Social Icons

18 Juni 2012

Nyontek?


Rani mendengus, menatap tumpukan buku di hadapannya. Ia memandang berkeliling, memperhatikan teman-temannya yang juga sedang berkutat dengan berbagai catatan pelajaran. Ujian semester sudah di ambang mata. Dalam hitungan hari murid-murid akan segera bergelut dengan soal-soal ujian. Sepertinya ujian kali ini adalah bencana untuk Rani. Ia benar-benar harus ekstra belajar karena jalan pintas yang selama ini ia tempuh rasanya sudah tidak efektif lagi. Hal itu tidak hanya dirasakan oleh Rani. Sebagian besar teman-temannya pun mengeluhkan hal yang sama.

Ujian semester kali ini terasa berbeda karena kedatangan Guru Bahasa Inggris mereka yang baru. Rani biasa menyebutnya Miss Spooky. Ia menganggap gurunya itu benar-benar menyeramkan. Pasalnya, sejak kedatangan Miss Spooky, nilai Bahasa Inggrisnya menurun drastis. Guru yang satu itu tidak bisa diajak kompromi hingga ia betul-betul harus mengisi lembar jawaban sesuai kemampuannya. Tidak ada kata mencontek di kamus Miss Spooky.

Nama aslinya Nurul Afifah. Murid-murid biasa memanggilnya Miss Fi. Cantik dan selalu nampak anggun dengan kerudung biru cerah yang biasa ia kenakan. Cocok sekali dengan kulitnya yang putih. Sebetulnya Miss Fi sangat ramah. Ia selalu tersenyum hingga sebuah lesung nampak menyembul malu di pipi kanannya. Tetapi, semua kecantikan dan keramahannya seolah tenggelam karena mata awasnya yang menjaga murid-murid sewaktu ulangan.

"Ulangan pertama besok pelajaran apa?" Rani bertanya pada Siska, teman sebangkunya.

"PKn," jawab Siska singkat.

"Siapa pengawasnya?" tanya Rani lagi.

"Pak Anwar," Siska menjawab tanpa menoleh karena sedang mengerjakan soal-soal latihan.

Ada perasaan lega menyelimuti hati Rani. Ia tahu betul Pak Anwar yang lebih suka menikmati sajian hangat di koran daripada memperhatikan murid-murid yang berkutat mencari jawaban soal.

***

Teng! Teng! Teng!

Bel tanda ujian dimulai sudah berbunyi. Rani menyelipkan sebuah catatan kecil di sakunya dan bergegas menuju kelas. Alangkah terkejutnya ia ketika menangkap sosok Miss Fi yang berdiri di pintu kelas yang masih tertutup. Teman-temannya pun merasa heran, mengapa bukan Pak Anwar yang ada di hadapan mereka.

"Ibu Pak Anwar sakit," kata Miss Fi seraya tersenyum, menjawab pertanyaan yang belum sempat terucap dari bibir para murid. "Jadi, saya yang menggantikan beliau mengawas di sini."

Sebagian murid ber'ooo' ria, sementara yang lain terdiam. Tak senang melihat guru yang tidak mereka harapkan itu.

"Siapkan alat tulis kalian dan tas-tas diletakkan di depan kelas," Miss Fi memberi instruksi. "Ponsel disilent dan letakkan di meja saya, okey guys?"

Murid-murid meletakkan tas dan mengambil alat tulis mereka, kemudian berbaris. Satu per satu murid menyerahkan ponsel dengan enggan meski Miss Fi tersenyum ramah.

Tiga puluh menit berlalu. Murid-murid tampak khusyu' mengisi lembar jawaban. Hening. Agaknya mereka berpikir, membuat keributan berarti memancing masalah.

Rani menunduk. Sesekali menoleh ke arah jam dinding. Tersisa puluhan menit sedangkan soal essay belum satupun terisi. Bingung mulai merayap di pikirannya. Ia tidak belajar karena ia pikir akan mudah beraksi pagi ini. Sayangnya, Rani sedang tidak beruntung. Miss Fi berdiri di depan kelas dengan begitu waspada, seolah tak ada sedikitpun gerakan yang luput dari pandangannya.

Rani memandang Ria yang duduk di bangku di samping kirinya. Ria tak juga menoleh. Rani tak berani memanggilnya meski hanya dengan berdesis.

Ah... Semakin frustasi. Ia tak ingin remedial. Dan waktu terus berjalan sementara lembar jawabannya terus memanggil untuk diisi.

Catatan di sakunya begitu menggiurkan. Akhirnya, ia mengeluarkannya perlahan. Tidak ada cara lain, hanya ini yang bisa membantu, batinnya.

Rani menatap catatan yang ada di jemarinya yang tersembunyi di laci meja. Tetapi, sang pengawas tiba-tiba berjalan ke arahnya. Cepat-cepat Rani menyembunyikan catatan itu ke dalam kotak pensilnya. Takut Miss Fi mengetahui apa yang baru saja ia lakukan.

Miss Fi berjalan melewati bangku Rani dan berhenti di samping bangku Robi yang duduk di bangku paling belakang. Sesaat Rani lega, namun masih tak berani melirik catatan kecilnya. Miss Fi pasti bisa melihat aksinya dengan jelas jika ia berdiri di belakang kelas seperti itu.

"Lima belas menit lagi ya," Miss Fi mengingatkan seraya berjalan kembali ke depan kelas. Sementara Rani semakin gelisah. Tangan kirinya menyentuh kotak pensil, tetapi jemarinya tak bisa menarik keluar catatannya.

Tiba-tiba, Miss Fi memberikan selembar kertas pada Rani saraya melewatinya. Miss Fi tidak berkata apa-apa. Meski terkejut, Rani membaca tulisan yang ditulis besar-besar oleh Miss Fi di kertas itu.

"Mau nyontek? Allah Maha Tahu, Sayang..."

Rani tertegun. Menatap Miss Fi yang berjalan membelakanginya. Nanar.

**end**



Cerpen jadul, ditulis ketika saya masih lucu-lucunya :p

11 Desember 2005

0 komentar:

Posting Komentar