Social Icons

3 Januari 2012

Perahu untuk Bapak


“Mengapa kau selalu membawanya,” aku menunjuk perahu kertas berwarna merah jambu di tangan Anna. “Dan menghanyutkannya bersama ombak?”

“Agar bapak bisa pulang,” Anna berpaling dan menatap air yang bergerak menjauhi kakinya yang tak beralas. “Anna rindu bapak…”

Anna membungkuk ketika ombak kecil kembali datang dan membasahi kaki-kaki kami, menghanyutkan perahu merah jambu yang telah ditulisnya dengan sebait pesan.

“Ibu bilang, bapak berada di sebuah negeri bernama Annania.” Mata kumbangnya menatapku. “Negeri itu indah, pasti bapak betah.”

Perlahan, ombak kembali menjauh. Membawa serta perahu merah jambu Anna.

“Tapi, Anna ingin bapak pulang.” Suaranya mulai terdengar parau. “Ibu sakit. Anna tidak bisa menjaganya sendirian.”

Bulir bening itu turun perlahan, dari mata, kemudian melewati pipinya yang tirus.

“Anna akan terus membuatkan perahu untuk bapak. Seratus. Seribu. Bahkan selaksa. Agar bapak bisa pulang…”

Aku terpaku. Lidahku kelu. Namun, pikiranku dipenuhi banyak hal tentang Anna, juga tentang seseorang yang disebutnya bapak. Aku tahu siapa yang ia maksud. Aku mengenalnya karena telah menghabiskan sepuluh tahun usia bersamanya. Dan aku datang untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Anna, perempuan yang tak pernah sekalipun melihat wajah bapak sejak dilahirkan.

Aku menghembuskan napas panjang, berusaha keras meredakan gemuruh yang semakin berguruh di dadaku. Sesak ketika aku harus menghadapi kenyataan bahwa di sini, aku adalah pemeran antagonis. Bahwa akulah yang merampas kebahagiaan Anna dan ibunya.

Lembut sang bayu perlahan berhembus, menerbangkan butiran bening yang ntah dari mana tiba-tiba membasahi pipiku. Aku tak hendak menyesalkan apapun. Meski sungguh, perlahan perih itu mulai merambah ke setiap sudut hatiku. Perih karena kebenaran tentang Anna baru kuketahui setelah kepergian lelaki itu. Sepuluh tahun, dan ia sungguh pandai menutupinya.

Namun, perih itu pastilah tak seberapa dibandingkan sepuluh tahun yang dilalui Anna, juga ibunya. Aku merasa begitu jahat karena membiarkan lelaki itu menghabiskan waktunya bersamaku, di kota. Bukan bersama Anna dan ibunya.

“Anna,” ucapku seraya membelai rambutnya yang berwarna kemerahan. “Ikut Tante ke kota ya, kita ajak ibu berobat sampai kembali sehat.”

Hanya itu yang bisa kulakukan. Jika pun aku tak dapat membawa bapak pulang, setidaknya ibu mampu menemani Anna dalam sehat.

“Tak perlu menunggu bapak,” kataku. “Karena bapak telah berlayar jauuuh sekali. Menuju negeri yang suatu saat nanti pasti akan kita kunjungi.”

Ini caraku menyampaikan permintaan maaf. Dariku, juga dari Kusuma, bapak Anna, sekaligus bapak dari anak-anakku di kota.

0 komentar:

Posting Komentar