Social Icons

14 Agustus 2012

Sepucuk Cinta

“Nanti kita bertemu di surga, ya...”
Dan air mata yang kupikir hanya milik perempuan, luruh tak terhalang.

***

Ia berdiri menyalami para tamu, satu persatu. Senyumnya tulus, tanpa beban. Aku tahu. Dan lelaki gagah di sampingnya, bukanlah aku.

***

Aku tersentak. Tak menyangka ia akan begitu jujur.

“Bolehkah Arin, dengan segala kelemahan dan kekurangan diri, mendampingi Kakak dalam bahtera menuju jannah?”

Dan ratusan menit berlalu, sedang aku masih saja tertegun menatap tulisan tangannya pada selembar kertas berwarna biru.


***

Aku menamainya adik kecil karena aku lahir tiga tahun lebih dulu. Aku bungsu dan aku senang bermain-main dengan Arin. Mengajaknya bertengkar, sesekali. Ya. Rumah kami hampir tak berjarak. Hanya tersekat semak dedaunan yang dijadikan ayahku sebagai pagar.

Ia hafal sekali kenakalan-kenakalanku kala remaja. Ia satu-satunya adik kelas yang berani memarahi atau mencibir ketika aku membanggakan sesuatu.

“Arin tetap lebih hebat!” katanya dengan mengangkat dagu dan memicingkan mata, licik sekali. Di tangannya ada sebuah piala bertuliskan ‘Juara I’ untuk English Speech Contest. Sedangkan aku, di usianya, hanya mampu menggapai juara harapan untuk lomba Scrabble.

Pernah, tak sekali, hatiku tertinggal dalam sebuah bilik. Bersembunyi karena malu pada sebongkah rasa. Untuk perempuan. Teman sekelas ketika SMP. Teman sesama lomba Karya Ilmiah se-provinsi. Teman yang Indeks Prestasinya mengalahkanku tiga semester berturut-turut. Tapi, bukan Arin.

Ntah apa yang Arin pikirkan tentang aku. Dan ntah dari mana ide gilanya itu muncul. Bagiku, ia adalah adik. Tak lebih.

Hingga ketika aku pulang, karena merantau untuk sekolah di perguruan tinggi ternama di pulau seberang, kusadari bahwa Arin telah beranjak dewasa.

***

Hampir tak ada rahasia di antara kami. Kami saling mengenal satu sama lain. Ia mengenalku, bahkan tahu betul kebiasaanku mengigau ketika tak sengaja tertidur saat menonton televisi di rumahnya yang memiliki lebih banyak barang elektronik dibandingkan rumahku, dahulu saat aku SD. Ia tahu aku suka sambal tempe cabe hijau buatan bundanya, dan sesekali Arin yang membuatkannya untukku. Ia tahu banyak hal, bahkan untuk beberapa hal kecil yang tak kusadari adalah kebiasaanku.

***

Dadaku berdesir. Ntah rasa apa yang menghinggapi ketika kulihat sebuah rombongan memarkirkan kendaraan mereka di halaman rumah Arin. Lamaran. Dan aku melihatnya, lelaki yang puluhan hari lalu Arin ceritakan.

“Tampan. Prestatif. Baik. Sholeh. Kurang apalagi?” kataku saat itu sembari terbahak. Setengah tak percaya Arin menanyakan Afthon, teman baikku semasa SMA.

“Heeeuuuh...” Arin tampak murka. “Ini serius, tahu!”

***

Aku tetaplah aku. Arin pun sama. Dengan tawa nakalku yang seringkali meledeknya atau gaya angkuh Arin ketika menjatuhkanku dengan prestasi-prestasinya.

Kami memilih menjadi diri kami seperti dahulu, meski sempat terusik selembar kertas berwarna biru. Tulisan tangan Arin. Tentang sebuah rahasia yang nyatanya telah terpendam selama belasan tahun dan baru kuketahui saat aku sedang disibukkan dengan tugas akhir.

“Kau tahu? Jika dahulu kau datang di waktu yang tepat, mungkin aku tak kan menolak.”

***

“Ga ada yang perlu Arin sesali, Kak. Kalau kata Allah begini, Arin harus patuh.”

Arin berbesar hati, seperti Arin yang kukenal. Gaya angkuhnya selama ini hanya untuk membuatku terpancing dan berlari lebih cepat menuju apa yang kucita-citakan.

“Arin yakin, ada banyak sekali hikmah dari cerita kita.”

Ada getar dalam suaranya. Ada sesak yang ia tahan.

Puluhan detik dalam diam. Aku kehilangan kata-kata. Perasaan bersalah terus bergumul dalam hatiku. Terus beradu. Namun aku telah memutuskannya. Dan Arin telah menerima keputusanku.

Dan saat itu, meski aku hanya mampu mendengar suaranya dari seberang, aku tahu, bulir-bulir bening telah membasahi pipinya.

***

Dua puluh dua tahun mengenalnya. Begitu dekat, namun tak tersentuh.

“Barakallaahu laka. Wabaraka ‘alaika. Wa jama’a bainakuma fii khaiir...” desisku saat Arin beserta keluarga barunya berpose, mengabadikan momen hari ini, ketika separuh agamanya tergenapi.



Note:
Diam-diam mengisahkan ini, mengetikkan ribuan huruf di layar telepon genggam, padahal sedang memanggang cookies untuk lebaran :D


14 agustus 2012

2 komentar: