Social Icons

18 November 2012

Banyak Uang = Punya Kuasa = Banyak Amal

(Disadur dari kultwit Ust. @Yusuf_Mansur)

Allah pasti akan mengazab Israel, menurunkan malaikat-malaikatNya di dan untuk Gaza, serta menakdirkan syahid untuk para pejuang. Al Faatihah...

Tentang usaha/dagang, muslim kudu usaha/dagang. Ga usah takut dikata pengen dunia. Say: emang pengen. Tapi dengan cara-cara yg diridhai Allah,dan jadikan ibadah.

Begitu juga dengan kerja. Jangan takut kerja itu ntar dikata nyari duit. Emang nyari duit. (Baca: gaji). Itulah seutama2 nyari rizki. Ga minta2.

Dunia itu milik Allah. Masa yang lain yang ambil? Ya mestinya hamba Allah yang muslim yang lebih wajib ngambil. Jangan malu2. Tentu dengan cara&petunjuk-Nya.

Cari dunia. Dengan Cara2Nya Allah. Jangan lupa hak Allah&hak sesama. Itu saja. Waktunya shalat, shalat. Keluarkan zakat&sedekah. +akhlak. Sip.

Bisnis, usaha, dagang, kerja, gagalnya aja, jadi ibadah. Apalagi hasil. Bisa sedekah, bisa nafkahin anak&keluarga yg halal, bisa nolong orang.

Israel ngebom Gaza, ya harus lah kita bantu. Bahkan tidak dengan doa saja. Dengan donasi. Karena itu, geber usahanya, geber dagangnya. Supaya bisa lebih banyak.

Bisnis&aqidah, sama eratnya nih hubungan&pengaruhnya, dengan kekuasaan&aqidah. Pemegang bisnis&kekuasaan bisa berpengaruh hebat ke aqidah.

Kalau saya owner hotel, terus saya keluarin kebijakn jual minuman keras&diskotik,+dilarang pake jilbab+kudu pake rok pendek, sebagai karyawan berani nolak?

Kalau saya yang punya maskapai, saya suruh muslimah2 pramugari, pake rok dengan belahan nyaris ke pangkal paha, berani kah sdri pramugari menolak?

Kalau saya owner pabrik, saya bicara: jangan shalat jum'at lah. Lalu sdr brani keluar? Hebat bila berani.

Bila saya pemilik toko/kantor, trus saya bilang, jangan dhuha ya... Ga boleh sholat dulu, layanin dulu tamu. Atau ga usah ada pengajian. Beranikah melawan?

Bisnis, usaha, dagang, malah masuk fardhu 'ain kali. Itu kalo udah bersentuhan dengan soal aqidah.

Berapa banyak rumah sakit, bank, pabrik, kantor2? Di sana ada penjajahan aqidah? &pelanggaran HAM di urusan agama?

Penjajahan/agresi Gaza, kasar sekali. Ga bisa saya juga terima. Tapi penjajahan/agresi ekonomi, perih juga terasa. Kawan2 saya tak berdaya.

Ucapan saya menggelegar ke langit, sejak saya melek dagang dan aqidah... Izinkan yaa Rabb, saya jadi pengusaha hebat&besar...

Ingin kuselamatkan aqidah kawan2 sebaya saya. Begitu saya mengucap di '94-an, yg sy ulangi lg di 2006.

Saya dengar di 2006, ada pemuka agama non muslim, yg bersumpah akan bangun 1000 rmh ibadah mereka... Saya ga mau jadi the loser.

Saya, &beberapa pemuda muslim lain: sani, midzi, jameel, rohim, hendi irawan, mengobarkan semangat yang tak tercatat sejarah...

Yuk kita jawab... Begitu pekik kami...

Kita juga bikin 1000 pesantren...

dengan apa...?

Perjalanan 6th s/d 2012 ini, menjelma 3rb pesantren kecil2 senusantara dan manca negara. Semoga menjelma menjadi pesantren besar semua.

Yang kami tak terima di 2006 itu, tokoh agama yg bersumpah membangun 1000 rumah ibadah agama mereka, adalah tokoh bisnis, tokoh usaha. Nasional pula.

Dia punya properti. Dia punya hotel. Dia punya seabrek2 usaha. Siapa karyawannya? Muslim! Siapa pelanggannya? Muslim! Subhaanallaah.

Pengennya saya menulis dengan bahasa kegeraman, dengan rahang bergemeretuk. Tapi tanggung berprinsip kalem. Itu aja udah pake tanda seru.

Bangunlah wahai pemuda muslim. Sebagaimana seruan kepada pemuda Gaza yang tak usah lagi diseru. Mereka sudah berangkat ke medan jihad. Tinggal kita...

Sungguh, agresi Gaza itu kasar. Tapi penjajahan/agresi ekonomi&aqidah di negeri ini, juga teramat kasar. Terbungkus ekonomi kapitalis&HAM.

Bila saya menyeru PatunganUsaha, untuk bangun hotel... Saya ga akan mundur. Sejengkal juga ga bakal mundur. Maju terus.

Sekarang masih PU yg 10jt-an. Tar malah saya keluarin PU yang 100rb. Biar pada ikutan perang ekonomi. Ini jihad ekonomi.

Saya insyaAllah udah sangat kaya, sangat cukup. Saya punya mobil yang berganti2 tiap hari. Tergantung panitia yang jemput, he he.

Saya juga dah kayak pmilik hotel&maskapai. Tak tau pesen tiket, tinggal masuk, tinggal terbang. Juga ditanggung panitia, he he.

Anak2 pun sekolah di pesantren. Untuk makan minum, hidup, senang2, udah cukup dah. Jadi, saya ga punya kepentingan di PatunganUsaha.

Saya akan terus belajar bisnis, sama orang2 yang udah duluan bisnis, sambil terus menyusun kitab tafsir, mengajar qur'an, dll.

Bagi saya, bisnis, dagang, udah jadi medan laga layaknya dakwah. Turun dengan semangat 2020. Semangat '45 udah lewat jauh soalnya.

Pengennya saya bawa api ini ke dunia politik. Tapi sayang, muslim sudah terpenjara bicara ini. Bicara bisnis aja sudah terpenjara. Apalagi politik.

Padahal ga mesti pengen jadi penguasa ketika mengingatkan bahayanya aqidah bila kekuasaan dipegang sama yg non&tak berakhlak.

Sebentar tweet ini pun akan mengundang reaksi. Biar. Biarlah. Terserah. Terserahlah. Hasbiyallaah. Cukuplah Allah bagi-Ku.

Hasbiyallaah. Cukuplah Allah bagi-ku. Ku yg pertama, salah. K nya huruf besar. He he, saking semangatnya.

Ketika pemerintah sudah tidak lagi bisa berdiri di kepentingan rakyat, maka jangan salahkan jika rakyat ambil alih. Saya, masih sopan. Pake ekonomi.

Bila 10jt saja ummat Islam nabung di BMT saya (Koperasi Daarul Qur'an), masing2 1jt? Wuah... Kita bisa beli2in prusahaan2 bagus yang sudah dijual.

Daripada cuma ngomong doang, saya bismillaah aja. Memulai mimpi besar, dengan mulai ngambil air wudhu, shalat, doa, &bergerak.

Seraya minta bimbingan Allah, &saran2 para senior... Agar tak salah di kemudian hari.

Toh bank2 besar di negeri ini, juga yang kecil2, ngumpulin duit muslim juga! Maaf, pake tanda seru, he he. Tetep kalem.

Bahkan para penipu berkedok sama, sama2 berbasis koperasi, gotong royong, berhasil ngumpulin trilyunan duit rakyat. Ada yg sampe 6T!

Hotel&Apartemen PatunganUsaha di http://www.patunganusaha.com , hanyalah langkah awal, langkah kecil. Untuk BELI ULANG INDONESIA.

Ini bukan impian. Buat saya, mudah2an bukan kesombongan, sudah menjadi sebuah kewajiban. Yakni bila berhadapan dengan aqidah.

Mau jadi apa anak2 kita nanti? Bila kita saja sebagai pekerja "mereka" sudah dirampas haknya beribadah&beraqidah yang benar?

Yaa Allah, saya mohonkan kpd-Mu, agar kawan2 saya semua mendoakan saya. Hasbiyallaah... Cukuplah Allah bagiku...

Tegur saya, jentil saya, kritik saya... Sepenuh hati saya terima. Semoga Allah memberi hidayah-Nya buat kita semua. Salam.
Readmore - Banyak Uang = Punya Kuasa = Banyak Amal

Mau Menikah?


“Mau menikah?”

Ditodong pertanyaan begini, otomatis peserta Sekolah Pra Nikah berseru, “Mauuuuuuuuu...!” Masalahnya kan, ‘kapan’nya itu yang masih misteri, hihihi..

Tapi ada yang cerdas. Salah seorang peserta bilang, “Di waktu yang tepat.” Dan targetnya, dia ingin menikah tahun depan.

Dan tahukah dr.Indri, pemateri hari ini, bilang apa?

“Kenapa ingin menikah?” tanya beliau. “Setelah menikah itu, kalian nonstop bekerja. Hampir tidak tidur malah.”

Wah? Sebegitunya kah?

“Oke, kita mulai jam 7 pagi. Anak-anak harus sudah siap berangkat sekolah. Artinya, jam 6.30 paling tidak sarapan sudah siap. Kalau masak sendiri, berarti sehari sebelumnya sudah harus belanja. Bangun jam berapa untuk masak? Sebelum shubuh. Jam 3, suami minta jatah. Jam 2, anak-anak minta buatkan susu. Jam 1, ada anak yang minta dikelonin. Dan mungkin sebelumnya ada pekerjaan (kantor) yang harus kita selesaikan. Masih mau menikah?”

Peserta masih bilang ‘mau’ meski dengan tersenyum simpul.

“Kalau begitu, kalian harus siap untuk tidak mengeluh.”

Ya. Memang begitu kan seharusnya? Seorang istri dan ibu punya banyak sekali amanah yang harus dilaksanakan. Apalagi jika merangkap sebagai wanita karir. Harus benar-benar bisa membagi waktu untuk amanah yang satu dan yang lainnya.

Sebelum materi dimulai sebenarnya kami sudah ditanya, “Berapa rakaat qiyamul lail dan dhuha perhari? Berapa kali sholat berjamaah dalam sehari?”

Yah.. Dua sampai empat rakaat, mungkin. Itupun tidak setiap hari.

“Kalau ketika lajang ibadahnya cuma segitu, nanti setelah menikah bisa menyesal...”

Iya ya.. Dengar cerita dr.Indri tadi, sempat terbayang juga. Misalkan sudah berdiri untuk sholat tahajud, anak-anak merengek minta temani tidur atau minta buatkan susu atau minta yang lain.. Atau misalkan kita terlalu lelah dengan pekerjaan seharian dan tengah malam benar-benar lelap tidurnya, tidak terbangun di sepertiga malam.

“Bisa, tetap beribadah setelah menikah, misalnya amalan-amalan sunnah keseharian. Tapi beeerrraaat,” kata dr.Indri, menekankan kata ‘berat’ sampai beberapa harokat. “Ingat lapang sebelum sempit. Mumpung masih single, mesti totalitas ibadah sunnahnya.”

Aduh.. Jadi malu...

“Saya sempat heran. Menjelang ibadah ke tanah suci kok banyak orang yang mendoakan ‘semoga sehat ya di sana...’. Baru sadar kalau kesehatan itu pentiiing sekali. Flu atau batuk sedikit saja, ibadah itu sudah tidak tenang.”

Tema kajian hari ini memang tentang kesehatan. Tepatnya, Menjaga Kesehatan Sebelum Menikah. Dan dr.Indri benar. Apalagi ketika menjadi seorang ibu nantinya.

“Kalau masih lajang dan sakit, yang khawatir kan ibu. Kalau sudah menikah nanti, kita sakit yang khawatir itu suami, ‘Ummi cepat sembuh dong.. Repot nih kerjaan rumah kalau Ummi sakit’.”

Hahaha.. Miris sekali. Kami tergelak meski mengiyakan juga di dalam hati. Sehat itu penting!

Selain belajar tentang menjaga kebugaran tubuh dengan makanan sehat dan istirahat cukup, belajar tentang  siklus haid, menjaga jarak anak dengan KB alami, dan beberapa penyakit yang sering menyerang kaum hawa, dr.Indri juga menyelingi dengan cerita-cerita tentang anaknya.

“Anak pertama saya namakan Hafidz karena kami ingin kelak dia menjadi seorang penghafal Al Quran. Jadi, saya sering memotivasi dengan cerita tentang Imam Syafi’i yang hafal Al Quran di usia 9 tahun. Waktu umur 6 tahun, anak saya sudah hafal setengah juz. ‘Ummi, hafalannya berapa?’. Nah lho...”

Ingin memiliki seorang anak yang hafidz, seharusnya kita terlebih dahulu menjadi penghafal Al Quran ya, hm.. hm.. hm...

“Ibu itu harus update info, mulai dari yang baik sampai yang buruk, supaya tahu bagaimana menghadapi anak.”

Ya. Pemateri kajian di pekan sebelumnya pun mengingatkan peserta dengan sabda Rasul, “Didiklah anak-anak kalian sesuai dengan zamannya.”

Saya dan teman-teman peserta kajian ikut tertawa ketika dr.Indri bercerita. Saat ada anaknya berkata, “Ciyus? Miapah?” dr. Indri bilang, “Nak, yang Ciyus Miapah itu ga bisa masuk surga lho..”

Anaknya kaget, “Masa’ sih, Ummi?”
Kata dr.Indri, “Ga bisa masuk surga, tapi masuknya curgaaa...”
(jangan kejengkang ya sodara-sodara).

Kalau seorang ibu tidak update info, bagaimana bisa menjaga wibawanya di depan anak-anak? Jika anak-anak tak lagi mendengar kata-kata ibunya, siapa yang akan mendidik dan mengarahkannya kepada cita-cita besar untuk berkumpul bersama di surga? Dan lagi-lagi, dr.Indri mengingatkan untuk juga menjaga ruhiyah kita.

“Saat pekerjaan begitu banyak dan kita dihadapkan dengan stressor, kita akan ‘marah’ bahkan ‘mengeluh’. Padahal di awal kita sudah komitmen untuk ‘mau menikah’. Karena itu, kita butuh ruh yang kuat supaya bisa menyelesaikan amanah-amanah itu dengan optimal.”

Ah.. Saya yang menyimak kajian menjadi benar-benar mengerti mengapa seorang lajang harus punya energi 200%. Karena ada banyak hal yang bisa kita lakukan selama lajang. Meski setiap aktivitas setelah menikah adalah ibadah, akan tetap ada kuantitas ibadah sunnah yang berkurang, contohnya sholat-sholat sunnah tadi. Kalau energi ketika lajang 200%, kalaupun nanti berkurang, masih ada 100% sisanya. Syukur-syukur kalau energinya bertambah jadi 400%.

Mumpung lajang, perbanyak targetan-targetan ibadah yuk! Menjadi hafidz sebelum menikah, misalnya? :)

Semoga Allah senantiasa anugerahkan kesehatan kepada kita, baik fisik, ruh, dan pikir, agar setiap aktivitas yang diniatkan karenaNya bisa terlaksana secara optimal :)


Readmore - Mau Menikah?

12 November 2012

Mbah Kakung

Begini cara Mbah Kakung duduk sejak dahulu. Sarungnya itu lho, seperti memanggil kami, para cucu, untuk 'ngelendot' atau main ayun-ayunan. Sejak saya kecil sampai sepupu terkecil saya lahir, selalu 'nemplok' kalau Mbak Kakung sedang duduk begini.

Untuk kami, Mbah Kakung itu hebat, bisa apa saja. Dahulu, saya sering dibuatkan celengan dari bambu ataupun egrang untuk bermain bersama teman-teman. Kalau ada tugas prakarya dari sekolah, Mbah Kakung yang nanti mencarikan tanah liat dan mengajarkan bagaimana membuat asbak.

Dan tahukah, Mbah Kakung juga dokter gigi untuk kami. Setiap kali ada gigi susu yang hampir tanggal, Mbah Kakunglah tempat kami berkonsultasi. Nanti, Mbah Kakung yang mengikatkan benang ajaibnya di gigi kami. "Apa itu?" Mbah Kakung menunjuk langit. Sewaktu kami lengah itu lah gigi susu itu ditarik Mbah dan tiba-tiba saja kami sudah ompong.
Readmore - Mbah Kakung

D'Cost Seafood

Katanya ya, ini katanya, D'Cost itu restoran seafood yang mutunya bintang lima tapi harganya kaki lima. Penasaran juga kan, apa iya? Waktu di Bandung ga sempat mampir di D'Cost jalan Sukajadi. Ternyata di Solo ada pemirsah. Tepatnya di Solo Square lantai dua. Kali ini, edisi hang out berdua Bayu, adek saya yang ganteng itu. Ini menu yang dipilih.

Kalau dari segi harga, yang menurut saya harga kaki lima cuma nasinya, hahaha.. Soalnya seporsi cuma Rp1.000,00 dan boleh nambah sepuasnya. Minumnya, saya pesan es jeruk kelapa muda dan Bayu pesan Happy Soda. Masing-masing Rp 7.000,00.

Buat saya, kangkung segini udah banyak banget. Tadinya mau pesan ini aja untuk berdua. Eh, Bayu malah pesan sayur kombinasi. Jadi deh kekenyangan. Anyway, segini harganya Rp 9.000,00 lho kangkungnya. Setara lah sama porsinya :D
Ini Cumi Bumbu Telur Asin, Bayu yang pesan. Tapi saya suka. Agaknya ini yang paaaling enak dari menu yang kami pesan. Cuminya digoreng krispi trus ditumis sama bumbu. Manis gurih rasanya, dikasih apa ya.. Yang jelas, warna kekuningannya dari kuning telur yang direbus terus dicampur sama bumbu tumisnya. Coba sendiri deh kalau penasaran. Yang ini seporsi Rp 19.000,00.
Ini pesanan yang paling terakhir datang, Cumi Bumbu Padang, pesanan saya. Yang saya tau, bumbu padang itu ya serba cabe dan warnanya merah merah dan merah. Tapi, lihat tampilan cumi ini, agaknya bumbu padang ada di rempah-rempahnya. Ntahlah.. Soalnya rasanya mirip sambel tumis yang sering saya masak di rumah, hehe.. Pedas manis rasanya. Kayanya cumi ini di-presto, soalnya rasanya jadi kaya agar-agar, ga liat khas cumi yang cuma direbus biasa. Harganya Rp 19.000,00.
Menu lain ada ikan, udang, dan kepiting. Tapi saya ga minat beli kepiting, hihihi... Dulu pernah beli dan makannya rempong banget. Kepiting segede gitu dagingnya cuma ada di kaki-kakinya doang pemirsah, jadi di badan yang segede itu ga ada daging yang bisa dimakan :D

Oh iya, sebelum ke sini, saya sempat dicarikan info sama teman. Alhamdulillah D'Cost bersertifikasi halal MUI dan terakhir update Agustus 2012 :)
Readmore - D'Cost Seafood

11 November 2012

Dosa Besar dalam Presentasi


Istilah ‘dosa besar ini saya dapatkan ketika kuliah Kapita Selekta Matematika di UPI 2008 lalu. Dosen saya yang menggaungkan. Pasalnya, mata kuliah ini menuntut kami untuk bekerja dalam kelompok dan mempresentasikan hasil diskusi kami di depan kelas dengan menggunakan Ms. Power Point. Alhasil, ada beragam slide yang ditampilkan, mulai dari yang parah sampai yang meriah dengan beragam komentar pula dari sang dosen.

Karena istilah dosa besar ini, saya pun berguru dengan seorang teman yang jam terbang presentasinya sudah ‘wah’. Ia sudah berpengalaman untuk presentasi di hadapan khalayak ramai bahkan di hadapan warga asing (ia pernah stay di Jepang hampir setahun untuk pertukaran pelajar). Ini, rangkumannya.
 
SLIDE PRESENTASI



1. Gunakan warna yang kontras antara background dengan huruf. Jika background gelap, sebaiknya tulisan terang, begitu juga sebaliknya. Perhitungkan efek bias ketika slide telah ditayangkan di screenview, karena warna-warna di dalam slide yang ditayangkan di screenview tidak sekontras slide yang ditayangkan di laptop atau komputer

2. Jangan ada tulisan yang terlalu kecil. Minimal ukuran hurufnya 18. Gunakan jenis huruf yang mudah terbaca.

3. Simple saja, jangan terlalu banyak hiasan.

4. Cantumkan poin penting saja di dalam slide, tak perlu mencantumkan paragraf yang terlalu panjang. Tambahkan pula gambar untuk ilustrasi karena tidak semua audience tertarik membaca tulisan.

5. Animasi sebaiknya dikurangi, apalagi jika waktu presentasi dibatasi. Karena akan ada saat ketika presenter akan presentasi, sedangkan slide masih berjalan. Membuat audience menunggu (karena kita terdiam, menunggu animasi yang belum selesai) itu kurang baik. Meski hanya 2-3 detik, kalau berulang sampai sepuluh kali, bisa membuang waktu lebih banyak lagi.

Contoh Slide
Di bawah ini adalah contoh slide yang terkemas cukup menarik. Penggunaan font yang cukup  terbaca audience, perpaduan warna yang digunakan pun kontras antara background dengan tulisan meski beragam warna yang disajikan, juga terdapat gambar-gambar untuk ilustrasi.

Slide di bawah ini kurang baik karena perpaduan warna yang dipilih cukup 'menyakitkan' untuk mata, terutama jika ditampilkan dalam ruangan bercahaya. Jika background yang diinginkan gelap, sebaiknya hitam yang dipilih, bukan abu-abu. Warna untuk tulisan di slide ini pun kurang kontras, terutama warna pink dan orange. Audience yang kurang nyaman dengan slide cenderung tidak ingin memperhatikan.

KETIKA PRESENTASI
1.  Perhatikan penampilan sebagai bentuk hormat kita kepada audience. Gunakan pakaian formal dan sepatu. Ini adalah foto para presenter sekaligus juri pada kompetisi karya tulis ilmiah di Jurusan Pendidikan Matematika UPI tahun 2010. Presenter terdiri dari presenter individu dan kelompok. Presenter kelompok menggunakan busana yang senada agar terlihat kompak, yaitu presenter berbusana ungu di paling kiri dan paling kanan, juga presenter berbatik di posisi kedua dari kiri dan posisi kedua dari kanan.

2.   Karena di ppt hanya dimunculkan point-pointnya saja, lebih baik kita membuat narasi yang akan kita bicarakan ketika presentasi. Ini untuk menghindari mubadzir kalimat ketika presentasi. Terkadang, ketika tampil, kita digoda untuk membicarakan yang tidak penting. Bisa membuang-buang waktu. Tetapi, narasi ini tidak perlu dibawa ketika tampil :p

3.   Banyak latihan presentasi, terutama untuk mem-pas-kan dengan waktu presentasi, agar tidak ada hal-hal penting yang terlewat dan tidak dipresentasikan.

4.   Biasakan tidak ada kata ‘eee…’. Kata itu biasa muncul jika kita tidak siap.

5.  Ketika presentasi selesai dan saatnya tanya jawab, presenter sebaiknya berdiri untuk menghormati audience.
6.   Jangan lupa mengemas kata-kata yang baik ketika berbicara dengan audience/penanya. Ketika diberi saran, “Terima kasih atas saran yang diberikan…” Bahkan ketika ada protes yang menyalahkan presentasi, ucapkan dulu terima kasih.

7.   Jangan terlalu terlihat ngeyel. Jika protes dari audience ada yang –menurut kita- salah dan butuh konfirmasi, tersenyumlah dulu. Ucapkan, “Terima kasih atas tanggapannya. Namun, sebagaimana yang kami ketahui…”

8.    Gunakan kata-kata formal, biasakan. Pilih kata-kata baku.yang baik

9.   Jika ada yang memunculkan kelemahan-kelemahan pada presentasi kita, jawablah dengan santun. Pertama, sebutkan dulu kelebihan isi presentasi kita, misalnya jika presentasi karya tulis, “Karya tulis kami memang cukup efisien untuk hal bla bla bla. Tetapi, agak lemah untuk hal bla bla bla. Mudah-mudahan ada kesempatan bagi kami untuk memperbaiki karya tulis ini di kemudian hari.”

10.  Jika ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, setelah berterima kasih, katakan, “Yang kami ketahui, bla bla bla… Tetapi, mudah-mudahan bapak/ibu bisa memberi saran untuk karya tulis yang lebih baik.”

11.  Hindari kata ‘mungkin’.

12.  Jawab dengan yakin. Jika tidak yakin atau bahkan tidak tahu, jangan menjawab dengan jawaban yang sekiranya memancing juri bertanya lebih jauh.

13.  Jangan terlalu lama diam ketika berpikir mencari jawaban. Maka, persiapkan materi dengan baik.
Readmore - Dosa Besar dalam Presentasi

5 November 2012

Dawet D'Keraton

Ceritanya lagi ada acara di Jalan Adi Sucipto. Eh, nemu kedai yang namanya Dawet d'Keraton. Pas baca banner-nya sih kabarnya dawet ini minuman tradisional turun temurun yang ga hanya diminum sama rakyat jelata, tapi juga kalangan bangsawan. Penasaran, saya dan Zara pun mampir.

Karena lapar (dari pagi belum makan), kami pesan makanan berat. Saya pesan ayam bakar dan Zara pesan ayam penyet. Kelihatannya sih biasa aja, tapi saya suka piring sajinya. Klasik. Ini nasi uduk lho sodara-sodara, jadi tambah yummy makannya. Sambelnya juga enak. Buat yang pengen nyicip, di sini lumayan recommended meski dari segi harga, saya lebih merekomendasikan kedai makanan di belakang kampus UNS yang menunya ga jauh beda tapi harganya lebih terjangkau. Ini seporsi Rp 11.000,00 (di belakang kampus UNS bisa dapat Rp 7.500,00, hehe..)

Minumnya, pakai dawet. Ini yang khas dari kedainya. Tapi sayang sekali, cuma kelihatan bagian atasnya. Ini isinya selain dawet (cendol dari beras), ada potongan nangka sama pacar cina (mirip cendol tapi bulat-bulat kecil warna pink) plus tape ketan. Mirip dawet hitam di belakang kampus UNS yang Rp 3.000,00 itu. Tapi yang bikin ini beda, kuahnya ga cuma pakai gula aren dan santan karena dari rasa dan aromanya saya mencium bau rempah-rempah. Ini yang saya pesan es dawet campur. Harganya Rp 5.000,00. Awalnya sih pesan Ande-ande Lumut atau Klenting Kuning (dengan harga Rp 7.000,00), eh ga ada...


Suka deh sama perabotnya. Klasik. Kejawen. Sayang sekali cuma hiasan, hihihi.. Padahal kalau beneran ada air minumnya, rasanya bakal lebih sejuk daripada air minum dari kulkas (hanya opini saya belaka :D )



Readmore - Dawet D'Keraton

1 November 2012

Ini Caranya Bilang Cinta

Alhamdulillah.. Selamat ulang tahun kak :D

Terima kasih udah jadi kakak terbaik bagi Bayu, jadi motivator di saat Bayu jatuh, jadi penyemangat di saat Bayu gagal... Maaf Bayu belum bisa jadi yang membanggakan buat Mama, Papa, dan kakak khususnya...

Terus jadi kakak terbaik buat Bayu dan Agil, dan anak terbaik di keluarga... Dan Semoga Allah melancarkan rejeki dan jodoh buat kakak. Aamiin...

Saya sudah membaca pesan ini berkali-kali, tapi tetap saja tak mampu sembunyikan haru. Ah... Bayu. Di balik acuhnya, ternyata dia menyimpan ini semua dan benar-benar diungkapkan di hari lahir saya yang ke 23.

Hanya meniatkan diri untuk ada saat ia membutuhkan, itu saja. Ntah apa yang saya lakukan kemudian, mungkin tergerak oleh alam bawah sadar.

Saya tak pernah iri ketika melihat hadiah-hadiah yang Bayu berikan saat teman-temannya ulang tahun. Video buatan sendiri misalnya, atau rencana-rencana cemerlang untuk kejutan di hari jadi temannya. Saya tidak pernah meminta bahkan memaksa Bayu untuk memberikan yang istimewa juga untuk saya karena saya yakin ada yang jauh lebih berharga yang Bayu simpan, sebait doa dengan harap Allah mengabulkan.

Makasih Bayu.. Moga kebaikan doanya juga dikabulkan Allah untuk Bayu :)

Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bicara tentang cinta, begitu kan? :)


Readmore - Ini Caranya Bilang Cinta

A Year Older, A Year Better

Ratusan menit tersisa menjelang terlewatinya usia kembarku, 22 tahun...

Aku masih saja terpaku. Layar di depanku belum benar-benar terisi jutaan kata, buah dari pikiran yang akhir-akhir ini penuhi benak. Jemariku seolah terkantuk, nyaris lupa bagaimana cara menekan tuts keyboard untuk mengetikkan huruf demi huruf. Alih-alih menatap dalam-dalam lembaran kertas di Microsoft Word, mataku justru mengkhianatiku. Ia mengaburkan pandanganku dengan embun yang mengkristal di sudut-sudutnya.

Ah... Selalu saja sendu. Mengingat bahwa ribuan hari telah terlewat sedangkan diri belum menjadi apa-apa, belum menjadi siapa-siapa. Apakah arti dari sebuah pertambahan usia?

Ntah dari mana datangnya keinginan itu, tiba-tiba, jemariku disibukkan dengan mencari arsip penting di ponsel, doa dari teman-teman di hari pertama usia kembarku tiba. Ya. Aku terbiasa menyimpan doa apapun yang diberikan untukku di hari kelahiran. Dan kemudian, aku kembali membacanya, satu persatu...

“Selamat mensyukuri nikmatNya dengan bertambahnya usia, Teeeh...”

“Met milad Aul, semoga diberi umur yang bermanfaat...”

“Ayo, panjatkan doa terbaikmu saat ini... Pilihan untuk berganti jenjang sudah nyata di hadapan. Kamu punya kesempatan memilih... Semoga naik kelas.”

“Semoga Allah memberikan kemudahan di setiap langkahmu, Mbakku...”

“Semoga Aulia selalu sehat dan bahagia ^_^”

“Orang yang paling baik adalah mereka yang panjang umurnya dan baik amalnya (HR. Ahmad)”

Dengan dada bergemuruh, aku kembali mengamini doa-doa itu, meski semua pesan yang tersimpan di ponsel belumlah usai kubaca. Mataku kembali berkabut, mengaburkan pandanganku, sekali lagi.

“Allahku...” desisku perlahan.

Mengingat bahwa Allah menganugerahkan orang-orang istimewa di sekitarku, membuatku berucap syukur berkali-kali, tak henti-henti, berjuta kali, bahkan lebih... Untuk tawanya, cerianya, bahagianya, juga amarahnya, sedihnya, kecewanya, ragunya, gelisahnya, semua rasa yang Allah beri dalam setiap menit detik yang terlewati. Syukur, syukur, syukur... Karena dari merekalah aku belajar hingga mampu berdiri seperti saat ini.

Meniatkan diri menjadi taat dan manfaat. Meniatkan diri untuk menjaga orang lain dari gangguan lisan dan tangan. Meniatkan diri untuk terus berlari, berlomba-lomba menuju surga dan ampunanNya yang seluas langit dan bumi, agar Ia melihat, siapa di antara para hambaNya yang terbaik amalnya.

Yang pandai menjaga kesyukuran di saat lapang maupun sempit. Yang tetap bersabar dalam taat, juga sabar menjauhi maksiat.

Semoga kebaikan selalu menyertai kita, di dunia dan di akhirat. Semoga Allah hapuskan salah dan khilaf kita, dahulu, kini, dan nanti. Semoga.. Semoga... Dan semoga kita selalu berada dalam Rahmat dan barokahNya. Aamiin.

Sebagaimana quote yang saya temukan suatu hari di wall teman, saya pun ingin berucap, “Birthday is not only a year older, but also a year better.”

Semoga menjadi lebih baik, dari hari ke hari.



Dalam Hening
Ratusan Menit Jelang 1 November 2012
Readmore - A Year Older, A Year Better