Social Icons

18 November 2012

Mau Menikah?


“Mau menikah?”

Ditodong pertanyaan begini, otomatis peserta Sekolah Pra Nikah berseru, “Mauuuuuuuuu...!” Masalahnya kan, ‘kapan’nya itu yang masih misteri, hihihi..

Tapi ada yang cerdas. Salah seorang peserta bilang, “Di waktu yang tepat.” Dan targetnya, dia ingin menikah tahun depan.

Dan tahukah dr.Indri, pemateri hari ini, bilang apa?

“Kenapa ingin menikah?” tanya beliau. “Setelah menikah itu, kalian nonstop bekerja. Hampir tidak tidur malah.”

Wah? Sebegitunya kah?

“Oke, kita mulai jam 7 pagi. Anak-anak harus sudah siap berangkat sekolah. Artinya, jam 6.30 paling tidak sarapan sudah siap. Kalau masak sendiri, berarti sehari sebelumnya sudah harus belanja. Bangun jam berapa untuk masak? Sebelum shubuh. Jam 3, suami minta jatah. Jam 2, anak-anak minta buatkan susu. Jam 1, ada anak yang minta dikelonin. Dan mungkin sebelumnya ada pekerjaan (kantor) yang harus kita selesaikan. Masih mau menikah?”

Peserta masih bilang ‘mau’ meski dengan tersenyum simpul.

“Kalau begitu, kalian harus siap untuk tidak mengeluh.”

Ya. Memang begitu kan seharusnya? Seorang istri dan ibu punya banyak sekali amanah yang harus dilaksanakan. Apalagi jika merangkap sebagai wanita karir. Harus benar-benar bisa membagi waktu untuk amanah yang satu dan yang lainnya.

Sebelum materi dimulai sebenarnya kami sudah ditanya, “Berapa rakaat qiyamul lail dan dhuha perhari? Berapa kali sholat berjamaah dalam sehari?”

Yah.. Dua sampai empat rakaat, mungkin. Itupun tidak setiap hari.

“Kalau ketika lajang ibadahnya cuma segitu, nanti setelah menikah bisa menyesal...”

Iya ya.. Dengar cerita dr.Indri tadi, sempat terbayang juga. Misalkan sudah berdiri untuk sholat tahajud, anak-anak merengek minta temani tidur atau minta buatkan susu atau minta yang lain.. Atau misalkan kita terlalu lelah dengan pekerjaan seharian dan tengah malam benar-benar lelap tidurnya, tidak terbangun di sepertiga malam.

“Bisa, tetap beribadah setelah menikah, misalnya amalan-amalan sunnah keseharian. Tapi beeerrraaat,” kata dr.Indri, menekankan kata ‘berat’ sampai beberapa harokat. “Ingat lapang sebelum sempit. Mumpung masih single, mesti totalitas ibadah sunnahnya.”

Aduh.. Jadi malu...

“Saya sempat heran. Menjelang ibadah ke tanah suci kok banyak orang yang mendoakan ‘semoga sehat ya di sana...’. Baru sadar kalau kesehatan itu pentiiing sekali. Flu atau batuk sedikit saja, ibadah itu sudah tidak tenang.”

Tema kajian hari ini memang tentang kesehatan. Tepatnya, Menjaga Kesehatan Sebelum Menikah. Dan dr.Indri benar. Apalagi ketika menjadi seorang ibu nantinya.

“Kalau masih lajang dan sakit, yang khawatir kan ibu. Kalau sudah menikah nanti, kita sakit yang khawatir itu suami, ‘Ummi cepat sembuh dong.. Repot nih kerjaan rumah kalau Ummi sakit’.”

Hahaha.. Miris sekali. Kami tergelak meski mengiyakan juga di dalam hati. Sehat itu penting!

Selain belajar tentang menjaga kebugaran tubuh dengan makanan sehat dan istirahat cukup, belajar tentang  siklus haid, menjaga jarak anak dengan KB alami, dan beberapa penyakit yang sering menyerang kaum hawa, dr.Indri juga menyelingi dengan cerita-cerita tentang anaknya.

“Anak pertama saya namakan Hafidz karena kami ingin kelak dia menjadi seorang penghafal Al Quran. Jadi, saya sering memotivasi dengan cerita tentang Imam Syafi’i yang hafal Al Quran di usia 9 tahun. Waktu umur 6 tahun, anak saya sudah hafal setengah juz. ‘Ummi, hafalannya berapa?’. Nah lho...”

Ingin memiliki seorang anak yang hafidz, seharusnya kita terlebih dahulu menjadi penghafal Al Quran ya, hm.. hm.. hm...

“Ibu itu harus update info, mulai dari yang baik sampai yang buruk, supaya tahu bagaimana menghadapi anak.”

Ya. Pemateri kajian di pekan sebelumnya pun mengingatkan peserta dengan sabda Rasul, “Didiklah anak-anak kalian sesuai dengan zamannya.”

Saya dan teman-teman peserta kajian ikut tertawa ketika dr.Indri bercerita. Saat ada anaknya berkata, “Ciyus? Miapah?” dr. Indri bilang, “Nak, yang Ciyus Miapah itu ga bisa masuk surga lho..”

Anaknya kaget, “Masa’ sih, Ummi?”
Kata dr.Indri, “Ga bisa masuk surga, tapi masuknya curgaaa...”
(jangan kejengkang ya sodara-sodara).

Kalau seorang ibu tidak update info, bagaimana bisa menjaga wibawanya di depan anak-anak? Jika anak-anak tak lagi mendengar kata-kata ibunya, siapa yang akan mendidik dan mengarahkannya kepada cita-cita besar untuk berkumpul bersama di surga? Dan lagi-lagi, dr.Indri mengingatkan untuk juga menjaga ruhiyah kita.

“Saat pekerjaan begitu banyak dan kita dihadapkan dengan stressor, kita akan ‘marah’ bahkan ‘mengeluh’. Padahal di awal kita sudah komitmen untuk ‘mau menikah’. Karena itu, kita butuh ruh yang kuat supaya bisa menyelesaikan amanah-amanah itu dengan optimal.”

Ah.. Saya yang menyimak kajian menjadi benar-benar mengerti mengapa seorang lajang harus punya energi 200%. Karena ada banyak hal yang bisa kita lakukan selama lajang. Meski setiap aktivitas setelah menikah adalah ibadah, akan tetap ada kuantitas ibadah sunnah yang berkurang, contohnya sholat-sholat sunnah tadi. Kalau energi ketika lajang 200%, kalaupun nanti berkurang, masih ada 100% sisanya. Syukur-syukur kalau energinya bertambah jadi 400%.

Mumpung lajang, perbanyak targetan-targetan ibadah yuk! Menjadi hafidz sebelum menikah, misalnya? :)

Semoga Allah senantiasa anugerahkan kesehatan kepada kita, baik fisik, ruh, dan pikir, agar setiap aktivitas yang diniatkan karenaNya bisa terlaksana secara optimal :)


2 komentar:

  1. subhaanalloh, kereeen.. d(^_^)b


    tempelin rekamannya Lee..
    pak suhu udah punya trik cepat cara upload rekaman audio di blog..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba dibikin postingan cara ngaplot-nya mbak :D

      Hapus