Social Icons

5 November 2012

Dawet D'Keraton

Ceritanya lagi ada acara di Jalan Adi Sucipto. Eh, nemu kedai yang namanya Dawet d'Keraton. Pas baca banner-nya sih kabarnya dawet ini minuman tradisional turun temurun yang ga hanya diminum sama rakyat jelata, tapi juga kalangan bangsawan. Penasaran, saya dan Zara pun mampir.

Karena lapar (dari pagi belum makan), kami pesan makanan berat. Saya pesan ayam bakar dan Zara pesan ayam penyet. Kelihatannya sih biasa aja, tapi saya suka piring sajinya. Klasik. Ini nasi uduk lho sodara-sodara, jadi tambah yummy makannya. Sambelnya juga enak. Buat yang pengen nyicip, di sini lumayan recommended meski dari segi harga, saya lebih merekomendasikan kedai makanan di belakang kampus UNS yang menunya ga jauh beda tapi harganya lebih terjangkau. Ini seporsi Rp 11.000,00 (di belakang kampus UNS bisa dapat Rp 7.500,00, hehe..)

Minumnya, pakai dawet. Ini yang khas dari kedainya. Tapi sayang sekali, cuma kelihatan bagian atasnya. Ini isinya selain dawet (cendol dari beras), ada potongan nangka sama pacar cina (mirip cendol tapi bulat-bulat kecil warna pink) plus tape ketan. Mirip dawet hitam di belakang kampus UNS yang Rp 3.000,00 itu. Tapi yang bikin ini beda, kuahnya ga cuma pakai gula aren dan santan karena dari rasa dan aromanya saya mencium bau rempah-rempah. Ini yang saya pesan es dawet campur. Harganya Rp 5.000,00. Awalnya sih pesan Ande-ande Lumut atau Klenting Kuning (dengan harga Rp 7.000,00), eh ga ada...


Suka deh sama perabotnya. Klasik. Kejawen. Sayang sekali cuma hiasan, hihihi.. Padahal kalau beneran ada air minumnya, rasanya bakal lebih sejuk daripada air minum dari kulkas (hanya opini saya belaka :D )



1 komentar:

  1. Trimakasih dah singgah di kedai kami, semoga sajian kami, mohon maaf apabila sajian dan service kami belum memuaskan panjenengan...kami akan berusaha terus berbenah agar lebih baik...matur nuwun.

    BalasHapus