Social Icons

7 Desember 2011

Saya dan Tilang-menilang


Memang Lily Andila ini, ngeyel betul. Suka senewen saya jadinya. Tidak kapok juga ternyata, padahal tempo hari sudah membuat saya marah-marah. Itu gara-gara ingatannya yang payah. Masa’, mau membesuk teman di Gumuk Mas yang sangat dekat dengan Pringsewu (rumah Lily) saja sampai nyasar ke ujung dunia. Padahal Lily pernah ke sana sebelumnya. Kan, dia memang payah.

Hari ini juga. Sudah saya bilang, “Ly, bawa helm.” Kami akan membesuk Ibunya Ayu yang sedang rawat jalan di rumahnya di Pagelaran. Lintas tiga kecamatan, bayangkan.

“Hehe…” Lily cengar-cengir sewaktu menghampiri saya di jalan raya tempat kami berjanji bertemu.

Ish, tidak bawa helm dia. Bagaimanalah, saya kan pengendara motor yang taat aturan lalu lintas.

“Ya ampun, Ly,” saya sudah hampir naik pitam. “Pokoknya kalau ditilang, Lily yang bayar!”

Masih cengar-cengir Lily, tapi mengangguk-anggukkan kepala. Nakal sekali.

Ya ya ya. Biarlah. Mau bagaimanapun, dia lebih tua tiga belas bulan dari saya. Kami pun melesat menuju Pagelaran dan berwajah manis ketika menemui Ibunya Ayu.

Setelah memproduksi jutaan kata dan juga tawa (karena sudah lama sekali saya tidak bertemu Ayu dan berbincang ini itu bertiga dengan Lily), kami pun pamit.

Sepanjang jalan pulang, saya dan Lily tidak bicara. Sudah saya bilang, saya ini pengendara motor yang taat. Jadi mata dan pikiran saya fokus memandang jalan dan sesekali menoleh ke arah spion motor ketika akan mendahului kendaraan yang ada di depan.

Tetapi, fokus saya tiba-tiba terpecah ketika kami baru saja melewati jalan yang agak menikung dan serombongan bapak-bapak berseragam berompi hijau menghalangi jalan sekitar lima puluh meter di hadapan. Spontan saya berhenti.

“Ly, turun,” kata saya. Jantung ini rasanya berdebar sangat-sangat-sangat cepat dari sebelumnya.

“Oh,” Lily langsung turun dari motor. “Ya udah, Lily naik angkot.”

Kan! Ngeyel memang Lily. Selama sepersekian detik saya masih mengutuk di dalam hati mengapa Lily tidak pakai helm, bukan menyalahi bapak polisi yang sedang bertugas membela peraturan pemerintah.

Selama sepersekian detik juga saya komat-kamit di dalam hati, mengucapkan ayat kursi. Tempo hari ayat ini ampuh sekali, berhasil menyelamatkan saya melewati gerombolan Bapak Polisi di tengah jalan tanpa dipanggil untuk ditilang. Yah, motor saya secara lahiriyah memang taat seperti pengendaranya. Spion lengkap, lampu besar menyala, plat warna hitam yang belum kadaluarsa, kurang apalagi?

Saya masih komat-kamit, menunggu keajaiban Tuhan melalui ayat kursi ini. Semoga kali ini saya diselamatkan lagi.

Baru beberapa meter melaju, salah seorang polisi melambaikan tangan memberi tanda untuk mendekat. Ya Tuhan, saya tertangkap.

“Selamat siang!” Polisi bertampang galak itu menyapa.

“Siang, Pak,” jawab saya cengar-cengir. Yah, meski sungguh jantung saya ini rasanya goyang-goyang. Mau lepas atau bagaimana saya tidak tahu. Memang berlebihan, tapi saya yang sangat taat ini memang merasa sangat bersalah.

“Coba lihat STNK-nya!” Polisi itu menyodorkan tangan kanannya.

“Bentar ya, Pak…” sok santai saya, menutupi tangan yang sesungguhnya gemetar. Saya menyodorkan STNK yang langsung diambil sang Polisi.

“SIM-nya!”

“Ga ada, Pak…” masih cengar-cengir.

“Ga ada, Pak…” Polisi itu meniru dengan gaya mengejek. “KTP mana?”

Saya bongkar lagi isi tas dan mengambil selembar KTP yang masih hangat karena berstatus ‘wiraswasta’ sekarang, bukan lagi ‘pelajar’.

“Mbak ikut saya, saya buatkan dulu surat tilangnya.” Polisi itu menyeberang dan berdiri di dekat mobil-mobil dinas yang terlihat gagah terparkir. Saya mengikutinya.

“Mbak Aulia?”

“Iya saya.”

“Berapa usianya?”

“Dua puluh dua tahun, Pak.”

“Kenapa ga punya SIM?”

“Soalnya, sebentar lagi saya mau ke Solo. Jadi tanggung. Mau bikin SIM di sana aja.” Ekspresi wajah dan gerakan tangan saya seperti anak TK atau Pak Tarno yang pesulap itu, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, cara bicara Polisi ini jadi melunak.

“Anak kuliah ya?”

“Baru lulus, Pak. Tapi mau kuliah lagi.” Tanpa mengubah cara bicara dan ekspresi wajah.

“Kuliah di mana?”

“Di Bandung.”

“Terus?”

“Ke UNS.”

“UNS di mana?”

“Di Solo, Paaaaaaaaaaaaak…”

Ntah malu atau bagaimana, saya tidak tahu. Tetapi Polisi itu kembali memfokuskan pembicaraan mengenai tilang-menilang.

“Mbak kan ga punya SIM,” Polisi itu menjelaskan.

“Ya…”

“Jadi STNK-nya saya sita.”

“Hem.. Hem..”

“Nanti saya buatkan surat tilangnya.”

“Ya ya ya.”

“Surat ini nanti dibawa ke Pengadilan di Kota Agung.”

“Wah?” saya terkejut. “Sampai ke pengadilan Pak?” seperti orang yang dusun sekali belum pernah terkena kasus. Saya baru kali ini ditilang, wajar jika tidak tahu-menahu prosedur penilangan.

“Ya iya.”

“Tanggal berapa itu, Pak?”

“Tanggal 16.”

Saya garuk-garuk kepala. “Takutnya saya udah di Solo. Boleh diwakilkan ga, Pak? Nanti yang disidang yang punya STNK aja.”

“Lah, ini STNK siapa memang?”

“STNK yang punya motor.” Lugu sekali saya.

“Memang ini motor siapa?” Kok, Bapak Polisi ikut-ikutan lugu.

“Motor orang tua saya, Paaaaaaaaak…”

Bapak Polisi memalingkan wajah. Ntah menyembunyikan ekspresi apa.

“Sebetulnya Mbak,” kata Polisi itu lagi. “Mbak bisa menitipkan sebuah barang, supaya mudah.”

“Barang?” saya berpikir keras. “Wah? Kalo saya nitip motor, nanti saya pulangnya bagaimana?”

Polisi itu seperti menahan diri untuk tidak garuk-garuk kepala. Sebagai gantinya, ia menarik napas panjang.
“Ya bukan begitu.”

“Aduuuh.” Saya justru yang jadi garuk-garuk kepala. “Saya ini masih anak-anak, Pak. Jadi mohon jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah.”

Polisi itu menarik napas lagi.

“Enaknya aja menurut Mbak bagaimana?”

“Hem…” Mata saya menerawang, seperti menunggu contekan dari Tuhan, jawaban apa yang seharusnya saya katakan pada Bapak Polisi yang gagah ini. “Ya… Saya sih ga mau jadi warga negara yang nakal, Pak. Jadi ikut saja bagaimana aturan kepolisian.”

Polisi itu menatap seperti sedang menahan diri untuk tidak menjitak kepala saya. Ekspresi saya masih sama, lugu, merasa tak berdosa, dan ingin berbuat kebaikan membantu bapak polisi ini menunaikan tugasnya.

“Ya udah, saya jelaskan lagi dengan bahasa yang lebih mudah.”

Saya menjadi serius, bersungguh-sungguh ingin mendengarkan penjelasan beliau.

“Mbak kan ga melakukan tindak pidana.”

“Aduuuuuuuuh.” Tangan saya bergerak seperti ingin menghapus kata pidana dari udara dan tidak ingin memasukkannya ke dalam telinga. “Apa itu tindak pidana…”

Polisi itu berekspresi seperti ingin mengatakan “Cape deeeeeh…”

“Ya lah maksudnya Mbak tidak berbuat kriminal.” Kasihan sekali Polisi ini menghadapi anak yang tidak tahu apa-apa seperti saya. “Kami hanya sedang menertibkan lalu lintas, tapi Mbak melanggarnya.”

Saya mengangguk. Nah, yang ini saya mengerti.

“STNK kan saya sita.”

Wajah saya serius sekali.

“Terus saya buatkan surat tilang.” Polisi itu menunjuk surat berwarna kemerahan di tangan kirinya. “Sampai sini paham?”

Saya tertawa kecil, “Ya Pak, paham, paham.”

“Jangan sampai hilang suratnya.”

“Dibawa pas sidang kan?” kata saya sok cerdas. “Tanggal 16 nanti?”

Polisi itu jadi tertawa. Padahal saya menunggu beliau menuliskan nama saya di kertas merah itu. Pasti akan menjadi sangat bersejarah sekali. Nanti-nanti mungkin bisa saya laminating dan ditunjukkan kepada cucu-cicit.

“Udah lah. Mbak ini bikin saya bingung.” Polisi itu menyodorkan STNK dan KTP yang semula disitanya. “Mbak pulang aja. Tapi nanti-nanti bawa SIM ya…”

“Wah?” wajah saya sumringah sekali. Asli. “Makasih paaaaaaaaaaak…”

Dan wusssssss, motor kembali melaju.

Hebat sekali kan ayat kursi ini. Dahsyat! Nanti-nanti saya mau meminta siapa saja untuk membaca ayat kursi supaya tidak ditilang Polisi.

Yah, meski awalnya senewen sekali dengan Lily Andila, akhirnya saya berterima kasih juga karena mendapatkan ‘miracle’ seperti ini.

Ingat ya, baca ayat kursi! :D

0 komentar:

Posting Komentar