Social Icons

6 Desember 2011

KEN


“Sudahlah, aku lelah.”

Aku bangkit dan meninggalkan Rio yang sedari tadi berdiri mematung. Mengambil kunci dan menghampiri Avanza Hitam yang bertengger di garasi, kemudian melesat membawanya lari sejauh mungkin.

Dadaku bergemuruh, memancing air di sudut-sudut mata untuk menumpahkan diri dan mengalir mengikuti lekuk wajah. Sesak.

Kaki kananku terus menginjak pedal gas seperti tak peduli dengan tangan yang kebingungan mengendalikan bundaran setir. Ke mana aku harus pergi dan membuang jauh-jauh penat ini?
***

Tentu aku ingat tempat ini. Saat berusia tujuh tahun, tempat ini menjadi tujuan utamaku setiap kali matahari mulai condong ke arah barat. Agak jauh dari rumah memang, setengah jam berjalan kaki. Tetapi, pegal di kaki tak terasa karena bersamanya.

Pertama kali melihatnya adalah ketika aku berniat lari sejauh mungkin dari rumah. Ibu dan Bapak bertengkar, ini untuk yang ke sekian kalinya. Aku menangis, menjauhkan mata dari melihat Bapak yang memukul pipi Ibu, menyeret-nyeretnya dari kamar hingga dapur, dan menjambak rambutnya sampai beberapa helainya tercabut dari kulit kepala. Aku ketakutan. Aku ingin menghilang. Aku ingin bersembunyi hingga tak mampu ditemukan.

Langkahku terhenti di sebuah lapangan kecil. Tanah yang tak begitu luas itu seringkali dijadikan tempat bermain voli, lomba makan kerupuk, dan lomba balap kelereng di bulan Agustus. Tanah ini dikelilingi sawah, agak jauh dari perkampungan. Hanya satu yang terlihat sangat menonjol dari lapangan ini, pohon beringin. Dan anak perempuan berkursi roda itu ada di sana.

Aku memperhatikannya dari jauh. Mengamati setiap inci yang ia lakukan. Menatap langit, menulis sesuatu. Mengelilingi beringin, menulis sesuatu. Merentangkan tangan ketika angin berhembus, menulis sesuatu. Aku tak mengerti mengapa ia selalu menulis.

Senja mulai tiba. Sebuah mesin beroda empat datang dan memarkirkan diri tak jauh dari tempatku duduk memperhatikan anak perempuan itu. Seorang perempuan seusia Ibu yang berambut sebahu membuka salah satu pintunya dan turun, menghampiri anak perempuan itu dan mendorong kursi rodanya menuju mobil. Sebelum mobil melaju, ia sempat membuka kaca jendela dan melambaikan tangan padaku seraya tersenyum. Aku tersentak. Ternyata ia tahu sedari tadi aku memperhatikannya.
***

Ia menamai diri, Kenzo. Terdengar seperti nama anak laki-laki memang. Tetapi, Ken suka sekali artinya. Hanya julukan. Sampai sekarang pun aku tak tahu nama aslinya. Anak perempuan berkursi roda itu terlihat menarik. Aku tak pernah mendengarnya bicara. Tetapi, selalu mendapatkan senyuman darinya.

Aku selalu mengunjunginya, ratusan menit sebelum senja tiba. Memiliki teman baru membuatku senang.

“Kau sedang apa?” tanyaku suatu waktu.

Ken menunjuk lembaran-lembaran putih bersih yang dijepit dengan klip di tangan kirinya dan pensil mekanik di tangan kanannya.

“Oh… Menulis.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Untuk apa?”

Ken menuliskan beberapa kata dan menunjukkannya padaku. “Untuk mencatat pemberian-pemberian Tuhan. Supaya aku tidak lupa bersyukur.”

Aku mengerutkan dahi.

“Mengapa kau tak bicara?”

Ken tersenyum, seperti yang selalu ia lakukan. “Aku tak memiliki suara.”
Aku sedikit terkejut, menemukan istilah yang telah lama diajarkan Ibu Guru padaku, bisu.

“Apakah kau bisa berlari?” aku bertanya lagi, penasaran mengapa Ken selalu duduk di kursi beroda.

Ken menggeleng, tetapi tetap tersenyum. “Bunda bilang, aku lumpuh sejak dilahirkan.”
Aku kembali mengerutkan dahi. Tidak mengerti, mengapa Tuhan membuatnya bisu dan lumpuh. Ken sangat baik.

“Tuhan itu adil.” Ken menyodorkan tulisan itu, seperti membaca pikiranku. “Kalau tidak, aku tidak akan ada di sini dan bertemu denganmu. Aku senang punya teman.”

Aku menatap kedua bola matanya yang berwarna kecokelatan. Seperti mencari penegasan. Pembenaran dari kata-kata yang baru saja dituliskan Ken.

Ken mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, aku menunjukkan selengkung sabit terindah dari bibirku untuk Ken.
***

Mengunci diri di dalam kamar, membiarkan suara-suara yang semakin keras dilontarkan. Tak cukup sekali, tak cukup dari satu bibir. Kata-kata itu seperti meluncur dengan kecepatan tinggi, beradu, menggemparkan langit-langit.
Perempuan itu lebih muda usianya dari Ibu. Tetapi, ia berani membentak dan melontarkan kata-kata kasar.

“Pelacur! Sekali lagi berani mendekati suamiku, kau kubunuh!”
Air mata Ibu tumpah ruah. Aku bisa mendengarnya terisak. Aku tidak berani membuka pintu. Aku tak ingin keluar dan melihat banyak hal mengerikan di sana.

“Sini kau, pulang!”

Bapak seperti tak berdaya mengikuti langkah kaki perempuan itu. Dari jendela, aku melihat mereka berdua pergi menjauh.

Ibu duduk, bersandar di sisi lain daun pintu kamar tempatku bersembunyi. Masih terisak.

“Ibu bukan pelacur, Nak,” katanya parau. “Bibi itu pasti salah orang.”
Aku menangis. Terus menangis. Bulir-bulir air dari mataku rasanya tak habis-habis.
***

“Mengapa kau bersyukur pada Tuhan?” aku menatap Ken tajam.

“Karena Tuhan telah memberikan banyak hal indah.”

Aku melengos, menghindar untuk melihat senyumnya.

“Mengapa kau tidak marah? Tuhan telah membuatmu bisu dan lumpuh.”

Ken mundur, menjauhkan diri dariku. Tangannya memutar roda dan menggerakkan kursinya menuju sisi pohon yang berlawanan dengan sisi pohon tempatku bersandar. Tangannya menunjuk ke langit. Aku mengikuti arah telunjuknya.

Senja hampir tiba. Gumpalan-gumpalan awan yang semula terlihat jelas berarak, kini terlihat berpencar. Mewarnai langit dengan warna putih hampir merata. Garis-garis keemasan terlukis di antaranya. Terselip puluhan burung membentuk formasi tertentu seraya ber’aak’ riang.

“Indah?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Itu hadiah dari Tuhan,” kata Ken lagi, melalui kertas di tangannya. “Untuk apa kita marah jika Tuhan selalu memberi hadiah?”

“Benarkah?” Aku menerawang. “Tetapi, mengapa Tuhan membuat kita bersedih?”
Ken tersenyum. Selalu seperti itu. Ia tampaknya memiliki jutaan bahkan milyaran senyum untuk dibagikan.

“Supaya kita mendongakkan kepala, menengadahkan tangan dan berdoa, meminta Tuhan memberikan lebih banyak hadiah untuk menghibur kita.”
Aku menatap Ken yang masih tersenyum memandang langit.

“Apakah Tuhan mendengar kita bicara?”

Ken menoleh dan tertawa kecil, meski tanpa suara. “Tentu saja. Tuhan itu hebat. Bisa mendengar bahkan mengabulkan permintaan kita.”

Ken meraih kedua tangan dan mengangkatnya setinggi dada menghadap ke wajah. Aku mengikutinya.

“Begitu kalau mau berdoa.”

“Kau kan bisu.”

“Tuhan bisa mendengar doa siapapun. Tuhan bisa mendengar doa yang terucap bahkan yang hanya tersimpan di dalam hati.”
***

Kami pergi, meninggalkan kampung tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku tidak tahu ke mana Ibu mengajak. Mungkin ke kota. Mungkin ke tempat saudara. Yang pasti, Ibu tak ingin kami kembali lagi ke kampung ini.

Aku menangis ketika bus yang kami naiki perlahan melaju. Aku belum berpamitan pada Ken. Aku belum sempat membuat bingkisan atau semacamnya untuk dikenang Ken ketika aku jauh. Aku tak sempat bersalaman atau mengucapkan kata-kata perpisahan. Ia pasti menungguku di bawah beringin itu.

Aku pasti rindu dengan senyumannya. Aku pasti rindu menatap langit bersamanya. Aku pasti rindu menghabiskan sore mendengarkan ia bercerita tentang Tuhan dan kehebatan-kehebatanNya. Aku pasti merindukannya. Aku pasti merindukan Kenzo.
***

Aku menghapus air bening yang sedari tadi menitik dan membasahi pipi. Mengingat masa itu, mengingat masa ketika Ken masih bersamaku. Beringin itu masih kokoh di sana. Seperti menantiku kembali dan mendengarkan kabar yang kubawa setelah dua puluh tahun tak menyapa.

Avanza Hitam kuparkir tepat di tempat mobil Ken biasa terparkir dulu. Perlahan, kuhampiri sang beringin. Meraba batangnya yang mungkin telah bertambah diameternya. Sembari menatap langit, sembari mencari pendar-pendar keemasan terselip di antara gemawan putih yang menghiasinya.

Angin perlahan berhembus. Aku merentangkan tangan dan memejamkan mata. Sejuknya, semilirnya, bahkan bisikan-bisikan angin di telinga mampu kurasa. Ken benar. Tuhan telah memberikan banyak sekali hadiah.

Aku mengusap-usap kembali beringin tua itu. Berpamitan seraya tersenyum. Namun, jemariku seperti terantuk sesuatu. Plastik atau semacamnya, aku tak tahu pasti. Sesuatu itu menyembul pada sisi batang tempat Ken biasa mengusapnya jika akan pulang seolah berkata, “Pamit dulu ya…”

Aku menariknya keluar. Agak sulit. Batang ini keras sekali. Aku pun sedikit mencongkelnya dengan kunci. Puluhan detik berselang, sesuatu itu pun mampu kulihat wujudnya.

Secarik kertas berwarna kekuning-kuningan dibungkus plastik transparan. Aku membukanya. Sebuah surat.

Kenzo desu ^^
Baikkah kau di sana, Pit? Ah… Aku rindu.
Kau tahu, aku lupa memberitahumu arti namaku.
Kenzo, yang katamu nama anak laki-laki itu,
artinya berani dan bijak, dari Bahasa Jepang.
Sepertinya, aku ingin menjadi seorang pemberani dan bijaksana di hadapan Tuhan.

Maaf tak memberitahumu, kau pasti menungguku.
Aku juga tidak mengerti mengapa Bunda membaringkanku di ranjang putih ini,
memasangkan banyak alat canggih di tubuhku, dan
tidak lagi mengizinkanku mengunjungi beringin itu.
Aku meminta Bunda agar menyampaikan ini padamu.

Ingat ini ya…
Ashita hareru kana (esok pasti cerah kan?)
Karena Tuhan masih akan memberi kita banyak hadiah indah.
Sampai jumpa di surga ^^

Bulir-bulir air dari mataku meluncur dengan cepat. Apa yang terjadi dengan Ken? Sudahkah ia dipanggil Tuhan?

Aku terisak. Mendekap erat tulisan Ken yang mungkin akan menjadi tulisan terakhir yang Ken tulis untukku. Mengapa dulu aku begitu bodoh, tidak menyadari bahwa ia begitu menyukai Bahasa Jepang. Jika aku pintar, pasti akan kutanyakan pada Ibu Guru, bagaimana cara menuliskan nama Kenzo dengan aksara Jepang yang bertumpuk-tumpuk itu. Aku pasti akan menulisnya dengan baik dan menghiasnya dengan pensil warna. Aku tak pernah memberinya hadiah, tetapi Ken selalu memberiku senyum yang bagiku adalah hadiah terindah pada masa itu.
***

“So sorry, Dear…”

Aku memeluknya, erat sekali. Seperti tak ingin melepaskannya pergi. Rio mengusap-usap punggungku, membiarkan aku menangis dan membasahi kemejanya.

“Aku seharusnya tidak egois. Aku seharusnya mendengarkanmu. Aku seharusnya tidak membentak dan meninggalkanmu seperti itu.”

Aku semakin mendekapnya, seperti tak ingin kehilangan sesuatu yang begitu berharga. Tidak lagi.

Rio membelai lembut rambutku, “Kau kenapa?”

“Berjanjilah untuk mengingatkanku selalu. Kita seharusnya menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin. Tak perlu bertengkar.”

Aku merasakan anggukan kepala Rio.

“Untuk putri kita…”

Benar. Seharusnya seperti itu. Menjaga hati seseorang yang masih teramat muda usianya. Menjaganya agar tak terluka. Menjaga dan membuatnya nyaman karena kami adalah orang tua yang harus melindunginya.

11.11
5 Desember 2011
Untuk kita, calon orang tua

0 komentar:

Posting Komentar