Social Icons

7 Desember 2012

Perempuan yang Berbahagia

Seorang perempuan tengah terduduk. Tergugu. Tangannya mendekap erat sebuah kertas bertaburkan bunga-bunga. Undangan pernikahan. Dan di sana tertera sebuah nama, seseorang yang selama ini ia kagumi diam-diam.
 
Seorang perempuan memaksakan diri untuk tersenyum. Di hadapannya dua insan baru saja disahkan kehalalannya. Dan perempuan cantik berkerudung yang baru saja dilingkarkan cincin di jari manisnya itu adalah adik kelasnya semasa SMP. “Kapan giliranku?” bisiknya dalam derai.

Seorang perempuan baru saja melewatkan usia dua puluh tahunnya. Ya. Kini ia telah berkepala tiga sedang sang dambaan hati belumlah datang untuk menggenapi separuh agamanya. Dalam sesak, ia berkata, “Mengapa dahulu begitu mudahnya kutolak lamaran lelaki sholeh itu hanya karena satu dan dua kekurangannya?”

Seorang perempuan tengah berbinar. Senyumnya merekah. Syukur di dadanya membuncah. Ia baru saja memenangkan lomba kreativitas guru setelah belasan prestasi ia dapatkan dalam lima tahun terakhir. Tak hanya mengajar di sekolah, ia pun telah dipercaya untuk mengisi kolom curhat remaja di sebuah majalah sementara buku-buku motivasi yang ia terbitkan telah tercetak jutaan copy. Senyumnya tak pudar meski pertanyaan yang sama dilontarkan untuknya, “Kapan menikah?”. Dengan keyakinan akan kebesaran Tuhannya ia menjawab, “Segera, insyaAllah.”

Dan kita, perempuan, memilih untuk menjadi seperti apa?

Adalah kita manusia yang diciptakan dengan memiliki harap untuk menjadi bahagia. Namun, nyatanya tak banyak dari kita yang mampu memaknainya. Ah... Padahal makna bahagia sangatlah sederhana.

Mereka yang berbahagia adalah mereka yang senantiasa berucap syukur kepada Rabb-nya, untuk setiap teguk rasa yang Ia suguhkan di setiap menit detiknya. Hidup tak melulu hadirkan rasa manis. Terkadang pahit, asam, asin pun kita cicipi agar syukur itu kembali terbaharui. Bahwa dengan yang pahit, kita mampu mengerti betapa berartinya rasa manis. Bahwa dengan yang asam dan asin kita belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Jika bahagia dalam definisi kita belumlah hadir, akankah kita memilih menjadi terpuruk dengan menangisi diri? Kitakah yang termangu dalam penantian tak berujung? Ah... Hidup terlalu berharga untuk hanya menggalaukan diri.

Tak lengkap rasanya bila separuh agama belum tergenapi. Tapi, tidaklah bijak bila menantinya sembari meratap ataupun menyesali diri. Bergeraklah tulang-tulang perkasa! Ada terlalu banyak tempat yang belum kita kunjungi. Ada berjuta orang hebat yang belum sempat kita temui. Ada selaksa rasa yang belum pernah kita alami. Karena hidup terlalu singkat untuk hanya berdiam diri.

Allah telah persiapkan seseorang yang hebat untuk kita. Maka marilah kita memantaskan diri. Hargai detik-detik kita dengan aktivitas positif. Sibukkan diri dengan pengabdian padaNya dan jadilah yang bermanfaat untuk umat. Seraya terus berdoa untuk dikuatkan, diberi yang terbaik untuk separuh agama yang kita harap segera tergenapi.

Bukankah kita diperintahkan untuk sabar dalam dua perkara? Sabar dalam taat juga sabar dalam menjauhi maksiat. Allah akan melihat ikhtiar-ikhtiar kita. Maka tak ada alasan untuk tak yakin akan takdirNya yang indah. Mungkin, Allah tengah persiapkan kejutan?

Bermimpi dan berkarya, sebagaimana Theodore Roosevelt berkata, “Do what you can do, with what you have, where you are...” Karena kita, perempuan, yang ingin berbahagia saat ini, kini, dan nanti.


Solo, 5 November 2012
(Dimuat di Kolom Muslimah Majalah Hadila Edisi Desember 2012)

0 komentar:

Posting Komentar