Social Icons

15 Januari 2012

Sebuah Rekaman tentang Hikmah


Kembali menemukannya, sahabat hebat saya itu, setelah dalam rentang waktu yang cukup lama kami tak bersua. Dalam sebuah kesempatan, sengaja saya men-tag-nya karena note yang menyinggung ‘proyek’ yang pernah kami rancang bersama rekan-rekan lain, dahulu di tempat kami bekerja. Ia pun muncul dengan komentar singkat. Ternyata, saat ini adalah saat ‘free’ bagi ia yang biasa berkutat dengan job di sebuah World’s Oil and Gas Service Company di Kalimantan. Hingga ketika yahoo messenger-nya aktif, saya menyapa.

Ia, yang memang terbiasa berbagi dengan apapun yang ia miliki, akhirnya bercerita banyak hal.

“Apa yang lu pikirkan tentang tempat kerja gua sekarang? Uang? Melimpah. Tapi, pressure-nya juga tinggi.”

Ya. Ironis memang. Di perusahaan tempatnya bekerja, ‘lulusan’ tak sepenuhnya dipandang. Bahkan anak belasan tahun yang baru lulus SMK pun bisa diterima di perusahaan ini asalkan potensial dan berdedikasi tinggi. Gajinya pun tak kalah dengan lulusan institut terbaik yang bekerja di sebuah bank atau perusahaan menengah lokal. Lima juta rupiah minimal bisa dikantongi setiap bulannya.

“Gua memang ga alim. Gua masih sering bicara kotor.”

Paham sekali dengan caranya berbahasa. Meski ‘bangsat’, ‘telek’, ‘tai’, ‘muna’, ‘norak’, ‘cupu’, dan kata-kata lain sering ia sematkan dalam obrolan, ntah mengapa saya tak merasa risih. Memaklumi bahwa ia, yang dibesarkan dalam lingkungannya, hanya sedang mengekspresikan ceritanya.

“Tapi gua tau banget, apa yang dilarang.”

Saya masih menyimak.

“Di sini, gua dengan maksiat, cuma seujung kuku jaraknya.”

Sedikit membayangkan kondisinya di sana. Bersama junior field-engineer yang juga berasal dari Nigeria, Papua Nugini, Brazil, Malaysia, Jerman, dan negara lain, terkadang bercampur pula kebiasaan dan gaya hidupnya.

“Karena pressure yang tinggi itulah, ketika sekali aja kami free, langsung mencari kesenangan di luar. Nonton, makan, bahkan ke pub, panti pijat, yang lu pasti tau apa isinya.”

Miris jika membayangkan. Kehidupan macam apa itu.

“Gua masih menjaga sholat. Ikut makan tapi tetap nolak untuk minum.”

“Gimana cara kamu nolaknya?” tanya saya.

“Tergantung gimana lu membuat image tentang karakter diri lu sendiri di hadapan orang lain. Kami tetap main, tetap ngobrol, tapi mereka sama sekali ga protes ketika gua bilang, gua ga minum. Mereka paham gimana gua.”

Hebat. Sahabat saya yang satu ini memang sangat idealis. Perfeksionis bahkan. Dan ia benar-benar menjaga apa yang ia yakini agar tak dilanggar karena ia masih punya rasa takut kepada Tuhan.

“Dan prinsip ini, menjadikan gua ngerasa double pressure di sini.”

Saya menghembuskan napas panjang.

“Gua ngerasa ga berkah di sini. Kehidupan macam apa ini, terkungkung dalam sebuah lingkungan yang gua ga nyaman ada di dalamnya.” Ia mengambil jeda. “Gua pengen keluar. Ga pa-pa gua ga kerja. Ga pa-pa gua ga dapat uang sebulan dua bulan. Toh Allah bakal ngasih gua rejeki di manapun gua. Gua pengen ke masjid. Sholat yang tenang. Ikut dengar ceramah. Dan saat-saat kaya ginilah gua ngerasa butuh orang tua.”

Deg. Seperti tertampar dengan sesuatu yang begitu keras. Orang tua. Baru sekali ini saya mendengar ia bicara tentang ia yang begitu merindukan orang tua. Ia, bersama ketiga adiknya, telah yatim piatu sejak belasan bulan yang lalu. Ia yang saya beri gelar ‘orang kuat’ itu akhirnya berkata, merindukan orang tua.

“Gua cuma bisa doa. Istikharah. Ya Allah, kalau memang ini jalan saya, kuatkanlah. Jika memang bukan, tunjukkanlah jalan yang lain.”

Saya tersenyum. Malu sebenarnya dengan hamba Allah yang satu ini. Ia, yang dalam kondisi sulit seperti itu, tetap yakin dengan keberadaan Tuhan. Pertolongan juga ampunanNya.

“Dan akhirnya gua yakin, gua memang harus tetap di sini. Berkarya bukan bekerja.”

“Apa definisi karya itu?” tanya saya lagi.

“Kalau lu bekerja, lu ga ada, orang nyari pengganti lu. Tapi, kalau lu berkarya, apa yang lu kerjain ga hanya bikin senang diri lu sendiri, tetapi juga orang lain. Lu ga akan tergantikan dan akan terus dikenang.”

Setuju. Bahkan di manapun, kita masih bisa berkarya. Dalam kondisi apapun. Keyakinan tentang ‘melakukan yang terbaik’ itu tetap harus kita pegang. Karena kita tak mampu untuk terus berada dalam lingkungan yang ideal.

Sebagaimana saya pertama kali mengenalnya dahulu, sahabat saya ini tetaplah hebat, dan akan semakin hebat. Ia, dengan cerita-ceritanya, membuat saya belajar banyak hal tentang dunia yang sama sekali tak pernah saya sentuh. Sisi lain dari dunia, begitu istilahnya. Dan semakin bersyukur karena kembali menemukan hikmah.

Ini yang saya sebut sebagai ‘Everything in Life is Miracle’. Keajaiban seringkali datang tak terduga. Kita hanya perlu yakin tentang apa yang Tuhan tuliskan. Melakukan yang terbaik dengan selalu ingat yang Dia perintah dan larang. Semoga, baik saya maupun kalian, menemukan hikmah yang saya sebut sebagai ‘miracle’ itu, di manapun ia.

Ini, hanya kisah tentang seorang sahabat. Tunggulah, suatu saat saya pun akan bercerita tentang kalian. Mari menjadi orang hebat di hadapanNya.

Semoga tetap dalam dekapan Tuhan

di manapun kita

14 Januari 2012

21.08

0 komentar:

Posting Komentar