Social Icons

10 Maret 2013

"Ke Purworejo cuma 10 menit kok."

Perjalanan itu bukan tentang 'kemana', tetapi 'bersama siapa'.

***

Foto favorit saya hari ini (^^,)v
Coba tebak di mana...

***
Berawal dari kabar yang disebarkan diam-diam, "Dewi sakit." Eeeh? Dewi, salah satu personil kelas yang cetar membahana kalau sudah menyanyi itu, sakit? Maka dengan baik hatinya Pak Komeng, sang ketua kelas berinisiatif, "Kita jenguk Dewi ke Wates." Dan saya pun mengendus bau 'jalan-jalan' di antara kalimatnya, ha ha ha

Biasanya kalau touring, ntah apapun tujuannya, formasi utama adalah saya, Mutia, Wahyu, Pak Komeng (atau bisa disebut Kakak Pertama :D ), Mbak Bibit, dan Ita. Eh yaaa.. Mutia yang biasa jadi asisten saya sedang mudik ke Bengkulu. Alasan elitnya sih penelitian untuk tesis. Eh Wahyu malah di Jogja dong pemirsah. Alhasil, dari Solo hanya ada empat orang sisanya. Dengan tiga motor dan saya meminta Mbak Bibit berbocengan dengan saya. Untungnya sabtu saya libur dari Asrama Tahfidz, jadi bisa sedikit lebih leluasa touring tanpa diburu-buru harus segera kembali ke asrama.

Biasanya, sepanjang perjalanan kami mengobrol atau mendengarkan musik dari headset. Tapi, sejak mondok di Asrama Tahfidz, saya berkewajiban setor hafalan minimal 1 halaman. Kalau libur, ya hafalannya di double (--,)a

Aaah.. Mbak Bibit baik sekali bisa diajak kooperatif, membantu saya menghafal Al Waqi'ah meski sambil mengemudi sepanjang Solo-Jogja. Beliau yang pegang al quran, setiap traffic light, 1-2 ayat Mbak Bibit bacakan dan saya ulang-ulang sampai ketemu traffic light lagi. Alhamdulillah dapat 21 ayat \(^.^)/

Kami dijemput Wahyu di Jogja Expo Center untuk menitipkan motor Pak Komeng di kos teman Wahyu. Jadi, Pak komeng berboncengan dengan Wahyu sampai Wates. Eh ada agenda jemput Fauzi juga ternyata. Untung bukan jemput di rumahnya nun jauh di Bantul (--,)a jadinya dijemput di daerah pusat kerajinan (saya lupa namanya haha) dan langsung menuju rumah Dewi di Wates lewat jalan pintas versi Fauzi.

Tumbeeen.. Ita agak slow hari ini, padahal biasanya paling kebut bahkan saya sering tertinggal dan sulit mengejar. Tapi hari ini start jam 7 pagi dari Solo, sampai rumah Dewi 11.30 (--,)a
"Lagi kalem," katanya.

Alhamdulillah, lihat Dewi agaknya sudah tidak terlalu 'sakit'. Ya iya laaaaaaah.. Kita datangnya pas Dewi sudah pulang dari RS (--,)a

Ada rombongan teman-teman dari Purworejo yang menyusul langsung ke rumah Dewi: Aritsya, Eka, dan Andri. Jadi nuansanya malah bukan jenguk, tapi main :D
***
Pernah dengar Kromo Inggil? Bahasa Jawa yang haluuus sekali. Dan yang saya tahu, bahasa Jawa terhalus ini ada di Jogja dan sekitarnya. Dan di rumah Dewi, kami disambut dengan kata-kata pembuka dari Ibunya yang haluuus sekali. Saya manggut-manggut, senyam-senyum, tapi kagak ngarti pemirsah :D

"Nggih Bu, matur nuwon," kata saya ha ha ha.. Ga bisa yang lain.

Sewaktu mau pulang juga begitu. Ada kata-kata penutup dari Bapaknya Dewi. Dan kali ini lebih panjaaang...

Saya, Mbak Bibit, Pak Komeng, dan Wahyu dari Lampung. Meski berdarah Jawa, kami ga bisa berbahasa sehalus itu. Ita yang asli Boyolali dan teman-teman dari Purworejo juga tak sehalus itu bahasa Jawanya. Dan kami melupakan Fauzi yang asli Jogja. Tahu-tahu Fauzi sudah menjawab kata-kata penutup Bapak Dewi dengan panjang lebar ber-Kromo Inggil. Saya sampai terbengong-bengong pemirsah :O

Fauzi itu kalau di kelas nyleneh betul. Guyonannya kreatif lah pokoknya, bahkan mengalahkan kecerdasan saya saking kreatifnya (ha ha ha). Makanya, ga nyangka Fauzi bisa haluuus sekali di hadapan yang lebih tua. Kabarnya sih, orang-orang Jogja ya begitu, halus-halus. Sisi lain Fauzi yang saya baru tahu :O
***
Kalau ga salah dengar, dari rumah Dewi ke pantai cuma 2 km. Eh tapi anak-anak mintanya ke Pantai Glagah yang lebih terkenal (katanya) dan juawuuuuuuh...

Tapi tak apeu, sesampainya di pantai tetap fun kok :D
Pamer foto aaah...








Andri dan Aritsya di parkiran, ga ikut ke pantai. Kayanya buat mereka, pantai Glagah itu nothing special (--,)a




Kabarnya, pantai ini mau dijadikan pelabuhan. Jadi, ada beton-beton yang disusun untuk memecah ombak. Kawasan ini pantainya dalaaaaam.. Jadi yang suka berenang, dibolehkan di laguna. Semacam danau kecil yang lebih dangkal dan dekat ke daratan.











Setiap foto bareng, kami minta anak kecil yang kebetulan main di pantai untuk ambil foto kami. Eh dia bawa sepeda. Iseng banget Fauzi naik sepeda. Mesra banget ga tuh, Wahyu duduk di depan. Dan Mbak Bibit ga mau kalah, ikut-ikutan juga. Hooooooooi... Sepedanya kasiaaaaaaaaaaan..

***
"Kalau dari sini ke rumahku cuma 10 menit," kata Aritsya.

Yang benaaaaaar? Langsung mupeng dong kita, mampir ke rumah Aritsya aaaaah biar sekalian tahu Purworejo. Saya naik Scoopy-nya Ita dan Ita bawa Revo saya. Pertama kalinya naik matic, dan ternyata naik matic itu ga perlu 'mikir' ya :D

10 menit berlalu. Kayanya Aritsya, yang jadi pemandu jalan belum memperlihatkan tanda-tanda mau berhenti. Masuk jalan raya, belok kanan ke jalan yang agak kecil, melewati areal persawahan. Panjang amat ini jalannyaaaaaaaaaaa ga kelihatan ujungnyaaaaaaaaa..

10 menit kedua. Haduuuh bensin Ita sudah mau habis. Masuk ke kampung, melewati pasar. Yaelaaa, kami dikibuli (--,)a

Yang katanya 10 menit itu pemirsah, kayanya setengah jam deh kalau diitung-itung. Terus, disuruh mampir ke rumah Eka, "Ga jauh dari alun-alun kok." Dan dari rumah Eka ke rumah Andri cuma satu menit katanya. Kalian pikir kami bodoh (-_-)" jangan-jangan nanti mau bilang, dari Purworejo ke Solo cuma 15 menit (-_-)"

Ya sudaaah.. Yang penting sudah sampai Purworejo. Ini foto di rumah Aritsya. Sayang, sewaktu jenguk Dewi tadi ga difoto.

Dari kiri (atas): Aritsya, Bapak, Ibu, Ita, Mbak Bibit, Eka, Saya
Dari kiri (bawah): Andri, Wahyu, Pak Komeng

Fauzi sudah pulang karena pamit dengan orang tuanya ga sampai sore. Fauzi ga ada, untung di rumah Aritsya juga ga ada kata-kata pembuka dan penutup ala Kromo Inggil seperti di rumah Dewi  :D
***
Sementara rombongan dari Purworejo pulang, saya, Ita, Mbak Bibit, Pak Komeng dan Wahyu kembali ke Jogja, jemput motor Pak Komeng yang dititipkan di kos teman Wahyu. Kali ini saya mengendarai kembali Revo kesayangan :D

Awalnya sih jalanan terang benderang ya, pemirsah.. Tapi, menjelang Maghrib matahari semakin terbenam dan jalanan semakin redup. Dengan formasi Wahyu dan Mbak Bibit di depan, saya dan Ita di tengah, dan Pak Komeng mengawal dari belakang. Alhasil, laju motor dikendalikan oleh Wahyu karena saya tidak boleh jauh-jauh kalau tidak mau tertinggal.

Saya masih menyebut diri sebagai pengendara motor amatir. Ya, kalah lincah dengan Ita, apalagi Wahyu dan Pak Komeng yang (ya ampun) jago banget nyelip-nyelip di antara sekian banyak kendaraan di jalan raya.

Setiap kali Wahyu menyalip mobil (bahkan truk), saya yang ketar-ketir. Bahkan Ita yang duduk di belakang saya ikut deg-degan. Speedometer menunjukkan 80km/jam! Itu rekor untuk saya karena Purworejo-Jogja belum pernah saya lintasi sebelumnya, apalagi jalanannya berkelok-kelok. Saya, meski mendengar murotal Al Waqi'ah lewat headset, masih saja tak henti berdoa. Semoga selamat, semoga selamat..

Satu jam perjalanan dan kami berhenti di SPBU untuk sholat Maghrib. Saya turun dan langsung duduk di teras mushola dengan wajah pias.

"Piye?" Wahyu cengar-cengir.
"Kamu jahat!" tuding saya.
"Aku lihat speedometer, ya ampun 80 km/jam. Pelan-pelan aja sih.." sahut Ita
"Aku lihat Aul masih kuat tadi, makanya terus aja," Wahyu membela diri.
"Aku itu deg-degan sepanjang jalaaaaaaaaan..." saya masih tidak terima.

Setelah sholat Maghrib (dan saya menjama' sholat Isya karena masih harus melanjutkan perjalanan ke Solo), kami kembali melaju. Kali ini Ita yang memegang kendali dan saya duduk di belakangnya, dengan formasi Ita+saya di depan, dilanjutkan Pak Komeng dan Wahyu+Mbak Bibit di belakang. Jalanan sudah tak lagi berkelok  karena sudah memasuki kota.

Jam 7.30 kami sudah melewati kampus IV UAD dan memasuki jalan yang lebih kecil, menuju kos teman Wahyu di dekat kampus III UAD. Kami sempat melewati rumah yang mewaaaaaah sekali. Ntah itu hotel atau apa, tapi saya kemudian membayangkan kalau itu adalah rumah tahfidz :D

Saya dan Ita masih membicarakan betapa mempesonanya rumah itu ketika tiba-tiba motor di depan kami berhenti dan brak! Motor Ita menabrak Revo saya yang dikendarai Pak Komeng. Untung Ita sempat mengerem, jadi tabrakannya tidak terlalu keras dan tidak ada lecet (motor) yang berarti.

Kami berhenti sebentar untuk menenangkan Ita.
"Maaf ya.." katanya.
"Itu Mas-mas yang bawa CPU di depan kita memang ngerem mendadak," kata Pak Komeng.

Eh malah kata Mbak Bibit, sewaktu ada suara 'brak' itu, Wahyu bilang, "Aaah.. Teman kita sendiri." Ealaaaaaaaaah...

Dan yang ga nahan malah ekspresi Pak Komeng, seolah-olah bilang, "Nape lu?"
Padahal saya dan Ita sudah shock (-_-)"
***
Seharian ini agaknya makan makanan berat hanya sekali di rumah Dewi. Sebelum berangkat kami hanya makan arem-arem yang dibelikan oleh Wahyu. Jadi, sebelum melanjutkan perjalanan ke Solo kami harus ngisi amunisi dulu (^^,)9

Oke.. Dinner di salah satu kedai di dekat kampus III UAD dan saya memilih menu ayam bakar. Hari ini baterai kamera saya tidak mendukung karena 'no preparation'. Jadi ga banyak foto yang bisa saya pamerkan, termasuk menu makan malam kami :D

"Balik Solo kapan?" tanya Pak Komeng.
"Mungkin besok pagi," kata Wahyu. "Kalau siang panas, kalau sore sinar mataharinya itu lho bikin silau."
"Kalau gitu balik bareng kita aja sekaraaaaaaaaaang..."

Ya. Saya juga berharap begitu. Hanya berempat dari Jogja malam-malam begini, agaknya butuh pengawal lebih. Pak Komeng itu kalau sedang khilaf bisa ngebut dan meninggalkan kami para putri penunggang kuda. Kalau Wahyu, agak baik hati di jalanan... Menunggu kalau laju kami belum bisa menyamainya.

"Barang-barangku masih di kos teman ya," kata Wahyu. "Kalian aja yang nginep, pulang besok."

Saya sempat berpikir untuk menginap. Tapi kondisinya, tak ada baju ganti dan tidak mungkin baju hari ini dipakai lagi besok. Lagipula Ita harus segera pulang karena memang tidak boleh menginap.

Dan pada akhirnya kami tetap pulang berempat.
***
Biasanya, saya tidak se'ngoyo' ini jika melintasi jalanan Jogja-Solo berboncengan. Tetapi, saya ingin Ita tahu kami ada. Ya, kali ini formasinya Ita di depan, saya+Mbak Bibit di tengah, Pak Komeng mengawal dari belakang. Jadi, setiap kali Ita sudah jauh di depan, saya akan mengejar meski melampaui kecepatan yang biasa saya gunakan. Murotal Al Waqi'ah masih terdengar di telinga dan itu yang membuat sedikit lebih tenang. InsyaAllah sampai dengan selamat...

Wahyu sempat memperingatkan, hati-hati. Biasanya sabtu malam ada konvoi supporter bola. Maka, ketika ada serombongan motor melintasi kami dengan nada klakson lebih rendah tapi bervolume tinggi, seketika saya berpikir itu adalah rombongan supporter bola. Agaknya saya salah. Rombongan ini mengendarai motor besar dan berjaket hitam. Ada gambar tengkorak di lambang yang tertera di jaket, ntah apa artinya. Pengendaranya mengenakan syal hitam bermotif yang berkibar di lehernya.

Mungkin gambar tengkoraknya sedikit ekstrim. Tapi, mereka pengendara yang cukup ramah, menurut saya. Setiap kali lewat, mereka memberi aba-aba dan meminta kami (yang juga mengendarai motor) untuk sedikit minggir ke kiri karena akan ada rombongan motor besar yang lewat.

Yang membuat saya salut adalah kekompakan mereka. Setiap kali ada yang berhenti, ntah untuk mengecek kendaraan atau karena alasan lain, rombongan yang depan ikut berhenti. Pokoknya, jalan bersama berhenti bersama. Berbeda sekali dengan saya dan teman-teman jarang sekali memastikan bahwa rombongan kami melaju dengan jarak antar rombongan tidak terlalu jauh.

"Mbak, Chef Juna itu suka motoran kaya gini juga lho," kata saya. "Jangan-jangan di antara rombongan itu ada Chef Junaaaaaa, hahahahaha..."

Saya dan Mbak Bibit menertawakan kekonyolan kami. Memang kalau sudah malam itu sering eror (--,)a

Kami berpisah dengan Ita di perempatan jalan menuju Boyolali. Setelah sampai area kampus UNS baru kami berpisah dengan Pak Komeng. Karena sudah malam Mbak Bibit meminta Pak Abi, yang kebetulan sedang menikmati fasilitas wifi di kampus, untuk menjemput. Jadi Pak Abi dan Mbak Bibit mengantarkan saya dulu ke kos baru kemudian mereka pulang.
***
Aaah... Perjalanan. Selalu menyenangkan ketika bersama dengan teman-teman.

Padahal sebelum berangkat, ketika Wahyu berulang kali bertanya, "Kamu jadi ikut kan?" saya masih ragu. Pasalnya, seharian kemarin suhu badan saya lebih tinggi. Gejala flu. Mungkin karena makan tidak teratur dan sering kehujanan (dan saya tidak mau menyalahkan tesis karena ini :D ).

Tapi, karena khawatir kehilangan momen bersama, apalagi sebentar lagi kami lulus, saya pun memaksakan diri untuk berangkat. Alhasil, sepulang touring hari ini, ada semacam anak sungai yang mengalir deras dari hidung disertai bunyi 'uhuk uhuk' :D

Ya. Perjalanan selalu memberikan inspirasi tersendiri. Dan sekali lagi, saya belajar untuk menjadi kuat agar menguatkan yang lain. Jika saya lemah, mungkin akan ada yang terkorbankan selama perjalanan...

0 komentar:

Posting Komentar