Social Icons

21 April 2012

Elemen Kebahagiaan


"Empat elemen kebahagiaan itu bukan air, tanah, api, dan udara. Tapi, empat elemen itu adalah aku, kamu, kalian, dan mereka" :D

Bergelut dengan pikiran yang menyesakkan selama puluhan jam ke belakang membuatku memutuskan sesuatu hingga aku sendiri menyebutnya sebagai Sillyness of Weekend. Ya. Katakanlah ini gila. Memutuskan sesuatu dalam jangka waktu secepat laju cahaya dan satu hal (gila) ini cukup membuat rona bahagia kembali terpancar. Hei, bukankah ini hebat? *tangan di pinggang, tertawa lebar

Ntah apa yang terjadi sebenarnya (tepatnya, aku tak ingin banyak bercerita tentang hal-hal menyesakkan itu di sini. psst.. ini top secret). Datang bersamaan dalam jumlah yang tak terbatas membuat otakku terasa over load. Tolonglah, pikiran ini harus dibuang jauh-jauh. Ada Filsafat Ilmu, Metodologi Penelitian, Analisis Data Komputer, dan mata kuliah mengerikan lainnya yang harus aku selesaikan tugasnya. Dan ini mengharuskanku memiliki pikiran yang sehat. Allahku, tolonglah, ringankan sebentar pikiranku ini.. *memohon dengan sangat

Jumat, bagiku adalah hari spesial. Karena di hari inilah aku akan meluangkan waktu sepenuhnya untuk berduaan saja dengan tugas-tugas kuliahku yang terhormat. Sabtu dan Minggu, mungkin sedikit merefresh diri dengan berlatih soal-soal analisis data untuk komputer *whats?

Ternyata, Jumat inilah puncaknya. Sebenarnya, aku sudah cukup meluapkan sesak itu di Kamis malam, dan aku sedikit lebih lega karenanya. Tapi, karena situasi yang mendukung (sendiri di kamar dan hanya ditemani laptop yang memamerkan data Filsafat Ilmu yang harus ditranslate), sesak itu kembali datang. Oh, Allah, really wanna throw away such a thing.. Aku pun memutuskan untuk tidur lebih cepat.

Mungkin beginilah caranya otak bekerja. Meski mata terpejam, ia tetap menari-narikan kata demi kata yang semuanya memiliki hubungan kekerabatan dengan 'pikiran sesak' itu. Aku gelisah. Tidur rasanya tidak tenang. Pukul sepuluh malam aku terbangun karena ada pesan yang masuk ke ponsel, mengabarkan salah satu teman yang sedang sakit dan meminta doa untuk kesembuhan. Pukul dua belas aku terbangun, mengharapkan seseorang tiba-tiba mengirim pesan, "Baik-baik saja, kan?". Pukul satu, aku kembali terbangun. Mengirimkan pesan ke seorang teman, "Are you awake?" yang sebenarnya tersirat makna, "Teman, aku ingin berbagi, sedikit saja..". Pukul tiga aku kembali terbangun. Dan akhirnya menyimpulkan bahwa kasur dan bantal gulingku sedang tidak bersahabat.

Setelah membisikkan sesuatu kepada Tuhan (aku menyebutnya 'Allahku'), aku membereskan kamar. Mandi sebelum adzan shubuh berkumandang, dengan harap bahwa pikiranku hanyut terbawa titik-titik air yang mengguyur tubuh. Ada jadwal mengaji jam enam pagi. Artinya, setengah enam aku harus sudah berangkat karena harus menjemput teman terlebih dahulu sebelum meluncur melintasi jalanan Solo menuju kompleks perumahan di dekat Terminal Tirtonadi.

Wuuuzzzzzz! Jalanan pagi yang sepi membuat semuanya terasa mendukung. Angin yang berhembus lebih kencang karena laju motor yang kutambah, menyapu bagian wajah yang terasa penat. Sejuknya, semilirnya, segarnya. Dan aku pun akhirnya mampu menghembuskan napas panjang.

Motoran dengan kecepatan 'lebih' terkadang menjadi sangat menyenangkan. Apalagi, jika melintasi jalanan sepi tak berpenghuni. Bisa menangis juga berteriak sepuasnya, dan semuanya akan tersamarkan dengan deru motor *nyengir kuda

"Bagaimana jika aku motoran ke Jogja, sendiri?" Pikiran itu melintas begitu saja. Ya! Aku akan ke Jogja, apapun yang terjadi!

Secepat itulah pikiran 'gila' ini melintas, dibarengi dengan jemari yang mengetikkan banyak kata untuk dikirimkan ke beberapa nomor ponsel.

"Say, ada agenda hari ini? Aku ke Jogja ya? :D" Pesan untuk Beni(ta) di Jogja.

"Boi, anter Kakak ke Stasiun Balapan ya, jam sepuluhan." Pesan untuk Bayu, adikku di kosan yang tak jauh dari kosanku.

"Ndro, mo beli Kripik Karuhun." Pesan untuk Shandronando, seorang teman yang tempo hari mempromosikan kripik super pedas itu. Berniat membawanya sebagai oleh-oleh untuk Beni(ta).

Dan sepulang mengaji, aku benar-benar bergegas ke Jogja.

Tenanglah, aku tetap tak mengabaikan tugas karena membawa serta bahan-bahan kuliah bersama laptop yang bertengger manis di ransel. Beni(ta) yang akan menjamin keberlangsungan hidupku selama dua-tiga hari di Jogja nanti, maka aku cukup duduk sembari menikmati pemandangan yang terlihat dari kanan dan kiri jendela gerbong besi yang melintasi rel sepanjang jalan dari Solo ke Jogja, dan kemudian bisa sepuasnya berkeliling menemukan 'energi baru' dari apa yang bisa kulihat, kudengar, dan kurasa selama di Jogja.

Ada kamu, aku senang. Ada kalian, aku gembira. Ada mereka, hidupku lebih lengkap rasanya. Maka, aku menjadi bahagia jika aku, kamu, kalian, dan mereka berkumpul bersama. Ya. Ini tentang sebuah pengakuan bahwa aku, layaknya manusia biasa yang ingin tertawa bersama berbagi asa, juga cerita. Dan aku menyebut ini sebagai elemen kebahagiaan :)

>>>"Hei Teman, aku rindu!" :D

0 komentar:

Posting Komentar