Social Icons

27 Maret 2012

Once Upon a Time: Sumbing

Menjadi seorang putri dari sebuah kerajaan antah berantah seperti saya, terkadang tidaklah menyenangkan. Pasalnya, birokrasi di hadapan Ibunda Ratu dan Ayahanda Raja tidaklah mudah, apalagi jika saya meminta izin untuk urusan ‘non akademik’ seperti berpetualang layaknya rakyat biasa. Harus ada alasan yang amat sangat valid sekali supaya bisa diizinkan dan tak ada label, “Jauh-jauh dari rumah ini, mau kuliah apa main?”

Sumbing. Nama ini pertama kali saya dengar dari Mbak Uzi, yang tahu betapa ketatnya saya dikawal hulubalang kerajaan, tetapi terus-menerus menebar aroma Sumbing di telinga saya, “Kan libur nyepi, jadi kita-kita mau ndaki Sumbing. Rame laaah.. Aku, Mbak ini, Mbak itu, si anu, si inu, si ono..”. Haduuuuuuuuuh.. Dan tergodalah iman saya untuk ikut juga mendaki.

Memegang telepon genggam sembari menarik napas panjang. Sementara otak terus bekerja, memilah kata-kata cantik untuk mengemas bahasa perizinan kepada Ibunda Ratu. Hati terus berdoa, “Tuhanku, tolonglah.. Izinkan akuuuuuuu..”

“Halo?” Telepon diangkat.

“Ma,” suara saya terdengar merdu sekali. “Pekan depan mau liburan ke Temanggung nih. Terus... la la la...” dan meluncurlah alasan-alasan bermartabat dari mulut saya.

“Emang mau ngapain tho naik gunung?”

“Tafakur alam laaah.. Masa’ main dowang.” Bukankah alasan saya keren sekali, Sodara?

“Ya udah. Asal ga susur sungai ga pa-pa.”

Haaaaaaa??? Sebegitu mudahnya minta izin? Ya Tuhaaan, betapa baiknya Engkau. Dan hati saya pun jingkrak-jingkrak saking girangnya.

***

“Sumbing itu track-nya lebih susah dari Merapi&Lawu, Dek. Yakin mau ikut?” kata Mbak Putri setelah mem-forward sebuah pesan dari temannya yang baru saja mendaki Sumbing dan terkena badai di sana.

“Kamu yakin mau ikut? Risya ga jadi ikut loh. Aku yang udah dua kali ndaki aja masih dikhawatirkan sama yang udah profesional,” Mbak Uzi ikut menakut-nakuti melalui pesan singkat di ponsel.

Saya melenguh, mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat betapa irinya saya mendengar cerita mereka ketika mendaki Lawu akhir tahun kemarin, sedangkan saya hanya kipas-kipas di istana kerajaan karena tidak diizinkan Ratu tercinta. Sekarang, ketika izin sudah di tangan, mengapa justru mereka yang khawatir?

“Mbak, kalau Aulia bilang ga pa-pa, Mbak masih khawatir?”

***

Mantap. Bermodal tekad. Berbekal doa, “Tuhanku, aku ingin belajar lebih banyak lagi dari hal-hal baru. Bukankah Engkau lebih mencintai hambaMu yang kuat dibandingkan yang lemah?”

Sepulang kuliah, dengan backsound adzan Maghrib, saya diantarkan adik tercinta menuju Balapan Solo untuk mendapatkan satu kursi di Prambanan Ekspres menuju stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Di sana, saya akan dijemput sepupu dan diantarkan ke asrama Mbak Uzi untuk bermalam dan menyiapkan perbekalan sebelum berangkat keesokan harinya.

Jumat pagi, para pendaki (juga calon pendaki) berkumpul di depan Perpustakaan UNY. Kami akan bertolak pukul sembilan dan berboncengan motor menuju Temanggung. Sebelas motor totalnya, lima di antara pengendaranya adalah putri. Sedangkan para putra mengapit putri di depan dan di belakang.


Sebelum mendaki, kami harus mampir terlebih dahulu di rumah Awan di Temanggung untuk sowan kepada Bapak dan Ibunya. Perkiraan sampai Temanggung adalah sebelum waktu jumatan tiba. Tetapi, Mbak Hesti yang berboncengan dengan Mbak Ninchan sempat terpisah dari rombongan.

“Mbak Ninchan,” Pak Pidi menelepon. “Ada di mana?”

Rombongan berhenti terlebih dahulu, mencari jejak Mbak Hesti dan Mbak Ninchan yang tiba-tiba sudah menghilang.

“Balik lagi ke jalan yang tadi, terus belok kiri,” kata Pak Pidi setelah mencegah Awan yang berniat kembali dan menjemput Mbak Hesti.

Saya dan Mbak Uzi tak banyak bicara. Membiarkan saja para hero itu memberi petunjuk jalan untuk Mbak Hesti dan Mbak Ninchan.

“Loh, kok belok kiri???” Pak Pidi menghubungi lagi. “Harusnya ke la la la la la..”

Ntah apa yang dibicarakan. Saya sibuk saja meminta bantuan Sahrir untuk mengelem sepatu yang nampak begitu ringkih untuk dibawa mendaki.


“Mbak Hestiiiiiiiiii!!!”

Tiba-tiba motor Mbak Hesti melesat, melintasi kami. Lah.. Kok ditinggal..

***


Beginilah tabiatnya para perantau (baca: anak kos). Mudah sekali bersyukur apalagi kalau diberi makan gratis. Setidaknya, ‘syukur’ itu terlihat dari wajah-wajah kami yang sumringah ketika menyantap hidangan yang disuguhkan Ibu Awan. Tidak mungkin habis, hidangan segitu banyak. Ibu Awan semakin berbaik hati dan membungkuskan makanan lezat nan menggoda iman itu untuk bekal kami di jalan.

“Sudah Ibu, sudah ada kok bekalnya.”

“Bawa aja, bawa. Nanti di gunung kelaparan.”

Hihihi.. Yakinlah, yang awalnya menolak itu hanya pura-pura.

Selepas sholat Ashar, kami meluncur menuju base tempat penitipan motor di kaki gunung Sumbing.


Ditemani dua orang guide, kami pun mulai mendaki pukul lima sore.

“Ya ampuuuuun cantik betuuuuul,” dusun sekali saya, menunjuk-nunjuk Sumbing yang bertengger angkuh sekali, berselimut kapas putih, dengan rona kemerahan yang ditebar mentari.



Pak Yudi sang fotografer pun dengan cekatannya mengambil momen. Kami berpose begini dan begitu sementara rombongan di depan kami sudah jauh.

“Ini ni, ini yang bikin lama kalo mendaki,” kata seseorang tak dikenal (saya lupa namanya, haha).

Awalnya, rombongan dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama dinamakan kelompok Kuat. Kedua, Lebih Kuat. Ketiga, Paling Kuat (kelompok putri). Dan keempat, Super Kuat. Tetapi, seiring waktu berlalu, kelompok ini semakin bias. Mungkin karena menunggu para putri yang berjalan seperti siput, tertatih-tatih mendaki jalan yang bergradien 45 derajat melewati ladang-ladang milik warga. (Tapi asli deh, kelompok depan itu curang. Sempat-sempatnya bergelantungan di truk yang lewat -_-)


Dua jam kemudian, barulah kami sampai di tanah agak lapang yang biasa dijadikan titik start oleh para pendaki.

“Ha? Jadi, yang tadi itu cuma pemanasan?” kata salah seorang dari kami, murka. Pasalnya, dari base penitipan motor, kami bisa naik kendaraan umum sampai ke titik start dan hanya memakan waktu belasan menit.

“Itu idenya Mbak Putri untuk jalan kaki,” Awan menunjuk Mbak Putri yang wajahnya nampak tak berdosa.

“Ha ha ha.. Tapi kan jadi seru.”

Ya sudah, ayo lanjutkan lagi perjalanannya. Ini baru dimulai. Batin saya. (Bukankah saya terkadang bijak juga, Sodara?)

***

“Kamu perempuan. Ga usah lah ikut-ikut naik gunung segala.”

Kata-kata itu terlontar dari orang-orang terdekat. Tak hanya satu atau dua kali.

“Mau nyari apa sih di sana?”

Ntah. Nampaknya hanya sebuah keinginan yang datang dan tidak membutuhkan alasan. Mungkin hanya ingin membuktikan bahwa cerita tentang pendakian Mahameru di Novel 5 Cm itu memang benar-benar menakjubkan. Hidup itu penuh keajaiban. Salah satu keajaiban itu ada di dalam rasa dan asa yang bersemi selama mendaki. Bahkan Soe Hok Gie pun berkata, kita tak akan benar-benar merasa mencintai Indonesia sebelum mendaki gunung-gunungnya.

“Boleh kok, perempuan mendaki. Yang penting ada yang menjaga.” Akhirnya saya mendapatkan kata-kata bijak ini dari seorang teman.

Sebagai putri, saya tidak sendiri. Ada Mbak Putri, Mbak Uzi, Mbak Hesti, dan Mbak Ninchan. Mereka pendaki dan tak ada masalah dengan rok yang mereka kenakan. Para putra, selain pendaki, mereka anak-anak ngaji. Saya percaya, kami akan mampu saling menjaga.

Dahulu, ketika pertama kali keinginan untuk mendaki itu mampir di otak saya, seorang teman berkata,

“Mendaki itu, syaratnya ga boleh ngeluh.”

Kata-kata itu saya pegang. Bagaimanapun, saya adalah seorang putri yang terbiasa dimanjakan dengan fasilitas kerajaan. Secara fisik, mungkin saya yang paling lemah di antara pendaki putri. Sebelumnya mereka pernah mendaki dan sedikit banyak tahu bagaimana menghadapi berbagai situasi dan kondisi selama pendakian. Pokoknya, saya harus kuat dan tidak boleh mengeluh.

***

Mbak Putri tidak berbohong. Medan pendakian memang ekstrim. Jalan yang kami lalui nampak bias karena tertutup pohon-pohon yang tumbang akibat badai. Para guide yang membukakan jalan dengan parang mereka. Gradien tanah semakin besar, membuat kami harus menggunakan webbing di beberapa titik, terutama untuk menarik pendaki putri. Terkadang berbatu bahkan berlubang. Tak jarang, jalan yang kami lalui adalah jalan setapak yang begitu tipis jaraknya dengan jurang. Teman-teman pun saling memberi peringatan dengan teriakan berantai.

“Rapat kiri, kanan jurang!”

“Awas lubang!”

“Merunduk!”

“Hati-hati, licin!”

Ya. Mendaki bukanlah tempat yang tepat untuk saling unjuk gigi, siapa yang paling kuat, siapa yang paling hebat. Ini tentang menjaga keselamatan tim. Memastikan bahwa rombongan tak ada yang tertinggal, semua fokus, semua selamat. Yang lemah belajar untuk tidak mengeluh dan yang kuat belajar untuk bersabar dan membantu yang lemah.

Tuhan begitu baik, menjaga cuaca hari ini dengan menjauhkan badai. Kami benar-benar bersyukur. Sesekali kami berhenti, mengumpulkan kembali energi dari air mineral, air gula merah, madu, ataupun cokelat, kemudian kembali mendaki. Terkadang, kami tertidur dengan posisi hanya bersandar pada rerumputan, menunggu para guide membukakan jalan. Nampaknya, kami melalui jalan yang tak biasa dilalui pendaki karena saya tak melihat ada pos-pos pemberhentian.

Teman saya benar bahwa mendaki tak boleh mengeluh. Sugesti yang datang dari keluhan itu yang terkadang melemahkan. Ini bukan hanya tentang diri kita, tetapi juga teman lain yang mendengar. Kita harus pandai menjaga lidah agar tak memancing emosi teman yang lain. Jalani saja karena semua pun lelah.

Keluar dari hutan, kami sampai di savana. Tak ada lagi pepohonan yang bisa dijadikan pegangan di kanan kiri jalan. Kami mendaki setengah merayap dengan berpegangan pada rerumputan.

“Indahnyaaaaa..” Mbak Putri menunjuk lampu-lampu perkotaan yang nampak di bawah kaki kami ketika berhenti sejenak untuk beristirahat.

Kami pun mengedarkan pandangan dan menangkap banyak keajaiban. Tak hanya dari lampu-lampu perkotaan, tetapi juga gemintang yang bertabur tak beraturan di atas kami. Angin yang berhembus cukup ramah, meski membawa hawa dingin dan cukup menyengat jika kami terlalu lama berdiam diri.

Puncak masih jauh, tetapi waktu telah sampai di sepertiga malam. Kami harus beristirahat karena kantuk yang menyerang. Sahrir yang memberi komando, kami boleh tidur 30-45 menit, baru kemudian kembali mendaki dan melihat sunrise dari puncak.

Benar-benar posisi yang sulit. Tak ada yang mendirikan dome karena kami terjebak di lereng dan tak tahu di mana ada tanah datar. Masing-masing tertidur dengan jaket berlapis. Beberapa teman menggunakan sleeping bag.



Saya, seperti juga teman-teman yang lain, kedinginan. Saya berniat untuk tidak tidur mengingat pesan seorang teman, “Aul, kalau dingin jangan tidur, gosok-gosok telapak tangan aja.”

Awalnya, saya masih berbincang ini itu dengan Sahrir. Tetapi, Sahrir kelelahan dan akhirnya memejamkan mata. Semua nampaknya tidur. Saya takut. Ujung-ujung jari sudah beku. Teman yang membawa sleeping bag (untuk saya) pun sudah tidur. Saya kemudian bergerak mendekati Mbak Uzi agar lebih hangat.

Sengaja terduduk memeluk kedua kaki, berharap mampu sedikit menyimpan panas tubuh. Saya, tidak boleh tidur. Saya.. Tidak.. Boleh.. Tidur..

***

Pertama kali saya mendengar istilah hipotermia dari lagu yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa, “Hipotermia di kutub utara...” dahulu, di semester-semester awal kuliah. Tetapi, nampaknya saya baru mengetahui artinya sekarang.

Beku. Kaku. Seperti ada yang membuat geraham atas dan bawah menempel, membuat saya tak mampu bersuara. Bagian dada terasa sakit. Nampak kepayahan menangkap oksigen di sekitar.

Kedua lengan Mbak Uzi masih mendekap saya, menggosok-gosok bagian punggung untuk menghangatkan. Nampaknya, Mbak Uzi yang pertama-tama tahu saya menggigil, sementara yang lain masih terlelap.

Suara yang lain terdengar bergerak, perlahan mendekat.

“Sahrir, tolong ambilkan sleeping bag di tasku,” Mbak Uzi meminta.

Gerakan-gerakan lain mendekat, menyelimutkan sesuatu sembari merebahkan tubuh saya ke tanah.

Membuat perut yang awalnya kram dalam posisi duduk terasa semakin nyeri. Dan saya, masih tak mampu bergerak meski mendengar suara-suara.

“Aulia kenapa?” suara lain mendekat.

“Putri ke sini, aku bantu Sahrir dirikan dome.”

Mbak Uzi bergerak menjauh, digantikan Mbak Putri di samping saya, menggosok-gosok telapak tangan supaya hangat.

Suara-suara di sekeliling saya semakin banyak, namun semakin tak jelas terdengar. Ada sesuatu di kepala, di tenggorokan, di dada, di perut, di kaki, dan nampaknya cukup membuat saya tak menyadari apa yang terjadi di sekitar. Tahu-tahu saya sudah direbahkan di dalam doom dengan tangan digosok-gosok dengan sesuatu yang membuat hangat. Ada yang mengalir ke kerongkongan, hangat sekaligus pedas seperti jahe. Mbak Ninchan yang menyuapi. Menempelkan gelas berisi minuman hangat itu ke kedua telapak tangan saya agar semakin hangat.

Ntah apa yang teman-teman lakukan di luar sana. Tetapi, saya yakin mereka juga kedinginan. Bahkan ada yang duduk di dekat doom, menjaga pasak agar doom tidak roboh. Mereka pasti tidak tidur. Ya Tuhan, jahat sekali saya.

Maaf ya... Seharusnya saya bisa lebih kuat.

***

Adalah sebuah cita-cita untuk menangkap pendar-pendar jingga keemasan selepas Shubuh. Bukan dengan kamera karena bahkan DSLR pun tak sebaik retina mata dalam menangkap objeknya. Ya. Pesona matahari terbit.


Ini tentang rasa yang tercipta. Sebuah syukur tak terkira yang kemudian bertunas dan berkembang di dalam dada. Tentang Dia, Tuhan kita. Yang begitu hebat menciptakan jutaan warna. Dan pesona seperti ini, jauh lebih indah dinikmati pada ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.

Angin nampak lebih jinak. Tak lagi menusuk tulang seperti ratusan menit lalu. Saya sudah diperbolehkan keluar dari dome meski masih berlapis jaket juga sleeping bag. Sementara Mbak Uzi dan Mbak Putri tidur –karena saya jahat sekali membuat mereka begadang semalaman, teman-teman putra berfoto ria. Ya ampuuun, mengapa mereka begitu narsis? Dan mengapa pula Pak Yudi mau meladeni mereka, merekam berbagai pose ke dalam memori kamera DSLR-nya yang terhormat -_-

Biarlah. Saya dan Mbak Ninchan asyik saja menikmati ribuan kapas yang tertata artistik di hadapan, perlahan bergerak dan semakin turun menuju ladang-ladang yang juga nampak sangat teratur dan tertata. Sementara di bagian timur, bulatan keemasan semakin benderang, memamerkan seringai cahaya di balik gemawan yang menggumpal. Benar-benar membuat saya merasa seperti berada dalam negeri di atas awan.

“Sini Mbak, berpose,” kata Pak Yudi.

Saya bergeming. Gengsi lah yaaa.. Saya baru saja mengolok-olok teman yang narsis, minta jepret sana jepret sini.

Mbak Ninchan bangkit mengajak saya untuk ikut berpose bersama teman-teman yang lain. Apa boleh buat. Saya tidak mau membuat Mbak Ninchan bermuram durja karena tak memiliki kenangan berpose berbackground lautan kapas. Saya pun bangkit dan ikut bergaya dengan kerennya. (ha ha ha, nyengir kuda)


“Pelangi!” Pak Yudi mengarahkan kamera ke arah barat. Membuat kami menoleh dan menemukan objek lain yang tak kalah cantik.

Teori tentang pelangi yang muncul akibat pembiasan cahaya matahari oleh titik-titik air itu benar adanya. Karena sedari tadi kabut memang turun dari puncak menuju lembah, melewati kami dan meninggalkan titik-titik air di rerumputan juga pakaian yang kami kenakan.


“Oooooooooi...! Yang di sanaaaaaaaaaaaa...!”

Sebuah suara tiba-tiba menggaung. Agaknya sumber suara ada di atas kami.

“Ayo naiiiiiiiiiiiik...!”

Mbak Putri angkat suara, “Itu Mbak Hesti.”

Ya ampun, ternyata sudah di atas. Padahal semalaman Mbak Putri dan Mbak Uzi mengira Mbak Hesti tidur tak jauh dari tempat kami beristirahat.

Kami pun berkemas dan bergegas naik menuju tanah yang lebih tinggi, di tempat Mbak Hesti dan teman-teman kelompok satu berkumpul, kira-kira sepuluh meter dari tempat kami semula.

***

“Gimana caranya kita turun?”

“Gampang, kita flying fox aja ke bawah,” kata Sahrir. Membuat saya tergelak karena ketidakrealistisannya.


Posisi ini benar-benar memprihatinkan. Meski di tanah yang agak mendatar, tetap saja kami adalah para korban yang terdampar di lereng gunung. Ragu ke puncak karena medan yang semakin ekstrim, pun takut untuk langsung turun karena kemiringan tanahnya yang begitu curam.

“Sebenarnya, bisa aja kita naik. Tapi mungkin makan waktu yang lebih lama lagi. Sore kita harus sudah turun.”

Beberapa teman sudah naik ke puncak, termasuk Awan yang paling tahu rute mendaki dan menuruni Sumbing. Karena itulah posisi kami sulit. Jikapun berencana turun, harus bersama-sama. Akhirnya, kami berdiam diri saja, menunggu para hero yang sedang berjuang mendaki sampai ke puncak dan turun lagi.


Mengoreh sisa-sisa perbekalan. Mengobrol ini itu sampai tak ada lagi bahan. Melihat-lihat gambar di kamera Pak Yudi. Bahkan tidur tanpa memperhatikan posisi. Tak ayal, kami terpanggang di bawah terik mentari yang garang sekali.

Setelah ratusan menit menanti, para hero pun satu-persatu bermunculan. Berteriak dari atas, “Ndaki ga sampai puncak? Ke laut ajaaaaaaaa...”

Wah, ngajak berantem rupanya -_-

***

Namanya putri, di manapun tetaplah putri. Bahkan ketika berada nun jauh dari istana. Lihat saja, Pak Yudi, Pak Ferdi, Pak Pidi, Agus, dan beberapa teman putra yang lain tiba-tiba bertransformasi menjadi hulubalang kerajaan yang mengawal saya dari belakang. Seharusnya saya berada di depan bersama para putri yang lain. Tapi, rupanya kaki saya tak bisa diajak kompromi. Berkali-kali terjatuh padahal baru berapa langkah menuruni lereng.

“Ditali aja tuh Pak Yudi,” Pak Pidi menunjuk-nunjuk saya. Membuat saya geram dan ingin melempar sendal. Awas saja, pokoknya saya bisa.

Berkali-kali terjatuh seperti itu membuat saya malas bangun. Lutut ini nyeri jika terlalu sering dipakai duduk, berdiri, duduk, dan berdiri lagi. Akhirnya, dengan gaya anak TK, saya ‘perosotan’ (meluncur) saja di atas rerumputan. Dan ternyata, jejak saya diikuti Pak Ferdi. Pak Ferdi kan bukan putri, ga boleh tahu ikut-ikut perosotan segala -_-

“Belajar mendaki itu semestinya belajar me-manage air juga,” kata Pak Yudi.

Iya, betul itu. Dan nyatanya, rombongan kami buruk sekali managemen airnya. Sebelum menuruni lereng saja, perbekalan air sudah menipis. Membuat para hulubalang di belakang saya rakus sekali mengambil air di sungai kecil yang kami lewati.

“Dikasih Ekstra Jos aja biar ga bau kecebong,” kata Pak Pidi.

Iiiiiiiiih.. Ya ampuuuuun.. Coba ada Pure It, penyaring air itu. Saya mau lah ikut minum. Tapi tapi ini?

Huft.. memang, seorang putri tak seharusnya bergaul terlalu lama dengan hulubalang kerajaan -_-

“Waaah.. Sudah tercium bau pestisida,” kata Pak Ferdi. Tandanya, ladang warga semakin dekat.

Ah, Pak Ferdi bohong. Ladang kan masih jauuuuuuuuuuuh.. Butuh puluhan menit untuk sampai ke sana.

Biarkan saja. Kata batin saya yang bijak bestari. Pak Ferdi sedang berusaha beramal baik dengan menghibur kami agar tak lelah berjalan.


***

Ini tentang perjalanan. Tentang tim. Tentang belajar. Tentang memaknai. Tentang meluruskan niat. Tentang mengambil hikmah. Tentang menjaga diri dan orang lain dari gangguan lisan dan tangan. Tentang bersabar. Tentang doa. Tentang asa. Tentang harap. Tentang cita. Tentang tekad. Tentang menjadi lebih kuat. Dan, tentang syukur yang tak terhingga kepada Tuhan kita yang Maha Hebat.

Allahku, makasih ya... ^.^

[Best regards for all, Allah loves you, Allah loves us...]

0 komentar:

Posting Komentar