Social Icons

31 Agustus 2012

Air Susu Dibalas Air Teh

Menjelang keberangkatan saya atau Bayu ke pulau seberang untuk kembali ke dunia kampus, Mama yang paling repot, "Mau dimasakin apa?"

Nanti-nanti, rendang atau dendeng atau sambal ayam atau apapun itu namanya, pasti sudah tersedia untuk bekal kami dua tiga hari di rantau. Mama baik sekali ya?

Tapi lihatlah, anak perempuan Mama satu-satunya ini. Bukannya bilang terima kasih, malah bikin Mama mencak-mencak, "Lia ini lho kerjaannya ngerampok.."

Pasalnya, setiap kali kembali ke rantau, saya juga membawa serta baju atau kerudung baru Mama dengan dalih, "Buat Lia aja ya Maaa.. Mama kan udah laku. Ga pake baju baru juga udah cantik jelita."

"Ya lah bawa aja sanah. Mama orang 'sugih' gitu loh, bisa beli yang baru lagi."

:D :D :D
Readmore - Air Susu Dibalas Air Teh

29 Agustus 2012

Nasi Goreng Brokoli

Candra semangat banget ya... Udah bikin Avocado Pound Cake & Healthy Rainbow Cake, dia minta dibikinin nasi goreng dong buat makan siang :O

"Candra pengen makan nasi goreng buatan Mbak Au." Melting lah ya saya dibilang gini :p

Karena brokoli sisa bikin Healthy Rainbow Cake masih ada, akhirnya saya kukus & saya tumbuk (dengan bantuan asisten tentunya, hahaha) untuk campuran nasi goreng. Masaknya kaya nasi goreng biasa kok, cuma pakai bawang merah, bawang putih, n garam. Biar pedas dan menyesuaikan warna brokoli, saya pakai cabe rawit hijau. Dikasih orak-arik telur juga. Dan, taraaaaa...


Itu hiasan atasnya timun isi telur lho, hehe... Ini gara-gara liat postingan Lily di fb (goreng telur mata sapi dicetak pake paprika). Karena ga ada paprika, pake timun deh.

Timun dibuang kulitnya, dipotong-potong dan tengahnya dilubangin, trus telurnya dikocok, digoreng untuk isian timun. Sisa telurnya didadar dan diiris-iris untuk nambahin hiasan, xixixi

Heboh betul waktu goreng timun isi telurnya. Kan timun dulu yang pasuk ke pan (datar) baru diisi telur. Karena kami ga suka telur setengah matang, kedua sisi timun harus digoreng dong. Nah, pas mau balik timunnya yang rempong. Takut telurnya tumpah laaaaaah, hahaha... Tapi nekad juga. Dan, pas dibalik, telurnya beleber ke mana-mana. Tapi yang ditaruh di piring saji cuma yang nampak 'mendingan' aja, hahaha (ketawa licik).

Rasanya? Yummy dong... Dan Candra (yang memang doyan apa aja), suka! \(^.^)/
Dan komennya, "Wow, brokoli banget!"
Padahal dia kan ga pernah makan brokoli sebelumnya -,-
Readmore - Nasi Goreng Brokoli

Healthy Rainbow Cake

Pertama kali lihat teman ngeshare foto Rainbow Cake di fb, saya langsung mupeng. Eh, ternyata jadi brand topic di kalangan pecinta kuliner. Tambah ngilerlah saya, pengen nyicip. Saya ga berhasil dong nemu Rainbow Cake waktu muter-muter Jogja. Soalnya waktu itu lagi nemenin kakak tingkat belanjooo dan cuma sehari langsung balik Solo lagi. Tapi ngerasa beruntung karena dengar kabar, di balik Rainbow Cake yang eye catchingnya jos banget itu, masuk kategori Toxic Cake. Akhirnya, ngulik Mbah Google dan dapet resep dari Bunda Haura

Awalnya, yang semangat mau bikin ini, si Latifa. Eh, pas udah janjian mau masak bareng dia ga dateng dong -,-. Jadilah si Rainbow dibikin bareng Candra & Hanis, habis bikin Avocado Pound Cake.

Well, ini resepnya:

Bahan :
- 50 gram wortel , kukus haluskan
- 50 gram brokoli, kukus haluskan
- 100 gram tepung terigu serbaguna (segitiga biru)
- 3 butir telur
- 75 gram gula pasir
- 25 gram keju chedddar serut
- 3 sdm minyak goreng

Cara Membuat :
1. Kocok telur dan gula dengan mikser kecepatan tinggi sampai mengembang dan kaku. Matikan dan angkat mikser.
2. Masukkan terigu, aduk rata dengan spatula besar, minyak goreng, keju
3. Bagi dua adonan, adonan 1 tambahkan wortel, adonan 2 tambahkan brokoli
4. Tuang ke dalam loyang. Kukus 20 menit dalam dandang mendidih.

Hasilnya? Ini:

Karena cuma dua warna, adonan dibagi dua terus ditumpuk. Warnanya kurang nendang ya? Saya juga heran. Padahal udah ngikutin resepnya loh. Sebenarnya, pas ngukus wortel & brokoli udah curiga sih, 50 gram itu dikit banget ya...


Tapi karena bernusnudzon, ya ngadonnya tetep diterusin. Dan hasilnya, yummy juga dong... :D

Aroma sayurnya kerasa banget. Kebayang kalo porsi brokoli & wortelnya ditambah. Tapi, pas cake-nya udah dingin, aromanya ga terlalu menyengat dan rasanya mirip bolu panggang Mama, hehe... Manisnya pas, ga bikin eneg.

Sebenarnya, ini memang cake sehat karena Rainbow Cake yang asli pakai pewarna buatan. Meski pewarna yang dipakai pewarna makanan, tetap aja ya ada toxic-nya. Untuk yang diet tapi hobi ngemil, bagus lho ngonsumsi ini. Tapi jangan keseringan juga (^^,)v
Readmore - Healthy Rainbow Cake

Avocado Pound Cake

Di rumah lagi panen alpukat nih. Bosen ya kalau cuma dibikin jus atau campuran es buah. Akhirnya, searching di Mbah Google dan nemu resep di blog tetangga.

Biar eksperimennya lebih seru, saya manggil para asisten memasak. Yah, meski cuma Candra & Hanis aja yang bisa datang, tapi dapur rasanya heboh betul. Si Candra itu semangat sangat kalau sudah cerita.

Well, ini nih hasil eksperimennya :D


Cantik ya? Hahahaha.. Tapi aslinya di balik cake ini ada banyak kejadian :D
Sebelum cerita, simak dulu resepnya:

Bahan:
- 3 butir telur ukuran besar, suhu ruang
- 3 sendok makan susu cair, suhu ruang
- 1 bungkus vanili bubuk
- 150 gram tepung terigu, ayak
- 1/4 sendok teh garam
- 1 sendok teh baking powder, pastikan masih fresh dan cek tanggal kedaluarsanya.
- 150 gram gula pasir
- 185 gram mentega, suhu ruang
- 200 gram daging buah alpukat yang matang, lumatkan hingga halus

Cara membuat:
(Mungkin agak berbeda dengan cara membuat cake yang lainnya. Tapi, ini berdasarkan tips supaya cake yang dihasilkan lebih lembut).
- Campur telur dan susu, aduk rata.
- Dengan kecepatan rendah, mixer bahan kering: terigu, garam, vanili, baking powder, dan gula pasir selama 30 detik
- Tambahkan mentega dan setengah adonan telur, mixer dengan kecepatan rendah sampai basah, naikkan kecepatan sedang dan mixer selama 1 menit.
- Sisa adonan telur dimasukkan dua tahap, kocok 30 detik masing-masing tahapnya.
- Masukkan alpukat, mixer dengan kecepatan rendah.
- Panggang sampai matang.

Di resep aslinya, adonan dipanggang di oven listrik selama 55-56 menit. Karena ga punya, saya panggang pakai Happy Call Double Pan dan estimasi waktunya pake feeling. Si adonan dicuekin karena kami bikin adonan baru untuk Healthy Rainbow Cake. Alhasil, adonannya ngambek dan gosong ga bilang-bilang -,-


Tapi karena cerdas, bagian gosongnya dikerik trus dioles cokelat masak. Ga kelihatan gosong lagi kan? :p


Adonan dibagi dua dan ditumpuk. Bagian atasnya dioles cokelat masak lagi terus ditaburin keju. Hasilnya? Kaya di foto pertama tadi. Melting di mulut lho.. Daaaaaaaaaaaan... Rasanya yummy \(^.^)/

Anyway, beneran lho teksturnya lebih lembut dari cake yang pernah saya buat (^.-)v
Readmore - Avocado Pound Cake

27 Agustus 2012

Qadzaf: Jangan Sembarang Menuduh


Kultwit dari Ust. Salim A. Fillah pagi ini tentang Qadzaf dengan hashtag #kisah. Berikut rangkumannya.

Mengkaji Manaqib para Aimmah; di antara yang paling berkesan hari ini adalah asal mula ungkapan "La yufta wal Maliku fil Madinah." Dalam masa Atba'ut Tabi'in ungkapan ini masyhur tersepakati, "Janganlah terlahir fatwa padahal Imam Malik masih hidup di Madinah."

Termula ia dari kejadian aneh; kala seorang wanita yang dikenal sebagai pezina meninggal & perempuan ahli rawat jenazah dipanggil. Perawat jenazah pun memandikan jasad wanita itu; tapi dengan rasa geram di hati mengingat bahwa si mayyit masyhur sebagai pendosa. Maka tatkala membasuh bagian kemaluan sang mayat; tak mampu lagi menahan gemas hati, diapun memukulnya & menggerutukan serapah.

"Duhai, sudah berapa kali ini kaupakai mendurhakai Allah!", hardiknya. Ajaib, tangan yang memukul itu melekat di kemaluan jenazah.

SubhanaLlah, maka jadi ricuhlah suasana pemulasaraan jenazah. Para 'alim & cendikia dihadirkan, ditanya & dimintai jalan keluar. Ada yang mengusulkan potong saja tangan pengurus jenazah. Ada yang berpendapat iris saja bagian tubuh mayyitnya. Semua tak elok. Buntu semua pembahasan, tak memuaskan segala jawaban; maka merekapun membawa perkara ini kepada Imam Daril Hijrah; Malik ibn Anas.

Imam Malik menyatakan sembari meleleh air mata, "Ma'adzaLlah, betapa beratnya dosa menuduh zina, hingga Allah menetapkan hadNya." Allah turunkan hukum tentang dosa Qadzaf; menuduh seorang wanita berzina tanpa dapat menghadirkan bukti & 4 saksi dalam QS 24: 4.

Maka Imam Malik memfatwakan agar pengurus jenazah yang tangannya melekat di kemaluan mayat itu dikenai had Qadzaf; dera 80 kali. Sebab walau telah masyhur bahwa jenazah yang dimandikan itu semasa hidupnya adalah pezina; tapi tiada 4 saksi melihat langsung.

Jadi ringkas kisah; si pengurus jenazah pun dicambuk 80 kali sesuai had Qadzaf. TabarakaLlah, begitu tunai, lepaslah tangannya. Sejak itulah muncul ungkapan, "La yufta wa Malik fil Madinah!"

Tapi sungguh kita belajar jauh lebih banyak hal lagi dari kisah ini. Bahwa selain zina sebagai perbuatan, ada dosa tak kalah besar yang sering diremehkan; Qadzaf, menuduh zina tanpa bukti & 4 saksi. Walaupun ma'ruf, sudah jadi rahasia umum bahwa mayat itu dulunya pezina, tapi syari'at Allah berlaku pada dakwaan; mana 4 saksi?

Maka melanggar kehormatan sesama, menghina dosa yang diperbuatnya, & mengungkap aibnya adalah perbuatan yang seyogyanya dijauhi. Ini berlaku pada yang hidup maupun mati. Pada si hidup, menghina dosa kan membantu syaithan, memutus harapan dari ampunan Allah. Apalagi jika ia fitnah; kerusakan yang timbul jauh lebih besar lagi. Pada si mati; siapa kita hingga memasti dosa & menghakimi?

Pada soal hukum; ini juga menegaskan hakikat bahwa melalui syari'atNya Allah bukan hendak menghukum & menyakiti hamba dengan had. Dengan menetapkan hukuman berat atas zina; dosa yang dampak merusaknya luas, Allah hanyalah hendak menjaga kemashlahatan manusia.

Belum kita temukan dalam sejarah penegakan syari'at di masa RasuluLlah & para Khalifah pezina dihukum had karena delik aduan. Ini karena beratnya syarat; 4 saksi yang melihat bagaimana "benang memasuki lubang jarum". Yang pernah ada; tersebab pengakuan.

Itupun hakim diperintah & diteladankan membuat syubhat untuk menghindari Had, "Barangkali cuma mencium", "Mungkin hanya memeluk".

Selama Hakim membuat peraguan-peraguan itu pada pengaku zina; yang bersangkutan berhak mencabut pengakuan. Had tak dijatuhkan.

Kehormatan tertuduh juga dilindungi dengan Had Qadzaf; 80 kali dera tuk yang tak bisa hadirkan 4 saksi -walau sebetulnya benar-. "La yufta wa Malik fil Madinah, janganlah lahir fatwa sementara Imam Malik masih hidup di Madinah"; dari ini kita belajar banyak.

Imam Ahmad pun berkata, "Jika seorang menghina saudara muslimnya atas suatu dosa; takkan dia mati sebelum jatuh di nista serupa."

Mari berhati-hati & berdoa; moga Allah jaga kita dari dosa zina maupun dosa menuduh zina. Amat besar kerusakan akibat keduanya.

Di antara hal yang membuat kami bersama mengasaskan Penerbit @proumedia ialah hadirnya banyak buku tentang zina & "Riset Qadzaf". Tahun 2002-03 ramai hadir buku-buku pengungkap zina dengan detail-detail menjijikkan; undercover-lah, in the kost lah, & lainnya. Tapi yang dampak rusaknya tak kalah luas adalah 'survey & penelitian' yang menghebohkan; "97,5 % Mahasiswi Jogja tidak Perawan".

Keras saat itu kami menyebutnya "Qadzaf"; karena andai yang tidak perawan itu 50% saja, si peneliti menuduh zina 47,5% yang lain. Dan ternyata memang si peneliti memang hanya mencari kehebohan; sama sekali tak menggunakan metodologi penelitian yang ilmiah. Dia tidak memperhitungkan dampak penelitiannya itu; berapa kampus swasta di Jogja, warung-warung makan, & kost-kostan yang tutup.

Aptisi DIY & Ketua Kopertis saat itu, Prof. Dr. Sugiyanto, Apt. pernah berbincang dengan kami & Wakil Walikota HM Syukri Fadholi. Tertanggungjawabkan-kah semua gulung tikar itu? Tentu tidak.

Tapi yang tak kalah ngeri; saat seorang kawan di Aceh bercerita. Sejak "97,5 %" menyebar, banyak orangtua sadar agama dari daerah berlatar Islam kuat tak sudi mengirim putranya kuliah di Jogja. Lalu ke mana? Pokoknya ke selain Jogja. Dan? "Akhirnya rusak juga", kata beliau.

Sampai akhirnya beliau mengunjungi Yogyakarta. Saya dampingi beliau ke daerah berkampus & saya tanya, "Jadi, suasana berkebaikannya kondusif mana antara Jogja & kota-kota itu?"

Beliau menjawab yakin & mantap, "JOGJA!" Bahkan beliau katakan belum ada kota pendidikan lain yang atmosfernya "seshalih" Jogja.

Saya yang tinggal di Jogja tak hendak lena. Tentu di Jogja tetap ada keburukan-keburukan, tampak maupun tidak. Itu yang adil. Tetapi menuduh 97,5% itu memang betul-betul tak masuk akal & membawa kerusakan yang amat banyak. Semoga Allah ampuni beliau.

Maka sebagai penutup, saya ceritakan pada kawan Aceh itu salah satu hikayat Buya HAMKA. Alkisah, suatu hari seseorang berkata pada HAMKA, "Buya, kemarin saya ke Makkah. Eh ternyata ya Buya ya, ternyata di Makkah itu ada pelacur Buya! Gimana itu Buya?"

Jawab HAMKA sembari tersenyum, "Ah masak? Bulan lalu saya baru pulang dari San Fransisco. Di sana itu ternyata tak ada Pelacur."

Apa maksud Buya HAMKA? Ke manapun kita pergi, di manapun kita berada; diri kita yang sebenar tergambar dalam apa yang kita cari. Di San Fransisco tak ada pelacur, kalau TIDAK mencari. Di Makkah ada maksiat kalau itu yang DICARI. Semoga kita pencari kebaikan.

Demikian #kisah kita pagi ini Shalih(in+at); moga manfaat. Mohon doa, sehabis ini menyetir Ngawi-Jogja, moga selamat-berkah perjalanan:)

Sumber: @salimafillah
Readmore - Qadzaf: Jangan Sembarang Menuduh

26 Agustus 2012

"Mbak, ada sertifikat halalnya?"


Menjaga lambung dengan hanya mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi tentu akan berpengaruh pada kecerdasan otak. Kalau kita makan cukup dan bergizi sebelum ujian, misalnya, ujian jadi lebih lancar karena asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh cukup. Begitu kan?

Di dalam Islam, ada istilah halal dan toyyib (baik), dan setiap Muslim wajib menjaga dirinya dari yang haram termasuk perkara makanan. Zat-zat yang ikut mengalir bersama darah akan berpengaruh ke perangai kita lho... Kalau kita suka marah-marah, gampang emosi, coba cek, mungkin ada makanan yang tidak halal atau tidak toyyib yang kita konsumsi.

Di sini, saya menemukan hadits:

Diriwayatkan, Sa’ad bin Abi Waqash datang menemui Rasul Saw. Ia berkata: “Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya (HR. At-Thabrani) (Lihat Ad-durar Al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur Juz: II hal. 403).

Yuk, lebih selektif lagi memilih makanan! :)

Makanan kemasan bisa dengan mudah kita lihat, ada label halal atau tidak. Lebih baik lagi, label halal dari Majelis Ulama, baik Indonesia maupun luar negeri. Ketika jajan, kita juga perlu mewaspadai bahan yang digunakan maupun proses pembuatannya. Jika sudah yakin halal, boleh dikonsumsi, misalnya karena kita kenal dekat dengan penjualnya.

Beberapa produsen makanan sudah tersertifikasi halal, tapi beberapa yang lain belum. Terkadang, saya juga nekad bertanya, "Mbak, ada sertifikat halalnya?". Supaya yakin makanan yang (akan) saya beli memang baik dan halal untuk dikonsumsi.

Coba deh follow @halalcorner untuk belajar lebih banyak :)
Readmore - "Mbak, ada sertifikat halalnya?"

It's Called, Home

Seringkali saya berimajinasi tentang rumah masa depan. Rumah yang akan menjadi tempat bagi saya dan keluarga ‘baru’ merancang mimpi dan berkarya, suatu saat nanti. Halamannya, tata ruangannya, hingga kebun bagian belakang. Baru saja tersadar bahwa apa yang selama ini saya imajinasikan adalah rumah di mana saya dididik dan dibesarkan. Yeah, I call it, Home.


Dahulu, belum ada garasi juga lantai dua. Halamannya pun masih tanah dan saya yang bertugas menyapu setiap hari minggu ketika SD. Ada pohon bernung di depan rumah. Buahnya yang sebesar melon tapi berkulit licin itu seringkali diukir Papa, “Awas, BOM molotov.” Tapi sekarang, pohon bernung bersejarah itu sudah tiada. Hanya tersisa pohon mangga dan Eforbia Mama yang semakin lebat. Baru belakangan ini Papa menanam kelengkeng dan anggur.


Saat SD, setiap kali bermain ke rumah teman dan melihat bunga yang cantik, saya selalu membawa pulang beberapa rantingnya. Dikira dengan hanya menancapkan di tanah, dia akan tumbuh dan berbunga. Dusun sekali, tidak tahu teknik tanam-menanam. Alhasil, bunga-bunga yang saya tanam, termasuk bunga mawar, memilih mati daripada hidup dan melihat wajah dusun saya. Tapi senangnya, ada yang berbaik hati mau bertunas dan tumbuh hingga besar: tanaman pacar. Saya menanam itu supaya daunnya bisa saya tumbuk dan ditempelkan ke kuku. Nanti di sekolah, saya akan pamer ke teman-teman, “Kuku aku cantik kaaaaaaaaaan...?” karena warnanya berubah orange.

Mati lampu di malam hari selalu dijadikan ajang berkumpul bagi saya, Bayu, Mama, dan Papa. Saya dan Bayu akan berebut giliran untuk bercerita, tentang sekolah, tentang teman yang nakal, atau ngajinya sudah Iqro’ berapa. Nanti Mama atau Papa yang gantian bercerita. Mama lebih sering cerita tentang kisah nabi. Tapi Papa, kalau tidak bercerita tentang kenakalannya dulu saat kecil, pasti menakut-nakuti kami dengan cerita hantu. Membuat saya tidak berani tidur kecuali ditemani Bayu.

Ruang televisinya menjadi saksi pertengkaran antara saya dan Bayu, apalagi hari Minggu. Berebut channel untuk menonton kartun favorit, saya suka Sailormoon, Bayu suka Dragonball. Baru setelah Agil lahir, kami tak lagi bertengkar. Tapi, nasib Agil sungguh malang. Dia selalu jadi ajudan saya ataupun Bayu, “Dek, ambilin itu!” atau “Dek, beliin ini!”. Nanti Mama yang mencak-mencak karena anak kesayangannya suka disuruh-suruh.

Kebun belakang. Saya menyebutnya, ruang bermain Papa. Di sini tempat Papa bereksperimen. Menanam mangga, kelengkeng, alpukat, cokelat, sukun, pisang, apa saja. Tapi sayang, durian yang jadi buah favorit Papa itu tak pernah berhasil dibujuk untuk mau tumbuh di ruang bermainnya.



Mama yang ibu rumah tangga sejati (meski merangkap sebagai guru di SMK N 1 Talangpadang), lebih suka menanam pohon serai, pandan, kemangi, jahe, dan laos. Tapi, karena kebun belakang adalah ruang bermain Papa, tanam-tanaman Mama dibabat habis. Jahat sekali.

“Buapakmu itu,” kata Mama kalau sedang mengomel. “Semuaaaaaaa dibabat. Ga tau manpaat.”

Begitu kalau marah, menyebut ‘Buapakmu’ bukan ‘Papa’. Papa juga sama. Kalau sedang menjahili Mama, menyebut ‘Mamakmu’ di depan saya, bukan ‘Mama’. Tapi kalau sedang akur, sore-sore Mama dan Papa nongkrong berdua saja. Mengobrol sambil melihat kolam ikan. Tidak beranjak kalau belum mendengar adzan Maghrib.

This is home.

Rumah tempat Mama mengenalkan saya tentang hidup melalui kisah-kisahnya. Memberikan saya contoh figure istri yang ‘menjaga harga diri dan harta suami', juga ibu yang selalu ada pada momen-momen penting anak-anaknya. Memaksa saya untuk terjun ke dapur, mengenalkan pisau juga kompor, bukan bersolek di hadapan cermin.

Rumah tempat Papa berkelakar setelah berlelah-lelah di Unila. Tak banyak bercerita, namun saya yang menyaksikan. Bagaimana Papa menggerakkan rekan-rekannya untuk membuat BMT bahkan TK di dekat masjid. Bagaimana Papa yang sibuk ke sini dan ke sana karena tidak lagi dipercaya sebagai Ketua Prodi, melainkan Sekretaris Jurusan di Pascasarjana Universitas Lampung.

Rumah tempat saya, Bayu, dan Agil berbagi cerita juga memamerkan mimpi dan prestasi. Berkumpul, berbincang, bahkan berebut untuk bermain Play Station di lantai dua. Saling menuding, “Belum Sholat Dhuha ya?” atau “Dah baca Quran belum sih?”

Rumah. Tempat yang paling dirindu setelah berpetualang. It’s called, home.
Readmore - It's Called, Home

25 Agustus 2012

Crepe Pisang Cokelat Keju

Ada pisang kepok nganggur, tapi ga lucu kalau cuma dikukus atau jadi pisang goreng. Biasanya, Agil (adik bungsu) minta dibikinin pancake. Kalau pakai pisang, jadinya pan-banana-cake. Penasaran ah, mau dijadiin yang lain.

Awalnya pengen dibikin onde-onde isi cokelat n keju. Tapi, belum nemu ide brilian, apa bahan-bahannya yang pas ('.')a. Tanya mbah Google, nemu resep di sini dan jadilah Crepe Pisang Cokelat Keju.


Ini saya bentuk segitiga dengan cokelat masak untuk isian dan keju untuk taburan. Bagian luarnya saya oles lagi dengan cokelat masak biar ada warnanya, tapi kok jadi aneh -,-

Ah, masih harus belajar untuk bisa bikin presentasi yang cantik. Mesti lebih handle juga pegang kamera untuk ambil angle yang pas.

Anyway, kalau Pan-banana-cake terasa padat dan mengenyangkan, Crepe ini lebih ringan dan cocok jadi teman minum teh atau susu hangat :)

Oh iya, ini resep (yang sedikit saya modifikasi):

Crepe Pisang Cokelat Keju

Bahan:
- 4 buah pisang kepok lumatkan dengan bagian bawah gelas
- 100 gram tepung terigu
- 3 sendok makan gula pasir
- 1/2 sendok teh garam
- 1 bungkus vanili bubuk
- 1/2 sendok teh baking powder
- 1 butir telur, kocok lepas
- 150 ml susu cair (saya melarutkan 2 sendok makan susu bubuk + 150 ml air)

Pelengkap:
- Cokelat masak
- Keju (parut)

Cara membuat:
- Campurkan semua adonan (kecuali terigu) dan aduk rata hingga adonan terlihat lebih lembut.
- Masukkan terigu sedikit demi sedikit.
- Panaskan pan untuk memanggang, oles dengan mentega atau minyak goreng.
- Panggang adonan tipis-tipis, ulangi hingga adonan habis.
- Isi crepe dengan cokelat masak, gulung (saya membentuk jadi segitiga), taburi keju.
- Keju bisa juga jadi isian dan cokelat masak jadi olesan luar. Atau cokelat-keju luar dalam, sesuai selera.
Readmore - Crepe Pisang Cokelat Keju

22 Agustus 2012

Lebaran dan Maknanya


Kultwit dari Ust. Salim A. Fillah tentang #Syawal. Berikut rangkumannya.

Kupat (Ind; ketupat), dalam Bahasa Jawa ter-othak-athik-gathuk kependekan dari Laku Papat (empat 'amal) yang menjadi falsafah Syawal. Syawal sesuai artinya "meningkat", bukan Zawal yang bermakna "menghilang"; laku papatnya adalah Lebaran, Luberan, Leburan, & Laburan.

Lebaran; lebar bermakna usai dengan sempurna. Khatam sudah mujahadah Ramadhan, apakah kita sudah menjadi insan yang bertaqwa?

Luberan; luber artinya berlimpah hingga tumpah-ruah. Zakat yang dibayarkan, shadaqah yang dihulurkan, menjadi wujud kesyukuran.

Leburan; lebur artinya luluh tanpa sisa. Termuhasabah sudahkah kita "ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih" & dimaafkan sesama?

Laburan; labur artinya kapur, terguna menjernih air & memutihkan dinding pagar. Apakah lahir & batin kita terhias akhlaq mulia?

Semoga Syawal ini, bakda Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan; kita tak terbuai oleh yang ke-5; Liburan. Tiada libur dalam berketaatan:)

Sumber: @salimafillah
Readmore - Lebaran dan Maknanya

14 Agustus 2012

Sepucuk Cinta

“Nanti kita bertemu di surga, ya...”
Dan air mata yang kupikir hanya milik perempuan, luruh tak terhalang.

***

Ia berdiri menyalami para tamu, satu persatu. Senyumnya tulus, tanpa beban. Aku tahu. Dan lelaki gagah di sampingnya, bukanlah aku.

***

Aku tersentak. Tak menyangka ia akan begitu jujur.

“Bolehkah Arin, dengan segala kelemahan dan kekurangan diri, mendampingi Kakak dalam bahtera menuju jannah?”

Dan ratusan menit berlalu, sedang aku masih saja tertegun menatap tulisan tangannya pada selembar kertas berwarna biru.


***

Aku menamainya adik kecil karena aku lahir tiga tahun lebih dulu. Aku bungsu dan aku senang bermain-main dengan Arin. Mengajaknya bertengkar, sesekali. Ya. Rumah kami hampir tak berjarak. Hanya tersekat semak dedaunan yang dijadikan ayahku sebagai pagar.

Ia hafal sekali kenakalan-kenakalanku kala remaja. Ia satu-satunya adik kelas yang berani memarahi atau mencibir ketika aku membanggakan sesuatu.

“Arin tetap lebih hebat!” katanya dengan mengangkat dagu dan memicingkan mata, licik sekali. Di tangannya ada sebuah piala bertuliskan ‘Juara I’ untuk English Speech Contest. Sedangkan aku, di usianya, hanya mampu menggapai juara harapan untuk lomba Scrabble.

Pernah, tak sekali, hatiku tertinggal dalam sebuah bilik. Bersembunyi karena malu pada sebongkah rasa. Untuk perempuan. Teman sekelas ketika SMP. Teman sesama lomba Karya Ilmiah se-provinsi. Teman yang Indeks Prestasinya mengalahkanku tiga semester berturut-turut. Tapi, bukan Arin.

Ntah apa yang Arin pikirkan tentang aku. Dan ntah dari mana ide gilanya itu muncul. Bagiku, ia adalah adik. Tak lebih.

Hingga ketika aku pulang, karena merantau untuk sekolah di perguruan tinggi ternama di pulau seberang, kusadari bahwa Arin telah beranjak dewasa.

***

Hampir tak ada rahasia di antara kami. Kami saling mengenal satu sama lain. Ia mengenalku, bahkan tahu betul kebiasaanku mengigau ketika tak sengaja tertidur saat menonton televisi di rumahnya yang memiliki lebih banyak barang elektronik dibandingkan rumahku, dahulu saat aku SD. Ia tahu aku suka sambal tempe cabe hijau buatan bundanya, dan sesekali Arin yang membuatkannya untukku. Ia tahu banyak hal, bahkan untuk beberapa hal kecil yang tak kusadari adalah kebiasaanku.

***

Dadaku berdesir. Ntah rasa apa yang menghinggapi ketika kulihat sebuah rombongan memarkirkan kendaraan mereka di halaman rumah Arin. Lamaran. Dan aku melihatnya, lelaki yang puluhan hari lalu Arin ceritakan.

“Tampan. Prestatif. Baik. Sholeh. Kurang apalagi?” kataku saat itu sembari terbahak. Setengah tak percaya Arin menanyakan Afthon, teman baikku semasa SMA.

“Heeeuuuh...” Arin tampak murka. “Ini serius, tahu!”

***

Aku tetaplah aku. Arin pun sama. Dengan tawa nakalku yang seringkali meledeknya atau gaya angkuh Arin ketika menjatuhkanku dengan prestasi-prestasinya.

Kami memilih menjadi diri kami seperti dahulu, meski sempat terusik selembar kertas berwarna biru. Tulisan tangan Arin. Tentang sebuah rahasia yang nyatanya telah terpendam selama belasan tahun dan baru kuketahui saat aku sedang disibukkan dengan tugas akhir.

“Kau tahu? Jika dahulu kau datang di waktu yang tepat, mungkin aku tak kan menolak.”

***

“Ga ada yang perlu Arin sesali, Kak. Kalau kata Allah begini, Arin harus patuh.”

Arin berbesar hati, seperti Arin yang kukenal. Gaya angkuhnya selama ini hanya untuk membuatku terpancing dan berlari lebih cepat menuju apa yang kucita-citakan.

“Arin yakin, ada banyak sekali hikmah dari cerita kita.”

Ada getar dalam suaranya. Ada sesak yang ia tahan.

Puluhan detik dalam diam. Aku kehilangan kata-kata. Perasaan bersalah terus bergumul dalam hatiku. Terus beradu. Namun aku telah memutuskannya. Dan Arin telah menerima keputusanku.

Dan saat itu, meski aku hanya mampu mendengar suaranya dari seberang, aku tahu, bulir-bulir bening telah membasahi pipinya.

***

Dua puluh dua tahun mengenalnya. Begitu dekat, namun tak tersentuh.

“Barakallaahu laka. Wabaraka ‘alaika. Wa jama’a bainakuma fii khaiir...” desisku saat Arin beserta keluarga barunya berpose, mengabadikan momen hari ini, ketika separuh agamanya tergenapi.



Note:
Diam-diam mengisahkan ini, mengetikkan ribuan huruf di layar telepon genggam, padahal sedang memanggang cookies untuk lebaran :D


14 agustus 2012
Readmore - Sepucuk Cinta

7 Agustus 2012

The Proposal

Allahku, ini proposal mimpiku sampai Desember 2013. You know me so well, You -absolutely- know for the best...

2012

Target Agustus-Desember:
.:. Kerja keras! IP > 3,3
.:. Proposal tesis (DDR)


Agenda elit
*) September: Cairkan deposit di Muamalat
*) Oktober: Qurban
*) November: Beli tiket umroh (untuk mahram)
*) Desember: Seminar proposal tesis

2013

.:. Januari-Februari: Penelitian (SMP Kabupaten Pringsewu)
.:. Maret-April: Nyusun Tesis
.:. Mei: Sidang
.:. Juni: Wisuda

.:. Juli:
    Being a lecturer in UNILA
    Get married :p :p :p 

... ... ... ... ...
... a good wife...
... a good daughter in law...
... a good sister in law...
... a good neighbor...
... a good lecturer...
... ... ... ... ...

.:. Desember: 
    UMROH
    Daftar HAJI
Readmore - The Proposal

4 Agustus 2012

Lapang Sebelum Sempit


Puluhan menit lalu, saya baru saja berbincang via telepon dengan seorang sahabat di pulau seberang. Bertukar cerita, tentu saja. Tentang kesibukan-kesibukannya di dua kota sekaligus: Purwokerto (kampung halamannya) dan Jogja (tempatnya meraup ilmu di pascasarjana).

"Maap ya Lee, aku belum sempat ngerjain proyek kita."

Aku tertawa. Ya. Tempo lalu dia yang bersemangat sekali mengajak berkolaborasi untuk membuat sebuah buku. Niat yang terbersit karena ingin memberi 'kado pernikahan' istimewa saat menghadiri undangan pernikahan teman-teman nanti. Buku, tapi karya sendiri.

"Aku juga belum sempet nulis untuk web kita, untuk buletin Madani, lha aku harus ini ini dan ini..." dan dia menjelaskan panjang lebar tentang apa yang menjadi amanahnya sekarang. "Kamu liburan ngapain aja Lee?"

"Maen, hahahaha..." jawab saya enteng sembari tertawa lepas. Hanya ingin menekankan bahwa apa yang saya lakukan di rumah tidak sepadat aktivitasnya.

Tempo hari, saya juga bertemu dengan seorang teman semasa SMA. Kakak tingkat lebih tepatnya. Beliau bekerja di Bank Muamalat yang kebetulan sedang bekerja sama dengan sebuah lembaga sosial. Sebut saja Forum Peduli Kesehatan (FPK). Hesti, teman saya, ketuanya.

Saat saya menemani Hesti membereskan administrasi untuk Muamalat, saya bertemu Mbak Sukma, kakak tingkat saya itu.

"Heh, ngapain kamu di sini?" Dia tahu saya sedang studi pascasarjana di Solo. "Lagi libur ya?"

Saya cengar-cengir saja.

"Enak banget sih hidupmu... Aku aja nyari libur susah betul."

Dan saya masih cengar-cengir mendengar komentar Mbak Sukma.

Hidup saya enak, katakanlah begitu. Ketika orang lain bersusah payah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka, saya justru santai-santai saja di rumah. Benar-benar liburan.

Tapi, tentu saja saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Seperti Raihan bilang dalam lagu Demi Masa, "...lapang sebelum sempit.", bagi saya ini adalah waktu emas untuk melakukan banyak hal yang tidak bisa saya lakukan di Solo.

Di rumah, saya bisa melakukan banyak eksperimen di dapur. Selain karena Mama punya harta karun (perkakas dapur yang komplit plit plit), saya pun tak perlu khawatir mengeluarkan kocek karena pembelian bahan masakan pasti didanai Mama, hahaha (tertawa licik).

Saya bisa menyelesaikan targetan-targetan ibadah selama Ramadhan: tadarus, hafalan surat, sholat-sholat sunnah. Menulis apa saja yang ingin ditulis dan menambah postingan di blog. Leluasa bercengkrama dengan adik atau membantunya mengerjakan pe er. Dan tentu saja silaturahim dengan beberapa teman bahkan mampir dan ikut sharing tentang program-program sosial kemasyarakatan. Hitung-hitung sekaligus membuka jalan untuk pulang setahun yang akan datang. Dan targetnya, liburan ini saya dapat judul sekaligus materi untuk tesis di semester depan.

Kelihatannya, saya tidak melakukan banyak hal. Tapi, saya tetap mengharap barokah dari liburan ini. Saya tidak diam. Saya tetap bermimpi dan membuat targetan-targetan hidup, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Membuat rencana-rencana besar untuk kampung halaman, nanti setelah saya pulang. Berbagi kisah bersama orang-orang hebat yang nantinya akan menjadi partner selama saya mewujudkan mimpi. Sebagaimana Ust. Salim A. Fillah berkata, "Tiada libur dalam ketaatan."

Dan nanti, di Solo, saya akan bersibuk-sibuk dengan kesibukan yang lain :)
Readmore - Lapang Sebelum Sempit

2 Agustus 2012

Kue Lumpur Kentang

Suka sekali dengan kue lumpur. Setiap pagi, di Solo, Bude Kliwon selalu mampir ke kosan untuk bawa sarapan. Dan saya selalu menjadi yang pertama untuk mencomot kue lumpur dari "bakul"nya :D

Penasaran, akhirnya nyoba untuk bikin sendiri dan memaksa Latifa, Hesti, dan Hanis untuk jadi asisten dadakan kemarin. Taraaaaaaaa... Kuenya sudah jadi. Ini ada dua versi, versi panggang dan versi kukus. Dua-duanya yummy, tapi saya prefer yang versi dipanggang :p

Ini yang versi panggang. Harusnya pake cetakan bentuk silinder yang tingginya 3-5 cm, tapi karena ga punya, pake cetakan pukis (atau kue pancong), hahaha... Ini, bagian atasnya ditaburi keju dan cokelat masak.

Kalau ini, versi kukus. Lebih praktis karena sekali kukus langsung mateng. Kalau yang versi panggang kan berkali-kali manggang karena cetakannya kecil-kecil. Teksturnya lebih lembut, anyway :)



(huhuhu, potonya kurang bagus ya, masih belajar nih)
Well, ini resepnya...

KUE LUMPUR KENTANG

Bahan:
  • 500 g kentang,kupas, cuci bersih
  • 100 g margarin
  • 4 butir telur ayam
  • 200 g gula pasir
  • 750 ml santan kental/susu cair
  • 175 g tepung terigu
  • 2 sdm susu bubuk
  • margarin untuk olesan
  • Keju (dan/atau cokelat masak) untuk topping,secukupnya  
Cara membuat:
  • Kukus kentang,sampai matang.
  • Selagi panas, tumbuk kentang sampai lembut.
  • Masukkan margarine, aduk rata. Sisihkan.
  • Kocok gula dan telur sampai gula larut (warna telur sampai putih).
  • Masukkan tepung terigu dan susu bubuk sedikit-sedikit, sambil aduk rata.
  • Masukkan kentang sedikit-sedikit bergantian dengan santan kental/susu cair, aduk sampai rata.
Versi panggang:
  • Panaskan cetakan kue lumpur, gunakan api kecil.
  • Olesi cetakan dengan sedikit margarin.
  • Tuang adonan ke dalam cetakan, jangan terlalu penuh, tutup cetakan, gunakan api kecil.
  • Setelah agak beku pinggirnya, taburi keju dan/atau cokelat masak sesuai selera.
  • Tutup kembali cetakan, lanjutkan memanggang sampai matang.
  • Angkat, sajikan hangat.
Versi kukus:
  • Siapkan dandang untuk mengukus, panaskan air dalam dandang.
  • Olesi loyang dengan sedikit margarin dan terigu.
  • Tuang adonan ke dalam loyang, jangan terlalu penuh.
  • Setelah air dalam dandang mendidih, masukkan loyang dalam dandang.
  • Setelah agak beku pinggirnya, taburi keju dan/atau cokelat masak sesuai selera.
  • Kukus sampai matang.
  • Angkat, sajikan hangat.
Readmore - Kue Lumpur Kentang