Social Icons

11 September 2012

Berburu Elit ala Purwokerto

"Lee, teman-teman Sekolah Pintar Merapi mau kondangan ke tempat Mbak Ida di Cilacap hari Minggu, sekalian mampir ke rumahku di Purwokerto. Mau ikut?"

Pesan itu saya terima dari Mbak Uzi, beberapa jam sebelum saya packing untuk kembali ngampus di Solo setelah libur panjang Ramadhan-Idul Fitri di Lampung. Apppaaa? Ke Purwokerto? Mauuuuu... Dan tiba-tiba saya membayangkan sedang beterbangan ke sana ke mari melintasi berbagai kota di Indonesia dengan satu kata kunci: travelling.

"Tapi, aku kan ga kenal Mbak Ida, Mbak," kata saya. "Ga enak lah, ga diundang kok dateng."

Lagi pula, hari Minggu saya sudah ada rencana melakukan ini dan itu di Solo.

Mbak Uzi membalas lagi, "Kamu ikut agenda ke rumahku aja. Naik kereta Jumat siang, ke Solo lagi Minggu pagi. Piye?"

Ya! Kalau begitu, agenda travelling saya ke Purwokerto menjadi lebih beralasan. Yang penting ke Purwokerto (yang belum pernah saya cicipi itu). Kondangan ke Cilacap sih agendanya Mbak Uzi dan teman-teman Sekolah Pintar.

Dan, setibanya di Solo, saya segera memesan tiket Logawa untuk melesat ke Purwokerto hari Jumat yang kebetulan memang tidak ada jadwal kuliah.

Dahulu, sebenarnya saya punya pengalaman buruk dengan menaiki kereta api ekonomi. Gerah, lengket, sumpek, bising, aaaaaaarrrgh.. Membuat saya tidak betah dan ingin segera menceburkan diri ke kolam rasanya. Apalagi perjalanan Kebumen-Bandung yang dahulu memakan waktu sembilan jam. Wow sekali lah rasanya. Tapi, kata Mbak Uzi sudah ada peraturan baru untuk KA ekonomi. Semua penumpang dapat tempat duduk. Yeah, at least, meski gerah saya masih bisa kipas-kipas dengan tenang karena posisi yang elit: duduk.

Empat jam terperangkap di dalam gerbong besi bernama Logawa dari Solo, akhirnya saya tiba di Purwokerto jelang Isya. Berasa ada yang tepuk tangan ramai-ramai, "Welcome, welcome!"


Mbak Uzi sudah menjemput di depan stasiun. Dan... wuuuuz! Kami melesat ke daerah Cilongok, tempat bertenggernya istana nan megah yang akan menjadi penginapan saya selama di Purwokerto.

Dingin. Terasa sekali aura pedesaannya. Mungkin datarannya memang lebih tinggi karena dekat dengan perbukitan. Airnya pun tak kalah dingin, membuat saya berniat tidak mandi dan segera memeluk bantal dan guling. Tapi, ternyata Mbak Uzi baik sekali merebuskan air. Membuat saya tidak punya alasan lagi.

"Kan mandinya pakai air anget, ya ga dingiiin..."

***

"Mau jalan-jalan ga, Lee?" tanya Mbak Uzi selepas Shubuh.

Saya segera membawa serta kamera digital untuk menangkap banyak objek yang bertebaran di sini. Sayang sekali, karena kami memilih waktu shubuh, matahari belum bangun. Jalanan masih gelap meski sebenarnya ada banyak objek cantik bertengger di sini dan di sana.

Kami mengelilingi Cilongok yang -ya ampun- luas betuuuuuul. Satu setengah jam baru bisa kembali lagi ke rumah Mbak Uzi seteah melewati sawah, ladang, kolam ikan, pemakaman, dan pemukiman warga.

"Kalau mau ngerasain naik gunung, ya keliling desa ini aja," kata Mbak Uzi, menunjuk jalanan yang kami lewati.


Meski berliku, mendaki, dan menurun, tapi jalannya halus, sudah beraspal. Malah ada angkutan desa lewat jalan ini. Desa asri yang tidak ketinggalan akses informasi, mungkin begitu sebutannya.

***

"Hari ini kita cari tiket untuk Travel," kata Mbak Uzi.

Pasalnya, kemarin saat di stasiun saya kehabisan tiket Logawa untuk Minggu pagi. Saya sudah merencanakan berbagai agenda elit di Solo, jadi saya bersikeras untuk kembali hari Minggu.

Karena motor hanya satu dan Bapak ada kondangan jam satu, kami harus bergesit-gesit ria dalam menjelajahi Purwokerto. Dan, dari sini semuanya bermula.

Mbak Uzi mengajak saya berkeliling kota. Kami tak banyak singgah karena terburu waktu. Alhasil, saya hanya mampu menangkap objek dengan asal, sedangkan motor terus melaju.


Pernah mendengar Baturraden? Kata Mbak Uzi (kata orang sih katanya :p), dahulu kala ada seorang putri yang jatuh cinta dengan seorang penjaga kuda. Karena cinta mereka tidak direstui, mereka akhirnya kawin lari dan bermukim di kawasan ini. Batur artinya pembantu, sedangkan raden adalah sebutan untuk putra atau putri kerajaan. Karena itulah kawasan ini bernama Baturraden.


Maklum, Mbak Uzi bukan sarjana Matematika, jadi saya tidak marah kalau hasil jepretannya tidak simetris.


Anyway, kami ga masuk loh. Gambar ini diambil dari luar. Sekali lagi, karena kami terburu waktu (atau memang pelit dan tidak mau membayar karcis?)


Gambar ini diambil awalnya untuk pamer, “Aku pernah ke Baturraden loooh...”. Padahal difotonya dari luar, hihihi...

Sudah puas memainkan kamera, motor kembali melaju, melewati jalanan sepanjang Baturraden yang dipenuhi penjual tanaman.



Saya sempat mengirimkan pesan kepada Arum yang sedang studi di Unsoed. Pamer, saya sedang di Purwokerto. Tapi, sepertinya kami tidak bisa bertemu karena jadwal yang tidak beririsan (gaya bahasa anak matematik).



Saya lapaaaaaaaaaaaar...!

Mbak Uzi awalnya mengajak makan Soto Sukaraja yang bumbu sotonya diberi bumbu kacang itu. Bayangan saya, rasa sotonya mirip pecel. Karena sempat melintasi kedai Lumpia BOM, saya meminta Mbak Uzi mampir ke sini saja.


Saya pesan rasa ayam, Rp 8.500,00. Awalnya ditanya, "Pakai nasi?" Tapi melihat lumpia yang jumbo begitu saya pesimis bisa habis apalagi pakai nasi.


Aslinya, satu porsi ya satu lumpia. Tapi yang potongan itu pinjam punya Mbak Uzi. Hehe... Tebak, kira-kira apa isinya?

In my opinion pemirsa, ini adalah telur dadar isi wortel (rebus), daun bawang, seledri, suiran ayam, dan bumbu seperti garam dan bawang. Setelah telur didadar, digulung di dalam lumpia (buatan sendiri) dan digoreng sampai kulit lumpianya krispi. Rasa pedas ada di sambal. Jadi, yang ga suka pedas bisa pesan, “no sambal!” :D

Pernah dengar Sandal Ngapak? Itu sandal produksi teman Mbak Uzi. Tapi, di kawasan Purwokerto-Banyumas dan daerah Jawa bagian tengah lainnya, lebih sering disebut Sandal Bandol. Dari blog Ngapak-ers saya tau, artinya Sandal Ban Bodol (sandal ban bekas). Sandalnya memang dibuat dari ban bekas.


Kampung Kebanaran, kata Mbak Uzi, memang kampung yang memproduksi sandal dari ban bekas. Ide daur ulang yang keren dd(^^,) sekarang sandal bandol sudah beragam tipenya. Modis lah, lumayan :D


Waktunya pulaaaaaaaang \(^.^)/

Eh, di jalan ketemu Bapak yang naik vespa menjemput Ibu. Artinya, kami tidak pulang terlambat :p

Ini, jalan di depan rumah Mbak Uzi. Masih asri kan?


Ini rumah Mbak Uzi.


Cerita seru berikutnya, giliran Mbak Uzi yang berkicau :)
Baca di Kesampaian Juga ke Cilongok, ya... (^^,)v

0 komentar:

Posting Komentar