Social Icons

28 September 2012

Ini Solo, Bukan Bandung

Baru saja selesai menutup acara kajian di Forum Muslimah Pascasarjana (karena saya adalah MC), saya sudah ditegur, "Mbak, kalau mau ngasih bingkisan untuk pemateri, jangan langsung. Kalau di sini, itu ga sopan. Bingkisannya dikasihkan setelah pemateri diantar pulang atau kalau pematerinya bawa kendaraan, diberikan setelah diantarkan ke tempat parkir."

Waduh, saya tidak tahu. Sambil garuk-garuk kepala, saya minta maaf.

Solo bukan Bandung. Solo punya budaya dan kebiasaan masyarakat yang berbeda dengan daerah lain. Kalau di Bandung, saya biasa memberikan parcel atau bingkisan kecil untuk pemateri di depan forum, bahkan difoto.

Yah.. Mungkin supaya pemateri tak repot bawa parcelnya, jadi dibawakan dulu.

Ini, jadi salah satu alasan mengapa saya memilih melanjutkan studi di Solo. Sering sekali ditanya, "Kenapa S2 di Solo, ga di Bandung aja?". Tak heran. Brand UPI sebagai salah satu mantan IKIP memang cukup booming di kalangan mahasiswa jurusan pendidikan. Bahkan teman-teman dari luar daerah Bandung pun tak sedikit yang bercita-cita kuliah di UPI. Saya, yang berkesempatan untuk sekolah di sana, justru keluar daerah.

Ya. Saya ingin mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia yang beragam. Bagaimana bertutur yang sopan, bagaimana berlaku yang santun, karena baik Lampung, Sunda, maupun Jawa, memiliki khasnya masing-masing.

Seorang teman berkata, "Orang-orang timur itu tipenya pembelajar." Yang disebut orang timur itu, masyarakat Jawa. Dan saya pun melihatnya. Saya belajar dari teman-teman, baik di Solo maupun Jogja, untuk bisa menjadi perempuan gesit dan mandiri. Dari mereka lah saya belajar untuk berani mengendarai sepeda motor di kota (yang notabenenya penuh sesak dengan lalu lalang kendaraan). Belajar untuk tak merepotkan orang lain dengan, "Tolong antar saya ke sini ya..." Karena Solo tak memiliki angkutan umum yang  semua-jurusan-ada seperti di Bandung.

Saya melihat teman-teman yang potensial, bahkan mampu membuat gerakan-gerakan yang cukup besar untuk pemuda seusia mereka. Misalnya Sekolah Pintar Merapi. Berkarya dengan memberi apa yang bisa diberi untuk para korban erupsi Merapi, bahkan hingga saat ini, di mana sebagian masyarakat sudah mulai berpindah ke hunian tetap, tak lagi di shelter.

Lingkungan sholih yang juga memaksa saya untuk menjadi sholihah. Teman-teman yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Saya pun belajar dari mereka, teman-teman luar biasa, yang sudah mampu membuka usaha mandiri dan tak lagi meminta pesangon dari orang tua. Usaha kuliner, service printer, bahkan usaha material bangunan.

Mengenal ragam bahasa Jawa, khas Jogja, khas Solo, khas Tegal, khas Jawa Timur, juga ragam pariwisata dan peninggalan sejarah.

Ah... Setiap daerah memiliki pesonanya masing-masing. Bandung, dengan kekhasan sundanya dan Solo dengan kejawennya. Kita bebas memilih, di mana kaki ini akan melangkah. Karena setiap kita, memiliki tujuan yang berbeda.

Saya suka sekali dengan quote, "Do what you can do, with what you have, where you are..."
Bahwa kita, harus menjadi yang terbaik, di manapun :)




3 komentar: