Social Icons

24 September 2012

Ini, Separuh Agama

Ntah sejak kapan saya mulai dekat dengan Bunda Tiara. Mungkin sejak Dosen Sastra UNS itu mengisi kajian di Forum Muslimah Pascasarjana semester lalu. Mungkin sejak saya tahu beliau adalah salah satu anggota Forum Lingkar Pena. Mungkin sejak saya banyak bertanya tentang kepenulisan dan kemudian mendengar beberapa kisah Mbak Vida ataupun Ustadzah Afifah Afra darinya. Yang pasti, akhir-akhir ini saya agak intens memberi kabar atau meminta petuahnya.

Sangat melekat di benak, obrolan kami kemarin, ketika saya menyiapkan tanda cinta untuk Tiara.

"Kalau sudah masak-masak gini Aulia jadi pengen pulang lho, Bunda. Ngambil dapur di rumah juga perkakasnya, trus dibawa ke Solo."

"Kalau mau punya dapur, mesti punya rumah dulu. Kalau mau punya rumah, mesti nikah dulu. Kalau mau nikah, mesti ada calonnya dulu."

Ah... Bunda berhasil membuat saya kehilangan kata selama sepersekian detik. Menikah, harus menjadi topik yang tak bisa dihindari ya?

Agaknya, bukan tak ingin memikirkan. Seperti kebanyakan perempuan, tentu saja saya menginginkannya. Tak jarang pula saya bermimpi tentang rumah seperti apa yang akan menjadi istana kecil saya kelak. Tata letaknya, perabotannya, kolam ikan juga kebun penghiasnya, semuanya. Mendambakan putra-putri seperti apa bahkan merencanakan membuat bekal sekolah dan kreasi makanan sehat untuk hidangan setiap harinya. Tapi, saya seperti terlupa untuk bermimpi, lelaki seperti apa yang akan menjadi ayah anak-anak nantinya.
 
Mempercayakan kepada Allah apa yang akan menjadi takdir kita, tak salah kan? Meski sebagian teman berkata, "Kamu boleh kok, request jodoh yang seperti apa ke Allah." Boleh, tentu saja. Dia kan tempat meminta, dan Dia Maha Mengabulkan. Tapi, bolehkah saya percaya saja?

Dia tahu yang terbaik untuk dunia dan akhirat saya. Dia tahu apa yang menjadi cita-cita saya lima sampai sepuluh tahun ke depan, bahkan cita-cita hingga saya berusia senja. Dia tahu apa yang terselip di antara bait-bait doa yang saya panjatkan. Dia tahu, keinginan kecil yang terkadang tak saya tahu apakah baik untuk saya. Dia tahu, Dia tahu, Dia tahu...

Saya pun terkadang tak jujur dengan doa, "Saya ingin menikah usia 20 tahun." Karena ketika Allah menguji kebenarannya dengan mendatangkan seseorang ke hadapan, saya tidak siap. Membuat saya takut menjadi tak jujur ketika meminta. Seperti sabda Rasul kepada seorang sahabat yang ingin syahid, dahulu sebelum pergi berperang, "Jika kau jujur dengan pintamu, Allah pasti mengabulkan."

Allah knows. Allah knows. Allah knows.

Saya tak ingin menghindarkan diri dari topik 'Menggenapi Separuh Agama'. Tapi, perkara ini memang tak mudah. Separuh agama kita ada di sana. Dan tak ada perkara main-main di dalamnya.

Ini bukan hanya tentang bersatunya dua anak manusia, tetapi tentang bagaimana dua keluarga yang (mungkin) sebelumnya tak saling mengenal bertransformasi menjadi sebuah keluarga besar. Bagaimana menerima kurang dan lebihnya, tak hanya suami, tetapi juga kakak-adik dan ayah-ibunya. Tak hanya tentang bagaimana kita merawat sebuah istana kecil, tetapi juga tentang bagaimana kita menempatkan tetangga dalam kehidupan sehari-hari, mengakrabkan diri atau memilih menjadi asing. Bagaimana kehidupan kita dan anak-anak, juga cita-cita besar untuk menjadi manfaat bagi umat. Semua harus terencana.

Ya. Saya hanya sedang mempersiapkan diri. Merencanakan setiap inci mimpi untuk kehidupan berikutnya. Dan saya percaya, Allah sudah menyimpan sebait tanggal untuk pada akhirnya perwalian saya dipindahkan, dari tangan Papa ke suami saya kelak :)


5 komentar:

  1. Indah sekali.,
    kadang aQ juga slalu berfikir demikian,tapi aQ pun tak mampu untuk punya kesabaran lebih,
    ketika aQ dekat dengan seseorang sepintas Q pun berfikir indahnya tingkah lakunya,bolehkah aQ mengharapkan orang itu kelak menjadi imamku? maka aQ pun mulai berharap.

    tapi,harapan itu menjadi terhapus saat tahu bahwa dia telah ada oranglain,
    apakah wanita itu lebih baik dariku,selalu memperbaiki diri itu kuncinya kan mb?
    tapi q selalu yakin Allah memberikan yg terbaik untuk makhluknya.
    Dan ketika q menyadari usia yang q punya tak lg muda,datanglah seorang yg blm bisa sepenuhnya seperti orang yg kita harapkan..dan aku pun mulai berpikir apakah dia jodohku?
    apakah dia yang terbaik untukku?
    melangkahpun menjadi semakin berat.
    tQ.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembalikan lagi ke Allah, Dia yang Maha Tahu :)

      Menyibukkan hari dengan terus memperbaiki diri tak akan pernah rugi, begitu kan? Semoga siapapun ia, mampu membersamai kita dalam ketaatan-ketaatan padaNya, hingga kelak kita mampu dengan bangga katakan, "Allahku, ini aku beserta keluargaku."

      Sama-sama belajar mba :)

      Hapus
  2. dd(^_^)bb

    cari yg kayak apa to Lee..?
    =)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ini ga logis, jempol kok ada 4, pake jempol kaki jangan-jangan :D

      perlu di"cari" pho mbak? :p

      Hapus