Social Icons

22 Januari 2012

“Aku Sayang Bunda, Karena Allah..”




Suka sekali dengan penulisan kata ini, ‘per-empu-an’. Ya. Seringkali kata itu disebut ‘wanita’, ‘putri’, bahkan ‘cewek’. Tetapi, saya lebih suka dengan kata ‘per-empu-an’. Seorang ustadz yang suatu saat mengenalkannya. Dan ternyata, makna ‘per-empu-an’ sangatlah dalam. Kata empu, yang dalam bahasa sansekerta dianggap sebagai orang pintar, di mana banyak orang berguru bahkan mengiyakan kata-katanya itu, disematkan untuk ‘per-empu-an’, sebagai penghormatan kepada perempuan yang memang mengemban tugas yang begitu mulia, mendidik para calon putra-putri yang hebat di hadapanNya.


Perempuan mana yang tidak rindu untuk dipanggil ‘Ibu’, ‘Emak’, ‘Mama’, atau bahkan ‘Bunda’? Sebuah panggilan yang datang dari bibir mungil yang selalu merindukan dekapan hangat kita. Ketika mereka senang, ketika mereka sedih, ketika mereka sakit, ketika mereka kecewa, ketika mereka bangga, ketika mereka gundah, bahkan ketika mereka merasakan emosi sekecil apapun, kitalah yang mereka cari untuk sekedar berbagi. Dan kita, yang begitu dipercaya dalam amanah ini, sudah mempersiapkan diri sejauh apa kah?


Mungkin, saya adalah satu dari sekian banyak perempuan yang merindukan hadirnya sosok mungil itu. Dan mungkin juga, keinginan itu yang pada akhirnya menggerakkan kaki untuk melangkah dan memutuskan untuk membeli buku 60 Snack Favorit Bekal Sekolah 3 Bulan. Masih jauh memang, dua atau tiga tahun lagi atau bahkan lebih, keinginan itu baru terkabul. Hanya ingin melakukan yang saya suka, itu saja. Misalnya, mencoba berbagai resep masakan sederhana yang dari penulisnya saya tahu masakan ini tak hanya menarik dan mengenyangkan, tetapi juga penuh nutrisi.


Seorang Bunda harus cerdas, begitu kan? Ketika menjaga sang buah hati di dalam rahim mereka. Tidak mengonsumsi apapun kecuali yang halal dan toyyib (baik). Melakukan aktivitas yang mendekatkan sang buah hati kepada Tuhannya sejak dini. Membentuk kecerdasan otak dari alunan suara lembut di sekitarnya. Pun ketika ia akhirnya menatap dunia. Bunda haruslah pandai menjaga nutrisi lahir juga batinnya.


Seorang Bunda harus telaten. Tak peduli apakah ia pandai memasak atau tidak. Karena yang menjadikan masakan itu enak dikunyah adalah cinta dari sang Bunda sendiri. Cobalah bertanya kepada teman, lelaki ataupun perempuan, “Masakan siapa yang paling enak?”


Cinta Bundalah yang menjadikan dekapannya hangat, pelukannya menenteramkan. Cinta Bundalah yang menjadikan suaranya begitu merdu ketika memberi nasehat. Dan, cinta Bunda jualah yang menjadikan diri begitu rindu ketika jauh darinya.


Saya, memiliki banyak sekali cita-cita ketika kata ‘Bunda’ itu disematkan kepada saya. Mengajarkan kepadanya bagaimana cara berbakti kepada Tuhan; menemaninya jelang tidur dengan berbagai kisah dahsyat para nabi dan syuhada; mendengarkan celoteh tentang hari-harinya yang luar biasa; membuatkan bekal sekolah agar ia tak mengonsumsi jajanan tak sehat; membuat sendiri ‘Buku Pintar’ yang berisi gambar buah, hewan, tempat wisata, atau apapun agar ia mengenal dunia, lewat kreasi tangan saya; hadir di setiap hari-hari terpentingnya; dan banyak lagi mimpi yang lain. Saya ingin ia menjadi jauh lebih hebat dari saya, maka terlebih dahulu saya harus menjadi hebat, kan?


Ini cita-citaku, apa cita-citamu, Bunda? ^^

2 komentar: