Social Icons

22 Desember 2011

Aku, Bunda


Suaranya nyaring, tangisnya mungkin terdengar sampai keluar ruangan. Tetapi, aku senang. Menatapnya, membuat rasa nyeri, mulas, bahkan sakit ketika ia mendesak-desak ingin keluar dari perutku beberapa menit lalu, hilang seketika.

Asisten bidan sudah membersihkannya setelah mengukur panjang serta menimbang berat badannya. Membedongnya dengan sehelai kain, kemudian meletakkannya di dadaku. Aku mendekapnya, mencium keningnya, mengusap-usap rambut tipisnya, juga memainkan hidung mungilnya. Ia mirip sekali dengan seseorang yang terus berada di sampingku beberapa jam ini.

“Cantik sepertimu,” Reihan tersenyum memandang si kecil seraya mengerlingku.

“Benarkah?” Aku tersenyum. “Tapi, rambut tipis ini milikmu.” Aku mengusap kembali helaian rambut yang bertengger manis di kepala si kecil.

“Perempuan,” ucap Reihan. “Kau boleh menamainya.”

Aku menatap mata jernih Reihan, meminta keyakinan, seraya membuka kembali memori tentang nama-nama yang sebenarnya telah kupersiapkan sejak lama. Kutemukan satu kata.

“Aoi.”

Reihan mengerutkan dahi. “Nama Jepang?”

Aku mengangguk. “Aku suka Aoi.” Pandanganku beralih ke jendela kaca di samping kami, menatap lekat gemawan yang menggumpal dan sedikit menyisakan warna biru sang langit di sela-selanya. Reihan mengikuti arah pandangku dan tersenyum.

“Aku tahu, kau suka langit.”

Aku mengangguk.

“Kau ingin anak kita memiliki cita-cita yang tinggi,” Reihan menerka.

Aku sedikit menggeser posisi kepala. Reihan membantuku dengan mengangkat si kecil dan meletakkannya di sampingku agar aku bisa bersandar lebih nyaman dengan posisi bantal yang berdiri.

“Aoi berarti biru,” aku kembali bersuara. “Bintang terhangat di jagat raya berwarna biru, aku ingin ia menghangatkan. Langit yang kusuka itu berwarna biru, aku ingin ia meneduhkan. Air jernih nan tenang di lautan itu berwarna biru, aku ingin ia menenangkan. Biru dengan kuning menjadi hijau, biru dengan merah menjadi ungu, aku ingin ia menjadi dominan dan menciptakan banyak warna indah yang lainnya.”

“Baiklah.” Tangan kiri Reihan mengusap sedikit peluh yang tersisa di dahiku, sedang tangan kanannya menggenggam jemariku dengan lembut. “Semoga ia kelak menjadi sepertimu, Kania.”

Aku menggeleng. “Dia harus lebih baik dariku.”
***

Aku mengerang. Sakit luar biasa. Tak bisa kutahan meski Mama berada di sampingku dan terus menguatkan.

“Tidak bisa, tidak bisa,” aku menggelengkan kepala. “Sakit, Maaa.. Tania ingin sesar saja.”

Orang-orang berseragam putih yang lalu lalang di sekitarku bergerak semakin cepat. Ntah membicarakan apa, aku tak peduli. Ingin sekali sakit ini segera mereda.

Kulihat Mama bergerak menjauh dan berbicara ini itu dengan seseorang. Uuuh, mengapa di situasi seperti ini sempat-sempatnya atasan Teguh memanggilnya ke LA? Seharusnya ia di sini, melihat aku yang bersusah payah mengeluarkan anaknya dari dalam perutku.
Dua orang perawat di sampingku tiba-tiba mengangkat dan memindahkanku ke brangkar, tempat tidur beroda, yang dibawa oleh perawat lain, kemudian mendorong menjauh dari tempatku semula berbaring. Kami memasuki sebuah ruangan yang dilengkapi banyak peralatan. Dalam waktu puluhan detik kemudian, kurasakan kantuk yang luar biasa setelah salah seorang dari mereka menyuntikkan beberapa milliliter cairan ke dalam tubuhku. Aku terlelap.
***

“Ayah pulang…”

Aku menghampiri Reihan yang baru saja turun dari Kijangnya. Mencium tangannya yang kemudian dihamparkan untuk menyambut Aoi. Aoi tertawa, tahu siapa yang datang.

“Sudah ma’em belum, Cantik?” Reihan menggendongnya, memain-mainkan hidung mungil Aoi seperti kebiasaanku.

“Sudah, Ayah,” aku menjawab, seolah menerjemahkan celoteh tak jelas yang keluar dari bibir mungil Aoi. “Bunda rajin sekali makan ikan. Nanti Aoi pasti jadi anak cerdas.”

Reihan mengerlingku, tangan kanannya pun bergerak untuk mengacak-acak rambutku,

“Dasar.”

Aoi kembali tertawa. Lucu sekali.

“Kau lelah, Sayang?” Aku mengangkat tas yang diletakkan Reihan di dekat kakinya karena menggendong Aoi. “Ingin kubuatkan apa malam ini?”

Reihan mengusap-usap dagunya sambil mengangguk-anggukkan kepala, tampak berpikir. Gaya sekali.

“Sepertinya aku lupa,” katanya. “Mana yang paling enak di antara masakan-masakanmu. Karena untukku, semuanya nomor satu.”

Aku tertawa mendengarnya meski sesungguhnya aku tersipu.

“Aku hangatkan dulu pepes ikannya,” kataku sembari mengecup pipi Aoi yang berisi.

“Bunda ke dapur dulu ya, Aoi main dengan Ayah.”
***

“Ayolah…” Teguh masih berusaha membujukku. “Sudahi saja. Kasihan anak kita.”
Pandanganku yang semula lekat pada layar yang masih menyala di hadapan, beralih menatapnya. “Semuanya sudah kurencanakan, Honey, tenanglah…”

“Iya, aku mengerti.” Teguh bangkit dan duduk di tepi ranjang di sampingku. “Rupiah-rupiah itu tidak hanya kau kumpulkan untuk kita dan anak-anak nantinya, tetapi juga untuk setengah lusin adikmu agar mampu sekolah sampai sarjana.”

Mataku kembali menatap huruf-huruf yang mulai bermunculan di layar karena jemariku sibuk menekan tuts keyboard.

“Tapi, kesibukanmu kan bisa dikurangi. Beralihlah ke pekerjaan lain. Membuka butik misalnya. Lagi pula gajiku dari World’s Oil and Gas Service Company milik AS itu cukup.”

Jemariku berhenti bergerak. Selama beberapa detik kelopak mataku tak berkedip karena kesulitan menelan kata-kata Teguh. Puluhan kata di otakku mendesak, meminta lidah untuk melontarkannya.

“Kalau kau mengerti,” aku menatap Teguh tajam. “Kau akan tau bagaimana perasaanku ketika sesuatu yang dengan susah payah kuraih, harus dibuang begitu saja.”

Hening sejenak. Berharap diamnya Teguh karena ia sedang berusaha mencerna kata-kataku dan tidak menimpalinya dengan kata-kata lain yang mungkin saja mampu membuatku terluka lebih banyak.

“Menjadi lulusan terbaik dari institut, mengikuti job fair dan akhirnya lolos dari seleksi, disekolahkan lagi di Colorado, mendapatkan posisi yang tidak kalah prestise-nya dari posisimu sekarang, tidak semua orang bisa melakukannya.”

Teguh menarik napas panjang hingga matanya terpejam. Bibirnya terbuka, namun yang dikeluarkan hanyalah karbondioksida. Lega karena Teguh mengerti, aku kembali berkutat dengan arsip-arsip penting di laptop. Teguh bangkit, membuka daun pintu di belakangku.

“Kau seorang ibu, Tania,” katanya sebelum daun pintu kembali tertutup. “Aku hanya sedang memikirkan Anggun, putri kita.”
***

“Bunda…”

Mataku yang semula terpejam tiba-tiba mengizinkan kelopaknya untuk membuka. Kukira Aoi sudah terlelap di sampingku setelah puluhan pertanyaan sedari tadi
dilontarkannya. Sepertinya, ia gundah sekali. Esok hari pertamanya masuk sekolah.

“Hm…?” Aku menggerakkan tubuh untuk menghadap ke arahnya meski tetap dalam posisi berbaring.

“Mengapa Ayah tidak pulang?” Mata kumbang Aoi menatapku. Tanganku kemudian bergerak mengusap rambut sebahu Aoi, di tempat bando warna-warninya biasa bertengger.

“Ayah masih ada tugas di luar kota, Sayang…”

Aoi menarik selimutnya hingga menutupi dada.

“Tapi, Aoi ingin diantarkan Ayah besok.”

Aku menghembuskan napas panjang. Ia pasti rindu. Ini hari kelima Reihan melakukan controlling di daerah pelosok Jawa Barat, tempat perusahaan tempatnya bekerja, menyewa lahan.

“Bunda janji, besok seharian menunggu Aoi di sekolah,” ucapku. “Nanti Bunda buatkan video supaya Ayah bisa melihat bagaimana Aoi di hari pertama sekolah. Ya?”

Aoi kembali menatapku. Dua jari kusematkan di ujung-ujung bibirnya agar melengkung ke atas, membentuk sebuah senyum. Tak sampai sepuluh detik, kedua pipinya terangkat karena Aoi mengikuti jemariku dan benar-benar tersenyum.

“Okey.”

Aku mengecup keningnya, berniat mengucapkan ‘Selamat tidur’ ketika Aoi kembali bersuara, “Bunda buatkan bekal, kan?”

Aku mengangguk. “Aoi mau Bunda buatkan apa?”

Telunjuknya bergerak dan menyentuh bibir bagian bawah, berpikir.

“Aoi bingung,” katanya. “Karena semua masakan Bunda nomor satu.”

Aku terbahak. Mirip sekali dia dengan Reihan yang sepertinya telah mengucapkan kata-kata yang sama puluhan kali. Ayah anak kompak ternyata.

“Okey,” aku membalas mengucapkan kata yang tadi diucapkan Aoi. “Besok Bunda bangun pagi-pagi sekali dan membuatkan nugget bayam untuk Aoi.”

Kedua jempol tangan diacungkan Aoi, membuatku kembali tertawa karena gaya polosnya.
“Sekarang bobo’ supaya besok tidak terlambat.”
***

Ini kali ketiga aku melakukan pengecekan barang agar tak ada yang tertinggal. Ratusan menit yang akan datang, aku akan terbang ke Afrika untuk tender penting yang baru beberapa pekan lalu kusanggupi untuk kugarap.

“Anggun, ayo sini…” Tien berlari-lari kecil di ruang tengah, mengejar Anggun yang tampaknya bandel sekali.

“Nggak mau, nggak mau!”

Aku membuka pintu kamar dan mendapati Anggun yang bersembunyi di balik sofa kemudian kembali berlari ketika Tien, pengasuhnya itu, mendekat. Anggun menghampiri aku yang dua kali lipat lebih tinggi darinya. Ia memelukku erat sekali.

“Kenapa?” Aku mengerling Tien.

“Nggak mau mandi, Bu.”

Aku mengusap-usap kepala Anggun. “Ayo mandi dong, Sayang, biar tambah cantik.”
Anggun mendongak, “Mau dimandikan Bunda…”

Aku melepas pelukannya dan berlutut, mengusap-usap pipi Anggun. “Bunda sebentar lagi berangkat, Sayang. Mandi sama Mbak Tien ya…”

Kepala Anggun digeleng-gelengkan. “Bunda jangan pergi…”

Aku menghembuskan napas panjang. “Sebentar kok, nanti pulang lagi.”

Anggun kembali memelukku. Aku mengerling Tien agar mendekat.

“Anggun mau oleh-oleh apa? Nanti Bunda belikan. Sekarang mandi dulu ya?”

Anggun semakin erat memelukku meski aku berusaha melepas pelukannya.

“Mau mandi kalau Bunda yang mandikan.” Kakinya menjejak-jejak lantai dan mulai menangis.

“Ya Tuhan,” aku mulai tak sabar. Seharusnya aku bergegas ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat. “Panggil Omanya.”

Tien bergegas menuju rumah Mama yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahku. Berharap Mama segera datang dan menyelamatkanku dari waktu yang terus memburu.
***

Aoi mengangkat pialanya tinggi-tinggi, menunjukkannya pada Reihan yang sepertinya terburu-buru keluar dari garasi setelah memarkir Biru Dongker beroda empatnya.

“Anak Ayah juara berapa?”

Aoi mengacungkan telunjuk kanannya dengan bangga.

“Hebaaat…!” Reihan kemudian mengangkat Aoi tinggi-tinggi, membuatnya meringis karena takut piala, yang baru saja ia dapatkan dari lomba mewarnai itu, jatuh ke lantai.

“Ayah sudah, Aoi mau turun…” Aoi merengek karena Reihan masih menggendongnya. “Aoi kan sudah besar.”

Aku tertawa melihat raut wajah Aoi yang sok dewasa. Akhir-akhir ini, ia memang lebih mandiri. Ia bilang, harus seperti itu kalau mau menjadi seorang kakak.

“Ah, di mata Ayah, Aoi masih kecil.”

“Nggak boleh,” Aoi menggoyangkan telunjuk kanannya. “Nanti adik saja yang digendong Ayah.”

Reihan menatapku. Aku hanya tersenyum kecil dan mengucapkan kata tanpa suara agar tak didengar Aoi, “Minta adik.”
***

“Sejak kapan?” tanyaku cemas.

“Tiga hari yang lalu,” Tien menjawab dengan takut-takut.

“Mengapa tidak langsung dibawa ke dokter?” Kini aku menatap Mama.
Mama mengajakku duduk di bangku yang berseberangan dengan ruang ICU, di mana Anggun dibaringkan.

“Ketika suhu badannya tinggi, Mama langsung membawanya ke dokter anak,” Mama mulai menjelaskan. “Dokter sudah memberikan obat. Tapi, obat yang sebenarnya diinginkan Anggun adalah kau, Tania…”

Aku menatap kedua bola mata Mama, gamang. Kedua tanganku akhirnya menutup wajah. Lelah. Baru saja menginjakkan kaki di rumah, tiba-tiba mendapatkan kabar tak mengenakkan. Teguh di Kalimantan pula.

“Istirahatlah.” Mama mengusap-usap bahuku. “Kau belum makan, kan? Pulanglah ke rumah, Mama sudah menyiapkan tumis kangkung kesukaanmu di meja makan. Biar Mama dan Tien yang menjaga Anggun di sini.”

Aku mendongak dan berkata dengan tegas, “Tania ingin di sini saja sampai Anggun membuka mata.”
***

Aku mendekap Aoi dari belakang. Di sampingku, Reihan tetap bergeming. Kami cukup jauh dari pemakaman, tetapi mampu melihat apa yang terjadi ketika seseorang yang terbalut kain kafan itu mulai dibaringkan di atas tanah merah.

Aoi berbalik dan memelukku. Ia menangis. Aku mengusap-usap punggungnya.

“Dia teman baik Aoi, Bunda,” Aoi sesenggukan. “Dia yang selalu meminta bekal Aoi, padahal bekal yang dibawanya dibeli di restoran.”

Aku berlutut, mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Aoi. Ia kembali memelukku.

“Dia suka jika Aoi bercerita tentang Bunda. Aoi janji mengajaknya ke rumah dan bertemu Bunda. Tapi…” Aoi kembali menangis. Aku mulai merasakan air hangat membasahi bahuku.

Aku tak banyak bicara. Hanya menenangkan melalui usapan di punggung, juga rambutnya. Sedangkan mataku terus menatap ke depan. Pilu melihat perempuan yang mengusap-usap gundukan tanah, di mana teman baik Aoi dibaringkan untuk beristirahat.

“Ini Bunda, Sayang… Ayo bangun, jangan tidur di sana…” Air matanya mengalir tak henti-henti. “Nanti Bunda mandikan setiap hari. Tapi jangan begini…”

Perempuan separuh baya di samping perempuan yang menangis itu mengusap-usap bahunya, membuatnya berbalik dan memeluk perempuan separuh baya itu dengan erat.

“Tania jahat, Ma, Tania jahat,” isaknya. “Membiarkan Anggun sendirian. Seharusnya Tania yang merawatnya. Seharusnya Tania yang memandikannya. Seharusnya Tania ada ketika Anggun sakit. Tania jahat…”

Ntah rasa apa yang menyusup di sini, di hatiku. Gemuruh itu mulai kurasa, bersamaan dengan hangat yang mulai mengalir di pipi.

Kedua tangan Aoi masih melingkar di leherku dan aku pun mendekapnya semakin erat, tak ingin melepaskannya. Ia adalah hartaku, ia adalah sebagian dari diriku. Aku berjanji untuk melindunginya dari apapun. Aku akan memberikan lebih banyak cinta. Aku tak akan membiarkannya terluka. Aku harus ada di sisinya saat ia membutuhkan. Karena aku, adalah bunda.


Terinspirasi dari sebuah kisah tentang Alif kecil
Solo, 21 Desember 2011, 13.34

Semoga menjadi orang tua yang bijak

0 komentar:

Posting Komentar