunan H2O mulai turun dan menghalangi pandangan. Nyata, meski terkadang hanya sejenak. Namun aku yakin itu adalah sedikit dari sekian banyak pertanda bahwa Allah Maha Indah.
***
“Kyaaaaaaaaaaaaa!”

Baru saja ditinggalkan Mbak Nyonyah puluhan detik, aku sudah membuat ulah. Mengapa aku yang begitu cerdas ini tidak bisa membedakan teko mana yang berisi air bening dan teko mana yang berisi air teh?

“Kenapa, Nduk?” Ibu Baik (panggilan saya kepada ibu pemilik rumah yang dijadikan posko relawan) itu menghampiriku.

Dengan bersungut-sungut aku menunjukkan mangkuk tempatku meracik bumbu jamur krispi yang telah berwarna kekuningan akibat air teh yang nakal sekali loncat dari teko ke mangkuk.

“Nggak apa-apa,” Ibu Baik menenangkan. “Malah tambah enak kok.”

Aku pun mengangguk dan melanjutkan aktivitas sakral pagi ini, meracik bumbu jamur krispi untuk sarapan para relawan.

Mbak Uzi datang dan membawa telur serta terigu. Dengan gaya koki terkenal, aku pun meramu kembali jamur krispi itu hingga wujudnya terlihat meyakinkan.

Sreeeeeeeeeng!

Jamur krispi yang belum krispi itu beradu dengan minyak panas dari penggorengan yang diletakkan di atas tungku. Ovan harus membantuku menyalakan api sedari tadi. Sekali lagi, aku adalah penghuni dapur amatir yang dusun sekali karena tak bisa menyalakan api di dalam tungku.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Ini ‘kya’ yang kesekian kalinya pagi ini. Hobi betul berteriak ala Jepang, membuat sensasi.

“Ini kan minyak bekas goreng ikan asin!” Histeris sekali aku menunjuk-nunjuk penggorengan. Iba melihat jamur yang salah memakai aromaterapi di bathtub(wajan)nya.

“Lah, nggak apa-apa,” kata Mbak Nyonyah. “Lagian minyaknya nggak banyak. Kasihan ibu kalau terlalu banyak minyak yang dipakai.”

“Ho ya ya, oke oke,” kataku sembari berpikir. “Kita namakan ini Jamur Krispi Eksotis kalau begitu. Waaaaaaaahahahahahahahhhhh.”

Aku tertawa kejam, membayangkan bagaimana raut wajah para relawan ketika mencicipi jamur goweng gawing (baca: goreng garing) yang bertabur parfum aroma ikan asin.


***
“Asin,” komentar salah satu cowok yang pagi tadi membuatku murka karena tak jadi melihat sunrise. Aku tak hendak menyebutkan namanya di sini. Bukan karena menutupi aib, tetapi aku memang tidak ingat, siapa yang berkata ‘asin’ itu.

“Hayoooooo,” Om Purwanto meledek. “Kalau masakannya keasinan, berarti…”

“Mbak Uzi…” Aku menatap Mbak Nyonyah, mengadu.
***
Ntah mengapa, setiap kali melihat orang pendiam atau setidaknya irit bicara, aku penasaran. Ingin sekali bisa membuatnya tersenyum, apalagi jika mampu membuatnya tertawa. Sepertinya akan menjadi sebuah prestasi yang luar biasa. Itu yang kurasakan ketika melihat Ovan.

Daeng Sahrir sudah mendahuluiku. Membuat Ovan tertawa meski sebenarnya ia tak sengaja. Pagi, mereka berdua hang out dan meminjam kamera digitalku. Pasti mau bergenit ria, berfoto-foto dengan gaya sok cool.

“Di sana itu,” kata Daeng. “Ada kali yang namanya sama dengan namamu, Pak-h. Kali Opak-h!”

Waaaaaahahahahahhahhhh, mendengar ceritanya saja aku sudah tertawa, apalagi menyaksikan langsung kejadian salah kaprah dari sang Daeng yang memang keseringan salah kaprah. Masalahnya, selain menyebut Ovan dengan Opak, Daeng berseru dengan menambah huruf ‘h’ di belakangnya. Semakin mantaplah nama adik bungsu Mbak Nyonyah ini, “Opak-h”.

Pagi, setelah sarapan, ada agenda berbenah posko. Merasa bukan siapa-siapa dan tak tahu apa-apa, aku membiarkan para relawan yang amat sangat gigih sekali itu membanting tulang. Mengangkat ini, mengangkat itu, membereskan ini, membereskan itu, memilah ini, memilah itu, hilir mudik di sekitarku. Sedangkan aku, berteman headset, sok sibuk di depan laptop Om Purwanto. Menerima job untuk men-translate sebuah lagu nan merdu yang berbahasa asing. Ba bi bu sendiri, wa wi wu sendiri, ca ci cu sendiri, kebingungan karena ragu, artis ini sedang menyanyikan apa.

“Ada raket!” Om Purwanto mengacungkan raket seolah menunjukkan harta karun yang telah terpendam ribuan tahun. Di tangannya yang lain, ia menunjukkan cock.

“Main, yuk!” Aku yang pening dengan bahasa asing yang sedari tadi kudengarkan melalui headset itu pun bangkit. “Yuk, Pan!” Mengerling Ovan yang masih duduk manis.

Aku, Ovan, Daeng, dan Om Pur bergegas ke halaman depan, mengambil pose seolah adalah pebadminton profesional. Mbak Hesti juga turut, mengambil posisi seperti wasit.

“Ya, mulai!”

Tuing, tuing, tuing! Cock berpindah, dari raket yang satu ke raket yang lainnya.

“Satu kosong!” teriakku ketika Daeng maupun Om Pur tak mampu menerima cock yang kulemparkan.

“Dua kosong!” aku kembali berteriak. “Kita menang, Pan! Kita menang!”

“Aih, belum lah,” protes Daeng.

“Tiga kosong!”

“Empat kosong!”

“Enam kosong!”

Waaaaaaaaaaaah… Aku tertawa-tawa bahagia melihat Daeng dan Om Pur dikalahkan oleh anak ingusan seperti aku dan Ovan.

“Aaaaargh!” Daeng bersungut. “Rusuh betul! Masa kau main tak pakai aturan begitu!”

Aku masih tertawa-tawa. Untungnya, selama puluhan menit ke depan, aku tidak tertawa sendirian. Baik Om Pur, Daeng, maupun Mbak Hesti, ikut berteriak-teriak ketika cock mulai dilempar sana dilempar sini. Ramai, riang, aku senang! Dan tahukah, Ovan pun ikut tertawa.

Ovan tertawa, rasanya cukup. Tak peduli apakah tim kami menang atau tidak. Tak juga peduli dengan Pak Pidi yang melanjutkan beberes posko sendiri karena ditinggalkan pengikutnya yang nakal sekali, justru bermain badminton. Tak peduli yang lain. Karena satu hal, Ovan tertawa.

***

Aku menghembuskan napas panjang, menatap posko itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya di 2011. Akhirnya, masa ini tiba. Masa ketika aku harus pergi dan melepaskan semuanya.

Rasanya baru beberapa jam lalu, ketika untuk pertama kalinya aku tiba di posko. Berkenalan dengan relawan, juga anak-anak yang kebetulan singgah. Berbincang ini itu dengan Mbak Putri, Mbak Lilin, Mbak Hesti, Mbak Uzi, Risya, Ratna, dan Atin, sembari menunggu pukul dua belas malam untuk outbond, acara yang memang sengaja diadakan untuk remaja Merapi sekaligus para relawannya.

Ketika mengikuti pemanasan kecil, berjalan kaki sendirian menerjang gelap, bahkan melewati kuburan massal para korban erupsi Merapi. Ketika kami kembali ke posko bersama peserta lain, menyusuri jalan kampung diiringi ‘salakan’ anjing. Ketika kami tertidur belasan menit jelang Shubuh dan kembali ke gardu pandang untuk melihat sunrise. Ketika pagi, kami berlatih lempar pisau. Sarapan, kemudian aku pulang.



Aku kembali lagi ke posko setelah pegal di kaki, sisa outbond, telah terasa lebih ringan, keesokan harinya. Bersama Mbak Uzi dan Mbak Hesti menemui teman-teman dari Arsitektur UNS ke shelter di Glagah.


Sorenya, membagikan sedikit ‘titipan’ untuk anak-anak di kampung, kemudian menikmati angin yang berhembus, sedikit lebih dekat ke Merapi, juga mengabadikan beberapa objek menarik di sana.


Malam, hingga larut, kami masih berbincang karena menunggu makan malam yang tak kunjung diantarkan oleh Pak Pidi, Daeng Sahrir, juga Pak Ferdi. Bahkan keesokan harinya, aku terbangun dengan harap bahwa hari ini tak cepat berlalu. Rasanya, aku ingin tinggal lebih lama…

Tidak, aku tidak ingin menjadi kufur dengan nikmat. Sudah cukup apa yang diberiNya. Aku telah menjadi kaya dengan rasa, karena bertemu, berkumpul, dan berbincang dengan para hambaNya yang luar biasa selama empat hari di lereng Merapi ini. Hanya empat hari, tapi sungguh, aku telah merasa memiliki tempat di sini. Meminjam istilah dari seorang teman, “Aku ingin menempatkan kalian dalam deretan ‘family’ku, karena family nggak pakai ‘end’ seperti fri(end).”

Sekolah Pintar Merapi. Aku akan mengingatnya. Bahwa suatu hari, aku pernah ada di dalamnya, merasakan hangat kekeluargaannya, merasakan ceria dari atmosfernya, juga merasakan gigih dari setiap aktivitas para relawannya.

“Allahku, terima kasih bingkisan akhir tahunnya,” aku berbisik di antara rimbunnya dedaunan yang kami lewati, malam, dalam perjalanan menuju kota. “Aku bahagia…”

Semilir angin mampu kurasa. Dengan naungan langit, meski tak berbintang, aku ingin tetap menyapa. Mbak Hesti yang memegang kendali sepeda motor yang kami naiki terus-menerus bersuara, menyanyikan Thank You milik Dido, kemudian lagu Utada Hikaru, dilanjutkan dengan soundtrack Inuyasha juga Naruto, dan lagu-lagu lain yang tak habis-habis dinyanyikan, seolah playlist di winamp di benaknya memuat ribuan lagu. Meski aku pun terkadang turut menyanyikan lagunya, aku masih menyimpan rasa itu di sini, di hatiku.

“Allahku, terima kasih, aku bahagia…” aku kembali berbisik pada angin. “Karena aku memiliki banyak hal dari apa yang kulihat, kudengar, dan kurasa. Untuk apapun yang Kau seduhkan di pagi buta, Kau sajikan di siang ceria, dan Kau suguhkan di malam renungan.”

Aku memejamkan mata, menundukkan kepala. “Aku bahagia, karena kuyakin Kau mendekapku dalam sayang, merangkulku bersama orang-orang istimewa yang juga saling sayang karena Engkau. Terima kasih…”

Untuk Mbak Uzi yang dewasa dan keibuan, Mbak Hesti yang semangatnya berkobar, Mbak Putri yang lincah, Risya yang energik, Mbak Lilin yang kreatif, Ratna yang keren dengan Gatotkaca-nya, Atin yang lembut, Mbak Isna yang kalem, Ibu Baik yang memang sangat baik, terima kasih kebersamaannya…

Untuk Om Pur yang jago IT, Daeng Sahrir yang ‘unyu’ sekali caranya berbahasa, Pak Pidi yang doyan nyambel, Pak Ferdi yang saya kagumi kamera SLR-nya, juga Ovan yang masih malu-malu menunjukkan eksistensinya. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal…

Untuk adik-adik yang ku yakin, memiliki cita-cita yang tak kalah tinggi dengan Merapi, teruslah belajar. Belajar tentang hidup, belajar untuk hidup, juga belajar untuk menghidupkan orang lain. Terima kasih mengizinkanku mengenal kalian…

Semoga di lain kesempatan, juga di lain tempat, aku mampu menciptakan atmosfer seperti ini, yang senyumnya, yang tawanya, yang candanya, tetap dalam taat kepadaNya.

Sampai jumpa lagi di surga ^_^


Detik-detik Keberangkatan Kakak-kakak Menuju Puncak Lawu
30 Desember 2011
18:02

0 komentar:

Posting Komentar