Social Icons

17 Januari 2012

Tragedi Sukun Mendonat


Sempat terbersit untuk memberi nama ‘Lacau’ pada makanan asoy ini sebab made by Latifa, Candra, Aulia. Tetapi, mengingat banyak peristiwa terjadi selama pembuatannya, akhirnya kami memutuskan untuk menyematkan nama: Tragedi Sukun Mendonat.

Kekacauan pertama terjadi ketika Hestika, yang sepakat untuk ikut bereksprerimen, tiba-tiba mengirim pesan: Maaf kawan, aku ga bisa ikut hari ini karena bla bla bla. Pesan itu masuk ke inbox puluhan menit sebelum jam 8, di mana pada jam itu Candra berjanji menjemput saya agar segera meluncur ke rumah Latifa. Karena pesan Hesti, Candra dan Latifa galau, jadi atau tidak demo masak hari ini. Dan, karena saya adalah bos, saya memberi titah: Pokoknya masak hari ini harus jadi!

Karena berniat mengubah sukun (yang sedang dipanen keluarga di rumah) menjadi donat, saya pun berbaik hati membawa Conserto, pengadon donat. Berharap bisa meringankan beban para asisten saya itu dalam membuat adonan menjadi kalis. Ternyata, ‘onthelan’ Concerto, tertinggal di rumah yang berjarak puluhan kilometer dari rumah Tifa. Alhasil, ketiga pasang tangan kamilah yang mengadon. Asli, tiga pasang tangan ini masuk ke baskom saking banyaknya adonan: 1 kg terigu, 800 gr sukun kukus, dan bahan-bahan lainnya.

Tragedi berikutnya (sebenarnya tidak terlalu penting), adalah penghinaan saya kepada kedua asisten yang masih lucu-lucunya itu. Bayangkan, Tifa membentuk donat tetapi lebih mirip lanting dan Candra membentuk donat seperti mpek-mpek lenjer. Saya? Paling bermartabat karena membentuk adonan menjadi seperti donat sungguhan. Ternyata, setelah mengembang, donat lanting Tifa jauh lebih cantik, sedangkan donat saya dan Candra gendut sekali. Owh ya ampun…

Ya sudah, begitu jadinya, yang digambar. Dicicip yuk, mari… :D

0 komentar:

Posting Komentar