Social Icons

17 September 2012

Selamat Datang, Saudaraku

"Jika dahulu, ketika kita berbeda keyakinan kita berteman baik, bagaimana dengan sekarang ketika kita berada dalam sebuah keluarga yang sama, bertabur cinta dalam Islam?"


Aku  mengenalnya sejak hari pertama masuk SMP di tahun 2001. Dahulu, ia duduk di belakangku bersama teman se-SD-nya, Andri. Karena bermarga Simanjuntak dan berasal dari SD Xaverius, aku segera mengetahui agama yang ia yakini.

Kami tak begitu dekat. Hanya sesekali berada dalam kelompok belajar atau kelompok ekstrakurikuler menari yang sama karena kami berada dalam satu kelas selama tiga tahun. Hingga di penghujung tahun ajaran 2003/2004, ia bersama keluarganya mulai menetap di sebuah istana kecil, sepuluh menit perjalanan dengan sepeda motor dari rumahku. Sejak itulah aku sedikit lebih dekat dengannya.

Mungkin, perpisahan SMP adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Aku beserta sebagian besar teman sekelas melanjutkan studi di SMA Negeri 1 Pringsewu, sedangkan ia di Bandar Lampung. Dan aku tak banyak bertukar kabar dengannya, baik dengan surat ataupun via pesan di ponsel.

Pertama kali berteman dengannya di facebook, dahulu ketika salah seorang dari teman sekelas kami saat SMP membuat sebuah postingan heboh di Group Alumni SMP Negeri 1 Pringsewu. Dan aku masih belum menyadari keajaiban yang terjadi. Aku hanya tahu Ruth, temanku itu, sudah menikah dan berbahagia dengan buah hatinya.

Hingga suatu saat, ketika aku membuka notifikasi di facebook, aku menemukan postingannya di wall-ku,

"ga krasa udh larut malam,,mbaca emg bikin lupa waktu,,tau2 aja,,
abis baca blog punya temen SMP ku dlu,,Subhanallah,,bikin ketawa,,nangis,,banyak rasa,,mengingatkan aku byk hal,,terutama bgmn dia menyampaikan sesuatu yg hebat ttg penciptanya,,bgmn keyakinannya,kecintaanya kpd Allah,,bgmn ia menghargai kebahagian2 kecil di dlm keluarganya,,kelak aq inign mewujudkannya di dlm keluarga kecilku skrg,,memberiku byk pelajaran yg patut untuk ditiru..#inspired sekali Aulia Musla Mustika"

Aku masih  tidak percaya dengan kata 'subhanallah' yang ia tulis. Dan segera menyadari bahwa foto profilnya adalah seorang balita berkopiah.

Karena penasaran, kubuka album foto di facebooknya. Ada balita lain yang berkerudung. Benarkah ini putri kecil Ruth?



Aku masih saja berprasangka, mungkin saja itu anak kerabat atau sahabatnya, kemudian kembali mengulik isi album fotonya. Namun, pada lembar album ke sekian, aku terpaku.


Masih dalam diam, antara percaya dan tidak percaya. Mataku tak henti menatap gambarnya. Seolah mimpi dan tak ingin terbangun. Dan rasa itu, haru itu, jelas sekali menyusup ke sini, ke dalam hatiku. Itu Ruth! Benar, itu Ruth!

Aku masih tak percaya dengan yang kulihat dan masih mengulik isi facebooknya, bahkan membuka wall seseorang yang namanya tercantum setelah "Ruth O. Simanjuntak is married with...". Menemukan status-status yang cukup mencerminkan kemuslimannya, foto-foto bahagia bersama keluarga kecilnya dalam busana Muslim Muslimah, membuatku terhenyak. Benar. Islam itu nyata, ada di dalam keluarganya.

Ingin rasanya aku berlari ke arahnya, memeluknya sembari berkata, "Selamat datang, Saudaraku. Semoga kau dan keluargamu selalu dalam barokah dan rahmat Allah yang Maha Penyayang."

Ah... Sebatas ingin. Karena aku di Surakarta dan ia di Bandar Lampung, kutitipkan salamku lewat Allah saja. Semoga Ia selalu menunjukkanmu jalanNya yang lurus, Kawan :)





Menulis ini dalam limpahan bahagia
Ba'da Maghrib
17 September 2012



Untuk Ruth
yang membuatku iri atas terlahirnya kembali,
bak sehelai kertas putih tanpa noktah


1 komentar: