Social Icons

4 Agustus 2012

Lapang Sebelum Sempit


Puluhan menit lalu, saya baru saja berbincang via telepon dengan seorang sahabat di pulau seberang. Bertukar cerita, tentu saja. Tentang kesibukan-kesibukannya di dua kota sekaligus: Purwokerto (kampung halamannya) dan Jogja (tempatnya meraup ilmu di pascasarjana).

"Maap ya Lee, aku belum sempat ngerjain proyek kita."

Aku tertawa. Ya. Tempo lalu dia yang bersemangat sekali mengajak berkolaborasi untuk membuat sebuah buku. Niat yang terbersit karena ingin memberi 'kado pernikahan' istimewa saat menghadiri undangan pernikahan teman-teman nanti. Buku, tapi karya sendiri.

"Aku juga belum sempet nulis untuk web kita, untuk buletin Madani, lha aku harus ini ini dan ini..." dan dia menjelaskan panjang lebar tentang apa yang menjadi amanahnya sekarang. "Kamu liburan ngapain aja Lee?"

"Maen, hahahaha..." jawab saya enteng sembari tertawa lepas. Hanya ingin menekankan bahwa apa yang saya lakukan di rumah tidak sepadat aktivitasnya.

Tempo hari, saya juga bertemu dengan seorang teman semasa SMA. Kakak tingkat lebih tepatnya. Beliau bekerja di Bank Muamalat yang kebetulan sedang bekerja sama dengan sebuah lembaga sosial. Sebut saja Forum Peduli Kesehatan (FPK). Hesti, teman saya, ketuanya.

Saat saya menemani Hesti membereskan administrasi untuk Muamalat, saya bertemu Mbak Sukma, kakak tingkat saya itu.

"Heh, ngapain kamu di sini?" Dia tahu saya sedang studi pascasarjana di Solo. "Lagi libur ya?"

Saya cengar-cengir saja.

"Enak banget sih hidupmu... Aku aja nyari libur susah betul."

Dan saya masih cengar-cengir mendengar komentar Mbak Sukma.

Hidup saya enak, katakanlah begitu. Ketika orang lain bersusah payah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka, saya justru santai-santai saja di rumah. Benar-benar liburan.

Tapi, tentu saja saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Seperti Raihan bilang dalam lagu Demi Masa, "...lapang sebelum sempit.", bagi saya ini adalah waktu emas untuk melakukan banyak hal yang tidak bisa saya lakukan di Solo.

Di rumah, saya bisa melakukan banyak eksperimen di dapur. Selain karena Mama punya harta karun (perkakas dapur yang komplit plit plit), saya pun tak perlu khawatir mengeluarkan kocek karena pembelian bahan masakan pasti didanai Mama, hahaha (tertawa licik).

Saya bisa menyelesaikan targetan-targetan ibadah selama Ramadhan: tadarus, hafalan surat, sholat-sholat sunnah. Menulis apa saja yang ingin ditulis dan menambah postingan di blog. Leluasa bercengkrama dengan adik atau membantunya mengerjakan pe er. Dan tentu saja silaturahim dengan beberapa teman bahkan mampir dan ikut sharing tentang program-program sosial kemasyarakatan. Hitung-hitung sekaligus membuka jalan untuk pulang setahun yang akan datang. Dan targetnya, liburan ini saya dapat judul sekaligus materi untuk tesis di semester depan.

Kelihatannya, saya tidak melakukan banyak hal. Tapi, saya tetap mengharap barokah dari liburan ini. Saya tidak diam. Saya tetap bermimpi dan membuat targetan-targetan hidup, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Membuat rencana-rencana besar untuk kampung halaman, nanti setelah saya pulang. Berbagi kisah bersama orang-orang hebat yang nantinya akan menjadi partner selama saya mewujudkan mimpi. Sebagaimana Ust. Salim A. Fillah berkata, "Tiada libur dalam ketaatan."

Dan nanti, di Solo, saya akan bersibuk-sibuk dengan kesibukan yang lain :)

0 komentar:

Posting Komentar