Social Icons

15 Juni 2012

Cinta dalam Asa


Akhir-akhir ini saya sering kali menyengajakan diri mendengarkan Weathercock, sebuah instrumen yang dibawakan oleh Depapepe. Membayangkan diri tengah mereguk secangkir teh dengan sebuah buku tergenggam di tangan yang lain. Sementara kedua retina menangkap pendar-pendar cahaya keemasan dari sang mentari yang perlahan beranjak ke ufuk barat. Duduk di beranda, dengan kolam kecil membunyikan gemericik air yang mengalir dari air terjun mungil yang sengaja disetting untuk menambah indah kediaman sang ikan. Sementara di sekelilingnya, ada tanaman hidroponik yang berjajar manis. Saya menanam cabe, tomat, bayam cabut, kangkung cabut, ketela, dan tanaman lain yang tak kalah asik dinikmati kala berkebun. Dan mungkin, kala itu saya tak sendiri.

Mimpi. Katakanlah begitu. Dalam benak saya menginginkan tempat tinggal yang begitu nyaman. Hijau, sejuk, juga menenangkan. Dan rumah yang seperti ini, tak mungkin dibangun seorang diri. Akan ada orang lain yang ikut mengisi bahkan membenahi ketika mungkin tata letak perabotan kurang pas, menegur ketika masakan terlalu asin, atau bahkan kaki-kaki mungil yang berlari ke sana ke mari karena tak mau mandi. Ah... Hanya sejenak memimpikannya. Sembari mengulum senyum tanpa henti. Mungkin, butuh ratusan hari untuk menunggu masanya.

Seringkali saya menghindar ketika teman-teman membahas hal ini. Malu, tentu saja. Dahulu saya seringkali diledek teman karena intensnya saya membahas topik ini. Meski tak menafikan, saya, layaknya perempuan lain, kadang kala memimpikan rumah seperti apa yang kelak ingin ditempati.

Saya menyebut kehidupan seperti sebuah cangkir. Mungkin, sejak untuk pertama kalinya saya menerima hadiah sepasang cangkir (mug) bernuansa kehijauan dari seorang teman dekat. Ya. Layaknya sebuah cangkir, kehidupan menyajikan minuman yang beraneka rasa. Terkadang manis seperti susu, terkadang hambar seperti air, terkadang pahit seperti kopi tanpa gula. Ada kalanya ia menyejukkan juga menyegarkan. Namun, suatu waktu ia hadir begitu hangat dan menentramkan. Mungkin juga terlewat panas hingga membakar lidah. Ah... Semuanya akan tetap indah saat apa yang terseduhkan adalah cinta.

Sebagaimana saya menamai blog pribadi, Untukku Juga untukmu. Saya menginginkan kehidupan penuh cinta. Tentu saja mereguk secangkir teh akan lebih nikmat jika ada teman berbagi. Menyeduhkan secangkir susu bukan hanya untuk diri tetapi juga anak-anak. Membuatkan bercangkir-cangkir jus segar untuk para tamu. Atau membungkusnya dalam cangkir sekali pakai untuk dibagikan pada para ahli shaum.

Ya, filosofi yang terkemas cukup apik (setidaknya bagi saya). Tentang kehidupan yang terlalu singkat untuk hanya memikirkan diri sendiri. Mencita-citakan diri menjadi sosok yang taat dan membawa manfaat, tak hanya untuk mereka yang tinggal seatap dengan kita, melainkan juga mereka yang mungkin kita temui selama perjalanan menuju asa.

Namun kemudian, sejenak saya terpaku, teringat puluhan jam yang lalu. Saya tengah mengambil hikmah dari sebuah kisah tentang keluarga kecil. Yah, intinya hanya satu, perselingkuhan. Seperti bukan kata asing. Kata ini kerap beterbangan di sekitar kita atau bahkan dialami oleh orang-orang terdekat. Takut, tentu saja. Bagaimana jika di kemudian hari hal ini terjadi pada kita?

Tak pernah sekalipun kita menginginkan kehidupan yang tak bahagia. Hanya saja, terkadang, ketakbahagiaan datang karena berawal dari kesalahan kita. Mungkin saja keniatan yang tersembunyi di dalam hati tak cukup lurus ketika kaki baru saja akan melangkah menuju penggenapan setengah dien. Atau mungkin kita tak cukup pandai merayu Dia untuk memberikan barokah dalam setiap langkah, juga penjagaan untuk setiap apa yang kita lihat, dengar, dan rasa. Sepertinya, kuncinya hanya itu. Bagaimana hubungan antara kita dan Dia.

Cinta dalam taat. Ya. Pengejawantahan cinta, pertama-tama harus karena Dia, sang pemberi cinta. Jika setiap kita berucap dan berlaku, kita mengingat Dia yang Maha Tahu segala sesuatu, tentu kita akan terjaga dan terhindar dari apapun yang mungkin akan menggelincirkan kedua kaki dari jalanNya. Begitu kan? :)

Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti kita, saat ini, juga nanti pada kehidupan berikutnya :)

0 komentar:

Posting Komentar