Social Icons

26 Januari 2012

Hadiah Versi Papa

Saya: Pa, kalo TOEFL Lia jebol 500, Papa kasih hadiah apa?

Papa: Duren.

Saya: Kok duren, yang istimewa doooooooong..

Papa: Yo wis, gembili (sejenis umbi yang rasanya tawar seperti talas, makanan kebangsaan Papa jaman doeloe, salah satu strategi Mbah Putri dalam rangka pengiritan uang belanja)

Saya: Laaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah
Readmore - Hadiah Versi Papa

25 Januari 2012

Nugget Tahu


Bosan kaaan kalau tahu cuma digoreng atau disayur. Ini nih, alternatifnya. Jadi nugget tahu. Biar gurih, kasih cincangan ayam. Parutan wortel ditambahkan supaya lebih bertekstur dan lebih sehat. Yummy.. ^^
Readmore - Nugget Tahu

23 Januari 2012

Embe Beach, Piknik Berlima Akhirnya

Sejak Agil lahir, kami sekeluarga jadi jarang pergi bersama. Mau naik apa coba? Kalau pakai motor kan ga cukup untuk berlima. Lagipula saat itu Papa masih studi S2-S3 di Bandung. Jadi, kami jaraaang sekali punya acara jalan-jalan.

Alhamdulillah, di tahun 2008 Papa beli mobil. Jadi ada space untuk kami berlima kalau mau jalan-jalan. Eh eh, tapi saya yang gantian sekolah ke Bandung, S1 dari 2007 sampai 2011. Liciknya, Mama, Papa, Bayu, dan Agil sering hang out tanpa mengajak saya. Curang pokoknya curang (-_-)”

Ah.. Tapi kan Allah Maha Baik ya, jadi di lain hari Allah kasih kesempatan untuk kami bisa piknik, hanya berlima (karena biasanya Mbah Putri, para Bulek, beserta sepupu-sepupu saya ikut, hehehe). Dan buat saya, piknik berlima itu wooow banget :D

23 Januari 2012. Bayu libur semester dan saya belum memulai perkuliahan di Pascasarjana UNS, kampus yang sama dengan Bayu. Kebetulan hari libur nasional, Papa dan Mama ga dinas dooong. Apalagi anak SD kaya Agil. Akhirnya, kami memilih piknik ke Embe Beach, salah satu pantai di Lampung Selatan.

Saya sukaaaaaaaa sekali pantai yang sepi. Hahahahaha, egois memang. Agaknya karena ingin memiliki momen pribadi tanpa diganggu orang lain, hihihi... Kalau lihat gambar ini, jadi ingat pelajaran menggambar saat TK :D


Mama sama Papa, cieeeeeeeee


Ish, maen cuma berdua lho ga ngajak-ngajak (>.<)


Naaah... Gini kan keren (^^,)bb


Lebih keren lagi waktu main di pasir. Ini, pura-puranya terdampar :D


Iseng-iseng saya nulis nama Mbak Uzi di pasir. Hehehe... Ntah kenapa, meski baru kenal puluhan jam di Jogja akhir tahun lalu, rasanya kok sudah dekat ^.^


Ini Bayu mau bikin istana pasir. Tapi sense of art-nya lagi ga bagus. Apalah itu jadinya (-_-)”


Akhirnya malah Agil yang ditimbun pasir. Ya ampuuuuuun.. Adek guweeeeee


Cieee Mama Papa cieee jaim-jaiman cieee...

“Adek, nanti kalau sudah besar...” bla bla bla... (sesi nasehat).


Udah aaah mainnyaaa... Saatnya pulaaang. Foto dulu tapinya :p

Readmore - Embe Beach, Piknik Berlima Akhirnya

22 Januari 2012

“Aku Sayang Bunda, Karena Allah..”




Suka sekali dengan penulisan kata ini, ‘per-empu-an’. Ya. Seringkali kata itu disebut ‘wanita’, ‘putri’, bahkan ‘cewek’. Tetapi, saya lebih suka dengan kata ‘per-empu-an’. Seorang ustadz yang suatu saat mengenalkannya. Dan ternyata, makna ‘per-empu-an’ sangatlah dalam. Kata empu, yang dalam bahasa sansekerta dianggap sebagai orang pintar, di mana banyak orang berguru bahkan mengiyakan kata-katanya itu, disematkan untuk ‘per-empu-an’, sebagai penghormatan kepada perempuan yang memang mengemban tugas yang begitu mulia, mendidik para calon putra-putri yang hebat di hadapanNya.


Perempuan mana yang tidak rindu untuk dipanggil ‘Ibu’, ‘Emak’, ‘Mama’, atau bahkan ‘Bunda’? Sebuah panggilan yang datang dari bibir mungil yang selalu merindukan dekapan hangat kita. Ketika mereka senang, ketika mereka sedih, ketika mereka sakit, ketika mereka kecewa, ketika mereka bangga, ketika mereka gundah, bahkan ketika mereka merasakan emosi sekecil apapun, kitalah yang mereka cari untuk sekedar berbagi. Dan kita, yang begitu dipercaya dalam amanah ini, sudah mempersiapkan diri sejauh apa kah?


Mungkin, saya adalah satu dari sekian banyak perempuan yang merindukan hadirnya sosok mungil itu. Dan mungkin juga, keinginan itu yang pada akhirnya menggerakkan kaki untuk melangkah dan memutuskan untuk membeli buku 60 Snack Favorit Bekal Sekolah 3 Bulan. Masih jauh memang, dua atau tiga tahun lagi atau bahkan lebih, keinginan itu baru terkabul. Hanya ingin melakukan yang saya suka, itu saja. Misalnya, mencoba berbagai resep masakan sederhana yang dari penulisnya saya tahu masakan ini tak hanya menarik dan mengenyangkan, tetapi juga penuh nutrisi.


Seorang Bunda harus cerdas, begitu kan? Ketika menjaga sang buah hati di dalam rahim mereka. Tidak mengonsumsi apapun kecuali yang halal dan toyyib (baik). Melakukan aktivitas yang mendekatkan sang buah hati kepada Tuhannya sejak dini. Membentuk kecerdasan otak dari alunan suara lembut di sekitarnya. Pun ketika ia akhirnya menatap dunia. Bunda haruslah pandai menjaga nutrisi lahir juga batinnya.


Seorang Bunda harus telaten. Tak peduli apakah ia pandai memasak atau tidak. Karena yang menjadikan masakan itu enak dikunyah adalah cinta dari sang Bunda sendiri. Cobalah bertanya kepada teman, lelaki ataupun perempuan, “Masakan siapa yang paling enak?”


Cinta Bundalah yang menjadikan dekapannya hangat, pelukannya menenteramkan. Cinta Bundalah yang menjadikan suaranya begitu merdu ketika memberi nasehat. Dan, cinta Bunda jualah yang menjadikan diri begitu rindu ketika jauh darinya.


Saya, memiliki banyak sekali cita-cita ketika kata ‘Bunda’ itu disematkan kepada saya. Mengajarkan kepadanya bagaimana cara berbakti kepada Tuhan; menemaninya jelang tidur dengan berbagai kisah dahsyat para nabi dan syuhada; mendengarkan celoteh tentang hari-harinya yang luar biasa; membuatkan bekal sekolah agar ia tak mengonsumsi jajanan tak sehat; membuat sendiri ‘Buku Pintar’ yang berisi gambar buah, hewan, tempat wisata, atau apapun agar ia mengenal dunia, lewat kreasi tangan saya; hadir di setiap hari-hari terpentingnya; dan banyak lagi mimpi yang lain. Saya ingin ia menjadi jauh lebih hebat dari saya, maka terlebih dahulu saya harus menjadi hebat, kan?


Ini cita-citaku, apa cita-citamu, Bunda? ^^
Readmore - “Aku Sayang Bunda, Karena Allah..”

Tahu Isi Telur Keju


Di Sunda, ini namanya Gehu. Bedanya, isinya bukan cambah, tapi telur-keju. Asoy kaaaaaaaaaaan. Yang mau, sini mampir ke rumah ^^
Readmore - Tahu Isi Telur Keju

21 Januari 2012

Jagung Manis Keju


Ini bukan minuman. Cemilan mengenyangkan sebenarnya, hanya tidak menemukan wadah yang cukup 'asoy' untuk tempat bertenggernya.

Sebut saja grontol (jika anda adalah Jawa sejati, pasti familiar sekali). Tapi gurihnya bukan dari parutan kelapa muda, melainkan keju. Manisnya bukan dari gula pasir, tapi susu kental manis. Banyak dijual di luar sana. Tapi yang ini, karena tangan saya yang mengolahnya, lebih enak kali yaaaaaaa...

Mau? ^^
Readmore - Jagung Manis Keju

17 Januari 2012

Tragedi Sukun Mendonat


Sempat terbersit untuk memberi nama ‘Lacau’ pada makanan asoy ini sebab made by Latifa, Candra, Aulia. Tetapi, mengingat banyak peristiwa terjadi selama pembuatannya, akhirnya kami memutuskan untuk menyematkan nama: Tragedi Sukun Mendonat.

Kekacauan pertama terjadi ketika Hestika, yang sepakat untuk ikut bereksprerimen, tiba-tiba mengirim pesan: Maaf kawan, aku ga bisa ikut hari ini karena bla bla bla. Pesan itu masuk ke inbox puluhan menit sebelum jam 8, di mana pada jam itu Candra berjanji menjemput saya agar segera meluncur ke rumah Latifa. Karena pesan Hesti, Candra dan Latifa galau, jadi atau tidak demo masak hari ini. Dan, karena saya adalah bos, saya memberi titah: Pokoknya masak hari ini harus jadi!

Karena berniat mengubah sukun (yang sedang dipanen keluarga di rumah) menjadi donat, saya pun berbaik hati membawa Conserto, pengadon donat. Berharap bisa meringankan beban para asisten saya itu dalam membuat adonan menjadi kalis. Ternyata, ‘onthelan’ Concerto, tertinggal di rumah yang berjarak puluhan kilometer dari rumah Tifa. Alhasil, ketiga pasang tangan kamilah yang mengadon. Asli, tiga pasang tangan ini masuk ke baskom saking banyaknya adonan: 1 kg terigu, 800 gr sukun kukus, dan bahan-bahan lainnya.

Tragedi berikutnya (sebenarnya tidak terlalu penting), adalah penghinaan saya kepada kedua asisten yang masih lucu-lucunya itu. Bayangkan, Tifa membentuk donat tetapi lebih mirip lanting dan Candra membentuk donat seperti mpek-mpek lenjer. Saya? Paling bermartabat karena membentuk adonan menjadi seperti donat sungguhan. Ternyata, setelah mengembang, donat lanting Tifa jauh lebih cantik, sedangkan donat saya dan Candra gendut sekali. Owh ya ampun…

Ya sudah, begitu jadinya, yang digambar. Dicicip yuk, mari… :D
Readmore - Tragedi Sukun Mendonat

15 Januari 2012

Sebuah Rekaman tentang Hikmah


Kembali menemukannya, sahabat hebat saya itu, setelah dalam rentang waktu yang cukup lama kami tak bersua. Dalam sebuah kesempatan, sengaja saya men-tag-nya karena note yang menyinggung ‘proyek’ yang pernah kami rancang bersama rekan-rekan lain, dahulu di tempat kami bekerja. Ia pun muncul dengan komentar singkat. Ternyata, saat ini adalah saat ‘free’ bagi ia yang biasa berkutat dengan job di sebuah World’s Oil and Gas Service Company di Kalimantan. Hingga ketika yahoo messenger-nya aktif, saya menyapa.

Ia, yang memang terbiasa berbagi dengan apapun yang ia miliki, akhirnya bercerita banyak hal.

“Apa yang lu pikirkan tentang tempat kerja gua sekarang? Uang? Melimpah. Tapi, pressure-nya juga tinggi.”

Ya. Ironis memang. Di perusahaan tempatnya bekerja, ‘lulusan’ tak sepenuhnya dipandang. Bahkan anak belasan tahun yang baru lulus SMK pun bisa diterima di perusahaan ini asalkan potensial dan berdedikasi tinggi. Gajinya pun tak kalah dengan lulusan institut terbaik yang bekerja di sebuah bank atau perusahaan menengah lokal. Lima juta rupiah minimal bisa dikantongi setiap bulannya.

“Gua memang ga alim. Gua masih sering bicara kotor.”

Paham sekali dengan caranya berbahasa. Meski ‘bangsat’, ‘telek’, ‘tai’, ‘muna’, ‘norak’, ‘cupu’, dan kata-kata lain sering ia sematkan dalam obrolan, ntah mengapa saya tak merasa risih. Memaklumi bahwa ia, yang dibesarkan dalam lingkungannya, hanya sedang mengekspresikan ceritanya.

“Tapi gua tau banget, apa yang dilarang.”

Saya masih menyimak.

“Di sini, gua dengan maksiat, cuma seujung kuku jaraknya.”

Sedikit membayangkan kondisinya di sana. Bersama junior field-engineer yang juga berasal dari Nigeria, Papua Nugini, Brazil, Malaysia, Jerman, dan negara lain, terkadang bercampur pula kebiasaan dan gaya hidupnya.

“Karena pressure yang tinggi itulah, ketika sekali aja kami free, langsung mencari kesenangan di luar. Nonton, makan, bahkan ke pub, panti pijat, yang lu pasti tau apa isinya.”

Miris jika membayangkan. Kehidupan macam apa itu.

“Gua masih menjaga sholat. Ikut makan tapi tetap nolak untuk minum.”

“Gimana cara kamu nolaknya?” tanya saya.

“Tergantung gimana lu membuat image tentang karakter diri lu sendiri di hadapan orang lain. Kami tetap main, tetap ngobrol, tapi mereka sama sekali ga protes ketika gua bilang, gua ga minum. Mereka paham gimana gua.”

Hebat. Sahabat saya yang satu ini memang sangat idealis. Perfeksionis bahkan. Dan ia benar-benar menjaga apa yang ia yakini agar tak dilanggar karena ia masih punya rasa takut kepada Tuhan.

“Dan prinsip ini, menjadikan gua ngerasa double pressure di sini.”

Saya menghembuskan napas panjang.

“Gua ngerasa ga berkah di sini. Kehidupan macam apa ini, terkungkung dalam sebuah lingkungan yang gua ga nyaman ada di dalamnya.” Ia mengambil jeda. “Gua pengen keluar. Ga pa-pa gua ga kerja. Ga pa-pa gua ga dapat uang sebulan dua bulan. Toh Allah bakal ngasih gua rejeki di manapun gua. Gua pengen ke masjid. Sholat yang tenang. Ikut dengar ceramah. Dan saat-saat kaya ginilah gua ngerasa butuh orang tua.”

Deg. Seperti tertampar dengan sesuatu yang begitu keras. Orang tua. Baru sekali ini saya mendengar ia bicara tentang ia yang begitu merindukan orang tua. Ia, bersama ketiga adiknya, telah yatim piatu sejak belasan bulan yang lalu. Ia yang saya beri gelar ‘orang kuat’ itu akhirnya berkata, merindukan orang tua.

“Gua cuma bisa doa. Istikharah. Ya Allah, kalau memang ini jalan saya, kuatkanlah. Jika memang bukan, tunjukkanlah jalan yang lain.”

Saya tersenyum. Malu sebenarnya dengan hamba Allah yang satu ini. Ia, yang dalam kondisi sulit seperti itu, tetap yakin dengan keberadaan Tuhan. Pertolongan juga ampunanNya.

“Dan akhirnya gua yakin, gua memang harus tetap di sini. Berkarya bukan bekerja.”

“Apa definisi karya itu?” tanya saya lagi.

“Kalau lu bekerja, lu ga ada, orang nyari pengganti lu. Tapi, kalau lu berkarya, apa yang lu kerjain ga hanya bikin senang diri lu sendiri, tetapi juga orang lain. Lu ga akan tergantikan dan akan terus dikenang.”

Setuju. Bahkan di manapun, kita masih bisa berkarya. Dalam kondisi apapun. Keyakinan tentang ‘melakukan yang terbaik’ itu tetap harus kita pegang. Karena kita tak mampu untuk terus berada dalam lingkungan yang ideal.

Sebagaimana saya pertama kali mengenalnya dahulu, sahabat saya ini tetaplah hebat, dan akan semakin hebat. Ia, dengan cerita-ceritanya, membuat saya belajar banyak hal tentang dunia yang sama sekali tak pernah saya sentuh. Sisi lain dari dunia, begitu istilahnya. Dan semakin bersyukur karena kembali menemukan hikmah.

Ini yang saya sebut sebagai ‘Everything in Life is Miracle’. Keajaiban seringkali datang tak terduga. Kita hanya perlu yakin tentang apa yang Tuhan tuliskan. Melakukan yang terbaik dengan selalu ingat yang Dia perintah dan larang. Semoga, baik saya maupun kalian, menemukan hikmah yang saya sebut sebagai ‘miracle’ itu, di manapun ia.

Ini, hanya kisah tentang seorang sahabat. Tunggulah, suatu saat saya pun akan bercerita tentang kalian. Mari menjadi orang hebat di hadapanNya.

Semoga tetap dalam dekapan Tuhan

di manapun kita

14 Januari 2012

21.08

Readmore - Sebuah Rekaman tentang Hikmah

Sweet Choco Cheese Banana


Panen pisang. No idea. Ini aja deh buat cemilan malam :P
Readmore - Sweet Choco Cheese Banana

13 Januari 2012

Pan-banana-cake



Om Ayun mengantarkan pisang dari kebun sudah lama, tetapi belum ada semangat juga untuk mengolahnya. Sampai pisangnya berair saking masaknya. Eh, Tifa dan Hesti main ke rumah. Jadilah mereka asisten saya. Ini hasilnya :p

Pan-banana-cake memang lebih pas diolah dari pisang yang sudah masak karena selain manis, teksturnya lebih mudah dihaluskan.

Bahan-bahan:
- pisang masak, haluskan (saya biasanya menghaluskan dengan bagian bawah gelas)
- terigu
- 1 butir telur
 - cokelat masak & keju parut untuk topping

Pisang yang sudah halus dicampur dengan kocokan telur. Aduk rata, baru masukkan terigu sedikit demi sedikit. Saya biasanya tidak pakai ukuran terigu. Yang penting adonan sudah agak padat.

Adonan didadar di atas pan. Setiap dadarnya dioles cokelat masak. tupuk hingga lima lembar (atau sesuka hati :D ). Bagian atas ditaburi keju. Jadi deeeh (^^,)bb
Readmore - Pan-banana-cake

Lihat Lebih Dekat


Dahulu, kita seringkali ditipu dengan sesuatu yang tampak di permukaan. Jika ia merah, kita berkata merah. Jika ia biru, kita berkata biru. Jika ia kuning, kita berkata kuning. Padahal, sungguh ada sesuatu yang lain yang tersembunyi dan menyiratkan warna yang mungkin akan tampak lebih indah jika kita amati.

Ya, begitulah hidup. Kita seringkali men-judge sesuatu seperti yang tampak dari luar. Dia baik. Dia jahat. Dia egois. Dia periang. Begitulah. Padahal yang ‘sebenarnya’ mungkin saja tersembunyi dan tak mampu tertangkap retina.

Mengapa tidak mencoba melihat dari beberapa sisi, agar kita tak melewatkan sesuatu yang berharga, sebuah hikmah mungkin, yang tersemat hampir tak terlihat? Karena sungguh, Tuhan menebarkan hikmah tak hanya di satu tempat.

Saya, layaknya remaja, meski tak lagi berumur belasan, senang menikmati banyak hal yang mampu memunculkan senyum dan tawa. Apa saja. Tulisan. Lagu. Film. Drama. Karena saya memiliki banyak waktu untuk mencicipi segala macam ‘kenikmatan’ itu. Tetapi, teringat dengan petuah Rasul, “Salah satu pertanda kemusliman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya”, saya berusaha untuk tetap mengambil hikmah dari setiap apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasa.

Seperti pagi ini. Untuk yang kedua kalinya saya menonton film berjudul ‘Attack on the Pin-Up Boys’. Teman yang tahu bahwa film ini dibintangi oleh Super Junior pasti mencibir saya, “Memang ga ada tontonan lain yang lebih bermanfaat ya?”. Ah, saya hanya ingin tertawa. Setidaknya, meniatkan untuk menghibur diri tidaklah salah.

Tetapi, lihatlah, ternyata film itu membuat saya memikirkan sesuatu tentang kehidupan di masa SMA. Hei, kita pernah (atau bahkan akan?) melalui masa itu. Masa ketika kita begitu khawatir dengan masa depan, berusaha keras untuk belajar, agar diterima di universitas impian. Hebat! Film ini begitu jujur mengungkapkan tentang berbagai gejolak yang ada di masa itu.

Kisahnya sederhana. Tentang seorang anak yang bosan dengan rutinitas sekolah. Belajar, belajar, belajar. Padahal belum tentu mereka bisa lolos di seleksi masuk perguruan tinggi. “Orang dewasa bilang, kami para remaja sangatlah potensial. Tapi, pernahkah mereka memikirkan bahwa kami begitu takut menghadapi hidup?”. Dan mungkin, cara mereka meminimalisasi ketakutan itu adalah dengan mencari kesenangan.

Istilah ‘kesenangan’ dalam versi remaja itu ditunjukkan dengan adegan-adegan konyol dari mereka yang ingin terkenal. Lelaki yang memiliki ‘pretty-face’ menikmati ribuan kado yang diberikan penggemarnya, lelaki yang jago basket dikunjungi ribuan fans di homesite-nya, dan lelaki yang menjadi vokalis band begitu bangga ketika konsernya dikunjungi banyak orang. Namun pada akhirnya ketiganya bernasib sama, dilempar dengan ‘kotoran’ oleh orang tak dikenal.

Bukannya kehilangan popularitas, ketiga orang di atas justru semakin populer. Populer ini yang dicari oleh sebagian besar anak SMA (di dalam ceritanya). Mereka ingin sekali diperhatikan oleh banyak orang. Mereka ingin menjadi ‘pusat dunia’, di mana semua mata tertuju kepada mereka. Mereka ingin, segala sesuatu yang menjadi milik mereka dianggap penting oleh setiap orang. Bukankah kita, dahulu di masa SMA, merasa seperti itu?

Mungkin, kita sekarang, jika sudah melewatinya, seharusnya semakin mengerti ketika menyikapi persoalan remaja usia SMA, SMK, MA, atau yang sederajat dengannya. Apalagi, kita yang menganggap diri adalah seorang guru. Ada banyak hal yang dimiliki dan diingini oleh mereka, anak-anak remaja. Cara kita menyelipkan ‘pelajaran’ sepetinya perlu ditinjau lagi. Memaksakan, atau lebih baik mengajak? Ternyata, kita perlu ekstra berhati-hati dalam menyelipkan ‘ilmu’ ketika bertutur juga bersikap.

Tampaknya tulisan ini agak ambigu. Ntahlah, hanya ingin menuangkan sesuatu tentang masa 'belasan tahun'. Agaknya saya hanya sedang teringat dengan kasus pencurian sandal jepit dan belasan tandan pisang, tentang anak-anak yang 'dipaksa' menghadapi UN yang dilematis, tentang anak-anak yang pada akhirnya menghadapi hal terbesar dalam hidup mereka: bersaing dengan ribuan orang untuk mendapatkan salah satu bangku di universitas harapan mereka, fenomena girlband-boyband yang semakin marak (dan tampaknya semakin banyak remaja yang beralih konsentrasi ke dunia hiburan), dan berbagai hal yang semakin muncul ke permukaan dan bertema sama: tentang remaja. Dunia yang unik sekaligus yang menentukan ke mana 'bangsa' ini akan melangkah.

Yah, hanya terusik dengan pemikiran ini saja. Sekaligus mengingatkan (diri sendiri) untuk terus mencari hikmah dariNya yang berserakan.

Ini, hanya sisipan, tetapi saya menyukainya: lyric dari soundtrack film yang baru saja saya ceritakan di atas. ‘Wonder Boy’ judulnya.

You can choose your future

The concept of your life

I’m doing well, I am fine person

Trust yourself, look into the mirror

With the light glimmering around

You as you smile

There could be sad memories

that make you cry

Don’t forget that you have a shoulder

to lean on this world

I have the whole world in my heart

Let’s keep running

For tomorrow, for our future

To become a shining light under the sun

Wonder Boy, yeah!

He always has a secret

but it’s easy to find the answers

Dance with me

Just move your body to the music

Don’t be afraid, girl

You don’t have to fear anything

except fear itself

There could be sad memories

that make you cry

I’m the one who will start and end it

Let there be light and become shining star

The sun is welcoming me with rays of light

I just need one umbrella and that will be fine

Don’t hide your tears from me

You can lean on my shoulder and cry out loud

Looking at the crimson red sun setting in the sky

It’s spectacle that the heavens have given me

There is no end

A bright future lies ahead of you

The sun bathes me with its warm light under the blue sky

I just need one umbrella and that will be fine

To become a shining light under the sun

Semoga semakin bijak

12 Januari 2012

20.43

Readmore - Lihat Lebih Dekat

11 Januari 2012

Aghnia-ku (Part-3)


“Dadadadaddaaddd..” celotehnya tak jelas.
Sesekali jemarinya dimasukkan ke dalam mulut, atau sekedar menggesek-gesekkan gusi atas dengan gusi bawah. Mungkin gatal karena gigi seri bawahnya mulai tumbuh. Ia tertawa, aku senang. Karena pagi ketika aku tiba, ia masih pucat dan terlihat lemas.

Aghnia, sepupu bungsuku yang baru sembilan bulan itu, jumat kemarin baru check out dari rumah sakit untuk yang kedua kalinya. Radang usus. Kabarnya, ia sudah dipaksa menelan nasi padahal belum dibiasakan dengan bubur lembut.
Karena itulah aku ingin menjadi ibu yang cerdas. Jika pun suatu saat anakku sakit, sakitnya bukan disebabkan kelalaian dan ketidaktahuanku.

Cepat sembuh ya, Aghnia sayang..
Readmore - Aghnia-ku (Part-3)

10 Januari 2012

RE


Ntah apa yang menggerakkan kakiku untuk melangkah menuju tempat ini. Tempat yang dahulu pernah menjadi markas rahasia seseorang yang diam-diam ku perhatikan.

Tidak seperti teman-teman lain yang menyisir rambutnya dengan rapi, ia membiarkan saja rambut lebatnya itu bertengger sesuka hati di kepalanya. Ia baru akan menyisir jika Ibu Guru sudah memarahi.

Ia seorang pendiam. Tak banyak orang yang tahu bahwa ia sebenarnya punya banyak karya. Aku menemukan beberapa puisi dan gambar menarik di laci mejanya ketika piket membersihkan kelas suatu hari. Aku, yang oleh Ibu Guru diberi peringkat satu, merasa begitu iri karena tak mampu membuat puisi dan gambar sebagus buatan Re.

Ya, namanya Renaldi. Meski teman-teman lebih suka memanggilnya Aldi, untukku namanya adalah Re. Mungkin karena nama kami sama-sama memiliki dua huruf itu. Reika, Renaldi. Dan aku menyukai sesuatu yang mirip dengan apa yang kumiliki.

Dahulu di sini, di tempat ini, aku sering menjumpainya. Ini hanyalah sebuah pohon talok. Namun, letaknya yang terlalu menjorok ke sungai membuat Ibu Guru tidak mengizinkan kami bermain terlalu dekat. Lagipula, jaraknya dari sekolah cukup jauh. Karena tak banyak anak yang mampir, maka Re menjadikannya markas rahasia.

Aku menemukan markas ini pertama kali ketika sapu tanganku terjatuh ke selokan sepulang sekolah. Aliran airnya deras sekali, membuatku berlari mengejar sapu tangan itu hingga ke sungai. Aku tak berani mengambilnya. Tetapi, itu sapu tangan kesayanganku. Maka aku menangis melihat sapu tangan itu semakin menjauh dibawa aliran sungai.

“Ini.”

Aku menoleh dan menemukan Re yang tiba-tiba telah berada di dekatku, menyodorkan segenggam buah talok berwarna kemerahan.

“Jangan menangis,” katanya lagi.

Aku mengusap air mataku dan mengambil satu, yang berwarna paling mencolok, dari tangan Re. Memencet buahnya dan membiarkan airnya menetes ke kerongkongan, seperti obat tetes yang diberikan Bu Bidan di Posyandu.

“Ambil lima, nanti sedihmu hilang.”


 Re memilihkan buah talok yang menurutnya paling manis, membuka telapak tanganku, dan meletakkan empat buah talok yang sebesar biji kelengkeng itu.

“Lima?” Aku menatap Re tak mengerti. “Mengapa harus lima?”

Re tertawa kecil. “Aku hanya menyukai angka lima.”

Aku tersenyum kemudian mengambil satu-persatu buah itu untuk kubiarkan sari-sarinya memenuhi mulutku. Mencecapnya sejenak sebelum mengalirkannya menuju lambung.

“Terima kasih,” ucapku.

***

Awalnya aku mengira pertemuanku dengan Re di dekat sungai itu karena Re yang kebetulan melintas. Ternyata, Re memang selalu datang ke tempat itu sepulang sekolah. Memanjat dahan-dahan talok, memetik buahnya, atau sekedar duduk bersandar di batangnya sembari melemparkan kerikil ke sungai. Terkadang, ia membuat beberapa coretan di sebuah kertas. Melipatnya menjadi perahu kemudian dihanyutkannya ke sungai.

Aku tahu karena aku selalu mengikutinya. Bersembunyi di rerimbunan tanaman berbunga terompet untuk melihat apapun yang Re lakukan. Aku takut Re tahu, karena ia pernah memarahiku ketika aku berkata ingin ikut ke markasnya.

“Markas ini rahasia,” kata Re. “Hanya aku yang boleh memilikinya.”

Aku hanya penasaran mengapa Re selalu datang ke tempat ini. Dan ingin tahu, mengapa ia selalu melakukan segala sesuatunya sendiri. Aku ingin menjadi temannya.

Hingga suatu saat, aku melihatnya menangis.

Aku baru saja tiba dan bersembunyi di balik bunga-bunga terompet ketika melihat Re berdiri mematung selama puluhan menit menghadap ke sungai. Lama-kelamaaan, bahunya berguncang, tangan kanannya pun bergerak untuk mengusap mata. Selama belasan menit, tangisnya belum juga reda. Merasa kasihan, aku pun ikut menangis.

***

Pagi-pagi sekali, sebelum anak-anak yang lain datang, aku sudah berangkat ke sekolah. Setelah meletakkan tas di bangku, aku bergegas menuju markas rahasia Re dengan permen gula-gula kacang dan seutas tali di tangan. Jika Re memberi sesuatu yang ia suka ketika aku sedih, maka aku pun akan memberikan sesuatu yang kusuka ketika ia sedih.

Permen gula-gula kacang itu kubariskan di dahan talok kemudian kuikat dengan tali. Di tengahnya, kusematkan sebuah tulisan, “Makanlah lima, sedihmu akan hilang.”

Merasa puas, aku pun kembali ke kelas.

Seperti biasa, aku mengikuti Re ke markasnya sepulang sekolah, bersembunyi di tempat persembunyianku, dan memperhatikan apa yang dilakukan Re.

Menemukan talok yang disematkan permen gula-gula kacang, Re terlihat terkejut. Tangannya pun meraih kertas yang kuselipkan di sana. Ia menoleh, ke kanan, ke kiri, ke depan, juga ke belakang.

“Aku tahu kau di sana,” seru Re. “Keluarlah.”

Aku tercengang. Tetapi diam di tempat.

“Keluar kataku, Re!” suaranya meninggi. Ia tahu itu aku.

Aku keluar dari tempat persembunyian, menghampiri Re dengan kepala tertunduk.

“Bodoh.” Re menjitak kepalaku sambil tertawa. Aku sedikit terkejut. Kukira ia akan memarahiku. “Apa-apaan ini?”

Aku menghembuskan napas, sedikit mengangkat bahu ketika berkata, “Tidak ingin kau sedih, itu saja.”

“Aku tidak sedih.”

“Bohong. Kemarin kau menangis.”

Re diam, tetapi mata elangnya menatapku tajam, “Kau di sini kemarin?”

Aku menunduk. Jika mengaku, pasti Re memarahiku.

Re memalingkan wajah ke arah pohon talok. Tangan kanannya meraih permen gula-gula kacang, kemudian duduk bersandar di dahannya, membuka plastik pembungkus, dan menggigit ujung permennya sembari menatap aliran sungai.

“Sudah kubilang, markas ini rahasia,” katanya tanpa mengerlingku. “Tapi, gula-gula kacang ini kuanggap sebagai persembahan. Kau boleh memiliki markas ini juga.”

Aku tersenyum, menatap pohon talok itu dari daun teratasnya, hingga ke akar yang diduduki Re. Tanganku pun bergerak untuk mengelus batangnya. Seolah mengucapkan terima kasih karena akhirnya aku bisa menjadi teman Re.

Selama puluhan hari ke depan, aku banyak menghabiskan waktu bersama Re di bawah talok itu. Terkadang ia membuat puisi tentangku. “Anak Cengeng Keras Kepala,” misalnya. Di lain waktu, ia membuat gambar perempuan berseragam putih merah yang menggenggam permen gula-gula kacang. Aku senang. Sebagai gantinya, aku akan bercerita tentang negeri dongeng yang kubaca dari buku-buku yang dibelikan Mama untukku.


***

Tidak banyak yang berubah. Re tetap pendiam di kelas. Tidak juga ikut bermain kelereng, kejar-kejaran, atau petak umpet ketika istirahat. Aku tak berani menyapanya karena ia bilang, kami berteman hanya di markas rahasia.

Jika aku bermain lompat tali atau membuat rumah-rumahan di tanah, aku mengerling Re. Pun ketika aku tertawa, aku pasti mengerling Re. Aku ingin mengajaknya bermain, aku ingin membuat Re tertawa, tidak hanya di markas rahasia.

Tetapi, keinginanku itu tidak pernah tercapai. Kami berpisah ketika naik ke kelas dua, Re tidak pernah bercerita. Tahu-tahu di awal tahun pelajaran, Ibu Guru mengabarkan kalau Re sudah di Solo bersama pamannya. Aku kecewa dan menangis ketika berlari menuju markas rahasia sepulang sekolah.

***

Aku kembali berdiri di sini, di bawah pohon talok yang sama seperti belasan tahun yang lalu. Menatap aliran sungai yang tak lagi mampu kulihat bagian dasarnya karena air yang keruh, dengan angan bergerak bersama memori tentang masa itu.

Nama Re masih melekat pada namaku. Mungkin karena itulah aku tak bisa melupakannya. Meski sempat, di masa ketika aku beranjak remaja, ada seseorang yang lain yang singgah sejenak di hatiku. Juga ketika aku memasuki usia dewasa dan diiming-imingi kehidupan mandiri bersama seseorang yang datang dan memintaku dari Papa. Nama Re masih ada. Tersimpan di salah satu bilik di hatiku.

Aku tertawa kecil. Merasa bodoh dengan perasaan yang selama ini kubiarkan memenuhi rongga dadaku dengan liarnya. Seharusnya aku berpikir realistis. Ini bukan negeri dongeng yang selalu berakhir dengan kata-kata “Happily ever after”. Bahwa setiap yang kita cinta akan kita miliki. Aku seharusnya berpikir dewasa tentang ini. Bahwa kehidupan masih sangat panjang untuk dijalanani dan tak semestinya kita terlalu lama mengenang masa yang telah terlewati.

Pandanganku beralih ke pohon talok yang semakin terlihat rapuh. Meski masih berdiri, dedaunannya tak lagi lebat seperti dulu. Mungkin, begitu pula kita suatu saat nanti, menjadi rapuh bahkan mati.

Aku menghembuskan napas panjang. Talok ini, jikapun suatu saat nanti akan mati, ia tidak akan mati sia-sia. Rindangnya sempat menaungi kami dari teriknya mentari. Buahnya sempat mengusir rasa sedih ketika sapu tanganku terbawa aliran air. Dan akar-akarnyalah yang selama ini menjaga agar kami tak terpeleset tanah yang licin. Tanganku pun bergerak untuk mengusap ranting, dahan, dan akar talok itu. Berharap mampu menjadi sepertinya, meninggalkan manfaat sebelum kemudian rapuh dan mati.

Aku berbalik untuk menghampiri matic yang mengantarkanku ke sini. Namun, langkahku terhenti. Kedua retinaku menangkap sosok yang berdiri di tempat dahulu bunga terompet tumbuh dengan rimbun. Aku tertegun. Terpaku tepat di tanah tempatku berpijak. Tak berkedip menatap sosok itu.

Rambutnya masih lebat, namun tak lagi acak-acakan. Helai demi helainya bertengger lebih sopan di kepalanya. Mata elang itu yang membuatku sedikit menerka, siapa sesungguhnya ia.

Dadaku bergemuruh. Jantungku menambah kecepatannya berdetak. Bibirku bergetar, menahan sebuah rasa yang tiba-tiba membuncah. Namun, aku tetap di tempat.

Sosok itu mengambil sesuatu dari sakunya, permen gula-gula kacang. Membuat rasa di dadaku semakin meluap dan tumpah bersama air hangat dari sudut mata.

“Makan lima, dan sedihmu akan hilang,” kami berucap bersama.

***

Re melemparkan satu persatu kerikil di genggaman tangannya ke sungai. Pandanganku mengikuti kerikil yang dilemparkan Re yang kemudian menghilang setelah beradu dengan permukaan air dua hingga tiga kali. Sesekali aku mengais tanah, mencari kerikil untuk menambah persediaan kerikil di genggaman tangan Re.

“Aku hanya kebetulan singgah,” kata Re seolah tahu pertanyaan di dalam benakku. “Aku bersama kolega sedang survey lahan baru untuk disewa perusahaan.”

Re kembali melempar kerikilnya. Namun, aku tak lagi memperhatikan. Pandanganku lurus ke depan. Ntah melihat apa.

“Aku tahu, kau masih sering ke sini,” kata Re lagi. “Oleh karena itu aku datang.”

Tangannya berhenti melempar kerikil. Ia menghembuskan napas panjang.

“Aku memikirkan banyak hal tentangmu akhir-akhir ini,” Re mengerlingku sejenak. “Meski sempat melupakan banyak hal semenjak kepindahanku ke Solo, akhir-akhir ini aku seperti diingatkan kembali tentang sepenggal memori di masa itu. Di sini.”

Re menerawang, pandangannya tertuju pada gemawan yang bergerak perlahan.

“Aku memang tak pernah bercerita tentang perceraian orang tuaku. Aku tak ingin orang lain tahu aku sedih. Aku menyendiri, menyimpan sedih itu sendiri.” Re diam sejenak. Tangannya kini bergerak mencabuti rumput di sekitar kakinya.

“Dan aku tak habis pikir, ada orang sepertimu yang terus-menerus membututiku.”

Aku tertawa kecil. Masih jelas dalam ingatanku nada suara Re yang tinggi ketika memarahiku dulu.

“Tapi, untuk saat itu, apa yang kau lakukan sungguh melegakan.”

Aku tertunduk.

“Terima kasih.”

Aku tersenyum. Berniat mengucapkan kata yang sama untuk buah talok yang diberinya dahulu. Namun, Re tiba-tiba bangkit.

“Hanya itu,” katanya. “Aku menemuimu untuk mengucapkan terima kasih.”

Aku ikut bangkit. Tak beranjak meski Re perlahan meninggalkanku.

“Kau orang baik, Reika,” ucapnya seraya berbalik, belum benar-benar pergi. “Semoga orang yang baik juga yang mendampingimu kelak.”

Aku tertegun, masih tak bergerak dari tempatku berdiri. Di genggaman tanganku, ada permen gula-gula kacang yang tadi diberikan Re. Aku menatapnya, sedangkan bayangan tentang apapun yang ku tahu tentang Re berkelebat dalam pikiranku. Talok itu, sungai itu, gula-gula kacang itu, nama Re di dalam namaku.

“Re!” aku berseru. Ini kata pertama yang kuucapkan setelah belasan menit membisu.

Re yang baru saja membuka pintu mobilnya menoleh, sedikit mengangkat alis. Aku menunjukkan gula-gula kacang ke arahnya. Re menatap tak mengerti.

“Bagaimana jika orang baik itu adalah kau?”

***end***

Markas Rahasia, 9 Januari 2012
Augh-Lee-@
Request dari Fifyneechan
Maaf kalau ceritanya aneh
Aku ga bakat nulis beginian, hahaha
Mudah-mudahan tetap bermakna
Readmore - RE

9 Januari 2012

Luvy Brother


Suaranya serak. Kukira pengaruh dari flu yang memang mampir di hidungnya. Tapi, kata Mama mungkin seraknya tidak akan hilang. Suaranya mulai bertransformasi menjadi suara lelaki dewasa.

Senang melihatnya bertumbuh, adik bungsuku itu. Dibanding Bayu, dia yang lebih terasa adik. Mungkin karena usia yang terpaut sepuluh tahun. Aku tahu betul bagaimana ia karena sejak lahir, tanganku telah sering membopongnya.
Jika Bayu adalah teman bermain, teman bertengkar, body guard di jalan, Agil tetaplah adik. Yang darinya aku ingin melihat banyak asa dan cita tercipta.

Bicara dengan Agil membuatku merasa lebih dewasa dan mengerti bagaimana menyampaikan makna. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa ia berkata, “Kangennya sama Kakak, bukan Mas Bayu.” Karena Bayu menghadapinya seperti aku menghadapi Bayu, mengajaknya bermain.

Bayu dan Agil. Meski berbeda cara, aku ingin tetap melihat mereka menjadi orang hebat.
Readmore - Luvy Brother

Andesta


Gita Pesona Andesta, nama grup drumb Band SD kami itu. Dahulu, ketika SMP, Papa pernah bercerita tentang sekelompok pemuda yang menamai diri mereka, Andesta (Anak Desa Tambahrejo). Pemuda-pemuda ini melakukan banyak hal hebat, bahkan hingga sekarang. Membangun TPA semi modern, Baitul Maal, TK, Les Komputer dan Bahasa Inggris kecil-kecilan, bahkan mencetuskan banyak inovasi untuk SD dan TK, salah satunya Drumb Band.

Dan tahukah, salah satu pemuda itu adalah Papa.
Readmore - Andesta

6 Januari 2012

Dusun -_-

Dusun. Benar-benar dusun.

Gerimis belum reda. Tapi aku telah cukup lama on line dan tak ada lagi hal penting yang harus dikerjakan. Nekad, dari warnet yang dekat STKIP itu, meluncur untuk menjemput Mama di Wisma Rini.

Ngik.

Motor melenguh. Mati. Tiba-tiba. Tepat disamping monumen bambu seribu di depan kantor bupati. Ya ampun, ga elit betul.
Berkali-kali di’engkol’, motor tak kunjung mengeram, Ngambeg rupanya. Akhirnya kudorong ke Indomart depan SD N 1.

“Mama, mogooooook,” laporku melalui ponsel.

Tak sampai sepuluh menit, Mama datang bersama Om Ayun yang gagah perkasa.
Baru sekali engkol, “Brem breeeeeeeeeeem!”

“La kiiidaaaaaaaah,” kata Mama.

Om Ayun mengerlingku seperti berkata, “Cape deeeeh..”

Waaahahahah, memang dusun.
Readmore - Dusun -_-

Status Marietal

Instruksi dari Pak Bayan, kami sekeluarga, kecuali Agil, harus ke kecamatan untuk administrasi KTP elektrik.
Foto. Sidik jari. Eye print. Cek ulang data.

“Pa, status Lia apa?”

“Ya ‘belum kawin’ lah..”

“’kawin’ aja ya, ben ga mondar-mandir bikin KTP.”

“Lah, kegenitan,” kata Mama.

Waaahahahhahah
Readmore - Status Marietal

5 Januari 2012

Aghnia-ku (Part-2)


Ini alasan mengapa Aghnia selalu menatap curiga orang-orang yang datang. Ketika seorang perempuan muda berseragam putih mendekati, ia langsung menangis kencang sekali. Mungkin perih ketika puluhan mililiter cairan dari jarum suntik itu dimasukkan ke dalam selang infusnya.

Selama beberapa saat, Bibi kebingungan menenangkan. Apalagi aku, tak tahu harus bagaimana. Akhirnya kusodorkan ponsel bututku ke tangannya, menggoda Aghnia dengan lagu Insan Utama Haddad Alwi. Aghnia diam, sesaat memainkan ponsel itu seperti miliknya.

Muhammad (Lobow), mata Aghnia mulai sayu.

Tak Perlu Keliling Dunia (Gita Gutawa), Aghnia tertidur.

No Other (Super Junior), aduh aduh, genggaman tangannya kuat sekali memegang ponselku.

Hingga Ujung Waktu (Sheila on 7), ya ampuuun..

Untung Aghnia belum mengerti bahasa lagu. Ia hanya mendengar alunannya kan? Aku takut mengajarinya puber lebih dini. Huft..
Readmore - Aghnia-ku (Part-2)

Roaming

Baru saja tiba, Akas Nasir, di rumah. Mampir, sembari melayat tetangga kami yang meninggal. Paman Mama ini langsung mengajak berdialog panjang lebar.

“Mejong dija.”

“Ngakuk jak majic jar da’a.”

“Aih.. Api munih..”

Papa segera ke dapur, ntah karena alasan apa. Mengerlingku yang sedang menyeduh kopi dan berkata, “Mbokmu kae ngomong Bahasa Enggres.”
Aku tergelak. Mengerti bahwa bahasa dialog dua pribumi ini memang asing terdengar di rumah kami. Bahasa Komering kawan, asalnya dari Sumatera bagian selatan. Dan Papa yang Jawa tulen, meski mengerti, jengah juga karena tak biasa.
Readmore - Roaming

4 Januari 2012

Aghnia-ku (Part-1)


Setiap kali ada yang datang, ia menatap curiga. Tak berkedip. Seperti memamerkan bola matanya yang jernih. Ia tetap cantik bahkan ketika marah ataupun menangis.

“Cape’, ya Dek..” Mama membopongnya, berhati-hati karena tangan kirinya diinfus.

“Cepat sembuh dong, biar bisa main lagi.”

Aghnia sayang..
Readmore - Aghnia-ku (Part-1)

3 Januari 2012

Perahu untuk Bapak


“Mengapa kau selalu membawanya,” aku menunjuk perahu kertas berwarna merah jambu di tangan Anna. “Dan menghanyutkannya bersama ombak?”

“Agar bapak bisa pulang,” Anna berpaling dan menatap air yang bergerak menjauhi kakinya yang tak beralas. “Anna rindu bapak…”

Anna membungkuk ketika ombak kecil kembali datang dan membasahi kaki-kaki kami, menghanyutkan perahu merah jambu yang telah ditulisnya dengan sebait pesan.

“Ibu bilang, bapak berada di sebuah negeri bernama Annania.” Mata kumbangnya menatapku. “Negeri itu indah, pasti bapak betah.”

Perlahan, ombak kembali menjauh. Membawa serta perahu merah jambu Anna.

“Tapi, Anna ingin bapak pulang.” Suaranya mulai terdengar parau. “Ibu sakit. Anna tidak bisa menjaganya sendirian.”

Bulir bening itu turun perlahan, dari mata, kemudian melewati pipinya yang tirus.

“Anna akan terus membuatkan perahu untuk bapak. Seratus. Seribu. Bahkan selaksa. Agar bapak bisa pulang…”

Aku terpaku. Lidahku kelu. Namun, pikiranku dipenuhi banyak hal tentang Anna, juga tentang seseorang yang disebutnya bapak. Aku tahu siapa yang ia maksud. Aku mengenalnya karena telah menghabiskan sepuluh tahun usia bersamanya. Dan aku datang untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Anna, perempuan yang tak pernah sekalipun melihat wajah bapak sejak dilahirkan.

Aku menghembuskan napas panjang, berusaha keras meredakan gemuruh yang semakin berguruh di dadaku. Sesak ketika aku harus menghadapi kenyataan bahwa di sini, aku adalah pemeran antagonis. Bahwa akulah yang merampas kebahagiaan Anna dan ibunya.

Lembut sang bayu perlahan berhembus, menerbangkan butiran bening yang ntah dari mana tiba-tiba membasahi pipiku. Aku tak hendak menyesalkan apapun. Meski sungguh, perlahan perih itu mulai merambah ke setiap sudut hatiku. Perih karena kebenaran tentang Anna baru kuketahui setelah kepergian lelaki itu. Sepuluh tahun, dan ia sungguh pandai menutupinya.

Namun, perih itu pastilah tak seberapa dibandingkan sepuluh tahun yang dilalui Anna, juga ibunya. Aku merasa begitu jahat karena membiarkan lelaki itu menghabiskan waktunya bersamaku, di kota. Bukan bersama Anna dan ibunya.

“Anna,” ucapku seraya membelai rambutnya yang berwarna kemerahan. “Ikut Tante ke kota ya, kita ajak ibu berobat sampai kembali sehat.”

Hanya itu yang bisa kulakukan. Jika pun aku tak dapat membawa bapak pulang, setidaknya ibu mampu menemani Anna dalam sehat.

“Tak perlu menunggu bapak,” kataku. “Karena bapak telah berlayar jauuuh sekali. Menuju negeri yang suatu saat nanti pasti akan kita kunjungi.”

Ini caraku menyampaikan permintaan maaf. Dariku, juga dari Kusuma, bapak Anna, sekaligus bapak dari anak-anakku di kota.

Readmore - Perahu untuk Bapak