Social Icons

18 Februari 2013

Cinta untuk Perempuan




Benarkah ada luka setiap kali mencinta?

***

Ia masih bersimpuh di hadapanku. Kepalanya terkulai. Tanpa kata. Hanya air matanya yang bicara.

Aku tak membentaknya. Tak juga lontarkan kata-kata kasar yang ratusan menit ini memenuhi otakku. Sebagai gantinya, kata-kata itu mengalir deras dari sudut mataku. Bening. Sementara di sini, di sudut hatiku, sembilu itu masih sisakan luka. Perih.

“Kania, maafkan aku...”

Suara baritonnya yang menyebut namaku... Tak lagi luluhkan aku seperti dahulu.

***

Hening. Otakku begitu sesak dengan banyak hal yang tiba-tiba merangsek, masuk ke dalam benak. Kesulitan mencerna apa yang baru saja ia katakan. Air mukanya, matanya, tak mungkin perempuan itu berbohong.

“Ntah dengan harap apa  saya datang ke mari,” perempuan itu melanjutkan. Aku menelan ludah dengan payah. “Tapi, sungguh, anak ini adalah sebagian dari diri Mas Ardi.”

Sedari tadi aku menahan butiran bening itu di sudut mata. Ntah rasa apa yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadaku. Marah. Kecewa. Sedih. Semuanya berbaur tanpa permisi.

Aku masih mengunci rapat kedua bibirku.

“Keira, juga butuh kasih sayang seorang ayah...” perempuan itu menatap lekat bayi di dalam gendongannya.

Aku tak bisa menahannya. Aku tak bisa...

“Sebentar ya, saya permisi ke belakang. Saya ambilkan minum.”

Tumpah. Sesak itu. Sesal itu. Seketika luruh bersama bening-bening hangat yang mengalir ke pipiku. Aku terduduk, mendekap dadaku yang tiba-tiba terasa begitu perih. Membiarkan gelas-gelas di atas meja itu kosong, seperti urung menyuguhkan minum untuk perempuan itu.

“Tuhanku...” pekikku tertahan.

***

“Aku mencintaimu Kania, sungguh...” ucapnya di antara air mata yang tumpah di pangkuanku. Aku tetap bergeming. “Tapi, kaki-kaki kecil yang berlari menyambutku pulang, juga begitu kurindu.”

Deg. Satu lagi luka kurasa. Ini nyata. Ini alasannya. Aku mandul. Dan ia mencari rahim perempuan lain untuk menanamkan anaknya.

“Kau tetap yang kucinta, Kania...”

Aku bangkit. Menyeka air mataku sekali lagi. Langkahku perlahan menghampiri lemari yang telah hampir sepuluh tahun menghiasi kamar kami. Aku mengambil beberapa helai pakaian untuk kumasukkan ke dalam koper. Tak kudengar suara apapun kecuali isaknya. Aku tahu, ia masih tertunduk.

“Mas, aku pulang...” Masih sempat kuraih tangannya dan menempelkannya di pipiku. Tangan yang bergetar itu, tangan yang sama dengan tangan yang sepuluh tahun ini menyapaku dari jauh, menggenggamku saat luruh, menemaniku hingga datang waktu shubuh.

Langkahku begitu berat. Tapi, satu yang kutahu, aku perlu menjauh.

***

Apakah Ibu juga pernah terluka?

“Terkadang, mereka hanya khilaf,” Ibu mengusap kepalaku yang berbaring dalam pangkuannya. “Tak benar-benar bermaksud melukai kita.”

Apakah setiap perempuan tertakdir dengan perih di dada?

“Dan perempuan,” kata-kata Ibu masih terdengar. “Diciptakan dengan hati yang lembut dan pemaaf...”

Benarkah setiap perempuan begitu mudahnya memaafkan?

***

“Aku...” tenggorokanku tercekat. “Ingin kau berbahagia dengan anak-anak yang kau rindukan.”

Ardi tersentak.

“Kau boleh menikahinya, Mas...”

Ardi tahu artinya.

“Dan aku...”

“Kania...” Ardi meraih tanganku. Menggenggamnya, erat sekali. Sementara butiran bening dari bola mataku terus meluncur. Ini, bukanlah keputusan yang mudah.

“Aku tak ingin menjadi pendosa dengan kecemburuanku kelak.”

Ardi masih belum melepaskan tanganku. Matanya mencari-cari bola mataku, menanti kejujuran di sana.

“Kania, kau istriku...”

“Karena aku istrimu aku tahu apa yang membuatmu bahagia.”

Dan suara itu, suara yang keluar dari tenggorokanku, adalah suara paling tak jujur yang pernah kuucapkan di hadapannya.

***

Aku juga menantikannya, kaki-kaki kecil itu. Menyematkan selalu di dalam doaku, berharap Tuhan izinkanku menjadi sebenar-benar ibu.

Aku juga merindukannya, celoteh riang dari bibir-bibir mungil itu. Berharap, meski hanya satu, aku mampu melihatnya dalam hari-hariku.

Tapi, sungguh aku tak menyukai caranya... Bukan hanya aku yang terluka. Bukan hanya aku yang kecewa.

“Jika kau jujur,” desisku. “Akan kuizinkan sejak dahulu.”

Ia bukan sedang mengkhianatiku, tetapi mengkhianati Dia yang memberinya hidup.

***

Berpisah dengan Ardi sungguh telah menyisakan sebuah ruang dalam hatiku. Ada yang hilang, seperti terenggut paksa. Namun aku percaya, tak ada satupun yang berkuasa memberi kebahagiaan kecuali Dia. Tidak juga Ardi, ataupun keluarganya yang baru. Aku terus meyakinkan diriku bahwa keputusanku adalah keputusan yang tepat.

Aku tak perlu risau dengan apa yang telah hilang dan pergi dariku. Luka adalah niscaya. Jikapun perih, aku yakin tak kan selamanya.

Lima tahun yang lalu, mungkin aku tengah terduduk dalam laraku. Tergugu karena lukaku. Namun kini, Tuhan kembali hadirkan di hadapanku keajaiban hingga aku memiliki alasan untuk tersenyum. Anak-anak. Meski mereka tidak lahir dari rahimku. Tapi mereka.. Adalah keluargaku yang baru.

Ya. Aku kembali melangkah. Membuka tempat bernaung bagi yang yatim juga piatu, berharap kelak Tuhan akan meninggikan derajatku.


**end**


Solo, The Last Day in 2012
Untuk Perempuan yang Luas Hatinya

(Dimuat dalam Majalah Embun Edisi Februari 2013)
Readmore - Cinta untuk Perempuan

17 Februari 2013

Borobudur, Peninggalan Nabi Sulaiman

Sudah sejak berapa lama kita mempercayai bahwa Borobudur adalah peninggalan Budha? Ya... Penelitian KH Fahmi Basya selama puluhan tahun tentang Borobudur, kaitannya dengan negeri Saba, juga Ratu Boko yang kabarnya adalah Kerajaan Ratu Balqis memang bukan perkara sederhana, Boleh percaya, boleh tidak. Sementara saya, memilih mempercayai kebenaran al quran :)

Semoga, ada validasi dari para syaikh atau ahli tafsir dari timur tengah tentang penelitian ini. Yang ingin tahu lebih banyak bisa baca buku ini.
Kebetulan ada jadwal touring bersama teman-teman sekelas ke Borobudur. Seperti biasa, motoran dari Solo-Magelang. Saya, Mutia, Pak Abi, Wahyu, Ita, dan Mbak Bibit dari Solo, sementara Andri dari Purworejo dan Anna menunggu di Magelang. Dan sesampainya di Borobudur, dimulailah ekspedisi mencari kebenaran (naekin kacamata).
Sementara yang lain berpose, yang cerdas mah pegang buku :D











Eh tapi tergodaaaaaa.. Jadi ikutan foto-foto deh :D





















Owh ya ampuuun.. Pemirsah, agaknya saya melupakan sesuatu. Foto-foto hasil ekspedisi tentang relief-relief yang diduga berisi kisah Nabi Sulaiman, Nabi Daud, Ratu Balis, burung Hud-hud, dll ada di kamera Mbak Bibit dan saya belum ngopi, jadi ga bisa diaplot ke sini (yaaah penonton kecewa). Lebih lanjutnya mungkin bisa langsung dibaca di buku atau bisa dibaca di sini.



Saatnya pulaaaang... Tapi mampir sebentar untuk ambil angle terbaik Borobudur :D
Eh Borobudurnya ga kelihatan hahaha.. Ini foto otomatis beberapa kali jepretan (^^,)v










 













 Tapi, favorit saya foto yang ini dd(^^,)

























Readmore - Borobudur, Peninggalan Nabi Sulaiman

5 Februari 2013

Brownies Pandan (Kukus)

Aaaaaah.. Liburan di rumah memang bikin bahagia \(^.^)/
Pasalnya, dapur kesayangan Mama itu jadi wilayah jajahan saya, hahaha..

Baiklah. Awalnya saya berencana membuat tart untuk Bayu yang 28 Januari lalu umurnya genap 20 tahun. Tapi.. Saya sendiri kurang suka krim dan agaknya takut 'gagal'. Tart ultah itu banyak ini itu yang mesti pake skill ((^.^')

Eh malah kepikirnya bikin brownies... Hunting deh dan dapat resep dari 'Dapurnya Arta'
Keren ya gambarnya? Dan saya pun memimpikan percobaan saya bisa kaya gini hasilnya (^^,)a

Nyatanya pemirsah, ada banyak hal terjadi di luar kendali, hehe lebay. Saya ga nemu tepung ketan hitam untuk brownies yang warna cokelat. Sebetulnya saya pengennya bikin brownies cokelat-pandan gitu.. Tapi resep (gampang) yang saya dapat ya ini, brownies pandan-ketan hitam gitu.

Yeah, karena tepung ketan hitamnya ga dapat, akhirnya saya cuma berhasil bikin brownies pandan.

Warnanya kurang nendang ya? Soalnya saya ga nemu daun suji untuk diambil sarinya dan dijadikan pewarna, jadi deh pakai essense. Agak takut gitu buat dicampur ke bahan. Dulu saya pernah makan bolu yang warna ijonya waaaaw banget, eh malah jadi agak pahit. Dan ga baik juga kali ya pakai essense yang notabenenya pewarna sintetik.

Ini resep yang sesungguhnya dari Dapurnya Arta. Tapi ya ga gini-gini amat saya bikinnya, hihihi.. But, check this out aja deh (^^,)v     Kalau rekomendasi saya sih, ga perlu pakai essense kalau udah ada daun suji.

Bahan :
4 telur
175 gr gula pasir
1/2 sdt cake emulsifier
130 gr terigu segitiga
100 gr WCC (white cooking coklat), lelehkan
25 ml air pandan + suji ( 5 lbr pandan + 5 lbr suji, haluskan)
125 ml miyak goreng
1-2 tetes essence pandan diva
1-2 tetes pewarna hijau untuk penguat warna (kalo perlu)

Cara Membuat :
- Kocok telur, gula, cake emulsifier hingga mengembang
- Masukan terigu yg sdh diayak
- Masukan WCC yg sdh dilelehkan bergantian dgn minyak, aduk rata
- Masukan air pandan, essence pandan & pewarna hijau pandan
- Siapkan loyang 24x12, tuang adonan, kukus selama 20 menit
- Keluarkan dari loyang sisihkan






Readmore - Brownies Pandan (Kukus)