Social Icons

18 Februari 2012

Saya dan Petinggi Kampus

Dalam sebuah misi elit untuk meminta rekomendasi dosen yangg terhormat sebagai salah satu persyaratan seleksi Beasiswa Unggulan.

“Kenapa melanjutkan ke UNS?”

“Ingin belajar juga budaya di sana, Pak. Di Sunda kan sudah empat tahun.”

“Maksud saya, kenapa ga di Jepang, Amerika, Australi?”

“InsyaAllah Ph.D.nya, Pak,” nyegir.

“Sepertinya, kamu tampak lebih gemuk dibanding foto yang di ijazah.”

“Oh,” tersipu. “Agaknya efek style erudung saja, Pak.”
Readmore - Saya dan Petinggi Kampus

14 Februari 2012

Bolu Singkong


Meski berbahan dasar singkong, tekstur dan rasanya berbeda jauh dengan Bolu Tela-nya Cokro. Tapi tapi tapi tetap enak dooooooooong. Bukankah begitu, asistenku, Fify Kyorin? ^^
Readmore - Bolu Singkong

13 Februari 2012

TPA-ku, TPA-mu

Dahulu, setiap peringatan maulid atau isra mi’raj, pasti ada hiburan. Anak-anak TPA yang tampil. Menyanyi, menari dengan backsound lagu-lagu Bimbo, disco Arab, atau Magadir, bermain rebana, dan yang lainnya. Anak-anak yang khatam didandani ala wisuda. Bangga ketika nama kami dipanggil dan diberi ijazah tanda lulus. Sekarang, TPA redup. Dan Agil yang abru saja khatam Al Quran tidak merasakan apa yang aku dan Bayu rasakan dahulu.
Readmore - TPA-ku, TPA-mu

11 Februari 2012

Olala Mama

Begini kalau anak dan istri punya acara di Bandar Lampung, pasti ikut nebeng Papa dalam upaya pengiritan ongkos.

Pagi-pagi Papa sudah ribut, "Kalau mau ikut, gesit dandannya!". Mama biasanya yang ribet, suka marah-marah sendiri apalagi kalau buru-buru.

Saya sih elit, alasan ikut Papa karena berencana tes TOEFL di Balai Bahasa Unila. Mama? Katanya mau pijat di Balai Apaaaaa Gitu di Way Halim, atas promosi Bibi tercinta.

08.15, sampai di Balai Bahasa. Mama mengantarkan saya dulu sampai tes dimulai, baru kemudian ke Balai Apaaaaa Gitu, untuk pijat.

"Halo," Mama menelepon reseptionis Balai Apaaaaa Gitu. "Saya mau pijat nih, alamatnya di mana ya?"

Saya mengedarkan pandangan, mengamati peserta-peserta tes yang sepertinya bervariasi sekali asal-muasalnya.

"Ha? Hari ini ga buka?" suara Mama melengking.

Saya menoleh dengan cepat kemudian tertawa kejam. Lagiaaaaaaaaan, bukannya konfirmasi sebelum berangkat tadi.

Sudah jadi nasib, dan Mama pun terdampar di ruangan Papa, main Solitaire, satu-satunya game yang bisa Mama mainkan. Untung saya bawa laptop.
Readmore - Olala Mama

10 Februari 2012

Agil & Ade Namnung


Malam sudah larut. Setiap jiwa di dalam rumah kami sudah melayang di alam mimpi bahkan ada yang mengeluarkan suara khas dari tenggorokan saking lelapnya. Tiba-tiba, HP Mama menjerit, garang sekali. Mama pun terbangun karena terkejut. Melihat nama yang tertera di layar ponsel, "Agil."

Bergegas Mama menghampiri anak bungsunya itu di kamar sebelah, "Kenapa, Dek?"

"Aji mimpi dikejar Ade Namnung," katanya serak. "Mama tedor sini aja yoook..."

Tergelak saya mendengar cerita Mama, paginya. Scaraaa, adek bungsu itu sudah ganteng dan digandrungi banyak cewek. Sudah tidak mau tidur dengan Mama lagi. T.e.r.n.y.a.t.a.
Readmore - Agil & Ade Namnung

9 Februari 2012

Rame itu Tiga

Di rumah, TV ada dua. Tapi cuma satu TV yang buat rebutan.

Di rumah, banyak makanan. Tapi cuma pas aku dan Bayu pulang, ada ritual rebutan.

Di rumah, ada 3 kendaraan. Tapi cuma pas ada aku dan Bayu kami rebutan.

Bayu udah ke Solo. Seminggu lagi, aku berangkat ke Jawa. Adek pasti kangen karena ga ada ribut-ribut berantem-berantem, rebutan TV, makanan, juga motor. Mungkin karena itu adek bilang, "Kakak sekolahnya di sini aja yok, nti Aji sendirian.."
Readmore - Rame itu Tiga

5 Februari 2012

Papa Vs Pond's


"Pond's itu apa, Ya?" tanya Papa sembari melewati saya dan Bayu yang sedang serius menikmati acara di televisi. "Sampo bukan?"

"Bukan," jawab saya tanpa menoleh. "Itu buat cuci muka."

"Laaaaaaah." Papa menggaruk-garuk rambut yang tampaknya baru dikeramas. "Pantesan."

Spontan saya dan Bayu tergelak. Ide cerdas! Menggunakan pencuci wajah untuk rambut :D
Readmore - Papa Vs Pond's

3 Februari 2012

Mizan ke Rumahku!


Ntah angin dari mana, tiba-tiba Pak Bayan, yang memang bertugas mengantarkan setiap surat atau paket dari Balai Desa untuk warga di desaku, tiba-tiba datang ke rumah dan berkata, "Paket! Untuk Aulia."

Aku, yang semula berbaring layaknya Sleeping Beauty, karena kelelahan dengan Proposal Tesis yang agaknya belum ramah itu, terbangun kaget setengah hidup saat Papa melemparkan paket itu dan mengenai tanganku.

Kubaca, "Paket Kilat" dan pengirimnya MIZAN.

Waaaaaaaaaaaaa...! Seketika aku berteriak histeris seperti tak percaya.

Aku tahu jawabannya ditolak. Karena paket itu berisi naskah novel yang sebulan lalu kukirimkan. Dan mungkin menyakitkan ketika kategori yang dicantumkan oleh Editornya adalah "Cerita Biasa Banget". Bukan itu masalahnya, bukan itu!

Karena tiba-tiba aku mendapatkan energi yang luar biasa untuk kembali menulis. Ya, menulis!

Benar kata Pak Turmudi, Kepala Jurdikmat UPI, bahwa suatu hari beliau membuat penelitian ilmiah kecil-kecilan dan dikirim ke media massa. Memang ditolak. Tetapi, kata-kata dari media tersebut yang menyuntikkan energi luar biasa hingga kemudian beliau saat ini melakukan banyak sekali riset yang menghantarkan beliau sampai ke Benua seberang.

Dan kata-kata luar biasa dari Mizan untukku, "Semoga kesuksesan mengiringi aktivitas Mbak sehari-hari." Bukankah doa yang luar biasa? ^^

Best Regards for my Novel's reader: Er Mayani, Kang Dede, Ikhwanudin, Abu Dzar, Teh Noviyanti, Mbak Uzi.

Juga untuk jempol yang diberikan di notes-ku, satu, dua, bahkan delapan dan lebih banyak lagi. Thanks a lot, guys.. I'm nothing without you.

Setelah ini, melangkah lebih baik lagi kan? ;)
Readmore - Mizan ke Rumahku!

Cerdas!


Bayu: Kak, taun depan ngontrak aja, yuk!
Saya: Pindah kosan berarti guwah?
Bayu: Yaeyalah..
Saya: Ya wis, enak kalo gitu.
Bayu: Nti Bayu ngajak Hadi, jadi kita serumah.
Saya: Guwah bawa temen juga dong, yang cewek.
Bayu: Ya iya, nti kan Bayu jadi gampang. Ada yang nyuciin baju, pulang ada makanan, bla bla bla..
Saya: $&*@%$##%()&*!!!
Readmore - Cerdas!