Social Icons

29 Mei 2012

'Ketidaktahuan' yang Mahal


Harga dari sebuah 'ketidatahuan' mahal sekali ya, ternyata..

Pagi ini, saya harus merampungkan editing makalah problematika pembelajaran untuk dipresentasikan di jam kedua kuliah, 15.30 nanti. Setelah usai, saya berniat membuat print-out. Rupanya, ada yang salah dengan printernya. Catridge tidak bisa mendeteksi tinta yang disalurkan melalui infus. Saya sedikit mengotak atik catridge, menggoyang goyang agar tinta yang ada di infus bisa masuk, juga meletakkan tabung tinta eksternal ke tempat yang lebih tinggi. Tetapi, nihil. Printer tetap tak bisa mendeteksi tinta. Karena putus asa, saya biarkan saja printer itu dalam keadaan menyala.

Sungguh, saya tidak mengerti apa yang terjadi. Tahu tahu ketika mata saya tak sengaja melihat ke arah tabung eksternal, tinta hitam, merah, dan kuning sudah kosong. Ke mana tintanya? Segera saya menilik printer, dan benar, tintanya bocor. Sepertinya tinta dari catridge mengalir deras sekali ke tabung pembuangan. Dan saya masih tidak mengerti apa yang terjadi.

Melihat lantai yang banjir tinta, saya segera melapisi dengan kertas-kertas bekas. Tidak tahu harus bagaimana, sementara tinta terus menerus mengalir ke tabung pembuangan yang sudah meluap isinya karena terlalu banyak tinta yang masuk. Saya menelepon Bayu, adik saya yang kosannya hanya berjarak sekian meter dari kosan saya. Ternyata dia kuliah sampai sore.

Saya terduduk. Diam. Bingung harus bagaimana. Menghubungi teman-teman lelaki yang lain pun tak ada hasil, no respon. Ya. setidaknya saya butuh bantuan seseorang untuk menghentikan kebocoran tinta dan membantu saya membawanya untuk diservice.

Melihat tinta yang tumpah sia-sia seperti ini membuat saya menangis. Ketidaktahuan, ketidakmampuan, memang seringkali harus dibayar dengan banyak sekali rupiah.
Readmore - 'Ketidaktahuan' yang Mahal

18 Mei 2012

Jernihnya Pantai di Gunung Kidul

Lagi-lagi liburan dan saya ingin ke pantai. Kali ini saya ingin ke Gunung Kidul yang kabarnya punya pantai yang airnya masih jernih. Karena Beni ga tau jalan ke sana, saya ngajak Risya untuk ikut. Berempat dengan teman Beni, kami pun meluncur melalui jalanan yang mendaki dan berliku dengan sepeda motor.

Benar, pantainya jerniiiiiiiiih..


Sampai rumput-rumput lautnya kelihatan lho... Dan ada ibu-ibu ngambilin rumput laut. Katanya enak kalau digoreng. Wooow... Saya pernah lihat liputan di Laptop si Unyil Trans 7 kalau orang-orang Jogja suka rumput laut yang digoreng tepung. Jadi pengen nyicipin (^^,)
 

Ke pantai itu, mesti bisa ambil angle yang bagus untuk foto :p



Yuk, yuk, sambil ngemil. Tapi, sampahnya dibawa pulang ya... (^^,)v



Risya ga mau difoto nih. Dan dari sekian banyak foto yang diambil di lokasi, cuma nemu satu foto Risya yang ini, hihihi


Ke pantai itu, asyiknya ditemani kelapa muda yah, mau? :p

Sebenarnya ada banyak pantai di Gunung Kidul yang masing-masing punya daya tarik tersendiri. Tapi, karena jaraknya yang dua jam perjalanan dari Jogja kota, kami cuma sempat mampir ke dua pantai, salah satu nama pantainya Drini kalau ga salah. Dan karena foto-fotonya diambil dari DSLR Risya, otomatis size-nya gede banget sambe 3 MB perfoto, jadi agak repot buat nge-resize. Segini aja cukup kan ya fotonya (^.^)a

Readmore - Jernihnya Pantai di Gunung Kidul

11 Mei 2012

Kejutan 10 Mei 2012


Kamis pagi, saya dikejutkan dengan adanya notifikasi dari sebuah penerbit perihal pengumuman lomba cerpen yang diadakan sejak sebulan lalu. Dan ketika dibuka, ternyata saya juara dua! Dan cerpen itu akan dibukukan bersama dengan cerpen dari finalis-finalis lain. Wah wah wah...

Sesaat saya bergeming. Bukan karena tidak percaya. Bukan juga karena berjuta senang yang tiba-tiba membuncah. Ini semacam ‘undefined feeling’, perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Senangkah? Terharukah? Atau bahkan sedih? Saya bingung...

Segera saya mengabarkan kepada teman-teman terdekat. Mereka memberi selamat! Owh.. Benarkah ini sesuatu yang membanggakan?

“Bagus kok Lee cerpennya, mesti seneng lah..”

“Nanti kabari aku kalau udah terbit ya.. Aku beli bukunya..”

Saya masih juga bingung harus tersenyum atau bagaimana.

“Dulu pengen tulisannya dipublish. Sekarang, mau diterbitin malah bingung.”

Ya. Teman saya benar. Tepatnya, saat ini saya sedang bingung. Pasalnya, cerpen yang
saya tulis itu bertema cinta. Ntahlah, hanya terbersit kekhawatiran bahwa mungkin saja cerpen itu membawa pengaruh buruk. Ah.. Dilema.

Memang, kalau ditilik, cerpen itu cukup sopan untuk dibaca semua kalangan. Tapi, kita tidak pernah tahu apa yang terlintas di benak orang lain ketika membacanya. Yah, mau bagaimana pun, cerpen itu tetap akan dipublish. Dan akhirnya, saya pun berbisik, “Allahku, aku mengharapkan barokah juga kebaikan dari apa yang kutulis.”

Semacam cita, semacam asa, bahwa saya berkeinginan untuk mengajak orang lain dalam kebaikan melalui jutaan kata yang saya rangkai. Hanya upaya, karena kita tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk bisa menginspirasi orang lain. Ingin mengingat, bahwa hidup terlalu singkat untuk diisi dengan kesia-siaan.

Baiklah, saya akan menganggap ini sebagai langkah awal untuk berkarya lebih banyak lagi. Cheers :)

>>>Mau beri komentar untuk cerpennya? Baca di sini :)
Readmore - Kejutan 10 Mei 2012

1 Mei 2012

Mie Pelangi


Dua bulan kuliah di UNS, baru nyadar ada cafe asoy di belakang kampus, hahaha, dusun memang. Pas di seberang gerbang belakang UNS. Namanya Semawis. Awalnya, niat mampir karena mau beli jus. Penasaran karena di sana ada macam-macam jus yang namanya aneh-aneh. Kombinasi sayur dan buah, kaya Jus Kehidupan, kolaborasi antara brokoli, buah bit, dan wortel. Jus Darah Muda, Jus Pilipio atau apa itu namanya saya ga hafal. Buah-buahannya juga buah yang jarang saya temukan di pasaran seperti buah bit (bengkoang merah), buah naga (yang ini agak familiar), buah melodi, dan buah buah yang lain.

Karena haus dan ingin yang segar, saya pesan jus blueberry. Cuma 3.500 rupe. Iseng lihat menu, ternyata ada mie pelangi yang dibuat dari bayam, wortel, dan sayuran lain. Cuma 4.500 pula. Wuih, asik lah. Sajiannya kaya mie ayam, tapi rasanya lebih mirip mie pangsit yang biasa saya nikmati di Lampung. Sedap sedap sedap. Menu lain juga ada, bakar-bakaran/goreng-gorengan, chinesse food, de el el.

Paling suka, ada tulisan, "Dijamin 100% halal". Ga banyak loh cafe atau kedai makanan yang berani kasih jaminan seperti ini. Meski kita tinggal di negara muslim, kita mesti tetap berhati-hati dalam mengonsumsi makanan atau minuman kan? :)
Readmore - Mie Pelangi