Social Icons

5 September 2012

Kita Bahagia dengan Takdir Masing-masing

Predikat "Cerdas", "Keren", "Hebat", dan berbagai predikat elit saya agaknya tidak diakui oleh Evan Kamaratul Insani. Pasalnya, si Evan ini lebih keren dari saya. Selain lulus cumlaude dari ITB, dia punya seabreg prestasi. Yang paling bikin iri ga ketulungan, dia pernah stay di Jepang! Hiyaaaaaaaaah... "Guwe kapan?"

Saya selalu dusun setiap kali dia cerita tentang Jepang dan pernak-perniknya. Ingin lah yaaa menginjakkan kaki di negeri empat musim. Apalagi Jepang yang -katanya- edukatif sekali. Tapi, lebih dari itu, saya belajar banyak tentang sisi lain dunia dari Evan. Saya pernah cerita di Sebuah Rekaman tentang Hikmah.

Senang, mempunyai teman hebat. Hebat itu menular dan saya percaya suatu saat saya akan menjadi hebat juga. Karena itu, ketika tiba-tiba ia mengirimkan pesan singkat ke ponsel, "Tanggal 2-4 gw ke Jogja sama Reisha." saya girang sangat dan segera membuat rencana membeli tiket Prambanan Ekspres (Pramex)untuk menemuinya di Malioboro.


Reisha Humaira. Pertama kali menemukan namanya di wall fb Evan. Karena intensnya 'like', 'komen', dan 'postingan' di wall Evan, saya pun curiga. Dengan gaya detektif, saya ulik fb Reisha bersama tim detektif lain: Bayyild, Sayid, Amal, teman main saya di Double Nuclei Academy (DNA) saat di Bandung dulu. Menemukan fakta bahwa Evan dan Reisha ada special relationship, kami pun ber'cie-cie' saat Evan datang ke DNA.

Pemirsa, Reisha ini belum puas kuliah ternyata. Setelah lulus dari ITB malah ke Jepang dong S2-nya. Ya ampun, iri kuadrat lah ya sayanya. Tambah mupeng lagi waktu baca-baca blog Reisha yang diiisi pengalaman-pengalamannya di Jepang. Tapi, saya paling suka buka posterous karena di sana reisha banyak share tentang hasil eksperimennya di dapur atau jajanan kuliner di dalam dan luar negeri.

Singkat cerita, saya, Evan, dan Reisha ketemuan di Malioboro, senin malam. Itu pakai perjuangan dulu karena saya kuliah sampai jam lima sore dan harus mengejar Pramex terakhir jam 17.41. Sepanjang jalan ke Jogja, hape saya tidak bisa diam. Pasalnya, Evan tanya tempat makan yang nyaman untuk ngobrol dan ga ada pengamen tapi masih di sekitar Malioboro. Saya kan bukan warga Jogja, jadi ribet sendiri SMS teman yang ini dan yang itu untuk tanya-tanya. Dan tahukah akhirnya kami makan di mana? Resto Kopitiam pilihan Evan yang buat saya high class banget.


Baca menu di Kopitiam bikin saya pusing. Nama makanannya ga familiar banget buat saya.

"Pilihin lah," kata saya. "Ga ngerti nih makanan beginian." Menunya dibolak-balik juga saya ga nemu menu yang ada bau-bau tempe apa tahu gitu.

"Pilih sendiri apa yang kira-kira mau lu makan."

Evan & Reisha sudah pesan, saya masih galau.

"Lu pesen gitu aja lama ya, ampe besok pagi ga kelar-kelar juga nih," kata Evan judes.

Ish, diminta pesenin ga mau tapi ngomel-ngomel coba (-.-)'
Akhirnya saya pesan Blue Ocean Titanic & Toast rasa cokelat. Tapi, ngulik kamera ga nemu fotonya. Cuma ada foto Ayam Woku pesanan Reisha.


Awalnya, saya pikir kami akan banyak sharing. Reisha cerita tentang Jepang, Evan cerita tentang tempat kerjanya yang katanya elit tapi jauh dari peradaban (versi saya), dan saya cerita tentang Solo-Jogja juga pernak-perniknya. Tapi, kami cuma ngobrol ringan. Dan seperti biasa, saya jadi korban buli-buli.

"Norak lu, Au..." kata Evan sambil tertawa-tawa. Dia bilang begitu sudah lusinan kali agaknya. Asem betul.

Tapi jujur, saya senang juga dia bilang saya norak setelah setahun lebih tak bersua. Semacam kata sandi setiap kali bertemu. Evan memang begitu. Berkata semaunya ketika ngobrol ringan, tapi share banyak hikmah ketika kami berkumpul di DNA dulu.

Evan minta bill ke Mbak-mbak Kopitiam dan membayar semua pesanan. Apaaaaaaaaa? Dibayarin? Kenapa tadi saya cuma pesan Toast (T-T)

Ini foto pasca dinner. Wajah-wajah bahagia ya? :D


Tapi, saya lebih suka foto ini, lebih friendly :)


Meski norak, sepertinya saya cukup berguna bisa jadi bahan tertawaan Evan. Kasihan dia, irit tawa kalau sudah di lapangan yang penuh pressure ('.')a

Dan satu quote yang saya suka, "Kita bahagia dengan takdir masing-masing."

1 komentar: