Social Icons

13 Januari 2012

Lihat Lebih Dekat


Dahulu, kita seringkali ditipu dengan sesuatu yang tampak di permukaan. Jika ia merah, kita berkata merah. Jika ia biru, kita berkata biru. Jika ia kuning, kita berkata kuning. Padahal, sungguh ada sesuatu yang lain yang tersembunyi dan menyiratkan warna yang mungkin akan tampak lebih indah jika kita amati.

Ya, begitulah hidup. Kita seringkali men-judge sesuatu seperti yang tampak dari luar. Dia baik. Dia jahat. Dia egois. Dia periang. Begitulah. Padahal yang ‘sebenarnya’ mungkin saja tersembunyi dan tak mampu tertangkap retina.

Mengapa tidak mencoba melihat dari beberapa sisi, agar kita tak melewatkan sesuatu yang berharga, sebuah hikmah mungkin, yang tersemat hampir tak terlihat? Karena sungguh, Tuhan menebarkan hikmah tak hanya di satu tempat.

Saya, layaknya remaja, meski tak lagi berumur belasan, senang menikmati banyak hal yang mampu memunculkan senyum dan tawa. Apa saja. Tulisan. Lagu. Film. Drama. Karena saya memiliki banyak waktu untuk mencicipi segala macam ‘kenikmatan’ itu. Tetapi, teringat dengan petuah Rasul, “Salah satu pertanda kemusliman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya”, saya berusaha untuk tetap mengambil hikmah dari setiap apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasa.

Seperti pagi ini. Untuk yang kedua kalinya saya menonton film berjudul ‘Attack on the Pin-Up Boys’. Teman yang tahu bahwa film ini dibintangi oleh Super Junior pasti mencibir saya, “Memang ga ada tontonan lain yang lebih bermanfaat ya?”. Ah, saya hanya ingin tertawa. Setidaknya, meniatkan untuk menghibur diri tidaklah salah.

Tetapi, lihatlah, ternyata film itu membuat saya memikirkan sesuatu tentang kehidupan di masa SMA. Hei, kita pernah (atau bahkan akan?) melalui masa itu. Masa ketika kita begitu khawatir dengan masa depan, berusaha keras untuk belajar, agar diterima di universitas impian. Hebat! Film ini begitu jujur mengungkapkan tentang berbagai gejolak yang ada di masa itu.

Kisahnya sederhana. Tentang seorang anak yang bosan dengan rutinitas sekolah. Belajar, belajar, belajar. Padahal belum tentu mereka bisa lolos di seleksi masuk perguruan tinggi. “Orang dewasa bilang, kami para remaja sangatlah potensial. Tapi, pernahkah mereka memikirkan bahwa kami begitu takut menghadapi hidup?”. Dan mungkin, cara mereka meminimalisasi ketakutan itu adalah dengan mencari kesenangan.

Istilah ‘kesenangan’ dalam versi remaja itu ditunjukkan dengan adegan-adegan konyol dari mereka yang ingin terkenal. Lelaki yang memiliki ‘pretty-face’ menikmati ribuan kado yang diberikan penggemarnya, lelaki yang jago basket dikunjungi ribuan fans di homesite-nya, dan lelaki yang menjadi vokalis band begitu bangga ketika konsernya dikunjungi banyak orang. Namun pada akhirnya ketiganya bernasib sama, dilempar dengan ‘kotoran’ oleh orang tak dikenal.

Bukannya kehilangan popularitas, ketiga orang di atas justru semakin populer. Populer ini yang dicari oleh sebagian besar anak SMA (di dalam ceritanya). Mereka ingin sekali diperhatikan oleh banyak orang. Mereka ingin menjadi ‘pusat dunia’, di mana semua mata tertuju kepada mereka. Mereka ingin, segala sesuatu yang menjadi milik mereka dianggap penting oleh setiap orang. Bukankah kita, dahulu di masa SMA, merasa seperti itu?

Mungkin, kita sekarang, jika sudah melewatinya, seharusnya semakin mengerti ketika menyikapi persoalan remaja usia SMA, SMK, MA, atau yang sederajat dengannya. Apalagi, kita yang menganggap diri adalah seorang guru. Ada banyak hal yang dimiliki dan diingini oleh mereka, anak-anak remaja. Cara kita menyelipkan ‘pelajaran’ sepetinya perlu ditinjau lagi. Memaksakan, atau lebih baik mengajak? Ternyata, kita perlu ekstra berhati-hati dalam menyelipkan ‘ilmu’ ketika bertutur juga bersikap.

Tampaknya tulisan ini agak ambigu. Ntahlah, hanya ingin menuangkan sesuatu tentang masa 'belasan tahun'. Agaknya saya hanya sedang teringat dengan kasus pencurian sandal jepit dan belasan tandan pisang, tentang anak-anak yang 'dipaksa' menghadapi UN yang dilematis, tentang anak-anak yang pada akhirnya menghadapi hal terbesar dalam hidup mereka: bersaing dengan ribuan orang untuk mendapatkan salah satu bangku di universitas harapan mereka, fenomena girlband-boyband yang semakin marak (dan tampaknya semakin banyak remaja yang beralih konsentrasi ke dunia hiburan), dan berbagai hal yang semakin muncul ke permukaan dan bertema sama: tentang remaja. Dunia yang unik sekaligus yang menentukan ke mana 'bangsa' ini akan melangkah.

Yah, hanya terusik dengan pemikiran ini saja. Sekaligus mengingatkan (diri sendiri) untuk terus mencari hikmah dariNya yang berserakan.

Ini, hanya sisipan, tetapi saya menyukainya: lyric dari soundtrack film yang baru saja saya ceritakan di atas. ‘Wonder Boy’ judulnya.

You can choose your future

The concept of your life

I’m doing well, I am fine person

Trust yourself, look into the mirror

With the light glimmering around

You as you smile

There could be sad memories

that make you cry

Don’t forget that you have a shoulder

to lean on this world

I have the whole world in my heart

Let’s keep running

For tomorrow, for our future

To become a shining light under the sun

Wonder Boy, yeah!

He always has a secret

but it’s easy to find the answers

Dance with me

Just move your body to the music

Don’t be afraid, girl

You don’t have to fear anything

except fear itself

There could be sad memories

that make you cry

I’m the one who will start and end it

Let there be light and become shining star

The sun is welcoming me with rays of light

I just need one umbrella and that will be fine

Don’t hide your tears from me

You can lean on my shoulder and cry out loud

Looking at the crimson red sun setting in the sky

It’s spectacle that the heavens have given me

There is no end

A bright future lies ahead of you

The sun bathes me with its warm light under the blue sky

I just need one umbrella and that will be fine

To become a shining light under the sun

Semoga semakin bijak

12 Januari 2012

20.43

0 komentar:

Posting Komentar