Social Icons

29 September 2012

Mama Terbaik Sepanjang Masa

Tiba-tiba teringat lagu ini.

Bila kuingat lelah ayah bunda
Bunda piara, piara akan daku
Sehingga aku besarlah

Waktu kukecil hidupku amatlah senang
Senang dipangku, dipangku dipeluknya
Serta dicium, dicium dimanjakan
Namanya kesayangan

Dan hari ini, usia Mama, genap 48 tahun.

Jika ditanya apa yang paling kusyukuri dalam hidup, maka salah satu jawabannya adalah memiliki Mama seperti yang Allah anugerahkan.

Mama. Pertama yang mengajarkan tentang hidup, tentang mengenal Allah dan rasulNya, tentang menjadi yang terbaik di manapun dan kapanpun, tentang menghormati orang lain, juga tentang berbagi kepada sesama.

Mama. Yang dari lisannya kudengarkan kisah-kisah mengharukan penuh hikmah. Tentang masa kecilnya. Tentang ayahnya yang menikahi tiga perempuan. Tentang keterbatasan ekonomi karena Nenek hanya ibu rumah tangga dan menunggu penghasilan dari kebun yang harus dibagi untuk tiga keluarga. Tentang keinginan Mama untuk sekolah tinggi karena ingin berpenghasilan dan tak ingin hidup sebagai perempuan terabaikan suami.

Mama. Yang dipercaya Papa saat melanjutkan S2 S3 di Bandung selama sembilan tahun. Yang menjaga rumah juga anak-anaknya. Yang cekatan di dapur. Yang telaten dengan keperluan kami. Yang peduli dengan setiap momen penting kami, anak-anaknya.

Mama. Yang begitu paham dengan raut wajah kami ketika sedih, marah, bahkan gembira.

Mama. Yang senyumnya adalah hadiah terindah untuk kami. Yang sedihnya adalah agar kami berhati-hati menjaga lisan dan laku di hadapannya. Yang marahnya adalah peringatan akan kesalahan kami. Yang khawatirnya adalah agar kami lebih berhati-hati.

Mama. Yang di kakinya Allah titipkan surga.

Semoga usia Mama barokah..
Semoga setiap menit detik yang terlewat hanya untuk kebaikan..
Semoga Mama semakin disayang Allah..
Dan semoga kelak, di surga, kita sekeluarga dikumpulkan dalam kebaikan, di tempat terbaik yang Ia sediakan.


Readmore - Mama Terbaik Sepanjang Masa

28 September 2012

Ini Solo, Bukan Bandung

Baru saja selesai menutup acara kajian di Forum Muslimah Pascasarjana (karena saya adalah MC), saya sudah ditegur, "Mbak, kalau mau ngasih bingkisan untuk pemateri, jangan langsung. Kalau di sini, itu ga sopan. Bingkisannya dikasihkan setelah pemateri diantar pulang atau kalau pematerinya bawa kendaraan, diberikan setelah diantarkan ke tempat parkir."

Waduh, saya tidak tahu. Sambil garuk-garuk kepala, saya minta maaf.

Solo bukan Bandung. Solo punya budaya dan kebiasaan masyarakat yang berbeda dengan daerah lain. Kalau di Bandung, saya biasa memberikan parcel atau bingkisan kecil untuk pemateri di depan forum, bahkan difoto.

Yah.. Mungkin supaya pemateri tak repot bawa parcelnya, jadi dibawakan dulu.

Ini, jadi salah satu alasan mengapa saya memilih melanjutkan studi di Solo. Sering sekali ditanya, "Kenapa S2 di Solo, ga di Bandung aja?". Tak heran. Brand UPI sebagai salah satu mantan IKIP memang cukup booming di kalangan mahasiswa jurusan pendidikan. Bahkan teman-teman dari luar daerah Bandung pun tak sedikit yang bercita-cita kuliah di UPI. Saya, yang berkesempatan untuk sekolah di sana, justru keluar daerah.

Ya. Saya ingin mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia yang beragam. Bagaimana bertutur yang sopan, bagaimana berlaku yang santun, karena baik Lampung, Sunda, maupun Jawa, memiliki khasnya masing-masing.

Seorang teman berkata, "Orang-orang timur itu tipenya pembelajar." Yang disebut orang timur itu, masyarakat Jawa. Dan saya pun melihatnya. Saya belajar dari teman-teman, baik di Solo maupun Jogja, untuk bisa menjadi perempuan gesit dan mandiri. Dari mereka lah saya belajar untuk berani mengendarai sepeda motor di kota (yang notabenenya penuh sesak dengan lalu lalang kendaraan). Belajar untuk tak merepotkan orang lain dengan, "Tolong antar saya ke sini ya..." Karena Solo tak memiliki angkutan umum yang  semua-jurusan-ada seperti di Bandung.

Saya melihat teman-teman yang potensial, bahkan mampu membuat gerakan-gerakan yang cukup besar untuk pemuda seusia mereka. Misalnya Sekolah Pintar Merapi. Berkarya dengan memberi apa yang bisa diberi untuk para korban erupsi Merapi, bahkan hingga saat ini, di mana sebagian masyarakat sudah mulai berpindah ke hunian tetap, tak lagi di shelter.

Lingkungan sholih yang juga memaksa saya untuk menjadi sholihah. Teman-teman yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Saya pun belajar dari mereka, teman-teman luar biasa, yang sudah mampu membuka usaha mandiri dan tak lagi meminta pesangon dari orang tua. Usaha kuliner, service printer, bahkan usaha material bangunan.

Mengenal ragam bahasa Jawa, khas Jogja, khas Solo, khas Tegal, khas Jawa Timur, juga ragam pariwisata dan peninggalan sejarah.

Ah... Setiap daerah memiliki pesonanya masing-masing. Bandung, dengan kekhasan sundanya dan Solo dengan kejawennya. Kita bebas memilih, di mana kaki ini akan melangkah. Karena setiap kita, memiliki tujuan yang berbeda.

Saya suka sekali dengan quote, "Do what you can do, with what you have, where you are..."
Bahwa kita, harus menjadi yang terbaik, di manapun :)




Readmore - Ini Solo, Bukan Bandung

24 September 2012

Ini, Separuh Agama

Ntah sejak kapan saya mulai dekat dengan Bunda Tiara. Mungkin sejak Dosen Sastra UNS itu mengisi kajian di Forum Muslimah Pascasarjana semester lalu. Mungkin sejak saya tahu beliau adalah salah satu anggota Forum Lingkar Pena. Mungkin sejak saya banyak bertanya tentang kepenulisan dan kemudian mendengar beberapa kisah Mbak Vida ataupun Ustadzah Afifah Afra darinya. Yang pasti, akhir-akhir ini saya agak intens memberi kabar atau meminta petuahnya.

Sangat melekat di benak, obrolan kami kemarin, ketika saya menyiapkan tanda cinta untuk Tiara.

"Kalau sudah masak-masak gini Aulia jadi pengen pulang lho, Bunda. Ngambil dapur di rumah juga perkakasnya, trus dibawa ke Solo."

"Kalau mau punya dapur, mesti punya rumah dulu. Kalau mau punya rumah, mesti nikah dulu. Kalau mau nikah, mesti ada calonnya dulu."

Ah... Bunda berhasil membuat saya kehilangan kata selama sepersekian detik. Menikah, harus menjadi topik yang tak bisa dihindari ya?

Agaknya, bukan tak ingin memikirkan. Seperti kebanyakan perempuan, tentu saja saya menginginkannya. Tak jarang pula saya bermimpi tentang rumah seperti apa yang akan menjadi istana kecil saya kelak. Tata letaknya, perabotannya, kolam ikan juga kebun penghiasnya, semuanya. Mendambakan putra-putri seperti apa bahkan merencanakan membuat bekal sekolah dan kreasi makanan sehat untuk hidangan setiap harinya. Tapi, saya seperti terlupa untuk bermimpi, lelaki seperti apa yang akan menjadi ayah anak-anak nantinya.
 
Mempercayakan kepada Allah apa yang akan menjadi takdir kita, tak salah kan? Meski sebagian teman berkata, "Kamu boleh kok, request jodoh yang seperti apa ke Allah." Boleh, tentu saja. Dia kan tempat meminta, dan Dia Maha Mengabulkan. Tapi, bolehkah saya percaya saja?

Dia tahu yang terbaik untuk dunia dan akhirat saya. Dia tahu apa yang menjadi cita-cita saya lima sampai sepuluh tahun ke depan, bahkan cita-cita hingga saya berusia senja. Dia tahu apa yang terselip di antara bait-bait doa yang saya panjatkan. Dia tahu, keinginan kecil yang terkadang tak saya tahu apakah baik untuk saya. Dia tahu, Dia tahu, Dia tahu...

Saya pun terkadang tak jujur dengan doa, "Saya ingin menikah usia 20 tahun." Karena ketika Allah menguji kebenarannya dengan mendatangkan seseorang ke hadapan, saya tidak siap. Membuat saya takut menjadi tak jujur ketika meminta. Seperti sabda Rasul kepada seorang sahabat yang ingin syahid, dahulu sebelum pergi berperang, "Jika kau jujur dengan pintamu, Allah pasti mengabulkan."

Allah knows. Allah knows. Allah knows.

Saya tak ingin menghindarkan diri dari topik 'Menggenapi Separuh Agama'. Tapi, perkara ini memang tak mudah. Separuh agama kita ada di sana. Dan tak ada perkara main-main di dalamnya.

Ini bukan hanya tentang bersatunya dua anak manusia, tetapi tentang bagaimana dua keluarga yang (mungkin) sebelumnya tak saling mengenal bertransformasi menjadi sebuah keluarga besar. Bagaimana menerima kurang dan lebihnya, tak hanya suami, tetapi juga kakak-adik dan ayah-ibunya. Tak hanya tentang bagaimana kita merawat sebuah istana kecil, tetapi juga tentang bagaimana kita menempatkan tetangga dalam kehidupan sehari-hari, mengakrabkan diri atau memilih menjadi asing. Bagaimana kehidupan kita dan anak-anak, juga cita-cita besar untuk menjadi manfaat bagi umat. Semua harus terencana.

Ya. Saya hanya sedang mempersiapkan diri. Merencanakan setiap inci mimpi untuk kehidupan berikutnya. Dan saya percaya, Allah sudah menyimpan sebait tanggal untuk pada akhirnya perwalian saya dipindahkan, dari tangan Papa ke suami saya kelak :)


Readmore - Ini, Separuh Agama

22 September 2012

Mendadak Cooking

Sabtu pagi. Tak berencana melakukan banyak agenda 'berat' hari ini. Yeah, berkutat dengan bahan-bahan tesis, merencanakan Bab I, II, III, daaan membayangkan penelitian yang (akan menjadi) luar biasa nanti, cukup membuat kepala saya mengeluarkan asap tebal (hanya imajinasi).

Saya ingin bersenang-senang seharian. Karena itu, saya membuat janji dengan Mbak Bibit untuk (belajar) membuat handycraft dari sabun ataupun kain flanel. Saya pun sengaja tidak sarapan dulu karena jam 10 berencana berdua saja dengan Bayu, adik saya, untuk menikmati kupon 'Beli 1 Gratis 1' di Soetik Steak belakang kampus. Karena itulah saya membuat status,

Kebahagiaan hari ini akan dimulai pukul 10. Bersiaplah! :D
*eh salah, sekarang bahagia, nanti jam 10 bahaga sekali
:D

Salah satu adik tingkat saya di SMA, Yusuf, memberi komen yang pada akhirnya memancing saya untuk membalas komennya dengan kata-kata tak terduga. (Note: Foto ini diambil setelah Yusuf berganti profil picture. Profpic awalnya, dia lagi senyum bahagia karena pamer tart di tangannya).


Ya. Awalnya hanya komen di status, tapi kok tiba-tiba saya berencana untuk eksperimen tart di dapur Bunda Tiara, salah satu pemateri kajian di Forum Muslimah Pascasarjana UNS yang cukup dekat dengan saya.

Wait, bukannya Tiara, putri Bunda, genap dua tahun bulan September ini? Sepertinya asyik kalau eksperimen di dapur Bunda di hari lahir Tiara. Nanti hasil eksperimennya bisa jadi tanda cinta saya untuk Tiara. Jemari saya pun bergerak memijit tombol-tombol di ponsel.

"Bunda, Tiara milad (ulang tahun) tanggal berapa?"

Tak lama, ponsel saya bergetar karena menerima balasan.

"Today. Ada apa? Mohon doanya yaaa..."

Apppaaaaaaah? Hari iniiiiiiiiiiiii? Saya menjerit sehisteris-histerisnya.

Ini memang masih pagi, jam digital di layar laptop pun masih menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa puluh menit. Tapi saya belum mandi, belum beres-beres kamar, belum prepare beberapa bahan yang harus saya bawa ke kosan Mbak Bibit nanti, dan belum booking motor Bayu (karena saya tidak ada kendaraan) untuk melesat ke rumah Bunda di daerah Banjarsari.

Dengan cepat, otak saya mengatur rencana ini dan itu. Sementara Mbah Google membantu saya mencari resep-resep tart yang amat sangat keren sekali, saya disibukkan dengan ponsel untuk membujuk Bayu agar motornya boleh saya pinjam, juga mengajak teman yang mungkin saja free dan mau diajak kolaborasi di dapur Bunda.

Well, motor boleh saya pinjam tapi dzuhur sudah harus dikembalikan. Teman-teman yang membalas pesan saya sudah punya agenda elitnya masing-masing. Baiklah, saya meluncur sendiri saja ke Banjarsari dengan kecepatan tinggi.

Awalnya, saya ingin membuat tart (yang memang belum pernah saya buat). Tapi, kasihan Tiara kalau hasil eksperimennya gagal. Jadi, saya buat Avocado Pound Cake saja yang sudah pernah saya racik di dapur Mama saat libur tempo lalu.

Selesai belanja di Pasar Nusukan, saya bergegas ke rumah Bunda yang memang sudah saya kabari rencana saya meminjam dapurnya hari ini. Jadi Bunda sempat pinjam mixer dulu ke tetangga, hihihi...

Bunda belum punya pemanggang, jadi cake-nya saya dadar ala pancake.Dari adonan yang ada, jadi tiga lapis pancake. Setiap lapisnya diberi lelehan cokelat masak. Karena ini tanda cinta, cakenya saya bentuk love :D



Saya ga bawa kamera digital, jadi difoto pakai hape. Yeah, not bad lah :D

Versi kedua, Bunda mau adonannya dipanggang pakai Amazing Com warisan Mamah (mertua) Bunda. Saya menyebutnya Amazing, bukan Magic, karena memang Com ini serbaguna. Bisa untuk memanggang macam-macam, termasuk cake.

Dan hasilnya? Better dari pancake sebelumnya deh kayanya :D

Untuk ukuran Com yang diameternya besar, adonannya kurang banyak. Jadi hasilnya ga terlalu tinggi. Tapi rasanya tetap lembuuuuut dan melting di mulut :p

Karena Tiara masih di sekolah, jadi saya ga sempat lihat ekspresinya waktu makan cake-nya. Tapi, Bunda baik sekali. Malamnya, foto Tiara di-tag ke fb saya.

Senang deh lihat senyumnya :)

Dan quote saya tempo hari, terasa sekali hari ini, 

"Bahagia itu kalau bisa memberi sesuatu untuk orang lain."




Note:
Setelah agenda bahagia dari rumah Bunda, saya ke kosan Mbak Bibit untuk membuat handycraft. Nanti-nanti saya pos ya, insyaAllah :)

Dan kupon Soetik Steak saya bernasib malang. Dengan alibi 'ada teman dari Jogja yang main ke Solo, Bayu mau ngajak makan enak', kupon saya diambil Bayu untuk traktir temannya itu (--,)a
Readmore - Mendadak Cooking

17 September 2012

Selamat Datang, Saudaraku

"Jika dahulu, ketika kita berbeda keyakinan kita berteman baik, bagaimana dengan sekarang ketika kita berada dalam sebuah keluarga yang sama, bertabur cinta dalam Islam?"


Aku  mengenalnya sejak hari pertama masuk SMP di tahun 2001. Dahulu, ia duduk di belakangku bersama teman se-SD-nya, Andri. Karena bermarga Simanjuntak dan berasal dari SD Xaverius, aku segera mengetahui agama yang ia yakini.

Kami tak begitu dekat. Hanya sesekali berada dalam kelompok belajar atau kelompok ekstrakurikuler menari yang sama karena kami berada dalam satu kelas selama tiga tahun. Hingga di penghujung tahun ajaran 2003/2004, ia bersama keluarganya mulai menetap di sebuah istana kecil, sepuluh menit perjalanan dengan sepeda motor dari rumahku. Sejak itulah aku sedikit lebih dekat dengannya.

Mungkin, perpisahan SMP adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Aku beserta sebagian besar teman sekelas melanjutkan studi di SMA Negeri 1 Pringsewu, sedangkan ia di Bandar Lampung. Dan aku tak banyak bertukar kabar dengannya, baik dengan surat ataupun via pesan di ponsel.

Pertama kali berteman dengannya di facebook, dahulu ketika salah seorang dari teman sekelas kami saat SMP membuat sebuah postingan heboh di Group Alumni SMP Negeri 1 Pringsewu. Dan aku masih belum menyadari keajaiban yang terjadi. Aku hanya tahu Ruth, temanku itu, sudah menikah dan berbahagia dengan buah hatinya.

Hingga suatu saat, ketika aku membuka notifikasi di facebook, aku menemukan postingannya di wall-ku,

"ga krasa udh larut malam,,mbaca emg bikin lupa waktu,,tau2 aja,,
abis baca blog punya temen SMP ku dlu,,Subhanallah,,bikin ketawa,,nangis,,banyak rasa,,mengingatkan aku byk hal,,terutama bgmn dia menyampaikan sesuatu yg hebat ttg penciptanya,,bgmn keyakinannya,kecintaanya kpd Allah,,bgmn ia menghargai kebahagian2 kecil di dlm keluarganya,,kelak aq inign mewujudkannya di dlm keluarga kecilku skrg,,memberiku byk pelajaran yg patut untuk ditiru..#inspired sekali Aulia Musla Mustika"

Aku masih  tidak percaya dengan kata 'subhanallah' yang ia tulis. Dan segera menyadari bahwa foto profilnya adalah seorang balita berkopiah.

Karena penasaran, kubuka album foto di facebooknya. Ada balita lain yang berkerudung. Benarkah ini putri kecil Ruth?



Aku masih saja berprasangka, mungkin saja itu anak kerabat atau sahabatnya, kemudian kembali mengulik isi album fotonya. Namun, pada lembar album ke sekian, aku terpaku.


Masih dalam diam, antara percaya dan tidak percaya. Mataku tak henti menatap gambarnya. Seolah mimpi dan tak ingin terbangun. Dan rasa itu, haru itu, jelas sekali menyusup ke sini, ke dalam hatiku. Itu Ruth! Benar, itu Ruth!

Aku masih tak percaya dengan yang kulihat dan masih mengulik isi facebooknya, bahkan membuka wall seseorang yang namanya tercantum setelah "Ruth O. Simanjuntak is married with...". Menemukan status-status yang cukup mencerminkan kemuslimannya, foto-foto bahagia bersama keluarga kecilnya dalam busana Muslim Muslimah, membuatku terhenyak. Benar. Islam itu nyata, ada di dalam keluarganya.

Ingin rasanya aku berlari ke arahnya, memeluknya sembari berkata, "Selamat datang, Saudaraku. Semoga kau dan keluargamu selalu dalam barokah dan rahmat Allah yang Maha Penyayang."

Ah... Sebatas ingin. Karena aku di Surakarta dan ia di Bandar Lampung, kutitipkan salamku lewat Allah saja. Semoga Ia selalu menunjukkanmu jalanNya yang lurus, Kawan :)





Menulis ini dalam limpahan bahagia
Ba'da Maghrib
17 September 2012



Untuk Ruth
yang membuatku iri atas terlahirnya kembali,
bak sehelai kertas putih tanpa noktah


Readmore - Selamat Datang, Saudaraku

16 September 2012

Nasi Uduk (Bayam)

Ceritanya habis nonton acara masak-masak di tipi. Ya ampun, mupeng bangeeet pengen masaaak... Karena ga punya perkakas dapur en cuma ngemodal magic com, akhirnya dapet ide untuk bikin nasi uduk sajo, hohoho

Hebohnya itu pas beli bahan-bahan di pasar. Namanya ibu-ibu ya, ngelihat pernak-pernik pasar bawaannya pengen ngeborong. Lihat kangkung, pengen numis kangkung. Lihat strawberry, pengen bikin puding/mousse strawberry. Ah, sayang sekali ga punya dapuuuuuuuuur... (dan tiba-tiba punya niat jahat, si magic com pengen dijadiin multi pan, ahahahhaah)

Ini, nasik uduk (bayam)nya


Makannya pakai tahu bulat & sambal terasi ABC (sekali lagi, ga ada perkakas dapur apalagi buat ngulek sambel). Masaknya kaya nasi biasa, tapi airnya diganti santan. Dikasih sedikit garam, daun salam, dan serai. Ini ada cincangan bayamnya biar ada nutrisi dari sayuran. Kayanya kurang banyak nih bayamnya.

Rasanya? Coba aja masak sendiri :p

Anyway, kali ini masaknya bareng zara :D

Oh iya, yang ini versi kedua karena bahan-bahannya masih ada. Airnya sedikit lebih banyak dan takaran garamnya dibuat lebih pas, alhasil lebih lembuuuuuuut dan lebih guriiiiiih... Bayamnya ga dicincang kaya sebelumnya, jadi nasinya tampak lebih hijau kan? a little :p


Readmore - Nasi Uduk (Bayam)

11 September 2012

Berburu Elit ala Purwokerto

"Lee, teman-teman Sekolah Pintar Merapi mau kondangan ke tempat Mbak Ida di Cilacap hari Minggu, sekalian mampir ke rumahku di Purwokerto. Mau ikut?"

Pesan itu saya terima dari Mbak Uzi, beberapa jam sebelum saya packing untuk kembali ngampus di Solo setelah libur panjang Ramadhan-Idul Fitri di Lampung. Apppaaa? Ke Purwokerto? Mauuuuu... Dan tiba-tiba saya membayangkan sedang beterbangan ke sana ke mari melintasi berbagai kota di Indonesia dengan satu kata kunci: travelling.

"Tapi, aku kan ga kenal Mbak Ida, Mbak," kata saya. "Ga enak lah, ga diundang kok dateng."

Lagi pula, hari Minggu saya sudah ada rencana melakukan ini dan itu di Solo.

Mbak Uzi membalas lagi, "Kamu ikut agenda ke rumahku aja. Naik kereta Jumat siang, ke Solo lagi Minggu pagi. Piye?"

Ya! Kalau begitu, agenda travelling saya ke Purwokerto menjadi lebih beralasan. Yang penting ke Purwokerto (yang belum pernah saya cicipi itu). Kondangan ke Cilacap sih agendanya Mbak Uzi dan teman-teman Sekolah Pintar.

Dan, setibanya di Solo, saya segera memesan tiket Logawa untuk melesat ke Purwokerto hari Jumat yang kebetulan memang tidak ada jadwal kuliah.

Dahulu, sebenarnya saya punya pengalaman buruk dengan menaiki kereta api ekonomi. Gerah, lengket, sumpek, bising, aaaaaaarrrgh.. Membuat saya tidak betah dan ingin segera menceburkan diri ke kolam rasanya. Apalagi perjalanan Kebumen-Bandung yang dahulu memakan waktu sembilan jam. Wow sekali lah rasanya. Tapi, kata Mbak Uzi sudah ada peraturan baru untuk KA ekonomi. Semua penumpang dapat tempat duduk. Yeah, at least, meski gerah saya masih bisa kipas-kipas dengan tenang karena posisi yang elit: duduk.

Empat jam terperangkap di dalam gerbong besi bernama Logawa dari Solo, akhirnya saya tiba di Purwokerto jelang Isya. Berasa ada yang tepuk tangan ramai-ramai, "Welcome, welcome!"


Mbak Uzi sudah menjemput di depan stasiun. Dan... wuuuuz! Kami melesat ke daerah Cilongok, tempat bertenggernya istana nan megah yang akan menjadi penginapan saya selama di Purwokerto.

Dingin. Terasa sekali aura pedesaannya. Mungkin datarannya memang lebih tinggi karena dekat dengan perbukitan. Airnya pun tak kalah dingin, membuat saya berniat tidak mandi dan segera memeluk bantal dan guling. Tapi, ternyata Mbak Uzi baik sekali merebuskan air. Membuat saya tidak punya alasan lagi.

"Kan mandinya pakai air anget, ya ga dingiiin..."

***

"Mau jalan-jalan ga, Lee?" tanya Mbak Uzi selepas Shubuh.

Saya segera membawa serta kamera digital untuk menangkap banyak objek yang bertebaran di sini. Sayang sekali, karena kami memilih waktu shubuh, matahari belum bangun. Jalanan masih gelap meski sebenarnya ada banyak objek cantik bertengger di sini dan di sana.

Kami mengelilingi Cilongok yang -ya ampun- luas betuuuuuul. Satu setengah jam baru bisa kembali lagi ke rumah Mbak Uzi seteah melewati sawah, ladang, kolam ikan, pemakaman, dan pemukiman warga.

"Kalau mau ngerasain naik gunung, ya keliling desa ini aja," kata Mbak Uzi, menunjuk jalanan yang kami lewati.


Meski berliku, mendaki, dan menurun, tapi jalannya halus, sudah beraspal. Malah ada angkutan desa lewat jalan ini. Desa asri yang tidak ketinggalan akses informasi, mungkin begitu sebutannya.

***

"Hari ini kita cari tiket untuk Travel," kata Mbak Uzi.

Pasalnya, kemarin saat di stasiun saya kehabisan tiket Logawa untuk Minggu pagi. Saya sudah merencanakan berbagai agenda elit di Solo, jadi saya bersikeras untuk kembali hari Minggu.

Karena motor hanya satu dan Bapak ada kondangan jam satu, kami harus bergesit-gesit ria dalam menjelajahi Purwokerto. Dan, dari sini semuanya bermula.

Mbak Uzi mengajak saya berkeliling kota. Kami tak banyak singgah karena terburu waktu. Alhasil, saya hanya mampu menangkap objek dengan asal, sedangkan motor terus melaju.


Pernah mendengar Baturraden? Kata Mbak Uzi (kata orang sih katanya :p), dahulu kala ada seorang putri yang jatuh cinta dengan seorang penjaga kuda. Karena cinta mereka tidak direstui, mereka akhirnya kawin lari dan bermukim di kawasan ini. Batur artinya pembantu, sedangkan raden adalah sebutan untuk putra atau putri kerajaan. Karena itulah kawasan ini bernama Baturraden.


Maklum, Mbak Uzi bukan sarjana Matematika, jadi saya tidak marah kalau hasil jepretannya tidak simetris.


Anyway, kami ga masuk loh. Gambar ini diambil dari luar. Sekali lagi, karena kami terburu waktu (atau memang pelit dan tidak mau membayar karcis?)


Gambar ini diambil awalnya untuk pamer, “Aku pernah ke Baturraden loooh...”. Padahal difotonya dari luar, hihihi...

Sudah puas memainkan kamera, motor kembali melaju, melewati jalanan sepanjang Baturraden yang dipenuhi penjual tanaman.



Saya sempat mengirimkan pesan kepada Arum yang sedang studi di Unsoed. Pamer, saya sedang di Purwokerto. Tapi, sepertinya kami tidak bisa bertemu karena jadwal yang tidak beririsan (gaya bahasa anak matematik).



Saya lapaaaaaaaaaaaar...!

Mbak Uzi awalnya mengajak makan Soto Sukaraja yang bumbu sotonya diberi bumbu kacang itu. Bayangan saya, rasa sotonya mirip pecel. Karena sempat melintasi kedai Lumpia BOM, saya meminta Mbak Uzi mampir ke sini saja.


Saya pesan rasa ayam, Rp 8.500,00. Awalnya ditanya, "Pakai nasi?" Tapi melihat lumpia yang jumbo begitu saya pesimis bisa habis apalagi pakai nasi.


Aslinya, satu porsi ya satu lumpia. Tapi yang potongan itu pinjam punya Mbak Uzi. Hehe... Tebak, kira-kira apa isinya?

In my opinion pemirsa, ini adalah telur dadar isi wortel (rebus), daun bawang, seledri, suiran ayam, dan bumbu seperti garam dan bawang. Setelah telur didadar, digulung di dalam lumpia (buatan sendiri) dan digoreng sampai kulit lumpianya krispi. Rasa pedas ada di sambal. Jadi, yang ga suka pedas bisa pesan, “no sambal!” :D

Pernah dengar Sandal Ngapak? Itu sandal produksi teman Mbak Uzi. Tapi, di kawasan Purwokerto-Banyumas dan daerah Jawa bagian tengah lainnya, lebih sering disebut Sandal Bandol. Dari blog Ngapak-ers saya tau, artinya Sandal Ban Bodol (sandal ban bekas). Sandalnya memang dibuat dari ban bekas.


Kampung Kebanaran, kata Mbak Uzi, memang kampung yang memproduksi sandal dari ban bekas. Ide daur ulang yang keren dd(^^,) sekarang sandal bandol sudah beragam tipenya. Modis lah, lumayan :D


Waktunya pulaaaaaaaang \(^.^)/

Eh, di jalan ketemu Bapak yang naik vespa menjemput Ibu. Artinya, kami tidak pulang terlambat :p

Ini, jalan di depan rumah Mbak Uzi. Masih asri kan?


Ini rumah Mbak Uzi.


Cerita seru berikutnya, giliran Mbak Uzi yang berkicau :)
Baca di Kesampaian Juga ke Cilongok, ya... (^^,)v
Readmore - Berburu Elit ala Purwokerto

5 September 2012

Kita Bahagia dengan Takdir Masing-masing

Predikat "Cerdas", "Keren", "Hebat", dan berbagai predikat elit saya agaknya tidak diakui oleh Evan Kamaratul Insani. Pasalnya, si Evan ini lebih keren dari saya. Selain lulus cumlaude dari ITB, dia punya seabreg prestasi. Yang paling bikin iri ga ketulungan, dia pernah stay di Jepang! Hiyaaaaaaaaah... "Guwe kapan?"

Saya selalu dusun setiap kali dia cerita tentang Jepang dan pernak-perniknya. Ingin lah yaaa menginjakkan kaki di negeri empat musim. Apalagi Jepang yang -katanya- edukatif sekali. Tapi, lebih dari itu, saya belajar banyak tentang sisi lain dunia dari Evan. Saya pernah cerita di Sebuah Rekaman tentang Hikmah.

Senang, mempunyai teman hebat. Hebat itu menular dan saya percaya suatu saat saya akan menjadi hebat juga. Karena itu, ketika tiba-tiba ia mengirimkan pesan singkat ke ponsel, "Tanggal 2-4 gw ke Jogja sama Reisha." saya girang sangat dan segera membuat rencana membeli tiket Prambanan Ekspres (Pramex)untuk menemuinya di Malioboro.


Reisha Humaira. Pertama kali menemukan namanya di wall fb Evan. Karena intensnya 'like', 'komen', dan 'postingan' di wall Evan, saya pun curiga. Dengan gaya detektif, saya ulik fb Reisha bersama tim detektif lain: Bayyild, Sayid, Amal, teman main saya di Double Nuclei Academy (DNA) saat di Bandung dulu. Menemukan fakta bahwa Evan dan Reisha ada special relationship, kami pun ber'cie-cie' saat Evan datang ke DNA.

Pemirsa, Reisha ini belum puas kuliah ternyata. Setelah lulus dari ITB malah ke Jepang dong S2-nya. Ya ampun, iri kuadrat lah ya sayanya. Tambah mupeng lagi waktu baca-baca blog Reisha yang diiisi pengalaman-pengalamannya di Jepang. Tapi, saya paling suka buka posterous karena di sana reisha banyak share tentang hasil eksperimennya di dapur atau jajanan kuliner di dalam dan luar negeri.

Singkat cerita, saya, Evan, dan Reisha ketemuan di Malioboro, senin malam. Itu pakai perjuangan dulu karena saya kuliah sampai jam lima sore dan harus mengejar Pramex terakhir jam 17.41. Sepanjang jalan ke Jogja, hape saya tidak bisa diam. Pasalnya, Evan tanya tempat makan yang nyaman untuk ngobrol dan ga ada pengamen tapi masih di sekitar Malioboro. Saya kan bukan warga Jogja, jadi ribet sendiri SMS teman yang ini dan yang itu untuk tanya-tanya. Dan tahukah akhirnya kami makan di mana? Resto Kopitiam pilihan Evan yang buat saya high class banget.


Baca menu di Kopitiam bikin saya pusing. Nama makanannya ga familiar banget buat saya.

"Pilihin lah," kata saya. "Ga ngerti nih makanan beginian." Menunya dibolak-balik juga saya ga nemu menu yang ada bau-bau tempe apa tahu gitu.

"Pilih sendiri apa yang kira-kira mau lu makan."

Evan & Reisha sudah pesan, saya masih galau.

"Lu pesen gitu aja lama ya, ampe besok pagi ga kelar-kelar juga nih," kata Evan judes.

Ish, diminta pesenin ga mau tapi ngomel-ngomel coba (-.-)'
Akhirnya saya pesan Blue Ocean Titanic & Toast rasa cokelat. Tapi, ngulik kamera ga nemu fotonya. Cuma ada foto Ayam Woku pesanan Reisha.


Awalnya, saya pikir kami akan banyak sharing. Reisha cerita tentang Jepang, Evan cerita tentang tempat kerjanya yang katanya elit tapi jauh dari peradaban (versi saya), dan saya cerita tentang Solo-Jogja juga pernak-perniknya. Tapi, kami cuma ngobrol ringan. Dan seperti biasa, saya jadi korban buli-buli.

"Norak lu, Au..." kata Evan sambil tertawa-tawa. Dia bilang begitu sudah lusinan kali agaknya. Asem betul.

Tapi jujur, saya senang juga dia bilang saya norak setelah setahun lebih tak bersua. Semacam kata sandi setiap kali bertemu. Evan memang begitu. Berkata semaunya ketika ngobrol ringan, tapi share banyak hikmah ketika kami berkumpul di DNA dulu.

Evan minta bill ke Mbak-mbak Kopitiam dan membayar semua pesanan. Apaaaaaaaaa? Dibayarin? Kenapa tadi saya cuma pesan Toast (T-T)

Ini foto pasca dinner. Wajah-wajah bahagia ya? :D


Tapi, saya lebih suka foto ini, lebih friendly :)


Meski norak, sepertinya saya cukup berguna bisa jadi bahan tertawaan Evan. Kasihan dia, irit tawa kalau sudah di lapangan yang penuh pressure ('.')a

Dan satu quote yang saya suka, "Kita bahagia dengan takdir masing-masing."
Readmore - Kita Bahagia dengan Takdir Masing-masing

1 September 2012

Nasi Goreng Madu

Kemarin lihat tweet Ust. Yusuf Mansur, beliau bikinin istrinya nasi goreng madu. Jadi mupeng nyobain sendiri di rumah. Yeah, untuk terakhir kalinya di dapur sebelum berangkat ke Solo :D

Ini pake orak-arik telur sama potongan wortel. Bahan nasgor-nya sama aja kaya nasgor biasa, cuma kecapnya diganti madu. Kombinasi asin, manis, pedasnya sesuai selera :D


Readmore - Nasi Goreng Madu