Social Icons

19 Juni 2012

Jangan Serakkan


nyatanya aku masih terduduk.
dalam rengkuhan bayu yang berhembus sendu.
nyatanya aku masih tergugu.
bersama layu yang semakin membiru.

kumohon, jangan lagi kau ambil paksa.
sebagian jiwaku yang tlah menjadi perca.
ianya sedang kutata.
jangan serakkan.
jangan rusakkan.
Readmore - Jangan Serakkan

18 Juni 2012

Nyontek?


Rani mendengus, menatap tumpukan buku di hadapannya. Ia memandang berkeliling, memperhatikan teman-temannya yang juga sedang berkutat dengan berbagai catatan pelajaran. Ujian semester sudah di ambang mata. Dalam hitungan hari murid-murid akan segera bergelut dengan soal-soal ujian. Sepertinya ujian kali ini adalah bencana untuk Rani. Ia benar-benar harus ekstra belajar karena jalan pintas yang selama ini ia tempuh rasanya sudah tidak efektif lagi. Hal itu tidak hanya dirasakan oleh Rani. Sebagian besar teman-temannya pun mengeluhkan hal yang sama.

Ujian semester kali ini terasa berbeda karena kedatangan Guru Bahasa Inggris mereka yang baru. Rani biasa menyebutnya Miss Spooky. Ia menganggap gurunya itu benar-benar menyeramkan. Pasalnya, sejak kedatangan Miss Spooky, nilai Bahasa Inggrisnya menurun drastis. Guru yang satu itu tidak bisa diajak kompromi hingga ia betul-betul harus mengisi lembar jawaban sesuai kemampuannya. Tidak ada kata mencontek di kamus Miss Spooky.

Nama aslinya Nurul Afifah. Murid-murid biasa memanggilnya Miss Fi. Cantik dan selalu nampak anggun dengan kerudung biru cerah yang biasa ia kenakan. Cocok sekali dengan kulitnya yang putih. Sebetulnya Miss Fi sangat ramah. Ia selalu tersenyum hingga sebuah lesung nampak menyembul malu di pipi kanannya. Tetapi, semua kecantikan dan keramahannya seolah tenggelam karena mata awasnya yang menjaga murid-murid sewaktu ulangan.

"Ulangan pertama besok pelajaran apa?" Rani bertanya pada Siska, teman sebangkunya.

"PKn," jawab Siska singkat.

"Siapa pengawasnya?" tanya Rani lagi.

"Pak Anwar," Siska menjawab tanpa menoleh karena sedang mengerjakan soal-soal latihan.

Ada perasaan lega menyelimuti hati Rani. Ia tahu betul Pak Anwar yang lebih suka menikmati sajian hangat di koran daripada memperhatikan murid-murid yang berkutat mencari jawaban soal.

***

Teng! Teng! Teng!

Bel tanda ujian dimulai sudah berbunyi. Rani menyelipkan sebuah catatan kecil di sakunya dan bergegas menuju kelas. Alangkah terkejutnya ia ketika menangkap sosok Miss Fi yang berdiri di pintu kelas yang masih tertutup. Teman-temannya pun merasa heran, mengapa bukan Pak Anwar yang ada di hadapan mereka.

"Ibu Pak Anwar sakit," kata Miss Fi seraya tersenyum, menjawab pertanyaan yang belum sempat terucap dari bibir para murid. "Jadi, saya yang menggantikan beliau mengawas di sini."

Sebagian murid ber'ooo' ria, sementara yang lain terdiam. Tak senang melihat guru yang tidak mereka harapkan itu.

"Siapkan alat tulis kalian dan tas-tas diletakkan di depan kelas," Miss Fi memberi instruksi. "Ponsel disilent dan letakkan di meja saya, okey guys?"

Murid-murid meletakkan tas dan mengambil alat tulis mereka, kemudian berbaris. Satu per satu murid menyerahkan ponsel dengan enggan meski Miss Fi tersenyum ramah.

Tiga puluh menit berlalu. Murid-murid tampak khusyu' mengisi lembar jawaban. Hening. Agaknya mereka berpikir, membuat keributan berarti memancing masalah.

Rani menunduk. Sesekali menoleh ke arah jam dinding. Tersisa puluhan menit sedangkan soal essay belum satupun terisi. Bingung mulai merayap di pikirannya. Ia tidak belajar karena ia pikir akan mudah beraksi pagi ini. Sayangnya, Rani sedang tidak beruntung. Miss Fi berdiri di depan kelas dengan begitu waspada, seolah tak ada sedikitpun gerakan yang luput dari pandangannya.

Rani memandang Ria yang duduk di bangku di samping kirinya. Ria tak juga menoleh. Rani tak berani memanggilnya meski hanya dengan berdesis.

Ah... Semakin frustasi. Ia tak ingin remedial. Dan waktu terus berjalan sementara lembar jawabannya terus memanggil untuk diisi.

Catatan di sakunya begitu menggiurkan. Akhirnya, ia mengeluarkannya perlahan. Tidak ada cara lain, hanya ini yang bisa membantu, batinnya.

Rani menatap catatan yang ada di jemarinya yang tersembunyi di laci meja. Tetapi, sang pengawas tiba-tiba berjalan ke arahnya. Cepat-cepat Rani menyembunyikan catatan itu ke dalam kotak pensilnya. Takut Miss Fi mengetahui apa yang baru saja ia lakukan.

Miss Fi berjalan melewati bangku Rani dan berhenti di samping bangku Robi yang duduk di bangku paling belakang. Sesaat Rani lega, namun masih tak berani melirik catatan kecilnya. Miss Fi pasti bisa melihat aksinya dengan jelas jika ia berdiri di belakang kelas seperti itu.

"Lima belas menit lagi ya," Miss Fi mengingatkan seraya berjalan kembali ke depan kelas. Sementara Rani semakin gelisah. Tangan kirinya menyentuh kotak pensil, tetapi jemarinya tak bisa menarik keluar catatannya.

Tiba-tiba, Miss Fi memberikan selembar kertas pada Rani saraya melewatinya. Miss Fi tidak berkata apa-apa. Meski terkejut, Rani membaca tulisan yang ditulis besar-besar oleh Miss Fi di kertas itu.

"Mau nyontek? Allah Maha Tahu, Sayang..."

Rani tertegun. Menatap Miss Fi yang berjalan membelakanginya. Nanar.

**end**



Cerpen jadul, ditulis ketika saya masih lucu-lucunya :p

11 Desember 2005
Readmore - Nyontek?

15 Juni 2012

Cinta dalam Asa


Akhir-akhir ini saya sering kali menyengajakan diri mendengarkan Weathercock, sebuah instrumen yang dibawakan oleh Depapepe. Membayangkan diri tengah mereguk secangkir teh dengan sebuah buku tergenggam di tangan yang lain. Sementara kedua retina menangkap pendar-pendar cahaya keemasan dari sang mentari yang perlahan beranjak ke ufuk barat. Duduk di beranda, dengan kolam kecil membunyikan gemericik air yang mengalir dari air terjun mungil yang sengaja disetting untuk menambah indah kediaman sang ikan. Sementara di sekelilingnya, ada tanaman hidroponik yang berjajar manis. Saya menanam cabe, tomat, bayam cabut, kangkung cabut, ketela, dan tanaman lain yang tak kalah asik dinikmati kala berkebun. Dan mungkin, kala itu saya tak sendiri.

Mimpi. Katakanlah begitu. Dalam benak saya menginginkan tempat tinggal yang begitu nyaman. Hijau, sejuk, juga menenangkan. Dan rumah yang seperti ini, tak mungkin dibangun seorang diri. Akan ada orang lain yang ikut mengisi bahkan membenahi ketika mungkin tata letak perabotan kurang pas, menegur ketika masakan terlalu asin, atau bahkan kaki-kaki mungil yang berlari ke sana ke mari karena tak mau mandi. Ah... Hanya sejenak memimpikannya. Sembari mengulum senyum tanpa henti. Mungkin, butuh ratusan hari untuk menunggu masanya.

Seringkali saya menghindar ketika teman-teman membahas hal ini. Malu, tentu saja. Dahulu saya seringkali diledek teman karena intensnya saya membahas topik ini. Meski tak menafikan, saya, layaknya perempuan lain, kadang kala memimpikan rumah seperti apa yang kelak ingin ditempati.

Saya menyebut kehidupan seperti sebuah cangkir. Mungkin, sejak untuk pertama kalinya saya menerima hadiah sepasang cangkir (mug) bernuansa kehijauan dari seorang teman dekat. Ya. Layaknya sebuah cangkir, kehidupan menyajikan minuman yang beraneka rasa. Terkadang manis seperti susu, terkadang hambar seperti air, terkadang pahit seperti kopi tanpa gula. Ada kalanya ia menyejukkan juga menyegarkan. Namun, suatu waktu ia hadir begitu hangat dan menentramkan. Mungkin juga terlewat panas hingga membakar lidah. Ah... Semuanya akan tetap indah saat apa yang terseduhkan adalah cinta.

Sebagaimana saya menamai blog pribadi, Untukku Juga untukmu. Saya menginginkan kehidupan penuh cinta. Tentu saja mereguk secangkir teh akan lebih nikmat jika ada teman berbagi. Menyeduhkan secangkir susu bukan hanya untuk diri tetapi juga anak-anak. Membuatkan bercangkir-cangkir jus segar untuk para tamu. Atau membungkusnya dalam cangkir sekali pakai untuk dibagikan pada para ahli shaum.

Ya, filosofi yang terkemas cukup apik (setidaknya bagi saya). Tentang kehidupan yang terlalu singkat untuk hanya memikirkan diri sendiri. Mencita-citakan diri menjadi sosok yang taat dan membawa manfaat, tak hanya untuk mereka yang tinggal seatap dengan kita, melainkan juga mereka yang mungkin kita temui selama perjalanan menuju asa.

Namun kemudian, sejenak saya terpaku, teringat puluhan jam yang lalu. Saya tengah mengambil hikmah dari sebuah kisah tentang keluarga kecil. Yah, intinya hanya satu, perselingkuhan. Seperti bukan kata asing. Kata ini kerap beterbangan di sekitar kita atau bahkan dialami oleh orang-orang terdekat. Takut, tentu saja. Bagaimana jika di kemudian hari hal ini terjadi pada kita?

Tak pernah sekalipun kita menginginkan kehidupan yang tak bahagia. Hanya saja, terkadang, ketakbahagiaan datang karena berawal dari kesalahan kita. Mungkin saja keniatan yang tersembunyi di dalam hati tak cukup lurus ketika kaki baru saja akan melangkah menuju penggenapan setengah dien. Atau mungkin kita tak cukup pandai merayu Dia untuk memberikan barokah dalam setiap langkah, juga penjagaan untuk setiap apa yang kita lihat, dengar, dan rasa. Sepertinya, kuncinya hanya itu. Bagaimana hubungan antara kita dan Dia.

Cinta dalam taat. Ya. Pengejawantahan cinta, pertama-tama harus karena Dia, sang pemberi cinta. Jika setiap kita berucap dan berlaku, kita mengingat Dia yang Maha Tahu segala sesuatu, tentu kita akan terjaga dan terhindar dari apapun yang mungkin akan menggelincirkan kedua kaki dari jalanNya. Begitu kan? :)

Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti kita, saat ini, juga nanti pada kehidupan berikutnya :)
Readmore - Cinta dalam Asa

14 Juni 2012

Cinta dalam Kata


"Mana tulisanmu yang baru?" tanya seorang teman.

Ia orang ke sekian setelah beberapa teman yang lain bertanya hal yang sama. Senang, tentu saja. Meski tak tahu apakah mereka menyukai, mengulum sejenak tulisanku, mencecapnya, sebelum kemudian menyesaki lambung-lambung mereka dan diserap sari-sarinya oleh darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh layaknya makanan bernutrisi. Setidaknya, aku tahu tulisanku dinikmati, meski hanya oleh beberapa pasang mata.

Ya. Kalian benar. Puluhan hari kulewati dan tak jua menambah postingan baru di note diary on line-ku. Ntah buntu, ntah terlalu banyak terpaku. Agaknya aku tak memiliki alasan yang benar-benar tepat untuk ungkapkan, mengapa tak segera merangkai jutaan kata seperti dahulu.

Cinta itu menggerakkan. Benar. Cinta yang dahulu begitu setia hadir dalam benak, menyentuh jemariku hingga mampu berlama-lama menekan tuts keyboard, memunculkan satu, dua, tiga, bahkan ribuan huruf di layar, hingga membentangkan sebuah tulisan. Terkadang haru dalam biru, sesekali merah karena ceria. Cinta, aku merindukannya...

Cinta untuk setiap nafas yang Ia anugerahkan. Cinta untuk syukur tak terkira atas setiap miracle yang Ia beri di setiap inchi hidupku. Cinta untuk berbagi hikmah kepada kau, kalian, juga mereka. Cinta dalam dekapNya, bersama orang-orang yang saling mencinta karenaNya. Ya. Cinta itu yang menguatkan niat untuk tetap taat juga saling mengingatkan dalam kebaikan. Melalui tulisan...

Asa. Nampak sekali bahwa aku melupakannya. Terlena dengan banyak hal baru di sekelilingku. Terlupa bahwa setiap detik waktu yang memburu disesaki banyak rasa tuk penuhi qalbu. Semoga kembali temukan cinta untuk kuatkan langkah dalam menarikan kata demi kata untuk berbagi asa.

-------*o*o*o--------

Terima kasih telah mengingatkan (untuk terus menulis) :)

Semoga segera bisa hasilkan tulisan yang renyah, enak dikunyah, sekaligus menyehatkan.

Semoga hariku dan harimu barokah :)
Readmore - Cinta dalam Kata

10 Juni 2012

Perca Luka


aku pun tengah terduduk
termangu, tergugu
masih saja mencari celah
mengoreh sisa-sisa asa

perca-perca luka
tak juga tersapu meski berbasah air mata
bisakah kembali kupinta
hatiku, yang dahulu kutitipkan?

dan kau, pergilah bersama hujan
Readmore - Perca Luka

7 Juni 2012

Langitku


aku menemukanmu dalam kelabu
di sela purnama yang menyembul malu
saat dedaunan menelisik di antara debu

aku merindumu dalam biru
terselimuti gemawan yang berarak syahdu
senandungkan hari dengan harap satu
semoga angin terbangkan sendu agar berlalu
Readmore - Langitku

6 Juni 2012

untuk "Hujan Bulan Juni"


aku menantinya, hujan itu
tak jua lelah,
meski sungguh ribuan detik dalam Juniku
belum sempat tersapa rintik jejarum bening itu

dan aku menantinya, hujan itu
tuk sapukan ratusan jejak yang menapaki sisi gelapku
agar hanya sisakan dedaunan tanpa debu

>>> jawaban untuk puisi "Hujan Bulan Juni" SDD :)
Readmore - untuk "Hujan Bulan Juni"

1 Juni 2012

Pelangi di Tawangmangu

Teteh Helm alias Teh Noviyanti Pertiwi, ceritanya lagi kangen sama saya, hihihi... Soalnya waktu S1 dulu kita dekeeet banget. Dan sekarang harus dipisahkan jarak karena takdir yang berbeda, Teh Novi kerja di BTPN Cirebon dan saya lanjut S2 di UNS, Solo. Akhirnya, modal nekat, si teteh ambil cuti untuk liburan di Solo-Jogja, hohoho...

Setiap ada yang main ke Solo, saya girangnya minta ampun. Tandanya saya mau jalan-jalan, yiiihaaa... Karena saya belum pernah ke Tawangmangu, saya ajak Teh Novi ke sana. Tapi, sore ya Teh, soalnya Jumat ada kajian di Forum Muslimah Pascasarjana, hihihi...

Saya ga banyak tau tentang Tawangmangu, jadi cuma modal SMS-an sama teman plus lihat petunjuk jalan di kanan kiri. Alhamdulillah sampai Tawangmangu juga, hahaha... Agaknya, Tawangmangu punya banyak tempat keren, tapi karena udah sore, kami pilih ke Grojokan Sewu sajooo...


Kalau ada Teh Novi, gampang laaah buat nyari angle bagus untuk foto :p


Ada kodok sama ular mau berantem! Teh Novi dengan gaya pahlawan, (sok) menengahi, hahahah


Aksara Jawa di jembatan itu dibacanya, “Jangan berhenti di tengah jalan.” Hahaha... Ngarang. Itu kan tulisan di sisi belakangnya :D


Ada pelangiiiiiiiiiiiiiii...! Histeris gitu deh waktu tau ada mejikuhibiniu melengkung di dekat air terjun. Beruntung sekali yah, datang sore-sore begini. Dapet momen yang jarang ada \(^.^)/




















"Mamaaaaa.. Aku udah lebih tinggi dari air terjun!" (ketawa ketiwi)


Hati-hati lensa kamera anda! (efek foto terlalu dekat dengan air terjun)


Karena jam empat kawasan wisatanya tutup, kami cuma sejam stay di sana. Lumayan, lumayan... Cukuplah untuk cuci mata dowang, jadi ga habis duwit buat jajan karena yang jualannya juga udah pada pulang, hihihi...
Readmore - Pelangi di Tawangmangu