Social Icons

24 Desember 2013

My husby vs Daging Sapi

Salah satu perbedaan kami yang sedikit membuat saya tercengang adalah ketidaksukaan beliau dengan daging sapi. Bukan hanya tidak suka, tapi memang benar-benar t.a.k.d.o.y.a.n. Sebagai perempuan, tentu saja yang lebih saya pikirkan adalah nutrisi. Tapi, memaksanya makan berarti akan melihatnya berwajah masam. Hingga suatu hari...

Ceritanya dinner di luar, di salah satu waroeng yang pemiliknya adalah pengusaha muslim dan begitu mendukung program tahfidz (sebut saja Waroeng Steak ). Sengaja saya pesan Blackpepper (steak sapi) dan -sudah saya duga- ia memesan Chicken Mushroom (steak ayam). Di pertengahan makan, ketika ia memainkan gadgetnya dengan begitu serius, saya selipkan sepotong kecil steak saya di antara potongan steak di hot plate-nya. Tanpa curiga sedikitpun, beberapa detik kemudian, ia kembali mengunyah steaknya.

"Ah.. Dikasih merica malah jadi aneh steaknya," komentarnya. Sebelumnya memang ia sempat menaburkan merica.

Saya tersenyum menang sembari menyalaminya, "Selamat! Anda berhasil makan daging sapi!"



:D



Readmore - My husby vs Daging Sapi

1 November 2013

Dream Big

Tiba-tiba teringat selembar kertas yang dahulu bertengger di pintu lemari markas pribadi. Saat itu usia saya belasan tahun. Di sana, dengan huruf besar-besar saya menulis.

2011 lulus S1 lanjut S2
2013 lulus S2 >>> jadi dosen >>> menikah

Selama beberapa tahun saya terlupa dengan lembaran kertas yang ntah ke mana rimbanya itu. Saya disibukkan dengan pernak-pernik lain yang Allah suguhkan. Hingga saatnya tiba di masa ini, 2013, saya tertegun. Apa yang dahulu saya tulis telah menjadi nyata. Dan ini hanyalah satu dari sekian banyak mimpi yang pernah saya ikrarkan.

Saya diajarkan untuk bermimpi besar dan tak hanya memimpikannya melainkan juga merencanakan hingga detailnya jika perlu. Dan benar, bermimpi mampu membuat seseorang kembali 'hidup'. Bahwa ada sesuatu, besar ataupun kecil, yang ia ingin capai. Jika tidak, maka hari-hari yang terlalui akan datar-datar saja. Begitu kan?

Dan saat ini, ketika bilangan 24 telah tersemat dalam usia, saatnya mengatur ulang mimpi-mimpi (besar).

Bagaimana denganmu? :)
 
 
Readmore - Dream Big

23 Agustus 2013

Kisahku, Kisahmu... Kisah Kita

Menantimu, butuh ribuan hari rupanya...
 
2 Ramadhan 1434 H

Aku akan mengingat ini sebagaimana aku mengingat hari-hari istimewa dalam hidupku. Ya. Hari ini, pertama kalinya kita bertemu. Kau menatapku, sementara aku tertunduk, bersembunyi dalam debarku.

“Bagaimana, sudah mantap?” tanya Ustadz Hambali yang duduk bersebelahan dengan istrinya, murobbiyahku.

Dan engkau menjawab dengan semangat, ”Sudah, Ustadz!”

Sementara aku memalingkan wajahku, menyembunyikan senyum karena sungguh kata-katamu telah menenteramkanku.

Kau tahu... Puluhan jam yang kau lalui sepanjang Lampung-Solo demi menemuiku, bagiku itu cukup.

***
 Orang besar adalah ia yang memuliakan perempuan
***
7 Ramadhan 1434 H

Hari ini, kau akan sowan dengan kedua orang tuaku di rumah. Dan tiba-tiba menit detikku terasa begitu lambat berjalan. Dadaku berdesir setiap kali mengingatnya.

Menyibukkan diri dengan hafalan dan persiapan sidang tak cukup mampu sembunyikan gelisahku. “Kau terlihat tak fokus,” kata seorang teman. Tentu saja. Bahkan aku kesulitan memejamkan mata kala malam tiba.
***
Kazamidori.. Kazamidori.. Kazamidori.
***
8 Ramadhan 1434 H

Kau, melalui kakakmu, bertanya mahar apa yang kuminta?

Ah... Bahkan dengan hadirnya kau di hadapanku, di waktu yang benar-benar tepat, telah membuatku berucap syukur tiada henti. Muliakanlah aku dengan caramu, dengan mahar pilihanmu.

Namun satu, jika boleh kuminta, hafalan 3 ayat pertama surat Al Mulk. Salah satu surat favoritku. Surat, yang mengawali semangatku untuk menghafalkan Al Quran, yang dengannya pun aku berharap kelak keluarga kita adalah keluarga Al Quran. Dan melalui Al Mulk, Allah ingatkan agar kita terus berkarya, berlomba-lomba dalam kebaikan untuk kelak dipersembahkan ke hadapanNya.
***
“...supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya...”
***
9 Ramadhan 1434 H

Biodatamu baru kuterima dua pekan lalu. Pun kita hanya sekali bertemu. Lalu, mengapa kita begitu yakin? Karena kita benar-benar mempercayakan ini kepada Dia yang menggenggam setiap takdir?

Sebagaimana kata-katamu tempo lalu, “Jika sudah jodohnya, bagaimanapun ia, maka saya hanya perlu menjemput.”

Dan kau... Menyanggupi khitbah sepekan lagi tanpa aku di sana.
***
How could I call you, anyway.. You have a same name as my father’s...
***
10 Ramadhan 1434 H 

Menyengajakan diri tak miliki cincin, agar kelak ada seseorang yang datang dan menyematkannya di jari manisku. Kau kah itu?

Aku tertawa sendiri sepulang dari ’hunting’ cincin di toko mas. Kakak iparmu bertanya ukuran lingkar jariku. Sementara aku di Solo, jauh dari rumah, jauh dari kerabat. Tak ada cincin dewasa yang pas dengan jariku karena rampingnya.

“5 cm,” jawabku setelah melingkarkan meteran di jari manisku. Bingung karena hanya ada cincin anak-anak yang pas di jariku. Itupun tak berlabel ‘nomor’ yang menunjukkan ukurannya.

Ah... Kau tahu, aku begitu gugup membayangkan hari di mana cincin yang sedang kau persiapkan itu, terlingkar di jariku.
***
...a ring, finally.
***
Malam 15 Ramadhan 1434 H

Bulan keemasan menyembul malu di antara gemawan, menelisik jiwa-jiwa perindu ketenteraman. Adakah aku, kau, kita, titipkan doa? Semoga esok segala sesuatunya lancar.

Sementara aku tersibukkan dengan persiapan sidang akhir pascasarjanaku, kau... Mengemas apik segala sesuatu yang akan kau bawa ke hadapan orang tuaku.

Khitbah. Langkah awal kita menggenapi separuh agama.
***
“...dia yang ’kan menemukanmu. Kau mekar di hatinya, di hari yang tepat.”
***
Penghujung Ramadhan 1434 H

Aku mempercayai skenario cantik yang telah Ia tata untuk para hambaNya. Dan aku... Merasa begitu beruntung dengan hadiah yang satu-persatu Ia hadirkan ke hadapanku.

Terima kasih telah datang... Terima kasih telah bersabar hingga tiba harinya.
***
“...sibukkan harimu, jangan pikirkanku. Takdir yang ‘kan menuntunku, pulang kepadamu...”
***

Malam Akad, 8 Syawal 1434 H

Ia lahir dari seorang ibu
berkuah peluh, berdarah-darah meregang nyawa setelah masa panjang

Ia adalah permata hati sang ayah
tangan yang pegal sepulang kerja pun sembuh ketika menggendong balitanya

Ia adalah anugerah terindah bagi orang tuanya
tawa di saat susah, senyum di waktu sedih, harapan di saat kecewa,
ramai di saat sepi, cair di tengah kekakuan,
dan canda di tengah ketegangan tetapi juga tangis di suatu kala
yang sebenarnya tak diinginkan

Ia mencintai ayah dan ibunya
dan kekasih adalah ia yang mencintai kecintaan kekasihnya
(Salim A. Fillah)


Readmore - Kisahku, Kisahmu... Kisah Kita

9 Juli 2013

Balada Mahasiswa S2 Tingkat Akhir

Biasanya, setiap kali keluar dari ruangan bapak pembimbing yang terhormat, saya akan terpekur: terduduk tanpa tau harus bicara apa. Sampai-sampai suatu saat, seorang teman pernah berkata, "Orang galau itu mikirnya ga jernih." Dan dia yang menyarankan saya harus begini dan begitu.

Kali ini, berawal dari niat meminta tanda tangan acc untuk sidang kepada pembimbing, saya memasuki ruangan 'horor' itu lagi dengan doa dari para sesepuh (kakak tingkat-red) yang menunggu di luar ruangan.

Di dalam ruangan, saya menyaksikan draf tesis (yang terhormat) itu dicoret sana coret sini, satu dua hingga belasan halaman. Alamak, harus revisi lagi agaknya ini.

"Kalau mau bagus, ya jangan tergesa-gesa," kata pembimbing saya yang suliiit sekali ditemui. "Ini kalau masih seperti ini, saat sidang nanti pasti dipertanyakan."

Ah Bapak.. Sekalinya bimbingan, sesungguhnya komentar Bapak begitu berarti.

Dan keluar lah saya dari ruangan. Kakak-kakak tingkat, yang baru saja sidang di semester keempatnya itu menyambut saya seolah saya baru saja keluar dari KUA.

"Gimana, gimana?"

Saya memamerkan draf tesis yang penuh corat-coret itu. Mereka tertawa girang, "Coretannya lebih banyak dari yang kemaren, hahahaha.."

Tertawalah sesuka kalian (--,)a

"Santai lah Ul, masih semester tiga kamu ini," kata Kak Dayat, yang paling keras menertawakan saya.

"Kakak ini santai karena udah semester empat. Dulu semester tiga pasti rempong juga kaya saya." Dan Kak Dayat tertawa lagi.

Mbak Desti, Bang Yadi, Mas Bintang, Ka Dayat, kemudian beramai-ramai mengoreksi draf tesis saya.

"Apa ini, paragrafnya kurang menjorok ke dalam.."
"Ini daftar pustakanya ga konsisten.."
"Ini judul kok panjang pendek panjang pendek, mau kamu panjang apa pendek?"
Dan jutaan komentar lainnya (hanya lebay, haha)

Ya ya ya. Tak mengapa. Dengan mereka, saya berhasil menghimpun puluhan kubik genangan bening di sudut mata agar tak tertumpah saking gemasnya kok saya ga sidang-sidang ((^.^')

Tetiba energi untuk merevisi draf kembali terisi. Arigato, minasan!
 
Hanya ilustrasi. Ini bukanlah tentang saya yang sesungguhnya :D
Readmore - Balada Mahasiswa S2 Tingkat Akhir

23 Juni 2013

Sya'ban



1. #Sya‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah bersabda:

2. ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
#Sya‘ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab & Ramadhan.

3. وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

#Sya‘ban adalah..
4. ..bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. #Sya‘ban

5. (HR. Ahmad dan Nasa’i, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no 1898) #Sya‘ban

6. Karena itu, berdasar riwayat shahih disebutkan bahwa RasuluLlah SAW berpuasa pada sebagian besar hari di bulan #Sya‘ban. ‘Aisyah berkata:

7. فَما رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وما رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

#Sya'ban

8. “Tak kulihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya dalam sebulan penuh, selain di bulan Ramadan. Dan tidak aku lihat..” #Sya‘ban

9. ..bulan yang beliau paling banyak berpuasa di dalamnya selain bulan #Sya‘ban. (HR Al Bukhari & Muslim)

10. #Sya‘ban: Dalam Shahih Al Bukhari (1970) ada tambahan dari ‘Aisyah: “Tidak ada bulan yang Nabi SAW lebih banyak berpuasa di dalamnya…

11. …selain bulan #Sya‘ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.”

12. Maksud hadits: beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari bulan #Sya‘ban, sebagaimana banyak riwayat lain yang menyatakan demikian.

13. #Sya‘ban: Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan ‘berpuasa sebulan penuh’ padahal yang dimaksud adalah..

14. ..’berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu.’ Demikian keterangan Ibnu Hajar Al ‘Asqalany dalam Fathul Bari, 4/213. #Sya‘ban

15. Maka berpuasa di bulan #Sya‘ban adalah utama, karena: 1}’Amal-’amal manusia (secara tahunan) sedang diangkat ke hadapan Allah SWT.

16. 2} #Sya‘ban ialah bulan yang disepelekan; beramal & menghidupkan syi’ar di saat manusia lain lalai memiliki keutamaan tersendiri.

17. Selain kedua hal itu, puasa di bulan #Sya‘ban juga dimaknai sebagai: 3} Penyambutan & pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadan.

18. #Sya‘ban: Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya didahului oleh pembuka yang mengawalinya; Haji diawali persiapan Ihram di Miqat, …

19. …Shalat juga diawali dengan bersuci, berwudhu’, dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat. #Sya‘ban

20. Hikmah lain: puasa di bulan #Sya‘ban akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan optimal.

21. Sebab sering di awal Ramadhan banyak daya & waktu habis untuk penyesuaian diri; padahal tiap detik bulan mulia sangat berharga. #Sya‘ban

22. Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencantumkan pendapat: puasa #Sya‘ban seumpama sunnah Rawatib (pengiring) bagi puasa Ramadhan.

23. Untuk shalat; ada rawatib qabliyah & ba’diyah. Untuk Ramadhan, qabliyahnya; puasa #Sya‘ban & ba’diyahnya; puasa 6 hari di bulan Syawal.

24. Keutamaan #Sya‘ban bisa kita lihat di: Tahdzib Sunan Abu Dawud, 1/494, Latha’iful Ma’arif, 1/244. Nah, bagaimana tentang Nishfu Sya’ban?

25. Hadits-hadits terkait Nishfu #Sya‘ban ini sebagian dikategorikan dha’if (lemah), bahkan sebagian lagi dikategorikan maudhu’ (palsu).

26. Khususnya hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu atau yang menjanjikan jumlah & bilangan pahala atau balasan tertentu. #Sya‘ban

27. Tetapi, ada sebuah hadits yang berisi keutamaan malam Nisfhu #Sya‘ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu.

28. إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ #Sya‘ban

29. “Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu #Sya‘ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik..

30. …atau yang bertengkar dengan saudaranya.” HR Ibnu Majah (1390). Dalam Zawa’id-nya, riwayat ini dianggap dha’if karena… #Sya‘ban

31. ..adanya perawi yang dianggap lemah. TETAPI, Ath Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu’adz ibn Jabal dalam Mu’jamul Kabir (215) #Sya‘ban

32. Ibnu Hibban juga mencantumkan hadits ini dalam Shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). #Sya‘ban

33. Al-Arna’uth dalam ta’liqnya pada dua kitab terakhir berkata, “SHAHIH dengan syawahid (riwayat-riwayat semakna yang mendukung).” #Sya‘ban

34. Al-Albani juga menilai hadits Nishfu #Sya‘ban ini SHAHIH {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), Shahih Targhib wa Tarhib (1026)}

35. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat KEUTAMAAN.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, 291)

36. #Sya‘ban: Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan TABI'IN di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan & Luqman bin Amir…

37. …yang menghidupkan malam tersebut dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu #Sya‘ban.

38. Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini BUKAN BID'AH!” #Sya‘ban

39. ‘Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza’i, TIDAK MENYUKAI perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat & berdoa bersama di Nishfu #Sya‘ban.

40. Tetapi beliau -dan ‘ulama yang lain- MENYETUJUI keutamaan shalat, baca Al Quran dll pada Nishfu #Sya‘ban jika dilakukan sendiri-sendiri.

41. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali (Latha’iful Ma’arif, 151) & Ibn Taimiyah (Mukhtashar Fatawa Al Mishriyah, 292) #Sya‘ban

42. Adapun ‘ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, & para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu #Sya‘ban sebagai bid’ah.

43. Tapi kata mereka; qiyamullail sebagaimana tersunnah pada malam lain & puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik. #Sya‘ban

44. Demikian agar perbedaan pendapat ini difahami & tak menghalangi kita untuk melaksanakan segala ‘amal ibadah utama pada bulan #Sya‘ban.

45. Bulan #Sya‘ban adalah juga kesempatan tuk meng-qadha’ hutang puasa Ramadhan kemarin sebelum datangnya Ramadhan berikut. ‘Aisyah berkata:

46. كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فما أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شعبَان، الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ

#Sya'ban

47. Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan #Sya‘ban, karena sibuk melayani Nabi. (HR Al Bukhari-Muslim)

48. #Sya‘ban: Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 8/21) & Ibn Hajar (Fathul Bari, 4/189) menjelaskan; dari hadits ‘Aisyah ini disimpulkan:

49. Jika ada ‘udzur, maka qadha’ puasa bisa diakhirkan sampai bulan #Sya‘ban. Tanpa ‘udzur, menyegerakannya di bulan Syawal dst lebih utama.

50. #Sya‘ban: Bagaimana jika lalai; tanpa ‘udzur, hutang puasa belum terbayar, tapi Ramadhan baru telah datang? Jumhur ‘ulama berpendapat:

51. Dia harus beristighfar atas kelalaiannya pada kewajiban itu & harus bertekad untuk segera meng-qadha’-nya setelah Ramadhan ini. #Sya‘ban

52. Menurut mereka, tiada kewajiban khusus selain hal itu. Tetapi sebagian ‘ulama berpendapat agar si lalai menambahkan 1 hal lagi. #Sya‘ban

53. Yakni mengeluarkan 1/2 Sha’ makanan pokok (+/- 1,5 kg) untuk tiap hari yang terlalai belum dibayar hutang puasanya tahun lalu. #Sya‘ban

54. Ini sebagai pengingat atas kelalaiannya & dia harus tetap mengganti puasa yang terlalai diganti tahun ini pada tahun depannya. #Sya‘ban

55. Ini berdasar ijtihad beberapa sahabat Nabi SAW. Tak ada nash khususnya, tetapi ijtihad ini dianggap baik. (Fathul Bari, 4/189) #Sya‘ban

56. Jika masuk bulan #Sya‘ban, hendaknya kita saling mengingatkan (juga terutama pada kaum wanita) yang punya hutang puasa agar ditunaikan.

57. Sehari atau 2 hari terakhir #Sya‘ban dinamakan Yaumusy-Syakk (hari keraguan), sebab ketidakjelasan apa sudah masuk Ramadhan atau belum.

58. #Sya‘ban. Nabi bersabda: لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ، إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ

59. “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang… #Sya‘ban

60. …yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” {HR Al Bukhari & Muslim} #Sya‘ban

61. Maknanya; terlarang tuk sengaja mengkhususkan berpuasa pada Yaumusy Syakk. Tetapi boleh bagi yang HARUS (nadzar, qadha’, dll).. #Sya‘ban

62. ..dan boleh juga yang BIASA (karena puasa Dawud, bertepatan Senin/Kamis, dll). Hikmah pelarangan itu sekedar sebagai pemisah..#Sya‘ban

63. …antara puasa Ramadhan yang fardhu dengan puasa sebelum/sesudahnya yang sunnah. (Syarh Muslim 7/194, Latha’iful Ma’arif 151) #Sya‘ban

64. Demikian Shalih(in+at) bincang kita tentang #Sya‘ban.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَعْبَانَ وَوَفِّقْنَا فِيهِ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

65. "Ya Allah; berkahi kami di bulan Sya'ban, karuniakan taufiq pada kami di dalamnya, & sampaikan kami ke bulan Ramadhan." #Sya'ban

66. Maafkan, banyak pertanyaan yang tak bisa ditanggapi satu persatu; tapi insyaaLlh semua terjawab dengan menyimak #Sya‘ban dari 1-66 ini;)


Sumber: http://chirpstory.com/li/85078
(Kultwit Ust. Salim A. Fillah)
Readmore - Sya'ban

21 Juni 2013

Yang Tersimpan di Ceruk Langit

1) Di antara kebiasaan para pendahulu nan shalih; mendoakan pemimpin melebihi munajat untuk diri. Sebab kebaikan pemimpin luas dampaknya.

2) Pemimpin menanggung amanah dunia-akhirat amat berat. Menjadi Presiden RI misalnya berarti; siap digugat 250 juta insan di hadapanNya.

3) Mari berharap bahwa dengan doa-doa tulus dari rakyat; berkuranglah penuntut, bertambah pembela, menipislah penggugat, pemaaf berlipat.

4) Dan; mendoakannya boleh jadi menggerakkannya tuk mendoakan kita. Mencintainya dengan doa, mungkin mencekamkan cinta rakyat ke hatinya.

5) Hari ini; ketika banyak yang menasehati dengan aneka cara & tak mempan jua; mungkin dia bukan kekurangan nasehat. Dia kekurangan doa.

6) Dan jika nasehat sudah disampaikan & doapun dipanjatkan lalu pemimpin belum hendak berkebaikan; titipkan pada Allah tuk menasehatinya.

7) "Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya & dia mencintai kalian; kalian mendoakannya & dia mendoakan kalian". Indah.

8) Untuk "Saling" diperlukan "Yang Memulai"; jadilah ia yang lebih mulia. Maka jika belum saling mendoa-saling mencinta; mari memulainya.

9) Selamatkan pemimpin agar tak jadi seburuk-buruk; "Kalian membencinya & dia membenci kalian; kalian melaknatnya & dia melaknat kalian."

10) Jika belum terkabul kini; doa & cinta ini latihan kita tuk pemimpin selanjutnya. Agar negeri berkah; termula pemimpin adil & taqwa.

11) Hari ini ketika kita miskin pemimpin yang adil & taqwa; mungkin yang kurang bukan sosoknya; tapi doa kita agar Allah menampilkannya.

12) Hari ini ketika pemimpin terasa tak tegas & tak bernyali; mungkin yang kurang adalah doa kita untuk menguatkan hatinya yang rapuh.

'Umar ibn 'Abdil 'Aziz. Bani 'Umayyah yang menerima penunjukannya & bahkan para 'Ulama pendukung tak menyangka kebaikannya akan sejauh itu..

'Umar ibn 'Abdil 'Aziz. Dia bukan hadir tiba-tiba. Ketidakadilan yang marak sebelum tampilnya melahirkan para terzhalimi yang tekun berdoa..

Doa-doa terpanjatkan; mungkin tersimpan di ceruk langit; Allah Maha Tahu kapan ia terhujankan sebagai rahmatNya; membasahi bumi yang dahaga.

(kultwit Ustd. Salim A. Fillah)


Readmore - Yang Tersimpan di Ceruk Langit

12 Juni 2013

Di Kaki Gunung Merapi Kita Bersua

Saya menyeka air mata untuk yang ke sekian kalinya. Ntah haru, ntah karena sekelebat bayang tentang masa depan yang tiba-tiba singgah dengan nakalnya ke dalam benak. Sebentar lagi.. Dan saya akan benar-benar beranjak dari kota talok ini. Pulang.. Mengabdikan diri di tanah kelahiran.

Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa saya mau, bahkan di sela-sela agenda padat penelitian dan menghafal Al Quran, sekedar berbincang hingga travelling ke sini dan ke sana bersama mereka, orang-orang luar biasa yang mungkin akan sulit saya temui setelah pulang nanti.

"Ayo sebelum pulang cari sebanyak-banyaknya bahan cerita," kata Shandra(nando).

Seketika teringat janji kepada Mbak Uzi di wisuda S.Pd.nya setahun lalu. Saya berniat memberi hadiah wisuda, boneka rajutan tangan saya sendiri. Mungkin berputus asa karena hasilnya yang sungguh jauh dari kata membanggakan, saya beralih membuat setangkai mawar dari adonan sabun. Lagi-lagi khilaf, mawar yang saya titipkan di kos teman itu tak kunjung saya jemput . Ragu dengan keberadaannya yang ntah masih sehat walafiata atau tidak, saya memutuskan untuk memberi hadiah yang lain. Sebuah mug. Setidaknya, desain mug-nya saya sendiri yang membuat. Dan dengan bantuan Unit Gawean Digital (UGD), jadilah sebuah mug bernuansa hijau (warna favorit saya) untuk dihadiahkan pada Mbak Uzi.

Ya. Saya selalu senang memberi mug, kepada siapapun. Karena filosofi tentang kehidupan ada di sana. Bahwa apapun yang tersuguhkan, manis, pahit, bahkan tawar sekalipun, tetap akan membahagiakan selama ia ada karena cinta.

Hingga kemudian, saya dikejutkan dengan pesan dari seorang kakak tingkat. "Hari Selasa kita ketemu di kampus ya.."

Saya pikir hanya untuk transfer file foto jalan-jalan ke Sarangan kemarin. Saya mengiyakan saja, bahkan memandatkan Shandro saja yang mengambil karena tak mau memberatkan bawaan dengan laptop saya yang beberapa inchi lebih lebar dari milik Shandro.

Sempat terheran-heran mengapa Irfan memaksakan diri untuk bertemu, padahal Shandro sudah meng-copy file fotonya. "Aku ga bawa laptop, ga bisa transfer fotonya," kata saya. "Pokoknya kalau sudah di kampus, SMS."

Saat itu saya masih bersungut-sungut. Dan sempat berniat untuk tidak memberitahu Irfan kalau saya sudah di kampus. Tak dinyana, kami berpapasan di lobi Pascasarjana. Saya berniat kabur, "Aku mau ke ataaas mau bimbingaaan". Sampai tas saya ditarik supaya menurut, "Di sini aja."

Ia mengeluarkan sebuah bingkisan.

Tanpa Irfan berkata pun, rasanya saya tahu itu dari siapa. "Kalau udah tau dari siapa, SMS ya.."

Bingkisan itu saya pun buka. Ah.. Nakal sekali. Bulir-bulir bening di pelupuk saya berdesakan. Ingin ditumpahkan rasanya. Sayang sekali di hadapan saya ada Irfan.

"Makasih ya.." dan saya pun beranjak menemui dosen pembimbing.

Bingkisan itu.. sebuah jam. Didesain sama dengan mug yang saya beri untuk Mbak Uzi. Dan saya bisa membaca tulisan yang tertera di sana dengan jelasnya.

"...di sebuah rumah sederhana di kaki gunung Merapi kita bersua. Tapi, tak ada kata Selamat Tinggal, karena kita akan kembali berjumpa, di surga kelak atas izinNya.."

Maaf Mbak Uzi, saya tidak patuh. Tidak meng-SMS seperti mandat Irfan kemarin. Hanya ingin ucapkan, uhibbuki fillah.. Dengan cara yang saya ingini.

Readmore - Di Kaki Gunung Merapi Kita Bersua

9 Juni 2013

Donat Ubi Cilembu

Setelah menyulap ubi menjadi Nasi Kuning Ubi dan Ubi Pedas Manis, kali ini ubi cilembu-nya saya transformasi menjadi donat. Dan taraaaa...

Masih harus belajar fotografi ini, hehehe (^^,)v

Bahan-bahannya:
- 2 buah ubi cilembu orange (ga saya timbang karena ga punya timbangan haha)
- 250gr terigu
- 4 sdm gula pasir
- 6 gr fermipan
- 1 butir telur
- 35 gr mentega
- sedikit garam

Karena ga punya kukusan, ubinya saya rebus. Sebenarnya, di resep yang saya dapat, seharusnya ada 150ml air es untuk tambahan dan terigunya 300gr. Tapi, karena ubinya direbus (kadar air jadi lebih banyak di dalam ubi) dan hanya ada 250gr terigu, jadi airnya ga saya pakai.

Ubi rebus dilumat halus (saya pakai bagian bawah gelas), diuleni bersama terigu, gula pasir dan fermipan. Setelah rata, masukkan mentega dan telur. Uleni terus hingga kalis.

Setelah kalis, adonan dibentuk bulat-bulat dan didiamkan selama 15 menit. Kemudian pipihkan adonan dan lubangi tengahnya, diamkan selama 30 menit. Goreng hingga kecokelatan.

Saya lupa beli mesis dan mentega untuk topping. Jadi donatnya hanya saya taburi gula bubuk supaya lebih manis.

Saya pernah membuat donat dengan campuran sukun kukus dan teksturnya lembut juga seperti donat ubi ini. Pernah makan donat kentang? Nah, seperti itulah.. Hanya saja donat ubi lebih manis dan donat sukun sedikit tawar.

Saya pernah juga membuat donat dari wortel tapi sepertinya tidak ingin membuat lagi karena rasanya sedikit aneh ((^.^')



Readmore - Donat Ubi Cilembu

Bubur Jagung Manis

Hari Minggu, asrama sepi. Teman-teman mudik. Sedangkan saya, yang kampungnya nun jauh di pulau seberang, stay di asrama dengan agenda elit: revisi tesis untuk persiapan sidang.

Awalnya mau fokuuuus... Ba'da shalat shubuh mau langsung ngerjain. Tapi perutnya bunyi mulu kaya orkestra. Sedangkan saya sedang begitu jaim untuk jajan di luar dengan alasan ga sehat (padahal biar irit, hahaha).

Agaknya sedang tidak ingin bermain-main dengan nasi, tetapi tetap ingin suplay makanan berkarbohidrat. Akhirnya saya putuskan untuk memasak bubur jagung. Googling deeeh... Nemu resep macam-macam, tapi intinya bahan bubur jagung itu:

- Jagung dipipil (saya pakai 2 bonggol)
- Jagung diblender (saya pakai 4 bonggol)
- 1000 ml santan (pakai insting :D )
- 100gr gula pasir
- 4 sdm maizena, cairkan dulu dengan sedikit air.
- sedikit garam
- 1 sdt kayu manis
- daun pandan (saya pakai 3 lembar yang kecil)
- 6 lembar daun jeruk (lupa saya masukkan hahaha)

Gampang bikinnya, cepet lagi. Ga sampai satu jam preparing, masak, sampai buburnya matang. Semua bahan dimasukkan, diaduk-aduk dulu di panci, baru dipanaskan sampai buburnya matang (mengental).

Karena pertama bikin, saya kurang tau ciri-ciri bubur yang sudah matang seperti apa. Jadi berkali-kali dicicip. Soalnya khawatir terlalu lama dimasak, nanti minyak dari santannya keburu keluar. Kan rasanya jadi aneh.

Tapi, alhamdulillah buburnya matang dengan selamat :D





Readmore - Bubur Jagung Manis

6 Juni 2013

Semua Ada Bagiannya

Ia buta, sekalipun tak pernah mengerti apa itu warna. Karibnya, tuli. Tak pernah ia mengenal nada sejak pertama kali lahir ke dunia. Tetapi, ketika keduanya bertanya, "Matahari itu seperti apa?" kita tetap bisa mengajak mereka keluar ketika mentari sedang terik-teriknya.

"Hangat ini, dari matahari..."

Hidup terlalu singkat untuk hanya mempersoalkan yang beda. Jika kelak kita dikumpulkanNya, Dia tidak akan bertanya apa itu warna, apa itu nada, apa itu rasa. Dia akan menimbang, apa yang telah kita lakukan, kita berikan, kita abdikan, dengan apapun yang kita punya.

Semua ada bagiannya..

Jika mampunya kita menjadi pendidik, maka didiklah generasi muda itu hingga menjadi orang besar di kemudian hari. Seperti Saad bin Abi Waqosh, diturunkan dari jabatan gubernur karena ketidakmampuannya memimpin, tetapi kemudian mengabdikan diri menjadi pendidik hingga ke pelosok negeri.

Jika mampunya kita adalah dengan harta, maka jadikan ia saksi baktinya kita kepada umat. Seperti Abu Bakar Asshiddiq yang bahkan menyedekahkan seluruh hartanya dengan keyakinan, "Allah pasti mencukupkanku juga keluargaku."

Semua ada bagiannya...

Kita tak perlu banyak mendebatkan mengapa orang lain begini dan mengapa orang lain begitu, sementara diri terlupa dengan perkara yang wajib. Berjalan sajalah... Dengan ketaatan, dengan tetap menjaga diri dari yang Ia larang dan terus berlomba-lomba mengerjakan kebaikan. Dan... Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
 
Readmore - Semua Ada Bagiannya

Akhirnya ke Sarangan Juga


Perjalanan itu.. mengajarkan untuk saling mengenal.

***
Finally, we're here... Telaga Sarangan :)


***

"Lee, selasa atau rabu aku main ke Solo yaaaaaaa..." SMS dari Mbak Uzi.

Seketika saya berteriak girang. Yes yes yes, saatnya jalan-jalan! :D
Pasalnya, tempo lalu kepala saya rasanya berasap karena mempersiapkan draf untuk Seminar Hasil Penelitian tesis. Mbak Uzi main ke Solo itu moment langka karena biasanya saya yang singgah ke Jogja dan meminta diantarkan ke sini dan ke sana oleh Mbak Uzi.

"Mau main ke mana nih Mbak, Tawangmangu?" tanya saya.

"Ke tempat yang kamu belum pernah laaah."

Serius? Kalau begitu saya request Sarangan, telaga yang ada di balik Gunung Lawu itu. Tempo lalu saya dan teman-teman sekelas sempat berencana camping di sana, tapi batal karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sedang padat-padatnya dengan tugas kuliah saat itu :D

"Ke Sarangan nanti Shandronando yang jadi guide."

"Coba ajak Arif, Aziz.. Atau Irfan. Biar rame.."
***
Tempo lalu, pertama kalinya main bareng Irfan itu... Nyasar juwawuh banget padahal tujuannya cuma mau ke Pantai Klayar di Pacitan itu. Dan hari ini, lagi-lagi ada cerita :D

Aziz dan Arif yang notabenenya satu almamater sama Shandro, ga memungkinkan untuk diajak main. Jadi, saya meng-invite Irfan yang kemudian menginvite Shafa, temannya sesama Laskar Langit, semacam perkumpulan pemuda pemudi yang hobinya tadabbur alam.

Sebenarnya Shafa dan Irfan itu kakak tingkat saya. Angkatan 2006 S1-nya, sedangkan saya (dan Shandro) angkatan 2007. Irfan S1 di UNY dan melanjutkan S2 di UNS, satu semester lebih dulu dari saya. Mungkin karena kecerdasan kami tidak jauh berbeda (atau saya lebih cerdas? hahaha) Jadi saya panggil nama saja. Ngapunten nggih (^^,)v

Rencananya, dari Jogja Mbak Uzi naik kereta ke Solo dan saya jemput di Balapan. Sementara Irfan dan Shafa motoring dari Jogja.

"Jam 7 start dari Solo ya," kata saya.

"Laaah.. Males bangun pagi-pagi. Jam 8 deh." Jogja-Solo motoring itu sekitar dua jam. Kasihan juga sih ya, nyubuh gitu mereka harus berangkat dari Jogja. Tapi Mbak Uzi harus sudah di Jogja sebelum Maghrib karena ada agenda elit, jadi mau ngejar kereta jam 16.20. Sementara Solo-Sarangan menghabiskan waktu dua jam perjalanan.

"Mbak Uzi ngejar kereta jam 16.20 lho.."

"Ha? Mbak Uzi naik kereta? Aku juga mau naik keretaaa..."

Dan diaturlah rencana sedemikian rupa sehingga Mbak Uzi, Shafa, dan Irfan naik kereta. Saya meminjam motor Bayu, adek saya yang juga kuliah di UNS untuk dipakai Shafa dan Irfan ke Sarangan.

Ternyata, setibanya saya di Balapan Solo untuk menjemput Mbak Uzi, Shafa tidak ada.

"Shafa ketinggalan kereta, bangunnya kesiangan."

Lah? Hahaha.. Padahal ceritanya Mbak Uzi terburu-buru tanpa menilik ponsel dengan husnudzon, anak-anak lain sudah sampai di stasiun. Ternyata belum datang. Dan dengan baik hatinya Mbak Uzi langsung membeli tiket untuk Sriwedari (AC) yang harganya dua kali lipatnya Prambanan Ekspres itu. Tiga tiket, untuk Mbak Uzi, Irfan dan Shafa.

"Keretanya terlambat, jadi aku SMS Shafa cepetan ke stasiunnya. Paaas Shafa sampai gerbang paaas keretanya berangkat."

Hahaha.. Kebayang wajah piasnya Shafa. Tapi lebih kasihan lagi Mbak Uzi yang sudah belikan tiket Sriwedari.

Awalnya mutung', Shafa ga jadi ikut ke Sarangan.

"Nyusul aja, ke Solo naik motor."
"Males bawa balik ke Jogjanya. Memangnya kamu mau, bawa motor ke Jogja, nanti aku yang naik kereta?"
"Mau."

Hahaha.. Jadi nanti balik ke Jogja, gantian yang bawa motor Irfan dan Shafa naik kereta bareng Mbak Uzi.

Sesampaiya di Solo, Shafa ngomel-ngomel, "HP-ku ketinggalan, padahal aku mau update status."

Ya ampuuuuuun sempet-sempetnya :D
***
Awalnya, saya ditakut-takutin Irfan kalau track ke Sarangan agak beresiko. Tempo lalu waktu ke Candi Sukuh, saya sempat standing di tanjakannya. Ah.. Namanya juga amatir, jadi belum mahir manajemen gigi motor.

"Ke Sarangan itu, tanjakannya lebih miring 5 derajat dari Candi Sukuh."

Dan dengan baik hatinya, Irfan menyarankan untuk naik angkot saja ke Sarangan dari terminal Tawangmangu.

"Biar seruuu naik angkot," kata Mbak Uzi.

Eh, saya laporan ke Shandro, guide yang terhormat. Katanya, "Cemen. Ke Candi Sukuh aja berani, ke Sarangan ga berani motoring."

Aduuuh jiwa Rangking Satu saya tidak terima dibilang cemeeeeeeeeen.

"Mbak, kita naik motor saja." Saya memutuskan sambil menaikkan kacamata.
***
Ternyata... Ke Tawangmangu itu ada jalur cepatnya. Lewat jalan kampung, bukan jalan besar yang banyak lampu merahnya itu. Dusun, hahaha... Untung ada guide.

Awalnya masih mulus ya, gaya pakai gigi empat. Sampai jalanan agak naik, gigi tinggal tiga. Jalannya makin curam, pakai gigi dua. Iiiiiiiiiiiiiih.. susah naiknyaaaaaaaaa...

Tanjakan paling wow itu setelah Terminal Tawangmangu. Ampuuun... Saya paling susah manajeman kecepatan kalau nemu tikungan. Apalagi tikungannya nanjak.


Sampai di tikungan paling ekstrim, motor yang saya naiki bersama Mbak Uzi semakin lambat. Ngg.. Ngg.. Ngg... Mana tanah datar ini mana mana..

"Hayo loh hayo loh..." Shafa dan Irfan yang awalnya di belakang kami, menyalip. Bukannya bantuin malah (--,)a


Dan mungkin karena saya terlalu memaksakan gas, bensinnya jadi cepat habis. Mampir deh beli bensin. Padahal cuma alasan biar ga dibilang ga kuat nanjak, hahahahaha...

"Ini tanjakan terakhir loh," kata Shandronando.

Seketika saya kembali bersemangat. Padahal Mbak Uzi sudah menawarkan, "Aku aja yang di depan." Tapi penasaran ingin menaklukkan tracknya, saya tetap yang memegang kendali.

Ya.. Tetep sih, kaya siput jalannya ((^.^')

"Ini jalan masuknya para pendaki kalau mau ke Lawu."

Ha? Ini? Ya ampuuuuun dekat sekali kaaaan dekat sekaliiiiiii..

"Mbaaaak ayo ndakiiii..."

Teringat akhir tahun 2011 lalu ketika teman-teman Sekolah Pintar Merapi berencana mendaki Lawu sedangkan saya tidak diizinkan mommy tercinta untuk ikut mendaki.

"Sebelum aku 'uhuk', pokokmen aku mau ndaki duluuuuu..."

Hahaha.. Memang kadang saya terlalu berambisi. Lupa kalau dulu sempai ada kejadian merepotkan banyak orang sewaktu mendaki Sumbing. Dasar Aulia Stephani Esteban (--,)a


Saya pikir, ada gerbang mewah dan karpet merah yang akan menyambut kami setibanya di Sarangan. Lha sih jalannya kecil gini :O
Sampai di Sarangan.

"Udah, gini dowang?" kata Irfan. "Yuk, pulang."

Hahaha.. Emang berharap yang kaya gimana sih.

"Ini kita ga bayar tho?"

"Harusnya bayar. Tapi kita pakai jalan pintas," kata Sahndro.

Pantesaaaaaaan ga ada tabuh-tabuhan penyambutan Putri Kerajaan mau datang (--,)a

Selama belasan menit kami ngobrol ga jelas di tepi telaga.

"Ini siapa ketua rombongannya sih."

Sontak Irfan menunjuk Mbak Uzi, "Kan yang paling senior."

Baiklah.. Mbak Uzi yang super duper baik hati itu akhirnya ngajakin naik speed boat. Kayanya Mbak Uzi mupeng gitu ya, ngelihat cewek yang naik speed boad sampai kerudungnya berkibar-kibar gitu saking kebutnya itu boat. Hihihi... Tapi, kata Irfan ada air terjun dekat sini. Agaknya kami lebih penasaran dengan air terjunnya. Hahaha.. Maap ya Mbak Uzi.

Sekitar lima menit perjalanan dari tepi telaga ke tempat parkir motor menuju air terjun.
Karena harus mendaki gunung dan melewati lembah, kami berjalan kaki menuju air terjun. Subhanallah cantiknya iniiiiiiiiiiii... Untungnya Shandro punya DSLR, jadi bisa lebih wow gitu gambarnya, fufufu...


















"Mbak Uzi mau naik gunung kok pakai sendal Cinderella sih," protes saya.
 "Siapa yang mau naik gunung. Kita kan mau ke air terjun," jawab Irfan mewakili Mbak Uzi.

Krik krik deh.

"Ini jalannya nanjak semua ya?"
 "Ini anak tangga terakhir," kata Shandro.
 "Ini baru anak tangga. Belum Bapak Tangga. Ibu tangga?" kata Irfan dengan polosnya.

Hahahahaha... Saya ngakak ga ketulungan. Padahal ga lucu tapi ga tau kenapa ga bisa berhenti ketawa. Dan anehnya saya tertawa sendirian :O

Airnya jerniiiiiiih... Diminum dong ini sama Shafa. Memangnya steril ya.. Seketika saya  dan Mbak Uzi teringat kejadian di pendakian Sumbing, anak-anak cowok minum air dari sungai kecil yang ada kecebongnya :D

Sampai deh di air terjunnya. Berapa menit ya perjalanannya... Lima belas menit mungkin dari tempat parkir.

Ada yang jual sate kelinci. Tapi, berhubung Mbak Uzi bawa jajan banyak banget, kita ga jajan duuunk, pengiritan gitu loh anak kos (haha). Dan waktu kami habisnya untuk berfoto ria.


Ini foto favorit saya selama di air terjun. Ih ya ampun Irfan itu menghayati banget goyang dangdutnya, hahaha...

Di dekat air terjun, di air yang mengalir lebih lambat, ada binatang ini, apa ya namanya.. Kalau kata Mbak Uzi namanya kepik.
Puas foto-foto, kami pulang. Hampir Dzuhur dan kami berniat singgah sebentar di rumah Shandro yang katanya cuma 15 menit dari Sarangan.

Di jalan nemu semut.

"Ini ceritanya semut-semutnya minggir, ada Nabi Sulaiman mau lewat."

Hahaha...

"Rapi ya barisnya semut ini," kata saya. "Coba dikasih tulisan KPK gitu, jadi kaya lagi demo."
"Semut itu pekerja keras," kata Mbak Uzi. "Dan ga suka ngeyel."

Wah... Memang kalau ngobrolnya sama Panwaslu (panitia pengawas pemilu) beda bahasannya (--,)a


Dan sepanjang perjalanan.. Saya yang notabenenya cerdas, malah jadi korban buli-buli. Saya bawel apa gimana kok kayanya ga habis-habis kalau adu argumen dengan Shafa.

"Shafa itu ih nyebelin bangeeet... Itu lho kaya Irfan. Anaknya baik," kata saya.
"Tapi kalau kamu tau Irfan aslinya gimana, pasti kamu mau ngelempar sendal ke dia," kata Mbak Uzi.


Ah, mana bisa sih Irfan itu jahil. Lugu gitu kok orangnya.

Ntah karena mau memperbaiki posisi tas atau bagaimana, tak sengaja tangan saya menyentuh plastik yang ntah sejak kapan menggantung di tas saya. Plastik sampah bekas jajan.

"Irfaaaaaaaaaaan..." satu sendal saya melayang ke arahnya. Beruntung tidak kena, malah sendal saya kecebur got. Aduuuh sendal guweee.

"Basah deh," saya bersungut-sungut.

Akhirnya atas rekomendasi Mbak Uzi, saya tukaran sendal dengan Irfan karena khawatir kaos kaki saya ikut basah.

"E tau ga sih, cara jalan kita itu mengikuti jenis sendal yang dipake lho." Saya menunjuk cara jalan saya yang tiba-tiba jadi macho karena sendalnya kegedean.

"Jadi aku jalannya gini ya." Irfan langsung jalan ala peragawati di catwalk.

"Garis lurus, garis lurus," kata Shafa mengarahkan.

Hahahahaha.. Aduuuuuh saya ketawa sampai sakit peruuut.

Sampai deh di tempat parkir dan ngeeeeeeng kita berangkat ke rumahnya Shandrooo...


Ngelewatin Sarangan.

"Kita belum poto-poto di siniiiiiiiiiiiiii..." saya meminta rombongan untuk berhenti.

Itu Shandro lurus banget sih orangnya, jalan-jalannya khusyuk banget. Setiap kali memimpin di depan, tidak sekalipun dia berhenti kecuali diklaksonin. Padahal kan dia fotografeeeeeeer... Ga mupeng kali ya lihat objek kaya gini. Saya sih dusun, belum pernah ke sini :D

Kami melewati kebun strawberry... Wortel... Seledri... Wuuuuuu bahagia deh lihat tanaman berjajar rapi begitu. Sampai tiba-tiba mata saya terpaku pada sebuah telaga.

"Itu apa namanya?"
"Sarangan bukan?" tanya Mbak Uzi.

"Sarangan bukan kaya gini."

Seketika saya berteriak meminta Shandro yang di depan untuk berhenti.

"Itu klaksonnya dipake dong," kata Mbak Uzi.

"O iya khilaf."

Tin Tiiiiiiiiiiiiiiin... Baru deh berhenti itu guide (-_-)"

"Mau poto di siniiiiii..."
"Oh.. Ini Telaga Wahyu namanya."

Wah... Sakti kayanya ini dilihat dari namanya :O

Dan, jepret!

Mari kita lanjutkan perjalanan *naekin kacamata*
Tak lama, sampai deh di rumah Shandro.

Ada belalang tempurnya Shandro. Kalau kata Mbak Uzi, Shandro itu Kotaro Minami, pahlawan jaman kami masih lucu-lucunya sekolah SD.

Lho, kirain dijual makanya dia naik Jupiter.

"Lagi bosen," kata Shandro.

Ha? Boseeeeeen? Motor wow kaya gitu bosen? Ya iya ding, wajar.. Soalnya ada yang lebih wow lagi sih. *tiba-tiba guwe pengen pingsan*


Terus... Kita-kita disuguhin jeruk bali gitu... Langsung abis kalau ada Irfan n Shafa :D
Emang duduk di sofa empuk itu enaknya tidur, zzzzt... Kok sempet berpose sih Om? (-_-)"

Setelah sholat, makan siang (yang ini bukan kita yang minta), ngobrol-ngobrol sebentar, pulang deeeh... Sempet foto dulu bareng Mbah dan adiknya Shandro yang masih SMA. Adiknya itu kembar, tapi kembarannya lagi tidur. Ih padahal gemes ya kalau ada anak kembar. Sayangnya dia udah gede :D

Ada bunga cantik deh. Kayanya bagus buat koleksi kebun di Asrama.

"Itu bunga apa namanya?"
"Kamboja?"
"Yang kecil itu kalau gede jadi bunga yang ini bukan?" tangan saya menunjuk pot yang lebih besar dan sudah banyak bunganya.

Eh eh terus dikasih dong ke saya itu bunga yang masih kecil, sama potnya sekalian. Aduuuuuuh... Maluuuuuu. Tapi sebenernya ngarep juga. *nyengir kuda*

Saya pengen banget foto di dekat jalur masuk pendakian ke Lawu. Tapi, ingat Mbak Uzi mau ngejar kereta, saya sedikit menyabarkan diri untuk tidak foto.

Eh ga taunya agenda elitnya Mbak Uzi itu ga jadiiiiiiiiiiiiiiiii... Akhirnya saya foto-foto dengan gembiranya. Yihaaaa! :D

"Aku pengen penthol deh," kata Shafa.
"Apaan tuh penthol?"
"Cilok, cilok."

Saya ber'ooo' ria.

"Ada itu di bawah," kata Shandro. Kita chao ke sana deeeh nyari penthol. Lucu banget sih namanya.
Penthol yang dijual itu isinya bakso kecil-kecil selusin, bakso gede isinya telor, sama tahu tiga potong. Katanya cilok :O

Tapi ga peduli ya... Mau penthol, mau bakso, yang penting makaaaan.. Padahal tadi udah makan di rumah Shandro :D

"Yuk, pulang."
"Jam berapa ini?"
"Setengah empat."
"Udah, gini dowang?" tanya saya. "Mbak Uzi kan ga jadi ngejar kereta jam 16.20."
"Lha kamu mau ke mana?"
"Adanya apa?"
"Kemuning?"
"Apa itu?"
"Kebun teh."
"Di mana itu?"
"Deket air terjun Jumog itu lho..."
"Lah jauh, aku jam 5 udah harus ada di asrama."
"Ya udaaaaaaaaaah kita pulang ajaaaaaa.."

Capek deh ngomong sama guwe :D :D :D
***

Travelling itu keren, tentu saja. Apalagi ketika ada hal baru yang bisa saya pelajari di sini. Ah ya... Dunia memang berwarna. Beragam juga penghuninya :D

Mbak Uzi, Mbak Nyonyah saya yang pokoknya nyonyah banget dan saya Ijah. Tapi lebih sering mengalah dan menuruti maunya saya.

Irfan, yang sisiran rambutnya persis tokoh Budi di buku-buku anak SD. Lugu-lugu gitu jahil juga yaaa... Tapi, kata Mbak Uzi, dia punya rencana besar untuk mbangun kampungnya.

Shafa. Menyebalkan. Ngobrol sama dia kaya lempar-lemparan bola. Ga ada ujungnya perdebatan itu kecuali saya mengalah. Huft... Tapi mendengar namanya, seketika teringat sebuah ayat di surat Al Baqarah. Ya, nama bukit tempat Siti Hajar berlarian mencari air untuk bayinya yang kehausan, Nabi Ismail. Mungkin, orang tuanya ingin ia menjadi pekerja keras yang tak kenal menyerah.

Shandro. Sholih sejak lahir kayanya ya... Selama perjalanan dia ga banyak bicara. Cuma ikutan ketawa kalau ada yang ketawa. Eh, diam-diam dia nyimpan foto gazebo (ga zelas bo) dengan pose-pose aneh kita. Hadeeeuuuuh... Tapi, tuan rumah yang baik. Semuanya dia yang bayarin. (Terus, guwe bukan tuan rumah yang baik gitu ya, ckckck).

Nice trip as always.. Kapan-kapan lagi ya :D
Readmore - Akhirnya ke Sarangan Juga