Social Icons

26 Agustus 2012

It's Called, Home

Seringkali saya berimajinasi tentang rumah masa depan. Rumah yang akan menjadi tempat bagi saya dan keluarga ‘baru’ merancang mimpi dan berkarya, suatu saat nanti. Halamannya, tata ruangannya, hingga kebun bagian belakang. Baru saja tersadar bahwa apa yang selama ini saya imajinasikan adalah rumah di mana saya dididik dan dibesarkan. Yeah, I call it, Home.


Dahulu, belum ada garasi juga lantai dua. Halamannya pun masih tanah dan saya yang bertugas menyapu setiap hari minggu ketika SD. Ada pohon bernung di depan rumah. Buahnya yang sebesar melon tapi berkulit licin itu seringkali diukir Papa, “Awas, BOM molotov.” Tapi sekarang, pohon bernung bersejarah itu sudah tiada. Hanya tersisa pohon mangga dan Eforbia Mama yang semakin lebat. Baru belakangan ini Papa menanam kelengkeng dan anggur.


Saat SD, setiap kali bermain ke rumah teman dan melihat bunga yang cantik, saya selalu membawa pulang beberapa rantingnya. Dikira dengan hanya menancapkan di tanah, dia akan tumbuh dan berbunga. Dusun sekali, tidak tahu teknik tanam-menanam. Alhasil, bunga-bunga yang saya tanam, termasuk bunga mawar, memilih mati daripada hidup dan melihat wajah dusun saya. Tapi senangnya, ada yang berbaik hati mau bertunas dan tumbuh hingga besar: tanaman pacar. Saya menanam itu supaya daunnya bisa saya tumbuk dan ditempelkan ke kuku. Nanti di sekolah, saya akan pamer ke teman-teman, “Kuku aku cantik kaaaaaaaaaan...?” karena warnanya berubah orange.

Mati lampu di malam hari selalu dijadikan ajang berkumpul bagi saya, Bayu, Mama, dan Papa. Saya dan Bayu akan berebut giliran untuk bercerita, tentang sekolah, tentang teman yang nakal, atau ngajinya sudah Iqro’ berapa. Nanti Mama atau Papa yang gantian bercerita. Mama lebih sering cerita tentang kisah nabi. Tapi Papa, kalau tidak bercerita tentang kenakalannya dulu saat kecil, pasti menakut-nakuti kami dengan cerita hantu. Membuat saya tidak berani tidur kecuali ditemani Bayu.

Ruang televisinya menjadi saksi pertengkaran antara saya dan Bayu, apalagi hari Minggu. Berebut channel untuk menonton kartun favorit, saya suka Sailormoon, Bayu suka Dragonball. Baru setelah Agil lahir, kami tak lagi bertengkar. Tapi, nasib Agil sungguh malang. Dia selalu jadi ajudan saya ataupun Bayu, “Dek, ambilin itu!” atau “Dek, beliin ini!”. Nanti Mama yang mencak-mencak karena anak kesayangannya suka disuruh-suruh.

Kebun belakang. Saya menyebutnya, ruang bermain Papa. Di sini tempat Papa bereksperimen. Menanam mangga, kelengkeng, alpukat, cokelat, sukun, pisang, apa saja. Tapi sayang, durian yang jadi buah favorit Papa itu tak pernah berhasil dibujuk untuk mau tumbuh di ruang bermainnya.



Mama yang ibu rumah tangga sejati (meski merangkap sebagai guru di SMK N 1 Talangpadang), lebih suka menanam pohon serai, pandan, kemangi, jahe, dan laos. Tapi, karena kebun belakang adalah ruang bermain Papa, tanam-tanaman Mama dibabat habis. Jahat sekali.

“Buapakmu itu,” kata Mama kalau sedang mengomel. “Semuaaaaaaa dibabat. Ga tau manpaat.”

Begitu kalau marah, menyebut ‘Buapakmu’ bukan ‘Papa’. Papa juga sama. Kalau sedang menjahili Mama, menyebut ‘Mamakmu’ di depan saya, bukan ‘Mama’. Tapi kalau sedang akur, sore-sore Mama dan Papa nongkrong berdua saja. Mengobrol sambil melihat kolam ikan. Tidak beranjak kalau belum mendengar adzan Maghrib.

This is home.

Rumah tempat Mama mengenalkan saya tentang hidup melalui kisah-kisahnya. Memberikan saya contoh figure istri yang ‘menjaga harga diri dan harta suami', juga ibu yang selalu ada pada momen-momen penting anak-anaknya. Memaksa saya untuk terjun ke dapur, mengenalkan pisau juga kompor, bukan bersolek di hadapan cermin.

Rumah tempat Papa berkelakar setelah berlelah-lelah di Unila. Tak banyak bercerita, namun saya yang menyaksikan. Bagaimana Papa menggerakkan rekan-rekannya untuk membuat BMT bahkan TK di dekat masjid. Bagaimana Papa yang sibuk ke sini dan ke sana karena tidak lagi dipercaya sebagai Ketua Prodi, melainkan Sekretaris Jurusan di Pascasarjana Universitas Lampung.

Rumah tempat saya, Bayu, dan Agil berbagi cerita juga memamerkan mimpi dan prestasi. Berkumpul, berbincang, bahkan berebut untuk bermain Play Station di lantai dua. Saling menuding, “Belum Sholat Dhuha ya?” atau “Dah baca Quran belum sih?”

Rumah. Tempat yang paling dirindu setelah berpetualang. It’s called, home.

0 komentar:

Posting Komentar