Social Icons

30 Maret 2013

Langgeran, Pemanasan untuk Pendaki

Nature, beautiful as always.
Ayat-ayat kauniyah bagi mereka yang bersyukur

***
 How about this, amazing scenery isn't it? :)

Dan ini, merupakan hasil perjalanan tak terencana :D
***

29 Maret 2013 tanggal merah. Kata kalender sih libur Paskah. Tapi, apa iya saya bisa bertahan menyendiri di kosan dan berkutat dengan tesis? Tidaaaaaaaaaaaaaaaaak...

Seorang teman, sebut saja namanya Wahyu, ntah mengapa sering sekali pamer, "Libur? Aku ke Jogja lah ya, mau nonton bola." Baiklah, bersenang-senang sendiri sajalah (--,)a

Beberapa menit berselang, saya tergoda juga dan mengirimkan pesan ke ponselnya, "Aku ikut ke Jogja siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih..." Dengan mengajak bala tentara: Mbak Dila dari Solo, Mbak Adel dan temannya dari UGM, kami berniat berwisata ke Langgeran dengan Wahyu sebagai guide karena pernah ke sana.

"Masa' aku cowok sendiri? Ajakin yang laen.."

Dan terkumpullah bala tentara yang lain: Pak Komeng, Pak Abi, Fauzi, dan Afiq (teman sekos Pak Abi), ditambah temanWahyu dari Sleman (Dwi). Eh, ternyata kata Wahyu track ke Langgeran lumayang 'nanjak'. Motor Mbak Adel kan matic, Mbak Adel khawatir ga bisa nanjak. Ga jadi ikut deeeh.. Dan hanya tersisa dua orang putri kerajaan ditemani enam orang pengawal, ho ho ho

Pertama dengar kata Langgeran itu dari Om Irfan (kakak tingkat saya di Pasca) karena ia dan tim ekspedisinya baru ke sana tempo lalu. Kalau googling tentang Langgeran, gambar yang saya temukan hanya tebing-tebing. Langgeran adalah gunung api purba katanya. Ya mungkin karena itu juga Wahyu bilang, "Kalau ke sana terus ternyata ga bagus, gimana ya..."

Husnudzon pokoknya, yang penting kan jalan-jalan... Kata Om Irfan, "Ke sana dulu baru bilang bagus atau ga." Dan saya optimis, this will be a nice trip as always (^^,)9
***
Wahyu bilang, nanti mampir di Klaten untuk makan Sop Ayam Pak Min. Saya ga sarapan dooong, demi nyobain sop yang legendaris itu. Ternyata Pak Abi dan Pak Komeng sarapan duluan, curang betul (-_-)"

Start jam 7.30 dari Solo. Wahyu di depan, disusul Fauzi dan Pak Komeng, kemudian saya dan Mbak Dila, dan Pak Abi mengawal di belakang bersama Afiq. Sepertinya perjalanan agak santai. Jam 8.45 baru sampai Klaten soalnya. Dan benar, Wahyu mengajak mampir sarapan. Uhuuuui...











Sebetulnya saya bingung apa istimewanya sop ini, hihihi.. Soalnya rasa sopnya mirip sop buatan Mama di rumah dan agaknya saya juga bisa masak sop seperti ini (benerin kerah). Kalau di rumah, sop itu bersayur pemirsah. Ada wortel, kentang, buncis, kol...

Ini satu porsi Rp 8.000,00. Ada sop ayam (daging), ada ceker, ati ampela, dan lain lain dah..

Jam 9.00 kembali tancap gas. Kami mampir ke rumah Dwi dulu di Sleman untuk titip motor. Soalnya, dari Solo bertujuh itu pakai 5 motor, hahaha.. Itu Wahyu sama Fauzi nanti ga langsung balik Solo soalnya.

Jam 10.00 start dari rumah Dwi ke Langgeran. Tapi tracknya ga difoto. Agaknya interest saya untuk moto track perjalanan agak berkurang, hehe.. Yang pasti jalanannya menikung dan menanjak, tapi ga seekstrim waktu ke Pacitan dulu..

Jam 11.00 tiba di Langgeran. Karena jelang Jumatan, kami mampir ke masjid dekat Langgeran. Sementara para lelaki preparing Sholat Jumat, saya hafalan dan Mbak Dila yang menyimak (^^,)v




12.45 selesai sholat Jumat, yang putri sholat Dzuhur dulu.

Tik tik.. Satu-persatu butiran hujan jatuh dari awan.
Tik tik tik.. Lama-lama jadi banyak.
Dan breees...! Hujannya deras sekali.

"Hujan begini biasanya lama lho," kata Dwi.
Huwaduh, kita kan mau berwisata (^^,)a

Jam 1 lebih belasan menit agaknya hujan mulai reda. Kami langsung chao ke Langgeran. Eh tapi di sana hujan lagi pemirsah, hahaha.. Jadi deh cuma duduk-duduk di parkiran nunggu hujan reda ((^.^')


















Lama nunggu, akhirnya kami memutukan untuk makan. Warung makan di dekat Langgeran sederhana, menunya juga bisa kita jumpai di tempat-tempat lain: Bakso, Nasi Goreng, Es Dawet... Jadi ga difoto (alesan, hehe)

Jam 3 hujan masih rintik-rintik, tapi kami nekat dan langsung naik. Awalnya mau ke waduk, tapi saya minta ke tebingnya dulu.













Awalnya saya pikir langgeran itu track-nya kaya di Tawangmangu: landai dan bersahabat. Ternyata ekstriiiiiiiiiim.. Dan ini benar-benar mendaki lho pemirsah. Mbak Dila pakai sendal cinderella lagi. Dan saya? Kostumnya benar-benar ga casual untuk mendaki karena setiap jalan-jalan yang saya pikirkan adalah, kostum harus pas biar nanti difotonya bagus, hahaha...










Di sini kami berhenti sebentar untuk lihat viewnya. Subhanallah..

















 Dan kembali melanjutkan perjalanan ekstrim :O



























 Pak abi muat ga lewat tebing sempit ini? Hihihi...

Ke Pos 1 itu kira-kira waktunya 20 menit pemirsah...

Ini view dari Pos 1.

Setiap pos ada semacam tempat berteduh, tapi ga terlalu besar. Kalau ini view dari Pos 2.


Kami sebenarnya agak nekat, mungkin. Karena ga bawa baju ganti, tapi tetap mendaki meski hujan masih rintik-rintik, belum benar-benar reda. Jadi basahnya baju itu campuran air hujan + keringat :D

Ini Pos 3. Di tengah hutan, ga banyak view yang bisa dilihat. Fotonya ngblur pula (--,)a
Eh itu Fauzi tiduran di antara dua tempat duduk, dan Pak Abi duduk di atasnya. Kejam. Kejaaaaaaaaam..

Sampai Pos 4. Eh, Pos 4 atau Pos 5 ya lupaaa.. Soalnya kata penjaganya ada 5 pos tapi difoto cuma ada ini. Di sini, kami bertemu dengan keluarga kecil yang mau camping. Anaknya usia delapan tahun lho.. Malu dong kalau ga berani naik sampai puncak.

Tahukah pemirsah, di pos inilah view terbaiknya bisa kita lihat. Subhanallah.. Rasanya itu ya, mendaki berbukit berbatu ga ada capeknya kalau udah bisa lihat yang begini.



Kami cukup lama di sini. Sampai jam 5 sepertinya kami masih betah berlama-lama. Khawatir Sholat Asharnya ga keburu, Pak Komeng sholat di sini. Yang lain juga ikut sholat. Wudhunya mengambil air hujan yg menempel di dedaunan.
"Bener ga itu kiblatnya?"
"Pokoknya barat itu yang paling terang."
"Lah, kok sholatnya menghadap Merapi? Merapi kan di utara?"
"Hah?"

Hahahaha.. Wallahu'alam. Namanya musafir, ga bawa kompas pula. Mudah-mudahan sholatnya diterima.

Ternyata kami salah. Ini bukan pemberhentian terakhir karena ini bukan puncak :D
Dan kami pun melanjutkan perjalanan.
Dan jalan menuju puncak begitu ekstrim :O
Saya ga dibolehkan naik sama para pengawal kerajaan. Takut ini lah takut itu lah. Tapi, adek yang delapan tahun itu naiiiiiiiiiiiik.. Saya juga mau naiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik...

Dan taraaaaaaaaa.. saya benar-benar ada di puncak (benerin kerah)
Mbak Dila ga ikut, mungkin karena ga mau ambil resiko.
Ini, keluarga kecil yang mau camping itu, mereka juga naik sampai puncak ^_^
Tapi, buat saya viewnya masih lebih bagus di pos pemberhentian sebelum puncak. Ya, mungkin karena di sana kami bisa lebih leluasa bergerak. Di puncak ini, tempat berpijak kami bebatuan dan tidak terlalu luas.

Dan, yang susah itu turunnya pemirsah :D
Tapi alhamdulillaaaah sudah bisa mendaki sampai puncak gunung api purba. Benar-benar pemanasan untuk pendaki.

Jam 5 kami turun. Berharap sampai di bawah sebelum gelap karena kami tidak membawa senter. Di jalan, kami berpapasan dengan para pendaki yang berniat camping di sekitar puncak.

Setelah membersihkan alas kaki (yang super duper dekil, tanah nemplok di sana sini), kami menunaikan sholat maghrib.

Perjalanan pulang itu, dingiiiiiiiiiiiiiiin sekali. Baju kami basah pemirsah, dari kerudung sampai kaos kaki. untung jaket dan sarung tangan kami kering, jadi bisa sedikit menghalangi udara dingin yang menusuk-nusuk tulang sepanjang perjalanan.

Tahu Bukit Bintang? Bukit Bintang ini terkenal dengan viewnya ketika malam. Letaknya yang strategis memungkinkan kita untuk melihat bintang sekaligus kota Jogja dari dataran yang lebih tinggi. Kami mampir sebentar untuk mengobati penasaran (saya) hehe.. Saya yang memaksa mereka untuk stay sebentar sambil makan jagung bakar. Tapi ga beli juga tuh jagung bakarnya (--,)a

Fotonya  aneh ya? Iya, penerangannya ga bagus (-.-)"
Bintang ga kelihatan karena habis hujan. Yang kelihatan hanya lampu-lampu kota.
Pada akhirnya, kami makan sate di pinggir jalan, jauh dari Bukit Bintang. Soalnya di Bukit Bintang makanannya biasa tapi muahaaaaaaaaaaaaal...


Sate Madura ini makanan rakyat yang bagi saya (dulu) cukup mewah. Seporsi sate + lontong itu Rp 9.000,00. Satu porsi itu satenya 10 tusuk.

Banyak ya makannya :D
Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumah Dwi untuk ambil motor. Wahyu curang, dia berniat stay di rumah Dwi sementara kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Solo. Tak apa, tak apa, kami tangguh kok. Semangaaaaaaaaaaaaat!

Dan alhamdulillah, sampai kos dengan selamat. Pagi-pagi kami bangun dengan punggung pegal-pegal dan dengkul kaki linu :D
***
Muslim yang kuat itu lebih disukai Allah dibanding Muslim yang lemah. Itu hadist riwayat Muslim yang saya pegang. Saya harus kuat, saya harus kuat. Ada banyak hal ajaib di luar sana. Bumi Allah itu luas dan kita perlu melihat agar semakin banyak pula rasa syukur itu ada di dalam dada kita.




Seperti kata pepatah, "Jika bumi seperti sebuah buku, maka mereka yang tidak pernah menempuh perjalanan ibarat hanya membaca satu halaman."

Saya belajar untuk tidak mengeluh sepanjang perjalanan, belajar untuk menguatkan diri agar tidak merepotkan yang lain. Meski untuk banyak perkara, saya tetap (sering) membuat teman-teman geleng-geleng kepala atau menepuk jidat saking lugu dan dusunnya saya :D

Mudah-mudahan mereka tidak kapok (^^,)v

4 komentar:

  1. Assalamu'alaikum wr.wb
    salam kenal mba,
    wah, bagus bgt mba, super sekali mba yang dri solo aja udah peernah kesana. saya yang di jogja malah belum sempet kesana? hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumussalam..

      Serius belum pernah? Cobain deh ke sana, sebelum menyesal, hehe.. Saya orang rantau, jadi eman-eman kalau ga nyicipin objek-objek bagus. Mumpung masih sekolah di Jawa, hehe

      Hapus
  2. assalamu'alaikum..
    ma shaa Allah...bagusnya..saya ada rencana mw k langgeran mb :)
    syukron infonya..jadi bisa lebih prepare deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumussalam..
      wah, baru baca komennya niyh.. udah ke Langgeran? ga nyesel kan :D

      Hapus